
Tak terasa tahun sudah berganti 2 kali. Sudah lebih dari 700 hari mereka lalui. Entah itu hari yang penuh dengan kebucinan. Atau bahkan seperti orang tidak saling kenal. Tidak ada pesan atau panggilan masuk dari salah satunya hingga lebih dari 3 bulan.
Hari-hari yang mereka lalui memang memberatkan. Harus menahan rindu namun tetap fokus akan pekerjaan masing-masing. Raca yang berada di Jogja sedang fokus mempelajari bisnis sang Papa. Sementara Cara sedang menekuni dunia permodelan.
1 tahun lalu, seorang temannya yang satu kampus menawarinya untuk menjadi model kala melihat akun instagram Cara yang memiliki banyak followers. Tak hanya itu alasannya. Foto-foto yang diposting Cara menunjukkan jika gadis itu cocok untuk menjadi model. Awalnya Cara ragu untuk menerima. Namun, karena dia juga butuh uang. Ia pun menerimanya.
Satu tahun berlalu, Cara bisa membantu sang Kakak untuk membuka sebuah bisnis kecil-kecilan. Kedua kakak beradik itu juga bisa membantu sang Ibu untuk mengembangkan usaha warungnya hingga memiliki 5 karyawan. Kehidupan keluarga Cara setiap tahunnya selalu membaik. Tapi tidak, akan hati gadis itu.
Cara mendorong pintu kayu yang entah sudah berapa kali diperbaiki. Rumah yang dulu hanya berlantai satu kini sudah menambah 1 lantai. Kandang ayam yang ada dibelakang rumah juga sudah hilang karena Bapaknya yang sudah sibuk akan pekerjaan kantor.
"Loh, Hafidz sendirian?" tanya Cara yang kaget saat mendapati adiknya sendiri di rumah sambil menonton televisi. Bocah laki-laki yang dulu masih menggemaskan sudah tumbuh 2 tahun lebih besar. Meskipun bagi Cara adiknya masih sama. Menggemaskan. Sepertinya hal itu memang tidak bisa lepas dari diri Hafidz.
"Males. Di warung Hafidz malah disuruh-suruh," jawab Hafidz lalu memasukkan cemilan ke dalam mulutnya. Sementara pandangannya masih fokus akan tv yang menyala. Tidak sedikit pun anak itu menoleh pada sang Kakak yang baru pulang.
__ADS_1
Diciumnya puncak kepala sang adik. Jika dulu Hafidz diam saja bahkan senang. Kini anak itu protes dan mengatakan jika tidak ingin dicium lagi. Mana mungkin Cara bisa melakukan itu. Segera gadis itu melarikan diri menaiki tangga untuk menghindari pukulan sang adik.
Setelah pintu tertutup. Tak selang lama, sebuah lagu diputar. Mendengar lagu itu Cara hanya bisa terduduk dimeja belajarnya sambil memandangi sebuah foto yang menampakkan dirinya dan Raca dengan seragam putih abu-abu. Sebuah foto yang diabadikan di bangku kelas. Hasil jepretan seorang pelawak kelas yang sedang bersantai mendengarkan petikan senar di kelas bagian belakang. Tidak menyangka jika Haidan bisa memotret dengan momen yang pas.
Masih kurang, Cara memeluk jaket jeans sambil mencium aroma yang masih sama. Entah mengapa jaket ini masih mengeluarkan aroma tubuh Raca. Sementara sudah berkali-kali dia cuci. Apakah karena indra penciuman Cara yang sudah terlalu mengingat aroma tubuh Raca dari jaket itu?
"Kenapa kita harus istirahat lagi, Ka?"
~•~
Dengan pelan, Raca membuka pintu garasinya. Inilah caranya untuk masuk rumah jika malam hari. Sebab, sang Mama sudah mengunci pintu depan jika sudah pukul 9 malam. Melewati garasi, Raca bertemu dengan motor verzanya. Dipegangnya boncengan yang sudah lama tidak ada penumpangnya. Mengingatnya, Raca jadi rindu.
"Pulang malam terus. Kenapa enggak pulang bareng Papa, sih?" tanya Arum kala melihat anaknya yang muncul dari pintu garasi yang terhubung dengan dapur.
__ADS_1
Raca hanya meringis lalu berlari menuju kamarnya di lantai 2. Selalu begitu setiap malamnya. Kabur dari keberadaan sang Mama. Padahal Arum sama sekali tidak ada niatan untuk memarahi. Hanya ingin menawari makan.
Akhir-akhir ini Raca memang punya hobi untuk keliling jalanan Jogja. Tidak ada tujuan. Hanya berkeliling lalu kembali pulang. Satu alasannya, sih, agar dia bisa mengajak Cara berkeliling Jogja tanpa takut tersesat. Membahas Cara membuat rasa rindu kembali keluar.
Sebuah kenang-kenangan yang Cara berikan saat di bandara adalah obat rindu Raca. Sebuah dokumenter berisi kenangannya bersama seorang gadis yang membuatnya hangat. Dokumenter itu berisi mulai dari video saat mereka sedang menikmati jalanan kota dengan motor verzanya, kemudian beralih kala Raca sedang menunjukkan sulap yang ternyata gagal, Cara yang sedang bosan di kelas dengan Raca yang sibuk main game, kumpulan foto yang pernah mereka abadikan, dan masih banyak lagi. Tidak lupa dengan lagu latar belakang yang ia buat.
Semua dokumenter itu diabadikan oleh handphone Cara. Maklum, gadis itu sangat suka membuat insta story kebersamaan mereka. Bahkan, saat Raca melantunkan lagu 'Teman Bahagia' untuk membuat mood Cara membaik juga tak luput direkam oleh gadis itu dan dijadikan sebagai lagu latar belakang kumpulan foto diakhir video.
Video dokumenter kenangan mereka selama 3 tahun cukup membuat rindu Raca terbalas. Ditambah sebuah hoodie yang menemaninya. Hoodie yang terakhir kali mendapatkan banyak air mata Cara.
"Istirahatnya enggak lama lagi kok, Ra."
~•~
__ADS_1