
"Niat mau kerja kelompok atau makan," sindir Cara kepada Raca yang asyik memakan kue di rumahnya sambil menonton televisi.
Seandainya Bu Dania tidak meminta untuk berpasangan dengan teman sebangku. Maka Cara akan memilih Gia. Secara, kerja kelompok dengan sesama perempuan apalagi sahabat itu akan cepat selesainya dan tidak akan kerja sendiri.
"Udah segitu aja, ntar di rumah gue kerjain. Lagian ngumpulinnya masih 2 hari lagi," kata Raca sambil memasukkan kue ke dalam mulutnya. Cara pun berhenti mengerjakan, benar juga kata Raca. Dia juga sedang lelah, hingga tidak bisa untuk berfikir.
"Ca, gue mau cerita."
"Cerita aja, biasanya lo kan langsung cerita tanpa gue suruh."
Cara menghela nafasnya. Dikumpulkannya keberanian untuk bercerita kepada Raca. "Ca, kalau gue suka sama orang boleh kan?"
Seketika semburat tawa terdengar. Raca tidak bisa menahan tawanya. Teman sebangkunya itu memang polos. Melihat Raca yang tidak berhenti tertawa, dipukulnya lengan kiri cowok itu. "Apaan sih? Gak lucu tahu."
"Lo tuh lucu," ucap Raca dilanjutkan lagi tawanya. Setelah ia kira cukup, diambillah nafas banyak-banyak. "Gini, kalau lo suka sama cowok ya bolehlah. Kalau lo suka sama cewek, itu baru gak boleh."
"Lo kira gue gak waras?"
"Emang lo gak waras," jawab Raca spontan membuat Cara mengerucutkan bibirnya. "Suka sama siapa sih?"
Cara tidak tahu harus menjawab apa. Sebab dirinya memang belum jatuh cinta. "Masih belum."
"Bentar lagi dong? Siapa sih? Gue ya?"
"Pede banget."
Raca tersenyum tipis sambil membenarkan rambutnya. "Gue nih tampan tahu. Wajah dari bokap nurun ke gue." Gadis di sampingnya tertawa cekikikan. Cara jadi membayangkan wajah tampan Papa Raca yang bisa dikatakan mirip seperti orang Arab.
"Bapak Cipto ya?" Seketika raut wajah Raca berubah. Teman sebangkunya tidak sopan menyebut nama Papanya.
"Ra, gue bosen deh manggil lo Cara. Gimana kalau gue panggil lo, Kari. Cara jadi Kari," kata Raca yang langsung dapet pukulan bertubi-tubi dari Cara.
Cara tidak bisa berhenti memukuli Raca. Dia tidak suka nama pemberian orang tuanya diganti menjadi nama makanan. "Dasar Acar, gue bakal manggil lo ACAR!!"
~·~
Setelah kepulangan Raca, Cara masih saja setia duduk termenung diteras. Tangannya menopang dagu dan matanya melihati rumah kosong di depan rumahnya. Sementara fikirannya mengingat-ngingat kenangannya dulu bersama seorang laki-laki 2 tahun lebih tua darinya. Mengingat itu, Cara jadi ingat saat ia masuk ke dalam rumah kosong. Saat ia mendengar suara air shower seperti ada orang yang mandi dan rumah itu juga terlihat bersih. Lalu, entah kenapa dia jadi ingat tadi pagi saat melihat Kak Zul berada di depan rumah kosong itu.
Tapi, Cara tidak mungkin menuduh jika Kak Zul diam-diam masuk ke rumah kosong itu. Sebab, tadi pagi ia melihat Kak Zul di depan rumah itu, bukan keluar dari rumah itu.
"Sore-sore, anak gadis gak boleh ngelamun."
Cara mendongak dan melihat Ibunya membawa alat-alat di warung. Dengan sigap dibantunya Nani untuk membawa alat-alat itu ke dapur.
__ADS_1
"Bu, Bapak pulangnya jam berapa?" tanya Cara sambil duduk di kursi meja makan. Nani yang sedang sibuk mencuci alat-alat warungnya hanya diam. Dia juga tidak tahu kapan suaminya akan pulang.
"Bu, Cara masih sayang sama Ibu, sama seperti Ibu sayang sama Cara dulu." Mendengar perkataan putrinya, Nani berhenti mencuci. Hatinya terasa tersentuh akan perkataan Cara. Apalagi mengingat kemarin Cara mencium pipinya. Ingin sekali Nani berkata apa yang tengah ia rasakan sekarang. Tapi dia tidak punya keberanian.
"Tapi, Ibu gak bisa sayang sama kamu seperti dulu lagi," ucap Nani ketus sambil melanjutkan kegiatan mencucinya.
Cara tersenyum. Dia sangat tahu jika Nani masih menyayanginya sama seperti dulu. Baru saja, Cara melihat Ibunya yang berhenti mencuci karena perkataannya. Mungkin Ibunya ingin mengatakan jika sangat menyayanginya, hanya saja bukan sekarang waktu yang tepat. "Cara gak minta Ibu sayang sama Cara seperti dulu. Cara minta Ibu sayang sama Cara lebih seperti dulu."
~·~
Pagi ini hujan begitu deras, sehingga Cara harus menunggu hingga hujan sedikit reda. Jam sudah menunjukkan pukul 06.15 dan Cara tidak mau telat. Dia tidak mau dihukum berlari mengelilingi lapangan 10 kali seperti kemarin. Seandainya tadi Kak Randy tidak meninggalkannya, maka ia tidak harus menunggu hujan seperti ini.
Cara ingin naik sepeda, tapi, itu digunakan Ibunya untuk ke warung. Hanya jalan kaki yang bisa mengantarkannya ke Sekolah. "Pakai ini dan kamu pegang payungnya!" Cara menoleh dan langsung tersenyum. Dipakainya jas hujan kelelawar berwarna pink itu.
"Ayo cepetan!" seru Nani. Cara pun membuka payung lalu duduk di jok belakang. Dipeganginya payung itu diatas kepalanya dan Ibunya. Nani tengah mengayuh sepeda itu dengan kecepatan pelan. Melihat Ibunya seperti itu membuat Cara ingin menangis. Ibunya rela terkena air hujan demi dia agar tidak kehujanan dan tidak terlambat.
"Bu, baju Ibu basah semua," ucap Cara pelan disusul setetes air mata yang turun. Nani tetap mengayuh sepeda, menghiraukan perkataan putrinya.
10 menit kemudian, sampailah mereka di depan SMA BANGSA 2. "Kamu cepetan masuk, payungnya kamu bawa aja."
"Tapi, nanti Ibu kan..."
"Pakai, Cara," ucap Nani membuat Cara menurut. Belum sempat Cara mengucapkan terima kasih, Ibunya sudah mengayuh sepeda meninggalkannya. Melihat Nani basah kuyup dan mengayuh sepeda dibawah derasnya hujan, membuat air mata Cara turun begitu derasnya tanpa bisa dikontrol.
Cara sayang Ibu sama seperti Ibu sayang sama Cara, batin Cara.
~·~
Raca menempelkan tubuhnya ke dinding kamar mandi wanita. Dirapatkan telinganya ke dinding tersebut agar mendengar suara tangisan dengan jelas. Makin lama tangisan itu makin menggebu. Mendengarnya membuat Raca ingin menenangkan gadis itu. Walaupun dia tidak tahu siapa gadis yang tengah menangis di dalam.
"Raca?"
"Cara?"
Keduanya saling tunjuk menunjuk saat Cara keluar dari kamar mandi. Raca menebak-nebak, apa mungkin barusan Cara-lah yang menangis. Dilihat dari matanya, masih normal. Hanya saja wajahnya terlihat lemas. "Ra, lo habis ngapain?"
"Gue, habis cuci muka," jawab Cara dengan suara lemah seperti orang habis menangis.
"Tapi, gue kok tadi denger ada suara cewek nangis, lo yang nangis?"
"Ya gak lah, ngapain gue nangis," jawab Cara dengan diakhiri senyuman. "Siswi lain yang nangis."
Satu alis Raca terangkat. Melihat dari gerak-gerik Cara, seperti ada yang disembunyikan dari teman sebangkunya itu. "Kalau lo ada masalah cerita ke gue. Kan gue pernah bilang, gue bakal dengerin curhatan lo 24 jam."
__ADS_1
Cara tersenyum tipis. "Iya, ntar aja kalau udah punya masalah baru cerita." Diusapnya puncak kepala Cara, lalu merangkul teman sebangkunya itu berjalan ke arah kelas.
Tak sengaja saat melewati perpustakaan. Cara melihat Zul sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Dilepaskannya tangan Raca dari pundaknya, lalu menyapa Kakak kelasnya. "Kak, Zul. Mau ke mana?"
Zul tersenyum tipis, lalu menyerahkan kotak bekel milik Cara. "Gue tadi ke kelas lo, tapi lo gak ada."
Cara tersenyum dan mengambil kotak bekel itu. "Seharusnya, Kakak gak perlu cari aku. Nanti istirahat aku kan bisa ke kelas Kakak."
"Gue ke kelas dulu, makasih buat nasi campurnya kemarin, enak," kata Zul lalu berjalan pergi setelah Cara mengangguk.
Raca menatap Kakak kelas yang kini melangkah melewatinya. Tatapannya terasa tajam saat Kakak kelasnya itu menatapnya juga. Tak ingin berdosa menatap sesama jenis, Raca merangkul Cara menuju kelas.
~·~
Si Acar busuk: Ra, lo ngapain deket-deket sama Kakak kelas tadi?
Cara mengangkat alisnya. Baru saja Raca mengantarnya sampai di rumah dan dia masih di ruang keluarga untuk merebahkan tubuhnya. Cara menduga jika Si Acar busuk itu sedang nongkrong di warung.
Si Kari pedas: Kenapa emang? Terserah gue lah?
Raca menghisap rokoknya lalu mengetikkan balasan pesan kepada Cara.
Si Acar busuk: Iya gue tahu terserah lo. Tapi, dilihat dari gerik-gerik lo sama si Kakak kelas yang gantengnya masih dibawah gue, gue rasa lo sama dia lagi masa pdkt.
Si Kari Pedas: Sok tahu. Gue tuh kenal sama Kak Zul saat dia nenangin gue waktu nangis dan gue baru tahu jika Kak Zul yang pernah ngepang rambut gue. Oh ya, inget ini. Kak Zul lebih tampan daripada lo Si Acar busuk.
Si Acar Busuk: Enak aja ngatain busuk. Ngepang rambut?
Cara memaki dirinya karena dengan cerobohnya dia mengatakan hal yang ia sembunyikan selama 6 bulan.
Si Kari Pedas: Gak, kapan hari kepang gue kurang kenceng. Trus Kak Zul yang bantu ngepang.
Si Acar Busuk: Oh. Kalau gue nyuruh lo jangan deket-deket sama Zul lo mau gak?
Si Kari Pedas: Lo siapa emangnya? Gak sopan tahu manggil gak pake embel Kak.
Si Acar Busuk: Yeh, yaudah kalau kagak mau. Gue bukan adiknya.
Si Kari Pedas: Terserah.
Si Acar Busuk: Cewek dengan semua terserahnya:(
~·~
__ADS_1