Racara

Racara
Bagian 29


__ADS_3

"Woy!!! Ada anak baru!!!"


Semua pandangan langsung menuju seseorang yang baru saja memasuki kelas X IPA 1. Gadis itu berjalan ke bangkunya, memberi tatapan pada Haidan yang berucap. Membanting tasnya dimeja. "Kayak nggak pernah lihat orang potong rambut aja!"


"Yang sellow. Anak baru udah songong aja," kata Haidan yang membalikkan badan.


"Terserah lo mau ngomong apa," kata Cara penuh penekanan.


Haidan menyenggol tangan Raca yang sedang fokus main hp. "Kode lo berhasil, yah, Rak?"


"Kode apaan?" tanya Cara pada Raca.


"Masa lo lupa, sih, Ra. Yang waktu lo sama Raca lagi..." Belum Haidan menjawab, Raca sudah menutup mulut cowok itu. Berkali-kali Haidan memukul tangan Raca, namun cowok itu tak kunjung melepas tangannya. Cara dan Gia yang melihat jadi bingung. Kasihan karena Haidan yang sepertinya sangat butuh pertolongan, Cara meminta Raca untuk melepaskan tangan cowok itu dari mulut Haidan.


"Gila lo, Rak. Gue hampir mati," kata Haidan setelah bebas dari bungkaman Raca. Cowok itu terlihat ngos-ngosan.


"Lo kenapa, sih, Ka? Kasian tahu Haidan. Lo gapapa, Hai?" tanya Cara yang dijawab anggukan oleh Haidan. Cara memukul lengan Raca, "tapi gapapa, sih, Ka. Gue berterima kasih ke lo."


"Lo dikubu mana, sih, Ra? Nggak jelas banget jadi cewek. Sama kayak cowok lo."


"Cowok gue?"


"Iya, siapa lagi kalau bukan Raca."


"Apaan, sih," kata Cara kesal dan memukul lengan Haidan bertubi-tubi. Karena lengannya yang sakit, Haidan pun kabur keluar kelas dan disusul oleh Gila. Melihat 2 orang itu pergi, Cara memukul lengan Raca. "Ka, gue rasa Haidan sama Gia ada hubungan, deh."


"Bagus, dong. Ntar bisa double date sama kita," kata Raca menatap Cara sambil mengangkat satu alisnya.


"Nggak waras, lo!!"


~•~


Kantin selalu ramai akan manusia-manusia saat istirahat. Ada yang menyerobot antrian, gosip sambil makan, makan sambil lihatin kakak kelas ganteng, ambil 2 bayar 1, atau ada yang sedang berbincang mempermasalahkan bakso kantin yang bentuknya berbeda.


"Mengapa aku berbeda," ucap Raca sambil melihati bakso yang sudah ia tusuk dengan garpu.


Apa yang Raca ucapkan berhasil membuat Cara tertawa. Sampai-sampai gadis itu tidak sadar jika terus ditatap oleh cowok di depannya. Menurut Raca, senyum Cara itu berbeda. Senyum yang bisa menularkan aura positif bagi siapa saja yang melihatnya. Mangkannya, setiap pagi cuma senyum Cara yang Raca tunggu.


"Alasan lo potong rambut apa, Ra? Gue juga udah lama nggak lihat lo dikepang," kata Raca lalu memasukkan bakso berbentuk aneh dalam mulutnya.


Cara hanya diam. Matanya fokus pada bakso sambil terus mengaduk. Ditanya seperti itu membuat Cara bingung harus menjawab apa. Dia tidak mau jujur jika alasannya potong rambut adalah Raca. Ucapan Raca saat naik bianglala adalah sebuah kode untuknya. Sejak dulu Raca selalu memintanya untuk potong rambut, entah tujuannya apa.


"Semenjak pertemuan diangkot yang Kak Zul kepangin gue. Sejak itu gue suka dikepang. Soalnya gue jadi ingat masa kecil gue yang selalu dikepang sama dia. Tapi karena kebusukan Kak Zul, gue jadi nggak mau."


"Alasan potong rambut?"

__ADS_1


"Harus dijawab?" tanya Cara yang akhirnya mengangkat wajah. Raca mengangguk. "Gue nggak sebodoh itu, Ka. Gue paham apa yang lo maksud di bianglala."


"Lo kira gue ngode lo? Geer banget, sih," ucap Raca yang langsung membuat wajah Cara merah karena malu. Menyembunyikan rasa malunya, Cara memukul tangan Raca.


"Ngeselin, lo."


"Gue suka lo potong rambut. Aura cantik lo makin kelihatan. Jadi pingin gue jadiin teman spesial."


~•~


Menonton tv sudah, main hp sudah, baca buku sudah, belajar juga sudah. Lalu Cara harus apa? Sekarang masih jam 7 malam dan Cara sedang bosan. Dia bingung harus melakukan apa. Ingin menggoda Hafidz, tapi adiknya yang lucu dan gemesin itu sudah tidur nyenyak. Mau godain Kak Randy, tapi Kak Randy belum pulang. Sementara Heri dan Nani sudah dikamar entah sedang ngapain. Bermesraaan mungkin.


"Apaan telpon malam-malam?" tanya Cara sewot setelah menerima sambungan telepon.


"Lo pms atau apa sih? Ngegas banget," gerutu Gia kesal. Gadis itu mengganti panggilan suara menjadi panggilan video. Lalu menunjukkan pada Cara sebuah instastory akun milik Raca yang berisi foto Cara yang sedang berada di bianglala. Foto yang tidak Cara ketahui kapan Raca mengambilnya. "Lo pacaran sama Raca?"


"Gue udah lihat itu dan gue nggak pacaran sama Raca. Emangnya kenapa, sih?"


"Aneh aja. Untuk pertama kalinya setelah hampir 1 tahun gue follow instagram dia, baru kali ini dia buat story pake foto lo lagi."


"Biasa aja kali, Gi. Gue juga sering bikin story gitu. Gue juga pernah pos foto berdua sama Raca di ig gue."


"Kalau lo sih semua juga udah tahu. Tapi kalau Raca, ini pertama kalinya. Bahkan gue rasa ini instastory pertama dia setelah gue follow."


"Maka dari itu, Ra. Aneh. Udahlah. Pokoknya kalian tuh cocok banget. Cepet-cepet jadian, deh."


"Ngaco lo. Gue sama Raca cuma sebatas teman."


"Gue lihat wajah Raca waktu lo masuk kelas dengan rambut baru. Dia sampai nggak kedip, Ra."


"Udah. Males bahas Raca. Bye," ucap Cara lalu mengakhiri sambungan. Melempar hpnya ke kasur dan berjalan keluar kamar. Dia berpapasan dengan Kak Randy yang baru saja pulang kerja. "Kak Randy bau. Mandi sana," kata Cara sambil mendorong Randy saat Kakaknya itu mendekat.


"Raca ada di depan, tuh. Jangan bucin terus dong, dek. Gue sebagai Kakak lo aja masih jomblo, masih belum merasakan keuwuan kayak lo sama Raca," kata Randy dengan wajah kasihannya. Sad boy sekali.


"Siapa juga yang pacaran?" Pertanyaan Cara malah membuat Randy tertawa sambil memukul-mukul tembok.


"Nggak pacaran, tapi outfit kalian waktu ke taman hiburan bisa samaan. Jadi mencium bau-bau kebohongan," kata Randy mengelus-ngelus dagunya dengan wajah songong. Melihat Kakaknya yang ngeselin, Cara memilih untuk keluar menemui Raca.


"Gue bilangin, yah, dek. Kalau pacaran, tuh, jangan backstreet. Nggak enak tahu, nggak bisa bebas mengumbar keuwuan," kata Randy saat Cara sudah melenggang pergi. Jujur saja Randy tidak masalah jika adiknya berpacaran dengan Raca. Cowok itu baik, tidak suka main cewek, dan paling penting yaitu selalu ada. Sepanjang menyelesaikan masalah, Raca selalu ada untuk Cara.


Raca menoleh saat pintu dibuka. Gadis itu keluar dengan wajah kesal. Bibirnya sudah manyun seperti bebek. Lalu duduk di sebelahnya dengan kasar. "Kesambet apaan, sih, lo Ra?"


"Gue kesel sama Kak Randy. Kenapa coba gue punya Kakak senyebelin itu?"


"Harusnya lo seneng punya Kakak kayak Kak Randy. Dia suka jahilin lo soalnya biar kalian makin dekat. Gue juga gitu kalau dirumah. Suka jailin Kakak gue."

__ADS_1


"Tuh, kan. Kenapa gue dikelilingi orang menyebalkan kayak lo sama Kak Randy? Kenapa Tuhan?"


"Takdir."


"Mesti sangkut pautin sama takdir."


"Soalnya takdir lo sama gue. Gimana pun cara lo ngejauh dari gue..."


"Tetep aja nggak akan bisa kalau memang semesta mentakdirkan kita bersama. Itu, kan, yang lo ucapin 10 bulan lalu?"


"Lo masih inget? Udah lama padahal. Cieeee...kata-kata gue terngiang ditelinga lo," goda Raca sambil menggelitik telinga Cara. Gadis itu protes dengan menjauhkan tangan Raca yang usil.


"Hehehe, gue ke sini cuma mau mampir bawa terang bulan rasa kacang kesukaan lo," kata Raca memberikan kantong kresek berisi terang bulan spesial untuk Cara. "Gue tahu lo masih ngambek karena waktu di taman hiburan, terang bulan mininya habis."


Dengan wajah senang, Cara mengambil kantong kresek itu. Membukanya dengan tidak sabar. Matanya melebar melihat terang bulan rasa kacang yang sangat menggiurkan. Langsung saja dia mencomot satu, memasukkan dalam mulutnya yang sudah tak sabar menantikan sensi wah.


"Jangan dihabisin. Keluarga lo kasih juga." Jika tidak dibilangi seperti itu, terang bulan sekotak itu bisa habis hanya hitungan tidak lebih dari 10 menit. Cara memang rakus soal makanan kesukaan. Dibelikan terang bulan 2 kotak pun Cara sanggup menghabiskannya sendiri.


"Gila, enak banget," kata Cara tidak seberapa jelas karena terang bulan yang masih ada di mulut.


"Makan nggak usah pakai ngomong." Lagi-lagi Raca harus menasehati Cara. Membiarkan Cara asyik menikmati terang bulan, Raca memilih membuka instagram. Tadi dia ingin memposting foto tapi keburu terang bulan Cara sudah jadi. Sebuah postingan dengan dirinya yang memberikan sign heart langsung dilike oleh pengikutnya. Banyak komentar yang masuk. Dalam 5 menit postingan dengan caption "sign heart buat yang ngefotoin" itu sudah dilike oleh 100 orang dan 20 komen.


@hai_dan: maksud lo @cara


@g14: kapan sih hubungan kalian diekspos?


@akmal: oh yang duduk sebelah lo itu, Rak?


@dara: ini yang waktu itu ketemu di mall? kenalin ke kakak dong!


@hai_dan: kenalin ke kakak lo atau langsung orang tua buat dapat restu?


@fansracaofficial: nggak pacaran kan, Rak?


@fansracaunofficial: bukannya dia lagi dekat sama kakel. mending lo pilih 1 diantara member disini. masih jomblo semua kok.


Raca tertawa, komen-komen itu sangat lucu. Dia baru sadar jika kedekatannya dengan Cara sangat diketahui banyak orang.


"Lo ngetawain gue, yah, Rak?" tanya Cara saat tiba-tiba Raca tertawa tidak jelas.


"Mending lo cek ig gue. Mereka pada ngira kita pacaran. Nggak banget," jawab Raca yang diikuti oleh Cara. Ternyata karena postingan Raca. Bagaimana orang-orang tidak berpikir jika mereka berpacaran, jika captionnya saja sudah begitu. Meskipun tidak men-tag Cara, semua juga sudah tahu jika yang fotoin adalah dia, kan, Cara juga sudah posting foto keseruan mereka di ignya. Postingan yang dapat like banyak dan dia diserbu oleh fans Raca yang agresif.


"Kalau kita pacaran beneran, mereka pasti bakalan heboh banget. Jadi bayangin gue."


~•~

__ADS_1


__ADS_2