
"Buset!!! Bu Dania makin hari suaranya makin bikin telinga gue insinyur," ucap Haidan setelah duduk dibangku kantin. Gia yang duduk disebelah cowok itu mengerutkan keningnya. Ini antara dia yang salah dengar atau Haidan yang salah bicara.
"Maksudnya insinyur?"
"Itu loh yang lagi viral. Biasanya cewek-cewek bakal gitu kalau liat saingannya lebih glowing."
"Insecure maksud lo?"
Haidan mengangguk membuat Gia dan 2 sejoli yang duduk didepannya hanya memberi ekspresi tak percaya.
"Ngapain telinga lo insecure sama suara Bu Dania?" tanya Raca.
"Suaranya benar-benar merdu. Pingin gue jadiin nina bobo tiap malem. Tapi takut satu kampung kebangun." Detik selanjutnya Haidan dan Raca tertawa hingga membuat beberapa penjual kantin menengokkan wajah mereka. Cara yang merasa mereka terlalu berlebihan membicarakan guru pun menyuruh kedua orang itu untuk berhenti dengan menakuti jika mereka bisa kena karma. Meski terdengar hanya sebuah bualan, nyatanya Haidan dan Raca menurut untuk berhenti membahas Bu Dania yang sudah mengusir mereka berempat. Takut jika karma itu benar ada dan hidup mereka selalu dihantui oleh suara Bu Dania.
Tidak mungkin Bu Dania tidak memiliki alasan untuk mengusir teman sekotak itu. Pasalnya saat Bu Dania sedang mengajar mereka malah bercanda. Itu semua disebabkan oleh Haidan. Cowok yang selalu melawak itu mengatakan jika ada seseorang yang mendekatinya. Sontak Gia, Cara, dan Raca bertanya karena ingin tahu gadis mana yang mau mendekati Haidan. Dengan berbisik Haidan menjawab jika Mbak Ani-lah yang mendekatinya. Awalnya tawa belum keluar kala itu karena mereka yang melipat bibir agar tidak kena marah Bu Dania. Namun setelah Haidan mengatakan jika Mbak Ani sering memberikannya tahu gratisan membuat tawa keluar. Pasalnya tahu itu bukan berbentuk bulat seperti biasanya. Melainkan berbentuk hati seolah mengatakan jika Mbak Ani memberikan hatinya untuk Haidan. Karena tawa teman sekotak itu, Bu Dania yang awalnya menghadap papan langsung berbalik dan melayangkan penghapus papan tulis. Entah darimana Bu Dania bisa melempar dengan tepat mengarah pada teman sekotak. Lemparannya tepat mengenai kepala bagian belakang Haidan---sebab cowok itu sedikit membalikkan badannya ke meja Cara dan Raca---membuat cowok itu meringis kesakitan.
"KALIAN ENGGAK DENGERIN SAYA?? SUDAH MAU NAIK KELAS 12 TAPI KELAKUAN MASIH SAMA AJA. SEKARANG KELUAR DARI KELAS. IBU ENGGAK MAU LIHAT MUKA KALIAN BEREMPAT."
Seperti itulah amukan Bu Dania yang bahkan terdengar hingga ke kelas sebelah dan sebelahnya lagi. Tidak ada pilihan lain. Keempat pelajar itu pun beranjak dari kursi dan keluar kelas. Bukannya merasa takut atau semacamnya. Mereka malah tersenyum dan berlari menuju kantin. Memang, bolos pelajaran itu menyenangkan.
__ADS_1
"Ntar kita harus minta maaf ke Bu Dania," ucap Gia yang datang sambil membawakan minuman blender pesanan teman sekotaknya. Setelah membagi, gadis itu pun duduk disebelah Haidan.
"Ke ruang guru, dong? Ogah. Ntar kita malah jadi bahan tontonan guru-guru. Terus si singa betina itu bakal jelek-jelekin kita. Ogah gue," ucap Haidan sambil menggeleng-gelengkan kepala membayangkan hal itu terjadi.
"Lo, kan, emang jelek."
"***** lo, Rak. Mentang-mentang bibit lo bagus."
Cara menyikut lengan Raca agar cowok itu tidak terus-terusan mengejek Haidan. "Lo ganteng, kok, Hai," ucap Cara agar Haidan tidak sakit hati akan bercandaan Raca. Pengakuan Cara untuk Haidan membuat Raca cemburu hingga memalingkan muka. Gia yang melihat ketiga temannya pusing sendiri. Ucapannya seolah dilupakan.
"Pokoknya nanti waktu istirahat kita minta maaf. Daripada lu pada enggak naik kelas." Ucapan Gia hanya mendapat anggukan. Gia pun tidak memasalahkan itu. Lagipula itu lebih baik daripada harus berdebat.
"Kalau semisal gue pindah ke luar kota gimana, yah?"
"Emangnya kenapa pindah?"
"Masih rencana, sih."
"Mending enggak usah, deh, Rak. 1 tahun lagi kita bakal lulus."
__ADS_1
"Bener, tuh, Rak," kata Haidan yang setuju akan ucapan Gia. "Pindahan waktu kelas 12 itu enggak enak banget. Lo masih harus menyesuaikan diri sama temen, guru, keadaan sekolah lo. Sementara kelas 12 itu udah waktunya buat kita fokus belajar."
Raca mengangguk-ngangguk. Dia sedikit melirik pada Cara. Menunggu gadis itu untuk melarangnya. Namun tak kunjung suaranya keluar. "Pindah atau enggaknya gue tergantung sama Cara."
"Jangan pindah!"
Bohong.
Raca membohongi ucapannya. Sekarang cowok itu memamerkan dirinya yang sedang berada di Jogja. Harusnya sekarang Raca sedang demo ekskul sebagai ketua futsal dan Cara yang menyemangati dari pinggir lapangan, seperti tahun lalu. Tapi nyatanya Raca tidak masuk sekolah dan sedang berada di Jogja. Apa Raca benar-benar pindah? Lalu mengapa tidak bilang? Apa sudah tidak menganggap Cara? Tapi setidaknya sebagai teman, Raca harus mengatakan hal ini padanya.
"Udah dijawab sama Raca?" tanya Gia kala melihat wajah sahabatnya yang tertekuk. Gelengan kepala Cara membuat Gia bingung harus menenangkannya seperti apa. Jika dipikir-pikir, Raca juga jahat sekali. Pergi ke Jogja tidak bilang-bilang hingga membuat yang disini bingung mau mengambil kesimpulan apa.
"Mungkin aja dia cuma lagi jalan-jalan ke Jogja. Positive thingking aja dulu." Hanya itu yang bisa Gia ucapkan agar Cara lebih tenang.
"Tapi kalau beneran?" Cara mengangkat wajahnya memandang Gia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Haidan yang baru datang dan duduk disebelah Gia langsung menjadi pusat perhatian kedua cewek itu. Bagaimana tidak? Datang-datang Haidan membawa kabar buruk bagi Cara.
"Beneran Raca pindah?" tanya Cara air matanya sudah tidak bisa ditahan. Anggukan Haidan langsung membuat tangis Cara pecah dan gadis itu hanya bisa menundukkan wajahnya dimeja kantin.
__ADS_1
Raca benar-benar tidak menepati ucapannya. Padahal Cara sudah memohon pada cowok itu agar tidak pergi meninggalkannya dengan berbagai alasan; nanti duduk sendiri, tidak ada teman berbicara saat di kelas, tidak ada terang bulan gratis yang siap kapan saja datang, dan tidak akan ada support system yang selalu disampingnya. Nyatanya hubungan mereka seolah tidak ada artinya.
~•~