
Cara tidak ada kegiatan selama weekend kali ini. Semua tugasnya sudah ia kerjakan. Sekarang dia sedang menonton drama Korea sambil memeluk boneka beruang yang diambil oleh Raca dengan susah payah--katanya. Semenjak kehadiran boneka ini, Cara jadi tidak memerlukan guling. Dia lebih senang memeluk boneka beruang yang ia beri nama RACARA, gabungan dari nama mereka berdua. Setiap kali memeluk Racara, rasanya Cara juga seperti dipeluk oleh seseorang. Apakah pelukannya sampai ke Raca dan cowok itu membalasnya? Rasanya itu tidak mungkin terjadi.
Si Acar Busuk: Ntar jam 5-an gue anterin terang bulan kacang buat lo
Masih 2 jam lagi tapi Cara sudah tidak sabar. Air liurnya sudah menetes semenjak baca terang bulan kacang. Sepertinya sangat enak.
Asyik membayangkan terang bulan kacang yang akan meletup-letup dilidahnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk berkali-kali. "Kakak!!! Ada temen Kakak di luar!!"
"Raca?" gumam Cara lalu berjalan menuju teras. Raca mulai berbohong. Baru saja memberi pesan jika akan ke rumahnya jam 5 untuk mengantar terang bulan kacang. Tapi ternyata sudah datang.
"Katanya jam lim...Kak Zul."
"Hai, Mel."
Jujur saja, Cara masih merasa takut melihat Zul sedang duduk di sebelahnya. Semenjak persidangan itu, hubungan mereka tidak baik. Maaf, semenjak Cara mencari kebenaran.
"Gue ke sini mau minta maaf. Gue sadar, gue salah, gue egois, dan nggak pernah mikir pakai otak. Harusnya gue nggak berhak marah sama lo. Harusnya mata gue bisa lihat kalau selama 6 tahun lo hidup tanpa bokap lo. Tapi gue malah bersikap nggak baik. Alasan gue buat nutupin kebenaran juga nggak masuk akal. Baru sadar kalau ternyata gue egois. Gue malah biarin seorang cewek hidup tanpa seorang Bapak. Sementara, meskipun gue hidup sama bokap gue, bokap gue nggak pernah ada buat gue. Nggak pernah jadi imam keluarga yang baik. Bisanya cuma marah, marah, dan marah. Meskipun begitu, gue sayang sama dia. Gue sayang sama Mama gue. Andai, dulu gue bilang. Mungkin Papa udah keluar dari penjara dan gue masih bisa tinggal di rumah itu," kata Zul menatap rumahnya dengan wajah sedih.
"Aku nggak tahu harus bilang apa. Tapi yang aku tahu, Kak Zul orang yang baik. Mungkin Kak Zul cuma masih belum bisa nerima keadaan yang berat ini. Maaf, Kak. Pernah bilang kalau Kakak nggak mikir pakai otak. Jujur, aku kangen Kakak. Kita pisah selama 6 tahun dan saat ketemu kita malah nggak deket kayak dulu. Aku ingin kita bertiga main bareng, cerita bareng, bercanda bareng, Kakak nggak pingin?"
__ADS_1
"Yah gue mau lah, dek. Gue juga kangen sama lo, sama Randy. Tapi apa lo masih mau main sama gue? Gue udah nyakitin hati lo."
Cara tersenyum dan mengatakan kepada Zul jika gadis itu sudah memaafkannya. Cara juga bilang jika ingin mereka bertiga dekat seperti dulu. Maka dari itu Cara bilang jika Zul boleh sering main ke rumahnya. Tapi Zul bilang jika waktunya tidak lama. 3 bulan lagi cowok itu akan pergi ke Bandung menemani Tante Ningsih.
"Dek. Gue mau bilang tentang perasaan gue. Sejak kecil, gue suka sama lo. Sampai sekarang pun gue juga masih suka sama lo. Nggak ada cewek yang bisa gantiin lo dihati gue."
"Tapi, Kak. Aku cuma anggap Kakak sebagai teman kecil. Menurutku Kakak harus buka hati buat cewek lain. Kak Zeline, orang yang selalu ada buat tempat curhat Kakak. Mungkin Kakak bisa buka hati buat dia."
"Gue tahu lo sukanya sama siapa. Gue juga cuma pingin ngungkapin rasa. Nggak lebih. Biar lega aja," kata Zul sambil tersenyum. Cowok itu sangat tahu jika sejak dulu Cara hanya menganggapnya sebagai teman kecil. Dia juga merelakan Cara dan hanya ingin gadis itu tahu perasaannya. Tidak lebih.
Randy keluar saat dikasih tahu Nani jika ada Zul. Cowok itu langsung mengajak Zul masuk. Mereka bertiga duduk di ruang keluarga. Bercerita selama tidak bersama atau mengingat masa lalu sambil ditemani beberapa makanan. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Bahkan, mereka masih sama. Masih suka dengan sinar matahari. Bagi mereka sinar matahari adalah kehidupan. Sinar matahari adalah sesuatu yang indah.
Segera Cara keluar. Dia tidak sabar menanti terang bulan kacang. Cowok itu duduk di atas motornya dengan kantong keresek ditangan. Sebuah senyuman Cara dapatkan saat membuka pagar rumah. "Nih, buat lo. Maaf weekend ini masih sibuk buat lomba futsal."
"Makasih, gue ngerti, kok. Ini habis pulang latihan?" tanya Cara dan cowok itu mengangguk. Ditutup hidungnya, "Bau."
"Enggak, tuh," kata Raca sambil mencium baju futsalnya. "Tapi lo suka aja."
"Udah sana pulang. Istirahat. Besok latihan lagi, kan?" Raca mengangguk. Mencubit hidung Cara lalu berpamitan pulang. Sejak mereka resmi berpacaran, Raca makin sering main fisik. Membuat Cara gemas saja.
__ADS_1
~•~
Zul terlihat malu bergabung makan malam bersama keluarga Cara. Dirinya merasa bersalah. Tapi dari wajah mereka, seperti tidak menyimpan kebencian. "Maaf, kayaknya Zul makan di rumah aja Tante, Om."
"Tante tahu Zul. Kamu lagi hemat uang, kan?" tanya Nani. Setiap hari anak remaja itu datang ke warungnya hanya membeli nasi dan telur. Tapi karena kasihan dan Zul sudah seperti anaknya, Nani selalu menambah lauk lengkap dengan sayurnya.
"Kamu nggak usah ngerasa nggak enak. Om nggak marah sama kamu. Kan, yang salah bukan kamu," kata Heri.
"Tapi saya merasa bersalah, Om." Zul benar-benar merasa tidak enak dan menurutnya dia tidak pantas makan bersama dengan keluarga sebaik mereka.
"Kalau kamu salah, kamu pasti sudah dipenjara. Buktinya kamu masih di sini, kan? Om nggak pernah marah sama kamu. Om tahu kamu anak yang baik. Om kangen kamu main ke sini, bantuin Om ambilin telur di kandang ayam, bantuin Om nyabutin rumput di halaman depan. Kamu udah kayak anak Om. Nggak ingat, dulu sering minta digendong kalau Om gendong Randy?"
Karena Heri mengingatkan masa lalu, Zul jadi nangis. Dipeluknya Heri, sosok yang sangat ia harapkan menjadi Papanya. Sejak kecil dia selalu ingin seperti Randy yang punya Papa penyayang dan selalu ada. Makannya Zul selalu ke rumah ini, cari perhatian ke Heri, ke Nani dan main sama Randy juga Cara. Cuma dikeluarga ini, Zul merasa benar-benar punya keluarga utuh. Dianggap sebagai anak walau tidak sedarah.
Semua mendekat dan memeluk Zul yang memeluk Heri. Tangis Zul makin pecah. Bahkan, setelah Papanya membuat keluarga ini hancur, mereka masih mau menganggapnya. Keluarga sederhana yang sangat Zul harapkan memang dibangun dengan hati dan jiwa yang paling baik. Zul berjanji tidak akan melupakan keluarga sederhana yang selalu ada untuknya. Selamanya, meskipun mereka bukan keluarganya, namun mereka selalu ada dihati Zul.
"Makasih. Sudah anggap Zul dari bagian keluarga kalian."
~•~
__ADS_1