Racara

Racara
Bagian 24


__ADS_3

Ternyata benar jika Zeline yang dimaksud Cara kapan hari adalah Zeline yang dia kenal. Gadis itu juga terkejut saat tahu Cara adalah adik Randy. Benar katanya kalau dunia memang sempit.


"Maaf, kemarin aku manggil nggak pakai embel, Kak," ucap Cara malu karena menurutnya itu tidak sopan.


"Santai aja. Lagian kita cuma beda dikit," ucap Zeline. Jujur saja, dia tidak menyangka jika gadis yang selama ini berusaha mengetahui sesuatu adalah adik dari masa lalunya. Zeline tahu kedatangan mereka hanya ingin tahu kebenaran. Namun sekeras apapun mereka memaksa, Zeline tidak akan memberitahu rahasia yang Zul ceritakan. Dia sudah berjanji pada Zul.


"Jadi, Papa lo dulunya bagian keuangan kantor yang terus dipindah tugaskan ke luar negeri sama Om Budi?" tanya Randy memastikan. Zeline mengangguk. "Papa lo punya bukti, nggak?"


"Gini. Jujur aja gue nggak tahu Papa gue punya bukti atau enggak. Gue cuma bisa ngasih tahu kalau 1 minggu lagi bokap bakal balik tanpa sepengetahuan Om Budi. Nanti gue bakal cerita setelah bokap gue dateng." Zeline senang, rindu akan Papanya setelah 6 tahun akan terbalaskan. Sebenarnya, Zeline juga kesal akan Om Budi yang sudah melempar Papanya jauh dari pelukannya. Namun entah kenapa hati Zeline terus tertarik oleh daya pikat anaknya.


"Beneran, Kak?" tanya Cara begitu senang. Zeline mengangguk. "Kakak janji, yah, bakal cerita ke Papa, Kakak?"


"Iya, janji," ucap Zeline melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Cara. Menurut Zeline, Cara adalah gadis yang sangat ceria dan tak pernah patah semangat.


"Yaudah, Kak, ayo pulang!"


"Lo pulang duluan aja sama Raca. Gue ada perlu."


Paham akan maksud kakaknya, Cara pun pamit duluan dan menghampiri Raca yang sedari tadi menunggu di depan pagar. "Udah selesai?" tanya Raca setelah melihat Cara keluar.


"Udah."


"Kak Randy mana?" tanya Raca mengulurkan helm yang disambut oleh Cara.


"Lagi ngomong sama Kak Zeline." Cara mendekatkan bibirnya pada telinga Raca, "gue rasa. Kak Zeline sama Kak Randy pernah deket, deh."


"Sok tempe, lo. Udah ayo," kata Raca menyalakan mesin motornya. "Gue mau berduaan sama lo."


~•~


Kepergian Cara membuat suasana akward muncul. Ini sudah lama sejak mereka berbicang berdua seperti ini. Mungkin sudah 7-8 bulan yang lalu. Bahkan, Randy yang biasanya selalu ada saja yang ia bicarakan saat bertemu Zeline, tapi sekarang satu kata pun tidak terbesit diotaknya. Kaki Randy terus-terusan bergerak naik turun, tanda jika cowok itu sedang gugup.


"Kak Randy apa kabar?"


Suara yang akhirnya Randy dengar secara langsung. Suara yang masih sama dengan seorang siswi baru yang meminta maaf kepadanya karena tidak sengaja melemparnya dengan bola-bola kertas. Suara yang dulu selalu mengucapkan selamat tidur. Namun semesta berkata lain. Dijauhkannya Randy dengan pemilik suara itu.


"Baik. Lo? Masih suka main air?"


Sebuah tawa diwajah Zeline membuat Randy tersenyum. Sudah lama tidak melihat wajah itu dari dekat. "Masih."


"Nggak nyangka kalau semesta temuin kita karena masalah ini. Nggak nyangka juga kalau ternyata cowok yang ada dihati lo adalah teman kecil gue. Dunia emang sempit, yah."


Zeline juga tidak menyangka itu. Tapi bagaimana lagi. Hatinya jatuh pada Zul, bukan Randy yang selalu berusaha mendekatinya, memberi perhatian, dan selalu ada untuknya. Sementara Zul, hanya sering mengajaknya bercerita tentang gadis kecil berumur 9 tahun yang tak lain ialah Cara. Kenapa serumit ini?


"Selama kurang lebih 7 bulan, siapa yang nemenin lo di rumah? Zul?"


"Enggak. Cuma Bi Ratih."

__ADS_1


"Lo masih kerja di mini market itu?" Zeline mengangguk.


"Buat apa, dek? Papa lo kan selalu transfer uang tiap bulannya."


"Aku bosen di rumah terus, Kak."


"Andai kita masih kayak dulu. Gue bakal temenin lo biar lo nggak sendirian."


Tapi sayangnya hubungan yang dibangun 10 bulan pendekatan dan 1 bulan pacaran itu sudah berakhir. Mungkin Zeline memang bodoh karena sudah menyiakan Randy yang selalu ada untuknya, sementara gadis itu memilih Zul yang hatinya untuk orang lain. Namanya juga cinta, tidak bisa dipaksa.


"Kak. Emangnya rasa Kakak ke aku masih sama kayak dulu?"


"Menurut lo?"


"Aku udah sakitin Kakak. Harusnya Kak Randy lupain aku."


"Nggak bisa, dek. Lo cinta pertama gue dan akan jadi cinta terakhir gue. Dipertemuan pertama aja, lo udah bisa buat gue suka. Mana mungkin gue bisa lupain lo."


Randy memang pernah bilang jika sampai kapan pun cowok itu tidak akan melupakannya. Zeline juga tahu, setelah putus Randy masih curi-curi pandang di sekolah. Bahkan, Randy pernah kepergok menatapnya yang lagi makan di kantin dengan waktu yang cukup lama. "Tapi, maaf, Kak. Aku nggak bisa balas perasaan Kakak. Udah cukup Kak Randy baik sama aku. Ada kok wanita lain yang lebih pantas buat Kakak daripada aku."


"Yang tahu pantas atau tidaknya cuma gue, dek. Dia adalah lo. Meskipun hubungan kita udah berakhir, apa lo nggak bisa tetap nyapa gue kalau ketemu di sekolah. Jangan pura-pura nggak kenal, nggak enak rasanya. Dulu kita saling sapa, tiba-tiba enggak."


"Maaf, Kak. Itu caraku buat lupain Kakak."


Bingung harus berkata apalagi. Mungkin memang waktunya buat Randy lupain cinta pertamanya. Walau rasanya itu sulit dan tidak mungkin bisa ia lakukan.


~•~


"Kalau gue bisa dapetin boneka ini. Lo mau apa?"


"Mau gue ambillah bonekanya."


"Yaelah. Masa kagak ada bonus buat yang ngambil."


"Bonus apa?"


"Cium contohnya."


"Enak di lo, dong."


"Namanya juga bonus."


Raca menggesek kartu. Mengarahkan capitan tepat di atas boneka yang dia incar. Dengan mata tertutup dan entah apa yang dia ucapkan---layaknya abrakadabra----ditekan tombol itu. Cara hanya tertawa melihat tingkah aneh chairmatenya. Namun sedetik kemudian, Cara melongo saat boneka berhasil dicapit dan terangkat. Awalnya, Cara kira itu hanya tipuan, namun boneka itu sekarang sudah terjatuh dikotak.


"Tuh, kan, gue dapet," ucap Raca heboh. Diambilnya boneka beruang itu dan diberikan kepada Cara. "Boneka buat lo. Gue tunggu bonusnya. Terserah mau ngasihnya kapan. Yang penting jangan di sini, banyak bocil."


"Emang gue mau ngasih bonus apaan?"

__ADS_1


"Cium, kan?"


"Ngarep, lo," kata Cara menampol wajah Raca pelan. Gadis itu ngacir pergi memeluk boneka beruang berwarna coklat.


Raca membuntuti Cara dari belakang, sambil terus-terusan menagih bonus. Cowok itu memang aneh. Katanya terserah mau ngasih kapan. Tapi baru keluar dari timezone sudah ditagih.


"Ayo, Ra. Kapan lo ngasih bonusnya?"


"Ra, bonusnya."


"Jangan lupa, bonusnya, Ra."


"Ra."


"Ra."


Baru tahu jika chairmatenya itu sangatlah cerewet. Mangkannya Cara jalan cepat, biar tidak malu-maluin kalau jalan disebelah Raca.


"Raca."


Seseorang yang berjalan berlawanan arah dengan Cara berlari melewatinya dan mendekati Raca. Terlihat keduanya sangat dekat. Entah kenapa, Cara jadi ingat akan 2 orang yang dia temui di toko buku. Perempuan waktu itu sangat mirip dengan perempuan yang sedang berbicara dengan Raca. Saat melihati kedekatan kedua orang itu, tiba-tiba saja Raca menunjuknya, membuat perempuan itu menatapnya. Cara tersenyum dan perempuan itu juga tersenyum.


~•~


"Lepasin helm gue, dong."


"Lepas sendiri, dong."


"Gue bawa boneka, Raca."


Raca tertawa saat chairmatenya itu ngegas. Rasanya lucu saja lihat wajah ngotot Cara. Dilepas helm itu dari kepala kecil. "Tumben inget?"


"Kemarin gue ngantuk, Ka. Mangkannya lupa. Gue masuk dulu. Makasih bonekanya," kata Cara sambil mengangkat boneka yang sedari tadi dipeluk.


"Itu tadi Kakak gue. Namanya Kak Dara. Beda 5 tahun sama gue." Ucapan Raca membuat Cara balik badan. Tidak tahu kenapa Raca tiba-tiba berucap seperti itu. "Gue sama dia beda Ibu. Waktu ngelahirin dia, nyokapnya meninggal. Papa harus ngerawat dia sendirian selama 3 tahun. Lalu Papa ketemu nyokap gue. Mereka nikah dan nyokap hamil gue. Katanya, sejak dalam kandungan nyokap Kak Dara sayang banget sama gue. Sampai sekarang pun juga gitu. Kami bener-bener deket. Sampai banyak yang ngira kami pacaran kalau jalan berdua. Lo juga ngira gitu, kan?"


Mata Cara melotot dan langsung menggeleng secepat kilat. "Geer banget lo."


"Pakai bohong segala, lo." Raca menoel dagu Cara membuat gadis itu mundur.


"Ngantuk gue," ucap Cara dengan aksi menguap bohongan. "Gue masuk, lo cepetan pulang."


Tak mau jika Raca membahas tentang itu lagi, Cara segera masuk ke rumahnya. Ternyata, keluarganya sedang menunggunya untuk makan malam. Cara pun menaruh boneka di sofa dan bergabung di meja makan. Namun 1 notif line masuk.


Si Acar Busuk: Bonusnya mau ngasih kapan? Udah nggak sabar, nih, gue.


~•~

__ADS_1


__ADS_2