Racara

Racara
Bagian 46


__ADS_3

Mood Cara benar-benar buruk semenjak tidak ada kehadiran Raca. Waktu terasa berjalan lebih lambat dan seolah dia dikurung dalam ruangan seorang diri. Meski ada Gia dan Haidan yang selalu mengajaknya berbicara dan bercanda. Nyatanya itu belum cukup. Cara butuh Raca.


"Cara, duluan, yah," ucap Gia kala melewati Cara yang berjalan seorang diri. Gadis yang disapa tersenyum dan mengatakan agar Haidan mengemudikan motor dengan pelan. Semenjak kenaikan kelas 12, kedekatan Gia dan Haidan sudah seperti bantal dan guling. Tidak ada satupun hari yang terlewatkan untuk kedua sejoli itu bermesraan di depan Cara. Andai saja Raca ada, dia tidak akan tersiksa akan tontonan di depan mata.


Tetapi, Cara merasa senang akan kedua temannya yang makin dekat. Walau keduanya masih tidak merasakan ada sesuatu yang sudah tumbuh. Sejauh ini Cara hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi Gia dan Haidan.


Cara mendorong pagar kayu yang sudah diperbarui oleh Bapaknya. Memasuki pekarangan rumah, Cara baru sadar jika ada yang aneh. Motor verza yang sudah lama ia tidak tumpangi kini terparkir dipekarangan rumahnya. Kepala Cara terangkat dan bertemu dengan seorang cowok yang sekarang berdiri di teras rumahnya. Cowok yang 1 minggu ini ia rindukan kehadirannya. Juga cowok yang 1 minggu ini membuat moodnya memburuk.


Meski Cara kesal dengan cowok itu, tapi tidak dipungkiri jika dia merindukan tubuh yang sangat hangat untuk dipeluk. Segera Cara berlari dan memeluk Raca begitu erat. Seolah mengatakan jika dia sangat rindu.


"Enggak kerasa kita udah jalani hubungan selama 1 tahun."


Ucapan Raca membuat pelukan Cara lepas perlahan. Detik selanjutnya, pukulan kecil didada bidangnya didapati oleh Raca. Pukulan bertubi-tubi yang tidak terasa sakit sedikit, pun. Malahan, Raca jadi gemas dengan wajah kesal Cara.


"Emang lo masih anggap gue?"


"Maaf," ucap Raca sambil mengelus puncak kepala Cara. Cowok itu menurunkan badannya untuk mengintip wajah cantik Cara yang tertunduk. Senyum kecil terbit diwajah Raca saat melihat air mata menetes dari mata kekasihnya. "Prank gue berhasil."


Mendengar ucapan itu Cara mengangkat wajahnya. Menatap wajah Raca yang sekarang menertawainya. Karena malu, Cara mendorong tubuh Raca dan berjalan untuk masuk ke dalam rumah sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Bukannya merasa bersalah, Raca malah tertawa. Dia senang pranknya berhasil hingga membuat Cara menangis. Tanda jika gadis itu sangat merindukannya. Tahu jika Cara ingin dirayu, Raca pun mengekori dengan memasuki rumah seolah itu rumah miliknya. Memang selalu begitu. Menganggap rumah Cara adalah rumahnya juga.


Saat akan ikut untuk masuk ke dalam kamar, Cara sudah terlebih dahulu menutup pintu dengan keras. Aksi ngambek gadis itu berhasil membuat Raca mengelus keningnya. Setelah itu bukannya memohon agar Cara membukakan pintu, Raca malah mengambil sekotak terang bulan rasa kacang yang tadi ia beli khusus untuk Cara. Kemudian kembali di depan pintu kamar gadis yang didalamnya sedang ngambek. Raca duduk menghadap pintu itu. Satu tangannya membawa sekotak terang bulan. Satu tangannya memegang hp dan menekan sebuah rekaman suara yang ia ambil beberapa hari lalu.


Sementara itu, gadis yang berada di dalam kamar sedang berdiri menghadap pintu sambil menunggu permohonan Raca. Namun tak kunjung pun ia dapatkan. Hingga ia kembali kesal dan memilih melangkah menuju kasurnya. Tetapi langkahnya berhenti kala suara seseorang yang sangat ia kenal terdengar. Hal itu membuat Cara mendekatkan telinganya pada pintu kamar. Penasaran karena suara itu menyanyikan sebuah lagu yang kalimatnya pernah ia baca sebelumnya, Cara pun membuka pintu. Didapatinya Raca yang tengah duduk sambil tersenyum menodongkan sekotak terang bulan padanya. Nyatanya suara nyanyian itu bukan live, hanya rekaman. Tetapi jika boleh jujur, lagunya sangat bagus.


"Ini bukan hanya untuk menebus kesalahan gue karena ngeprank lo dengan pura-pura pindah ke Jogja. Tapi ini juga sebagai oleh-oleh dari Jogja."


"Mana ada? Itu tulisannya dari abang terang bulan yang biasanya."


Ucapan Cara membuat Raca memeriksa tulisan yang tertempel diatas kotak. Dengan wajah polosnya Raca menjawab, "abangnya, kan, asli Jogja. Jadi gue enggak salah, dong."


Raca meringis. Memang dia tidak membawa terang bulan itu dari Jogja. Itu terang bulan yang sering dia belikan untuk Cara. Bapak penjualnya juga bukan berasal dari Jogja. Dia hanya menipu Cara. Tidak ada niatan lebih selain untuk membuat Cara tertawa. "Jadi, mau enggak? Pegel megang gini terus," ucap Raca yang sedari tadi menodongkan sekotak terang bulan pada Cara dengan kedua tangannya, namun tak kunjung diterima.


Disogok dengan terang bulan mana bisa untuk menolak. Setelah menerima kotak itu, Cara pun ikut duduk di depan Raca. Jika biasanya terang bulan itu akan segera habis dalam sekejap. Kini terang bulan itu malah disingkirkan. "Lirik lagu tadi kayak pernah dengar kalimatnya," kata Cara yang masih penasaran.


"Masa lupa? Gue buat berbulan-bulan dan lo lupa gitu aja," kata Raca dengan wajah kecewa yang dibuat-buat.


"Puisi itu?"

__ADS_1


"Menurut lo?"


"Kamu aransemen sendiri?"


Anggukan Raca membuat senyum diwajah Cara akhirnya tercipta. Gadis itu tidak menyangka jika Raca menyiapkan ini untuknya. Sementara dia tidak menyiapkan apapun. Jadi ingin peluk Raca lagi tapi gengsi.


"Gue enggak romantis, yah?" Raca menyadari jika hadiah untuk 1 tahun hubungan mereka terasa hambar. Tidak ada bunga, coklat, atau dinner romantis diatas gedung tinggi.


Cara menggeleng. Baginya ini lebih dari romantis. "Setiap orang punya caranya sendiri biar bisa romantis. Dan bagi gue, cara lo ini romantis. Gue suka. Makasih, Ka."


Nyatanya anggapannya salah. Dengan cara sederhana ini Cara sudah menyukainya. Dia jadi makin yakin jika tak pernah salah pilih. Cara adalah gadis sederhana yang akan menyukai apapun yang ia berikan.


"Jangan pernah kasih orang lain buat dengerin lagu ini."


"Kenapa? Jelek, yah?"


"Enggak. Karena cuma gue Caramel yang tak suka caramel."


~•~

__ADS_1


__ADS_2