Racara

Racara
Bagian 23


__ADS_3

"Bangun, Ra. Udah sampe."


Mata itu terbuka. Terkejut saat tahu apa yang sedang ia lakukan. Memeluk Raca. Ini adalah hal yang belum pernah Cara lakukan sebelumnya. Entah kerasukan apa dia bisa melakukan hal konyol ini. Secepat kilat, gadis itu melepaskan tangannya, lalu turun dari motor.


"Makasih, Ka, udah mau nemenin gue seharian ini," ucap Cara dengan wajah lelahnya. Matanya saja masih terlihat jika ingin kembali tertutup.


"Sebagai chairmate yang baik, gue bakal selalu ada buat lo, Ra."


"Yaudah, gue masuk dulu. Ngantuk banget." Cara merenggangkan kedua tangannya ke atas lalu membalikkan badan masuk membuka pagar rumahnya. "Cepetan, pulang, Ka. Jangan suka nongkrong nggak jelas."


Raca hanya tertawa melihat Cara yang belum mengembalikan helmnya. Terlihat gadis itu sudah lelah sekali. Jalannya pun sudah gontai menuju rumahnya. "Oke, Ra. Gue balik. Good night."


Ada yang aneh dengan kepalanya. Terasa berat. Saat Cara pegang. Astaga. Dia lupa mengembalikan helm pada Raca. Segera berjalan keluar panggal meneriaki Raca. "KA! RACA!" Percuma saja gadis itu teriak. Suara motor Raca kan berisik. Jadi bagaimana bisa cowok itu dengar.


Saat melepas helm yang sedari tadi ia pakai. Tak sengaja mata Cara bertemu pada seorang cowok yang mengintipnya dari jendela. Terlihat aneh saat cowok itu langsung menutup tirai dengan cepat.


Zul mengutuk dirinya sendiri karena terpegoki oleh Cara jika dia mengintip. Ini memang kebiasaannya jika mendengar suara motor yang berhenti di depan rumah Cara. Bodohnya, dia melihat hal yang pasti membuatnya sakit hati. Dibuka lacinya. Mengambil obat yang selama ini sudah menjadi temannya. Mungkin sudah hampir 3 tahun dia mengonsumsi obat yang ia dapat dari dokter. Namun kadang ia meminum dengan dosis tinggi agar lebih tenang. Zul tahu dirinya sudah kecanduan dengan obat itu. Kedua orangtuanya tidak tahu, hanya Zeline yang tahu. Sahabatnya itu selalu menasehatinya agar tidak terus-terusan minum obat itu. Tapi Zul memang keras kepala. Sifat yang turun dari sang Papa itu memang melekat pada cowok itu.


"Ini obat apa, Kak?"


Tempat obatnya diambil secara tiba-tiba. Ternyata pelakunya adalah Cara. Bagaimana bisa gadis itu sudah berada di kamarnya. Masuk tanpa izin pula. Segera Zul merebut kembali obatnya. "Vitamin."


"Oh, ya? Bukan obat supaya tenang?"


Menghiraukan pertanyaan Cara yang tidak mungkin dia jawab dengan jujur, Zul memilih meminum obatnya.


"Kalau minum vitamin sampai 2 tablet sekaligus? Bukannya 1 hari 1 udah cukup?"


"Nggak usah banyak tanya. Lo ngapain di kamar gue?"

__ADS_1


"Mau mastiin apa yang ngintip aku dari jendela itu Kakak atau bukan."


"Serius? Nggak ada maksud lain?"


"Kok sekarang Kakak yang banyak tanya."


Zul diam. Jujur saja dia bingung setelah ketahuan jika dirinya meminum obat-obatan. Karena yang Zul tahu, Cara akan terus-terusan tanya tentang apa yang masih membuatnya bingung. "Kalau lo masih pingin tanya ada masalah apa antara bokap lo sama bokap gue, mending lo pulang."


"Dari awal aku ke sini bukan buat bahas soal itu. Tapi karena Kakak ngingetin, aku bakal tanya." Cara bisa lihat jika Zul mulai tidak tenang. Seperti merasa takut. Apa mungkin karena ketahuan minum obat oleh Cara? "Aku udah ketemu sama Zeline. Dia sahabat Kakak, kan? Kakak nggak usah takut. Sahabat Kakak nggak bilang apa-apa. Dia cuma cerita awal mula kedatangan Kakak dan Papanya yang ditugaskan ke luar negeri hingga sekarang. Informasi kedua yang aku dapatkan buat aku ngerasa yakin kalau Papa Kakak yang ngerencanain semua. Papa Kakak suruh orang bagian keuangan kantor untuk pergi ke luar negeri biar Papa Kakak aman diam di rumah. Licik banget, yah."


Amarah Zul meledak. Wajah cowok itu sudah merah dan Cara tahu itu. "Gue akui bokap gue emang salah. Tapi gue nggak mau bokap gue dipenjara."


Ucapan Zul membuat Cara tersulut. Alasan yang diucapkan Zul sangatlah konyol dan seenaknya sendiri. "Terus, keluarga kalian ngelempar semua kesalahan ke bokap gue yang nggak salah apa-apa karena nggak mau Om Budi di penjara. Egois banget. Kakak tahu nggak, kalau ketakutan Kakak karena ancaman bokap Kakak buat susah hidup keluarga gue. Kehilangan kepala keluarga selama 7 tahun. Harus hidup irit biar bisa tetap hidup. Dan sekarang gue dengar alasan sekonyol itu. Alasan yang mikirnya nggak pake otak," ucap Cara dengan wajah yang sudah merah. Tidak mau membuang waktu percuma dan hanya membuat emosi, Cara memilih untuk pulang.


"Amel, kok udah mau pulang aja? Tante lagi bikin kue, kamu nggak mau coba?" tanya Ningsih saat melihat remaja 15 tahun turun dari tangga.


"Nama aku Cara!" ucap Cara penuh penekanan lalu melenggang pergi. Ningsih yang melihatnya hanya bingung karena tidak biasanya gadis remaja itu bersikap ketus.


Sikap aneh Cara membuat Budi merasa ada sesuatu dengan putranya. Segera ia menanyakan, apa ada hubungannya dengan kebenaran yang ia simpan selama 6 tahun.


"Nggak, Pa. Cuma masalah anak remaja aja." Terpaksa Zul harus berbohong. Dia tidak mau melihat Papanya berubah menjadi singa atau bahkan seperti iblis untuk hari ini saja. Dia ingin mengakhiri hari ini dengan tenang.


"Kalau sampai kebenaran terungkap, itu berarti dari mulut kamu. Konsekuensinya Papa nggak akan anggap kamu sebagai anak. Ingat, Papa udah nurutin kemauan kamu buat balik ke sini. Kamu juga harus nurut sama Papa."


"Udah 6 tahun aku nurut sama Papa. Aku nggak akan bilang, tapi kebenaran akan terungkap secepatnya, Pa."


~•~


Awalnya niat Cara untuk pergi ke rumah Zul hanya ingin tanya tentang kebenaran dari ucapan Zeline. Ternyata memang benar jika Zul meminum obat-obatan. Namun saat Zul dengan enaknya memberi alasan konyol, Cara sangat marah. Apa lagi saat bertemu dengan Budi di depan. Ingin rasanya Cara memukul atau menghajar iblis berwujud manusia itu.

__ADS_1


"Dek, wajah lo kenapa? Kayak..."


Dipeluknya sang Kakak yang baru saja keluar dari kamar mandi. Randy yang bingung hanya bisa memeluk sang adik dan membawa ke kamar. "Ada apa, sih, Ra?"


Hari-hari yang Cara lalui akhir-akhir ini terasa sangat berat. Cara sudah tidak kuat. Apa yang dia dengar sangatlah membuatnya marah. Tidak percaya jika teman kecilnya itu sangat egois.


"Kak, aku udah nggak kuat. Kak Zul sama Papanya itu benar-benar jahat," ucap Cara sesenggukan dan berusaha menghapus air matanya.


"Maksud lo, dek? Gue nggak ngerti."


"Sejak aku ngelihat bapak sama Om Budi yang nggak nyapa waktu kita diundang makan malam sama Tante Ningsih, aku merasa ada yang aneh. Aku ngerasa kalau ada masalah diantara mereka. Terlebih lagi kedatangan keluarga mereka yang aneh. Mereka pergi saat Bapak dipenjara dan balik setelah bapak bebas. Ditambah Kak Zul yang terus marah kalau aku bahas soal ini. Dan tadi, aku dengar sendiri, Kak, kalau Kak Zul bilang bokap dia yang salah. Kakak tahu, alasan kenapa Kak Zul nggak mau bilang? Dia nggak mau bokapnya dipenjara. Alasan yang benar-benar konyol dan egois banget."


Randy terkejut dengan penjelasan adiknya itu. Dia tidak pernah curiga akan pergi dan baliknya keluarga Zul. Dan alasan Zul yang diucapkan Cara memang konyol dan sangat egois. "Jadi selama ini lo cari tahu, dek? Dan lo nggak cerita ke gue. Harusnya lo cerita sama gue, dek. Kita ini saudara, kita harus selesain masalah ini sama-sama."


"Maaf, Kak. Aku sampai lupa kalau ada Kak Randy yang bakal bantuin aku."


"Trus, apa aja yang udah lo tahu, dek."


"Tadi, aku sama Raca datang ke rumah lama Zul. Ternyata dia nggak ke Jakarta, melainkan ke pusat kota. Terus waktu gue sampai, gue malah ketemu sama sahabatnya, namanya Zeline dan ternyata rumah Zeline sebelahan sama rumah Kak Zul."


"Zeline?" Randy terkejut saat mendengar nama itu dari mulut adiknya.


"Iya, Kak. Namanya Zeline. Kata bapak, ada 1 orang yang punya bukti. Namanya Om Setyo dan ternyata itu bokapnya Zeline. Kata Zeline bokapnya ditugasin ke luar negeri sama Om Budi dan sampai sekarang belum pulang."


Semua yang dikatakan Cara sama dengan keadaan Zeline yang Randy kenal. Mungkin Randy memang harus menemani adiknya mencari bukti itu. "Hari Sabtu, ajak gue ketemu sama Zeline yang lo maksud. Gue mau bicara sama dia."


 


~•~

__ADS_1


 


__ADS_2