
"Nggak pacaran tapi tiap hari dianterin pulang," ucap Randy saat melihat adiknya yang baru saja pulang, tentunya diantar Raca. Entah ini yang keberapa kalinya mereka pulang bersama. Kalau begitu, bagaimana Randy tidak berpikir jika mereka berpacaran.
"Kenapa, sih, Kak? Pingin dianterin pulang sama Raca?" tanya Cara sambil melepas sepatunya. Lalu mendongak melihat wajah Kakaknya, "mau aku bilangin ke Raca?"
Didorong kening adiknya, membuat Cara hampir jatuh. Untung saja gadis itu langsung memegang pilar teras rumah. Setelah selesai melepas sepatu, dikejarnya Randy yang sudah berlari masuk ke rumah. Digedor-gedornya pintu kamar sang Kakak. Namun tak kunjung dibuka. "Kak Randy, aku mau bicara."
"Bohong. Lo pasti mau mukulin gue. Ngggak bakal ketipu sama aktingmu itu," kata Randy sambil mengganti baju.
"Aku mau bicara soal Kak Zul," kata Cara sambil tetap menggedor-gedor pintu kamar Randy. Karena berisik, terpaksa Randy membukakan pintu. Tidak tahu jika hal itu membuat sang adiknya tertelungkup ke lantai. Cowok itu hanya meringis dan berjalan naik ke kasurnya. Sang adik berdiri dengan wajah kesal. Detik berikutnya peperangan dimulai. Pukulan bertubi-tubi terus Randy dapatkan. Cowok itu tak bisa membalas, hanya bisa melindungi kepalanya dengan lengannya yang kekar. Maklum, sering angkat jemuran tiap 3 hari sekali.
Mendapat celah untuk membalas, Randy pun membalas dengan menggelitiki sang adik. Kalau urusan digelitiki, Cara tidak bisa membalas. Itu sangat geli sekali. Gadis itu hanya bisa tertawa dan mencoba mendorong tangan sang Kakak dari perutnya, namun tangannya lemah. "Aduh, Kak. Udah, hahahaha. Cara nggak kuat. Geliiiii."
"Janji nggak mukulin gue lagi?" tanya Randy masih terus menggelitiki sang adik. Mendapat anggukan, akhirnya Randy mengakhiri balas dendamnya. Cowok itu bersandar pada tembok. Sementara sang adik berusaha duduk di sebelah Randy dengan tubuh yang sudah tidak ada tenaga karena Kakaknya.
"Mau ngomong apaan?" tanya Randy yang masih ingin tertawa melihat wajah adiknya yang kelelahan. Untung saja dia ingat letak sensitif Cara yang bisa buat gadis itu kalah. Karena ulahnya, Cara masih berusaha mengambil napas yang banyak.
"Bentar, mau napas dulu."
"Emang tadi nggak napas?"
"Hampir sakaratul maud tadi."
"Hush, malaikat lewat dikabulin ntar nggak bisa ketemu Raca."
"Apaan, sih. Nggak ada sangkut pautnya sama Raca."
"Ada. Kalian kan sehati."
__ADS_1
Adiknya itu menyilangkan tangan di depan dada dengan bibir yang terlipat. Melihat kelucuan sang adik yang tetap terlihat seperti bocah 9 tahun membuat Randy gemas. Hal yang dilakukan Randy saat gemas dengan adik perempuannya yaitu mengelus rambut lalu menyandarkan kepala Cara ke pundaknya. Semenjak Bapaknya dibawa oleh polisi, Randy sering melakukan hal ini jika adiknya itu sedih dan rindu dengan sosok Bapak. Karena ucapan Heri, Randy pun selalu berusaha menjadi tulang punggung keluarga. Sejak masuk SMP, Randy sering menjadi tukang print tugas temannya, masuk SMA dia kerja di sebuah kedai kopi, itu ia lakukan untuk membantu sang Ibu agar tidak perlu memberinya uang. Randy juga selalu berusaha untuk menjadi yang paling kuat, walau sebenarnya dia juga pernah menangis diam-diam. Karena sekeras apapun Randy mencoba menjadi pengganti Bapak, dirinya tidak akan bisa. Bapaknya itu tidak bisa tergantikan.
"Kak, tadi aku ketemu sama Kak Zul," ucap Cara pelan. Pundak Kakaknya itu selalu bisa membuatnya tenang. Ditambah elusan lembut dipuncak kepala. Walau mereka sering bertengkar atau sekedar cek-cok, setidaknya 2 hal itu yang membuat mereka dekat.
"Terus kenapa? Dia udah pindah, kan?"
"Iya dan sekarang Kak Zul kayaknya benci sama aku. Waktu dia mau pindahan, dia marah-marah dan bilang kalau aku penyebab keluarganya hancur. Terus sekarang dia nggak pernah nyapa aku dan tatapan matanya selalu menyiratkan kebencian. Apa yang aku lakuin salah, Kak?"
"Enggak, Ra. Lo nggak salah. Apa yang lo lakuin itu benar dan meskipun lo nggak lakuin kebenaran akan keluar juga. Biarin Zul kayak gitu, mungkin dia masih belum bisa nerima Bapaknya pergi."
"Raca juga bilang gitu. Kata Raca, Kak Zul butuh orang yang bisa kasih perhatian, kayak Kak Zeline. Soalnya Kak Zul suka minum obat buat hilangin kecemasannya, ketakutannya, pokoknya biar dia lebih tenang. Aku rasa dia punya banyak tekanan, Kak. Aku jadi kasihan. Aku kangen kita bertiga yang selalu main bareng, makan bareng, mandi bareng, tidur bareng, pergi sekolah bareng. Andai aja waktu itu Kak Zul nggak milih buat pindah. Kita bisa makan bareng di kantin, berangkat dan pulang sekolah bareng. Aku kangen masa-masa itu, Kak," ucap Cara memeluk sang Kakak.
Randy juga rindu akan hal itu. Dia berteman dengan Zul sejak masih bayi. Tumbuh bersama selama 11 tahun. Bahkan, Zul sudah ia anggap seperti kembarannya. Masih ingat mereka yang suka mencuri mangga milik tetangga, manjat sekolah buat beli jajan di luar, naik angkot tapi nggak bayar, juga saat mereka bertengkar di sekolah karena keduanya tidak bisa menjaga Cara. Ceritanya, saat itu Cara dikerjain sama teman kelasnya dan salah satu diantara mereka tidak ada yang membantu. Mangkannya mereka saling menyakiti satu sama lain. Sejak Zul pindah, mereka tidak pernah berhubungan. Hingga bertemu di sekolah Cara.
"Gue juga kangen, dek. Lo ingat nggak? Zul pernah nangis sampai meluk kaki Mamanya biar diizinin tidur di rumah kita. Bahkan, dia juga pernah kabur dari lantai 2 dan turun pakai tangga biar bisa main ular tangga di rumah kita. Dulu, dia juga selalu minta baju yang sama kalau kita pakai baju kembar. Gue rasa Zul nggak akan benci sama lo."
"Aku ingat, Kak. Kapan bisa foto bareng bertiga lagi. Biar bisa dipos di instagram. Kan, lagi jamannya old and now."
"Kak Randy!!! Kak Cara!!! Bapak bawa makanan banyak. Ayo keluar!"
Tiba-tiba saja Hafidz masuk dan berucap seperti itu. Sepertinya Hafidz baru pulang bersama Ibu dan Bapak. Randy dan Cara pun keluar, bergabung dimeja makan yang sudah penuh dengan makanan. Ada sate, martabak telur, terang bulan favorit Cara, dan es campur. Melihat makanan dan minuman yang menggiurkan, segera Randy dan Cara duduk.
"Wihhh! Bapak habis gajian, yah?" tanya Cara sambil matanya yang tak bisa lepas dari terang bulan yang sudah melambai-lambaikan tangan agar dia memakannya.
"Bos bapak kasih bonus karena Bapak yang paling banyak melayani pelanggan. Ayo dimakan!"
Langsung saja ketiga anak menyerbu makanan yang menggugah selera. Heri dan Nani tersenyum melihat anaknya yang tiba-tiba jadi rakus. "Mas, kamu bakal balik ke kantor, kan?"
__ADS_1
"Iya. Mulai besok aku balik ke kantor. Setyo juga udah aku angkat jadi tangan kananku. Doakan bisnisku kembali maju," jawab Heri.
"Selalu mas," kata Nani dengan senyum malaikatnya.
Cara yang mendengar kabar baik itu teriak. Gadis itu berbicara dengan mulut yang masih penuh akan terang bulan rasa kacang. "Cara senang Bapak balik kerja dikantor lagi."
"Kerja kantor itu kerjanya gimana, Kak?" tanya Hafidz sambil memakan sate hingga wajahnya cemot oleh bumbu kacang.
"Kerja kantor itu kamu cuma duduk dan kerjaannya bakal dikerjain sama karyawan lain," jawab Cara.
"Bapak bos?" tanya Hafidz dengan matanya yang membesar.
"Iya dong."
Hafidz bertepuk tangan, "wihhh, bapak hebat."
Dielusnya puncak kepala anak bungsu, "Hafidz juga bakal jadi polisi yang hebat."
"Iya dong. Semua penjahat bakal Hafidz tangkap. Hap," kata Hafidz dengan gaya menepuk nyamuk. Tingkah bocah berumur 6 tahun itu sukses membuat meja makan semakin ramai.
Dalam waktu kurang dari 30 menit, makanan dimeja sudah habis hingga bersih. Bumbu kacang saja sampai dibersihkan oleh Hafidz dengan lidahnya. Kacang yang jatuh dikotak terang bulan saja Cara punguti dan masuk ke mulutnya. Sekarang Randy dan Cara sedang duduk di sofa menonton film. Sejaj tadi Cara melirik Kakaknya yang bermain hp. Dilayar persegi itu muncul roomchat Kak Zeline. Yang Cara lihat, Kak Randy mengirim pesan namun tak kunjung dibaca. Hingga sebuah notif dengan nama "temen Cara" muncul. Cara bisa lihat jika Kakaknya mengabaikan pesan yang ia yakini dari Gia. Sebenarnya Cara juga tidak habis pikir dengan sahabatnya yang sangat pemberani dan pantang menyerah itu.
"Daripada nunggu balesan dari Kak Zeline, mending Kakak bales chat dari Gia."
Randy menoleh pada adiknya. Jadi sedari tadi Cara mengintip layar hpnya. Segera Randy memiringkan hpnya agar tidak dilihat oleh Cara.
"Pasti sekarang Gia juga mantengin hpnya, nunggu balesan dari Kakak. Udahlah, Kak. Kalau Kak Zeline nggak mau dideketi mending Kakak sama Gia. Dia baik, kok. Aku juga yakin kalau Gia tulus sama Kakak. Jangan sia-siain orang yang selalu ada buat kita. Nanti kalau orang itu udah capek, baru tahu rasa, loh."
__ADS_1
"Kayaknya 2 kalimat terakhir cocok banget buat lo. Biar sadar."
~•~