
"Ini hari pertama MOS buat murid baru, yah?" tanya Cara saat melihat wajah-wajah baru dengan seragam putih biru memasuki kawasan Sekolah. "Jadi ingat waktu pertama kali kita ketemu, Ka."
Raca mendengar ucapan Cara, namun cowok itu masih asyik bercermin, membenarkan rambutnya yang panjang. "Ketampanan gue ini emang nggak bisa dilupain," ucap Raca sambil mengelus kedua pipinya. Diambil sebuah kacamata disaku seragamnya. Setelah menurut cowok itu penampilannya sudah bagus, ia turun dari motor. "Gimana? Udah oke belum?"
"Lo ngapain pakai kacamata?"
"Biar keren. Ntar adik kelas pada naksir sama gue."
Cara menahan tawa dan berjalan mendahului Raca. Teman sebangkunya itu memang suka tebar pesona. Padahal, tanpa tebar pesona saja Raca bisa membuat orang terpesona. Buktinya fans Raca bertebaran dimana-mana. Walau tetap saja, fans Cara lebih banyak.
Tiba-tiba saja seseorang dari belakang menubruk Cara hingga terjatuh. Tidak ada kata maaf dari sang pelaku. Seperti tidak merasa bersalah sama sekali. Cara bisa lihat sang pelaku yang memakai seragam putih biru. Adik kelas zaman sekarang tidak punya sopan santun sama sekali. "Lo punya sopan santun nggak, sih? Main nabrak tapi nggak minta maaf," ucap Cara kesal. Raca yang melihat langsung berlari dan membantu Cara berdiri.
"Tangan lo berdarah, Ra. Ayo gue obatin," kata Raca lalu menggandeng Cara menuju uks.
Dengan telaten, Raca mengobati tangan Cara yang terluka. Sesekali Cara meringis karena perih. Setelah selesai mengobati tangan Cara dan memberi hansaplast mereka pun berjalan ke kelas.
Gia yang melihat rok Cara sedikit kotor langsung menyidang sahabatnya itu. "Ra, rok lo kenapa bisa kotor gitu?"
Pertanyaan Gia membuat Cara mengecek roknya. Ternyata memang kotor. Segera dia membersihkan dengan tangan. "Ini gara-gara adik kelas baru yang nggak tahu sopan santun. Masa habis buat gue jatuh langsung nyelonong pergi aja. Tangan gue sampe luka," ucap Cara lalu menunjukkan tangannya yang terluka.
"Gila!! Masih anak baru udah kurang ajar banget. Lo inget nggak anaknya yang mana? Ntar kita labrak," ucap Gia yang ikut kesal.
"Gue nggak bisa lihat wajahnya. Coba aja gue bisa lihat, udah gue rencanain balas dendam," kata Cara dengan wajah yang berapi-api.
"Nggak boleh balas dendam," timpal Raca.
"Tapi kalau gitu adiknya bakal ngelunjak," kata Gia ikut berapi-api seperti Cara.
"Iya, Rak. Kalau kita biarin dia bakal ngelunjak." Haidan yang sedari tadi diam akhirnya ikut berbicara.
"Tapi masalahnya kita nggak ada yang tahu adiknya yang mana. Salah labrak kita bisa masuk bk," jawab Raca dengan wajah santainya.
"Iya juga, sih. Yaudah gue maafin aja walau dia nggak minta maaf," kata Cara pasrah.
~•~
Matahari lagi diujung kepala. Namun semangat siswa-siswi tidak padam. Mereka rela panas-panasan untuk menonton demo ekskul yang pasti meriah. Barusan ekskul basket mendemokan ekskulnya. Sorak dan tepuk tangan bertebaran. Hingga tiba ekskul futsal, Cara langsung berdiri dan meneriaki nama "RACA!!!". Aksi gila Cara itu langsung mendapat sorotan. Murid baru langsung melihatinya. Yang laki tertarik dengan Cara, sementara yang perempuan mencari Raca yang dimaksud Cara.
Mendengar namanya dipanggil Raca melambai tangan pada Cara yang duduk di tribun dengan semangat. Benar jika Cara itu bisa menularkan aura positif. Karena Cara, Raca jadi semangat.
"Gila, sih. Gue rasa Raca bakal jadi the next ketua futsal," kata Cara terkagum dengan aksi Raca yang mengoper dan menendang bola.
"Lihatin Raca sampai nggak kedip gitu," ucap Haidan sambil menyenggol lengan Cara.
__ADS_1
Cara balik menyenggol lengan Haidan, "trus lo ngapain lihatin gue?"
"Mendinglah. Daripada gue lihatin Raca."
"Oh. Gue mau nyusul Raca aja," ucap Cara menyusul Raca yang keluar lapangan karena waktu mendemokan ekskulnya sudah selesai.
Sekarang Raca dan Cara sedang berada di kelas. Mereka malas menonton demu ekskul yang tidak selesai-selesai. Kan, lebih enak di kelas. Bisa pakai wi-fi sekolah dengan lancar jaya. Ditambah mereka bisa berduaan dengan tenang walau mereka bukan sepasang kekasih.
Dengan handuk putih yang Raca bawa, Cara mengelap keringat cowok itu. Sepertinya bermain bola dibawah terik matahari sangat membuat Raca lelah. Satu botol air mineral sudah Raca teguk dalam hitungan detik. Cowok itu sekarang menutup mata, membiarkan Cara mengelap wajahnya. "Kok kayaknya ada bau-bau the next ketua futsal, yah?"
"Ketua futsal atau ketua keluarga, nih?" tanya Raca balik.
"Ketua futsal-lah. Emang lo mau jadi ketua keluarga siapa? Udah ada calonnya?"
"Ada. Lo."
Ucapan Raca membuat Cara berhenti mengelap. Gadis itu menjatuhkan handuk diwajah Raca lalu duduk menjauhkan jarak mereka. Raca melihat sikap Cara yang berubah karena ucapannya. Terlihat lucu sekali.
Setelah menjauhkan handuk dari mukanya, kini Raca menatap wajah Cara dengan jarak dekat. "Cieeee....pipinya merah. Padahal ini cuma juli mop."
Kesal karena Raca yang menggodanya, didorong kening cowok itu agar jarak mereka berjauhan. "Mana ada juli mop?"
"Ada. Kayak gue yang selalu ada buat lo."
Raca tertawa kecil. "Kalender diotak gue nggak ada bulan april. Mangkannya gue pake bulan juli aja," ucap cowok itu berusaha melucu.
"Masalahnya diotak gue nggak ada bulan juli."
"Trus, yang ada diotak lo apa?"
"Acar."
"Nggak jelas banget lo, Ra," kata Raca yang tidak bisa memahami isi otak Cara.
~•~
Makan di kantin berdua memang sudah biasa bagi Raca dan Cara. Dijadikan tontonan menemani murid lain makan juga sudah biasa bagi mereka. Diomongin alias digosipin punya hubungan dekat juga sudah biasa bagi mereka. Dilihatin adik kelas sambil digosipin pacaran itu belum biasa. Ini pertama kalinya.
"Itu, kan, kakak kelas yang kemarin neriakin Raca. Apa itu Raca nya?"
"Ganteng banget gila."
"Tapi kayaknya mereka pacaran, deh."
__ADS_1
"Bisa jadi. Secara kemarin si cewek teriak terus buat kasih semangat. So sweet banget nggak, tuh?"
"Gue kalau jadi pacarnya Kak Raca bakal lakuin yang lebih dari cuma kasih semangat. Misal lapin keringat."
"Tapi kayaknya lo nggak bakal bisa jadi pacar Kak Raca. Secara yang cewek cantik banget."
"Namanya Kak Cara. Followers instagramnya banyak banget. Trus banyak kedekatan sama Kak Raca yang dibagikan."
"Dipostingan terakhir Kak Raca yang captionnya *sign hear*t buat yang ngefotoin. Gue baca komennya ada yang tag Kak Cara."
"Yaudahlah, mereka berdua cocok, kok. Namanya aja mirip."
Raca dan Cara tertawa kecil mendengar pembicaraan sekelompok siswi baru yang duduk dibangku kantin sebelah mereka. Entah mereka yang tidak tahu jika suara mereka kurang kecil atau sengaja membesarkan suara. "Dek!" panggil Raca membuat sekelompok siswi itu menoleh pelan bersamaan.
"Volumenya kecilin dikit. Gue sama pacar gue masih bisa dengar," tambah Raca. Alhasil sekelompok siswi itu malu dan memilih untuk meninggalkan kantin. Mereka juga menyalahkan satu sama lain. Lucu sekali.
"Emang rasanya jadi pacar Raca itu gimana, sih?" tanya Cara sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
Tiba-tiba saja Raca juga ikut menopang dagunya. Hal yang membuat jarak mereka dekat. "Mau nyoba?"
"Ogah. Siapa juga yang mau jadi pacar lo." Tak mau penghuni kantin salah paham akan mereka, Cara memilih untuk menjauhkan wajahnya.
"Gue juga ogah," kata Raca yang menegakkan tubuhnya kembali.
"Permisi. Kak Cara, ini surat buat Kakak." Cara menoleh dan mendapati adik kelas sedang mengulurkan amplop berwarna merah hati. Jujur saja Cara bingung harus apa karena tiba-tiba saja ada adik kelas yang memberinya surat. Padahal mereka belum pernah bertemu. Awalnya Cara tidak ingin mengambil amplop merah hati berisi surat itu, namun adik kelas meninggalkannya dimeja kantin lalu pergi. Dengan jurus kilat, Raca mengambil amplop merah hati itu sebelum didahului Cara. "Eh, Ka. Jangan dibuka."
"Kenapa? Gue kepo," kata Raca membuka amplop merah hati dan mengambil sepucuk surat dengan tinta hitam yang terlihat sangat rapi.
"Pergi ke Madura naik becak. Hai Kak Cara boleh kenalan nggak?"
Langsung saja Cara berdiri untuk merebut surat itu dari Raca. Karena suratnya hanya berisi itu saja, Raca pun mengembalikan suratnya. Lalu sedetik kemudian tawa muncul membuat Cara malu. "Adiknya ngapain ke madura naik becak? Emang becak boleh masuk ke jembatan suramadu? Lawak kali, sih," kata Raca masih terus tertawa.
Kesal karena tawa Raca, dipukulnya tangan cowok itu. "Lo bisa diem nggak, sih, Ka. Malu tahu diliatin banyak orang."
"Iya, iya. Perut gue juga udah sakit," ucap Raca yang akhirnya berhenti tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit.
"Jangan gitu. Kalau adiknya masih di sini, kan kasihan."
"Cieee...suka sama adiknya."
"Sapa yang bilang suka?"
"Gue lupa," ucap Raca memukul keningnya pelan, "lo kan sukanya sama gue. Iya, kan?"
__ADS_1
~•~