
Ini hari ketiga Raca dan Cara menjalin hubungan sepasang kekasih. Tapi rasanya sama saja seperti hari biasa. Mungkin ini yang dibilang pacar rasa temen.
"Ka, solob, kuy," bisik Cara sambil menutupi mulutnya.
"Nggak boleh solob." Raca juga ikut berbisik sambil menutup mulutnya.
"Gue belum sarapan dari tadi pagi."
"15 menit lagi istirahat, Ra. Nggak bisa nahan apa?"
Tiba-tiba saja sebuah penghapus papan tulis meluncur ke meja dan mengenai kening Cara. Gadis itu mengeluh kesakitan sambil mengelus keningnya. Lemparan Bu Dania sepertinya cukup keras. "Kalian berdua nggak nulis yang Ibu suruh?"
"Nulis, Bu," jawab Raca menunjukkan tulisannya.
"Trus kenapa rame?" tanya Bu Dania dengan wajah berapi-api. Beliau berkacang pinggang lalu berjalan mendekati bangku Raca dan Cara. Seisi kelas langsung menjadikan itu sebagai tontonan.
"Kalian pacaran, yah?" Raca menjauhkan telinganya setelah mendengar suara bom dari mulut Bu Dania. Ini masih level bawah. Kalau level atas, Haidan sudah pernah dapat.
"Kok Ibu tahu? Peramal? Kayak Dilan, dong." Ucapan Raca mendapat pukulan dipunggung cowok itu. Bu Dania memang terkenal galak dan suaranya yang akan terngiang selalu ditelinga.
"SEKARANG KELUAR DAN JANGAN IKUT PELAJARAN SAYA!!"
Teriakan Bu Dania langsung membuat Raca dan Cara berlari keluar kelas. Tidak mau melihat singa betina itu mengamuk lebih parah lagi. Telinga Raca terasa panas karena Bu Dania yang berteriak didekat telinganya.
"Gila, singa betinanya keluar," kata Cara setelah duduk dibangku kantin dengan napas yang ngos-ngosan.
"Gue rasa itu teriakan 1 level lebih atas dari yang Haidan dapat waktu awal masuk kelas 10," kata Raca terus menggosok telinga kirinya yang masih panas.
Niat bolos Cara malah direstui oleh Bu Dania. Gadis itu sudah memesan mie ayam dengan jeruk hangat, tentunya ditraktir oleh Raca. Makannya sangat lahap seperti kelaparan. Ini karena tadi pagi gadis itu bangun kesiangan hingga tidak sempat sarapan.
"Kalau makan pelan-pelan, Ra." Baru berucap seperti itu, gadis itu sudah tersedak. Dengan cepat Raca memberikan jeruk hangat. Selain selalu ada untuk Cara, Raca juga ingin menjadi penolong Cara dari bahaya apapun. Salah satu contohnya kejadian barusan.
"Ra, lo mau bikin couple goals, nggak?"
"Buat apa?"
"Buat rencana hubungan kita mau dikemanain."
Mendengar jawaban kocak dari Raca, dipukulnya lengan cowok itu. Raca sepertinya terlalu berlebihan. Hubungan mereka masih belum menginjak 1 minggu. Namun sudah memikirkan hal itu. Bahkan, Cara saja sampai lupa jika sekarang mereka adalah sepasang kekasih. "Sampai lo buat gue timpuk pakai sepatu bokap gue," ancam Cara malah membuat Raca tertawa.
"Gue maunya nanti kita pacaran sampai lama, pokok jangan ada yang putusin hati yang sudah terikat. Terus nanti kita ldr buat kejar cita-cita masing-masing. Lalu gue dateng bawa cincin dan lamar lo di depan rumah lo," kata Raca sambil berandai-andai.
"Ternyata otak lo juga bisa buat halu, yah?"
"Ini bukan sekedar halu. Ini jalan yang bakal gue pilih."
__ADS_1
Cara menepuk keningnya. Dia baru sadar jika Raca sedikit aneh. Harusnya sebelum menerima cowok itu, Cara mempertimbangkan selama 7 abad. "Kenapa gue bisa suka sama lo?"
"Karena takdir."
"Jangan hubungin sama takdir."
"Masalahnya lo cuma bisa dihubungin sama gue. Apa itu bukan takdir?"
~•~
Setelah menunaikan shalat dzuhur di masjid, Cara dan Gia pergi ke kantin. Mereka mengantri untuk membeli tahu. Jujur saja tahu di kantin memang benar-benar enak. Gia saja bisa habis 10 ribu jika tidak Cara rem.
Karena tidak mau dimintai oleh teman sekelas, mereka memilih menghabiskannya di kantin. Tahu punya ibu kantin memang ter-the best. Apalagi kalau pakai sambal kecap. Mantap sudah.
"Gila! Kayaknya gue harus nambah lagi, Ra."
Sebelum Gia berdiri, Cara mencegahnya. Mengatakan pada gadis itu agar menabung saja. "Mending uang lo buat beli skincare, biar Kakak gue suka sama lo."
"Bener juga," kata Gia akhirnya mengurungkan niatnya. Ucapan Cara benar juga. Skincare bisa membuatnya lebih disukai oleh Randy. Ditambah, sekarang Randy cepat membalas pesannya. Sepertinya kesempatan Gia makin menambah. Tidak sia-sia menyepam Randy selama ini.
"Ra, gue rasa lo sama Raca habis jadian, yah?"
Karena pertanyaan yang Gia lontarkan, Cara tersedak. Dengan cepat Gia membelikan minuman botol dan memberikan pada Cara. Ditepuk-tepuknya punggung sahabatnya, "Lo makan nggak baca bismillah."
"Atau karena pertanyaan gue?" tebak Gia, "gue rasa kalian emang udah pacaran. Sejak kapan?"
Gia langsung melompat karena senang mendengar kabar gembira itu. Akhirnya sahabatnya itu jadian juga. Sudah lama Gia gemas melihat kedekatan Cara dan Raca. Keduanya saling gengsi buat ngungkapin perasaan. Mangkannya Gia sering menjadi makcomblang buat 2 orang gengsi itu.
"Tapi kenapa rasanya kayak pacar rasa temen, yah, Gi?"
"Soalnya kalian itu dekat banget. Lagian itu juga nggak buruk, kok. Karena kalian ngerasa kayak temen, jadi kalian nggak perlu jaim dan nutupin satu sama lain. Katanya itu bisa buat hubungan awet."
"Tahu darimana? Lo kan jomblo."
"Dikasih tahu Haidan."
"Lo sama Haidan juga dekat, Gi. Nggak ada rasa gitu?"
Gia memukul lengan Cara. Apa yang diucapin sahabatnya itu sama sekali tidak mungkin. "Nggak mungkin. Gue nggak kayak lo sama pacar nyebelin lo itu."
~•~
Sudah ratusan kali Cara dibonceng pakai motor Raca. Ke sekolah, dari sekolah, atau jalan-jalan keliling kota. Tapi ini baru pertama kali motor Raca harus diperbaiki. Kata tukang bengkel karena kena paku.
"Masih lama, Ka?"
__ADS_1
"Iyalah. Bannya harus diganti. Lo mau ninggalin gue di sini?"
Cara menggeleng. "Enggak. Gue mau kayak lo yang selalu ada buat gue."
Terlihat lucu saat Cara berbicara begitu. Diacak-acaknya rambut gadis itu. Hal yang membuat sang korban marah."Pacar gue gemesin banget, sih."
"Rambut gue jadi berantakan." Cara menjauhkan tangan Raca, lalu membenarkan rambutnya. Tiba-tiba saja sebuah hp berbunyi. Ternyata Raca sedang memotonya. Kesal karena foto itu pasti aib, Cara merebut hp dari tangan Raca. Namun cowok itu terlalu tinggi. "Ishhh, Ka. Aib pasti."
"Mau gue pos di instagram. Kalau bisa ambil," kata Raca yang sama sekali tidak berusaha menjijit atau meloncat. Tapi tetap saja Cara tidak bisa merebut hp dari tangannya.
"Pos aja. Gue juga punya aib lo." Akhirnya Cara pasrah. Gadis itu menyilangkan tangan di depan dada. Memalingkan muka dari hadapan Raca.
Mengetahui jika chairmate sekaligus pacarnya ngambek, Raca menoel dagu Cara. Mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. "Padahal fotonya sebagus ini," ucap Raca menunjukkan hasil jepretannya ke Cara. Melihat hasil foto tanpa seizinnya, secara kilat Cara merebut hpnya dari tangan Raca. Dilihat-lihat, foto itu tidak aib. Bukannya pede, tapi dia masih terlihat cantik dengan gaya candidnya.
"Jangan dihapus!"
~•~
Randy terus-terusan melempar snack ke arah Cara yang sedang duduk diujung sofa. Sejak tadi adiknya itu fokus melihati layar hp. Sambil sesekali tersenyum dan tertawa. Sudah dipastikan jika sedang membaca pesan dari sang pujaan hati. Siapa lagi jika bukan Raca. Cowok yang selalu ada disamping adiknya. Dimana ada Cara, disitu ada Raca. Itu sudah bisa dipastikan 93%.
"Kamu ngapain ganggu adikmu terus?" tanya Nani akhirnya mendekati putra sulungnya. Sejak membersihkan makanan dimeja makan, dia sudah melihat kelakukan Randy yang membuang makanan terus menerus dengan tujuan menggangu sang adik.
"Lihat, Bu. Senyum-senyum sendiri karena baca chat dari pacar," jawab Randy sengaja dikeraskan. Tapi Cara belum juga mengangkat wajah dan menimpali ucapannya.
"Yaudah biarin. Lah kamu, udah gede nggak punya pacar juga."
Ucapan Nani membuat Cara tertawa. Sebenarnya sedari tadi Cara tahu jika kakaknya itu mengganggunya. Namun ia ingin bodoamat saja. "Kak Randy, mah, sirik sama Cara, Bu. Udah 18 tahun hidup tapi nggak pernah pacaran," kata Cara diakhiri tawaan membuat Randy langsung melempar bantal pada gadis itu.
Peperangan pun terjadi. Saling timpuk batal. Hingga pukulan bertubi-tubi juga gelitikan diperut. Membiarkan kedua anaknya makin dekat, Nani memilih untuk masuk ke kamar menemui sang suami.
"Mas, anak kamu sudah pacaran?"
"Siapa? Hafidz?" tanya Heri yang lagi sibuk menatap layar laptop. Mendengar pertanyaan suaminya, Nani tertawa. Sangking fokusnya sang suami hingga bercanda.
"Hafidz masih 6 tahun mas. Kamu aneh-aneh aja. Itu putrimu udah pacaran."
"Sama Raca?"
"Iyalah."
"Loh, bukannya dari dulu, yah?"
"Barusan. Mereka dulu cuma dekat aja."
"Yaudahlah, Ni. Biarin aja. Cara juga udah besar. Udah mau 16 tahun. Lagian Raca juga anak baik dan selalu ada buat Cara. Malahan aku berharap mereka berjodoh."
__ADS_1
~•~