
Semenjak sebuah surat berisi pantun pergi ke Madura itu, Cara terus mendapati amplop merah hati berisi surat di atas mejanya. Namun pengirimnya tak pernah menyapa atau memberikannya langsung. Katanya, sih, malu.
Beli teh kotak di kota Palu
Maaf Kak aku anaknya pemalu
"Adik gemes lo kayaknya suka keliling Indonesia," kata Raca setelah mengintip isi surat yang dipegang Cara. Mengetahui jika Raca kembali mengintip, dipukulnya lengan cowok itu. Cara kesal kalau tiap hari selalu digoda sama Raca hanya karena pantun dari adik kelas ini.
"Yang kapan hari itu di kota mana, yah, Ra?" tanya Raca yang sengaja menggoda Cara. Pukulan bertubi-tubi pun ia dapatkan. Namun ini yang sangat Raca sukai. Membuat Cara kesal.
"Oh gue ingat, Rak," celetuk Haidan.
"Apa Hai?" tanya Raca yang masih dipukuli oleh Cara.
Cara menunjuk wajah Haidan, "diem lo, Hai!" Namun bukan Haidan jika diam. "Ke Semarang beli micin. Panggil sayang atau Kevin," ucap Haidan yang membuat gelak tawa keluar darinya dan Raca.
Karena malu, Cara menyembunyikan wajahnya dimeja. Kedua temannya itu memang ngeselin. Gia mengelus rambutnya. "Lo berdua nggak lucu bercandanya," kata cewek itu ketus membuat Raca dan Haidan berhenti tertawa. "Udah, Ra. Nggak usah didengerin omongan 2 setan itu."
"Lah, kita dikatain setan."
"Kalau lo, sih, pantes Hai."
"Nggak ada akhlak lo, Rak."
Malas mendengar ucapan teman-temannya yang tidak jelas. Cara pun memilih untuk pergi ke kantin. Memesan tahu goreng dan jeruk hangat. Sedang asyik menikmati tahu, tiba-tiba saja seorang cowok duduk di depannya. Kalau tidak salah, cowok itu adalah adik kelas yang kasih amplop merah hati.
"Hai, Kak."
"Hai. Lo yang ngasih gue surat tiap hari?" tanya Cara dan dijawab anggukan. "Nama lo Kevin?" Cowok itu mengangguk.
"Kalau boleh tahu alasan kasih surat tiap hari buat gue apa?" tanya Cara. Adik itu menunduk. Cukup lama hingga akhirnya membuka suara.
"Sebenarnya aku suka sama Kakak. Jadi, Kakak mau nggak jadi pacar aku?"
Sontak Cara tertawa. Dia tidak habis pikir dengan adik kelas di depannya. Memberinya surat setiap hari namun tak pernah menyapanya. Bahkan, mereka juga belum berkenalan. Lalu hari ini adik itu menembaknya. Sangat cepat sekali.
"Kakak nolak aku?"
Melihat wajah sedih Kevin yang lugu membuat Cara kasihan. Sepertinya dia terlalu berlebihan. "Maaf, dek. Kita belum kenal dekat dan gue rasa ini terlalu cepat."
"Gapapa, Kak. Aku bakal tunggu sampai Kakak terima aku," jawab Kevin mencoba meyakinkan Cara.
"Tapi, dek. Gue udah punya pacar." Diotak Cara tidak alasan lain selain itu. Mungkin akan menyakiti hati Kevin. Namun Cara juga tidak mau memberi harapan untuknya. Karena jawabannya itu, Kevin pergi dengan wajah kecewa. Cara jadi tidak enak hati.
__ADS_1
Tatapan cowok yang baru saja berbicara dengan Cara membuatnya mengerutkan kening. Cowok itu memberi tatapan yang sangat tajam. Seperti tidak suka padanya. Tidak mau memikirkan tatapan yang aneh, Raca memilih Cara. Saat gadis itu akan mencomot tahu, segera Raca merebutnya.
"Raca! Balikin tahu gue!" teriak Cara dengan mata melototnya. Tapi percuma, tahu itu sudah masuk semuanya ke mulut lebar Raca.
"Hari ini lo ngeselin banget." Untuk mengurangi kesalnya, dia meneguk jeruk hangat. Hal yang ampuh membuat moodnya membaik.
"Cieee...yang abis ditembak sama adik kelas," kata Raca dengan tahu yang masih penuh di dalam mulut. Hal itu membuat apa yang dia ucap tidak jelas.
"Ngomong apaan, sih?"
"Lo terima?"
"Enggaklah."
"Kenapa? Ntar kalau pacaran diajak keliling Indonesia. Lo nggak mau?"
"Sama lo juga bisa."
"Guenya yang ogah."
"Gue paksa. Mana mungkin lo bisa nolak," ucap Cara diakhiri uluran lidah.
Raca tertawa. Memang benar jika dia tidak akan bisa menolak permintaan Cara.
~•~
"Permisi, ini pesanannya." Seorang pelayan menaruh pesanan di atas meja. Pelayan yang selalu saja penasaran akan hubungan 2 sejoli di depannya. Setidaknya 1 minggu sekali, 2 sejoli itu mengunjungi kafe. "Kalian berdua ini pacaran, yah?"
Mendengar pertanyaan dari pelayan itu, Raca dan Cara menoleh bersamaan. Hal itu membuat pelayan kikuk dan memeluk nampan di depan dada. Raca dan Cara menggeleng bersamaan. "Maaf. Soalnya kalian sering ke sini berdua. Benar-benar kayak orang pacaran."
"Emang iya, mbak?" tanya Cara yang tidak percaya. Menurutnya hubungannya dengan Raca tidak terlihat seperti itu.
"Iya. Kalian berdua cocok banget." Pelayan itu pergi sambil tersenyum. Raca dan Cara hanya tertawa. Tidak bisa dihitung ini yang keberapa kalinya orang-orang berucap begitu.
"Cocok darimana coba?" tanya Cara lalu menggigit roti bakar blueberry.
"Biasanya kalau jodoh emang bakal kelihatan aura kecocokannya," jawan Raca sambil tertawa lalu menyeruput espresso.
"Maksud lo kita berjodoh?"
"Gue nggak ngomong gitu."
"Tapi dari ucapan lo."
__ADS_1
"Geer banget," kata Raca mencubit hidung Cara.
~•~
Karena hujan sudah berhenti, Raca dan Cara pun memilih untuk pulang. Matahari sudah mau terbenam. Mereka takut kedua orangtua mereka akan khawatir jika pulang terlalu larut.
Lagipula, uang mereka juga sudah habis buat beli makanan atau minum di kafe sejoli.
"Makasih, Ka. Karena gue lo harus nganter gue pulang dulu," kata Cara setelah turun dan mengembalikan helm pada Raca.
"Sebagai calon suami, eh kejauhan, calon pacar dulu, deh. Gue harus mastiin lo sampai di rumah dengan selamat," kata Raca membuat Cara tertawa.
"Apaan, sih, Ka? Nggak jelas banget. Gue masuk, bye." Gadis itu melangkah membuka pagar rumahnya. Namun pertanyaan yang terlontar dari mulut Raca mengurungkannya.
"Tadi lo nolak adiknya pakai alasan apa?" Cara membalikkan badan. Alis Raca yang terangkat menandakan cowok itu butuh jawaban. "Gue udah punya pacar."
"Pacar yang lo maksud?"
"Gue nggak bilang siapa orangnya."
"Tapi gue tahu siapa yang lo tuju buat jadi alasan lo."
"Kayaknya gue nggak perlu jawab juga. Gue mau mandi, Ka. Udah bau."
Karena suasana yang tiba-tiba membuat Cara gugup. Buru-buru cewek itu membuka pagarnya. Namun kenapa pagarnya sulit sekali untuk dibuka.
"Apa nggak bisa kalau gue jadi pacar lo?" Menanyakan hal itu saja bibir Raca rasanya beku. Memang butuh keberanian extra.
Dengan gerakan slow motion, Cara membalikkan badannya lagi. Jujur, ini benar-benar menegangkan. Ditambah Raca yang terus menatapnya.
"1 tahun kita bareng, Ra. Gue nggak tahu kapan rasa itu muncul. Tapi yang gue rasa, gue selalu nyaman di dekat lo. Gue selalu ingin jadi orang yang selalu ada buat lo. Cuma senyuman lo yang gue tunggu disetiap pagi di sekolah. Bahkan, sangking dekatnya kita. Kita nggak bisa bedain mana ucapan kita yang asli, mana yang cuma buat bercandaan. Tapi kode-kode gue kasih ke lo. Lo selalu ngerti, Ra. Walau gue selalu ngelak, karena masih ragu sama rasa gue. Mungkin hari ini memang waktunya buat ngungkapin rasa yang baru gue sadari, kalau rasa itu udah lama ada dihati gue."
"Gue masih inget, Ka. Sore dimana lo habis kasih jaket lo. Gue peluk jaket itu. Entah kenapa, harum jaket lo buat gue tenang. Tapi mulut gue selalu berdoa agar nggak sekelas sama lo. Nyatanya kita sekelas dan duduk bareng selama 1 tahun. Dengan berjalannya waktu, rasa itu tumbuh dan gue baru sadar kalau lo satu-satunya orang yang selalu ada didekat gue selama ini. Lo yang dari awal bantu gue mencari kebenaran. Kita ini lucu, yah, Ka. Saling gengsi buat ngungkapin rasa."
"Jadi gimana, Ra. Lo mau nerima chairmate lo ini jadi pacar lo?"
Mencoba mencari jawaban lain diotaknya selain iya, namun mustahil. "Nggak mungkin gue nolak."
Raca bersorak senang sambil berteriak "yes". Akhirnya Tuhan memihaknya.
"Sekarang, kita pacaran?" tanya Cara yang masih polosnya.
"Iya sayang," jawab Raca membuat pipi Cara merah seperti apel. Ini pertama kali bagi Cara menjalin hubungan dengan seorang cowok. Rasanya sulit untuk diungkapkan.
__ADS_1
Ternyata semesta punya cara lain untuk menyatukan mereka. Kata orang-orang yang masih katanya itu ternyata benar. Berteman dengan lawan jenis memang bisa membuat sebuah rasa muncul tanpa mereka ketahui.
~•~