Racara

Racara
Bagian 8


__ADS_3

"Pak, hari ini Bapak kerja kan?" tanya Cara kepada Heri yang asyik menonton televisi. Heri menoleh dan menyuruh putrinya itu duduk. Cara pun menurut.


"Iya dong. Kamu udah shalat subuh?" Cara mengangguk. Heri tersenyum dan mengecup puncak kepala putrinya itu. "Bantuin Ibu kamu di dapur sana. Ibu dapet pesanan 100 bungkus."


"Oke, Pak," ucap Cara kemudian bangkit dan melangkah ke dapur. Disana Cara bisa melihat Ibunya yang repot memasak. Cara pun duduk di meja makan, sambil melihati Ibunya yang sedang memasak.


Nani berbalik dan terkejut mendapati putrinya yang sedang melihatinya. "Kamu ngapain di sini?"


"Mau bantuin Ibu, boleh kan bu?" tanya Cara tapi tak dijawab oleh Nani. Ibunya itu malah asyik memulai mengisi nasi ke dalam kotak. Tanpa persetujuan dari Ibunya, Cara pun tetap membantu.


"Bu, semenjak Bapak kembali lagi, kenapa Ibu berubah?"


Nani menoleh, menatap putrinya dengan tajam. "Berubah gimana maksud kamu?"


Cara menghela nafas dan tersenyum kepada sang Ibu. "Ya berubah, Ibu udah gak kayak dulu. Ibu yang selalu ada buat Cara, Kak Randy, sama Hafidz. Ibu udah gak pernah senyum, selalu ketus setiap saat. Cara jadi kangen sama Ibu yang dulu. Sampai-sampai Cara berfikir kalau jangan-jangan Ibu bukan Ibu Cara."


Bukannya marah. Nani malah tak tahu harus berkata apa. Perkataan putrinya mungkin ada benarnya.


~·~


"Aduh!"


Gawat! Cara dalam keadaan bahaya. Seandainya dia tidak berjalan tergesah-gesah, mungkin ia tidak akan menabrak Kak Puput. Kakak kelasnya yang terkenal galak, judes, tukang bully, dan sok cantik. Bisa-bisa Cara akan dipermalukan.


"Punya mata gak sih?" Cara menunduk, dia tidak ingin membantah. Tidak ingin menatap mata jahat itu. Bisa-bisa dia terkena virus mata jahat milik Kak Puput yang sepertinya sedikit juling, jika kacamata hitam itu dilepas.


"Lo itu punya mulut atau gak?"


"Punya, Kak."


"Kenapa gak jawab?"


Cara gemeteran dengan begitu hebatnya. "Maaf, Kak saya gak sengaja. Saya buru-buru soalnya mau ke kamar mandi, udah gak tahan ini."


Puput terdiam sebentar. Dilihat dari tubuh adik kelasnya ini, sepertinya ia kenal. Tapi, kapasitas mengingatnya sangatlah sedikit. "Kak, maaf ya, gak sengaja. Udah gak tahan ini," kata Cara sambil mendongakkan kepalanya.


Puput ingat. Adik kelasnya ini adalah cewek yang selalu membuntuti mantan gebetannya, Raca. Melihat wajahnya, membuat Puput ingin mencakar-cakar. Tapi sayangnya, kuku indahnya telah ia potong.


"Elo, kenapa sih lo suka banget buat hidup gue sial?"


Cara mengernyit bingung. Dia tidak pernah merasa membuat hidup Kak Puput menjadi sial. "Emang pernah ya, Kak? Kok aku gak tahu ya?"


"Jangan sok baik deh. Dulu siapa yang buat rencana nge-date gue sama Raca gatol?"


"Gatol, apaan gatol?"


"Gagal total!"


"Oh, bentar ya Kak, aku ke kamar mandi dulu, udah mau keluar nih, ntar aku balik lagi. Kakak sama temen-temen Kakak tunggu sini. Duduk dulu biar gak capek. Bentar ya," kata Cara langsung berlari begitu saja. Dia bukan mau melarikan diri, tapi memang benar-benar gak tahan.

__ADS_1


~·~


Cara mengembungkan pipinya. Dia benar-benar sudah lelah. Tapi, sang Kakak belum menjemputnya. Sekolah sudah mulai sepi, kini ia sedang duduk di pinggir jalan ditemani teman sejatinya, Raca.


"Ra, gue anter pulang aja ya?" Cara menoleh. Ia tersenyum tipis manis khusus untuk Raca.


"Gak usah, Ca. Kasihan Kak Randy nanti ke sini, guenya udah di rumah."


Raca naik ke motor sport abu-abunya. "Gue pulang dulu ya, udah mau hujan," kata Raca sambil memakai helm lalu menyalakan motornya.


"Ati-ati," ucap Cara pelan, saat motor Raca melaju dengan kencang, meninggalkannya sendirian.


Entah kenapa Cara merasa sedih ditinggal oleh Raca. Ia kira teman sejatinya itu akan menunggunya sampai Kak Randy datang. Tidak lama lagi sepertinya hujan akan turun. Apa Raca lupa jika Cara tidak suka hujan? Apa Raca lupa jika Cara takut kegelapan dan petir?


"Kenapa nangis?" Cara menoleh dan mendapati Kak Zul berdiri di sebelahnya.


Cara menggeleng pelan, "gak kok Kak, aku gak nangis."


Zul menunjuk mata Cara. "Trus ini apaan?" tanya Zul sambil menghapus setetes air mata yang turun dari mata kecil Cara.


Cara membuka mulutnya. Benarkah ia menangis? Tapi karena apa? Lalu kenapa ia sampai tidak tahu jika setetes air mata lolos dari mata kecilnya?


"Itu...air hujan, Kak," jawab Cara spontan


"Lo kira gue percaya? Gerimis aja belum," kata Zul berhasil membuat Cara malu. Alhasil ia hanya diam menunduk. Zul yang melihat tersenyum tipis.


Sebuah petir tiba-tiba berbunyi dengan kerasnya, membuat Cara langsung saja memeluk tangan kanan Zul. Mengetahui ketakutan pada diri Cara, Zul pun segera menuntun gadis itu untuk meneduh di pos satpam sebelum hujan turun.


"Kakak gak tahu sih kalau aku takut banget sama yang namanya petir dan kegelapan, aku juga gak suka sama hujan," ucap Cara sambil tetap menutup matanya. Pelukan ditangan kanan Zul pun ia eratkan. Takut jika Kakak kelasnya itu pergi meninggalkannya, seperti Raca.


"Gue tahu," ucap Zul pelan. Tapi berhasil membuat Cara mendongak dan membuka matanya.


Satu alis Cara terangkat. Matanya berkedip dengan cantiknya. Mulutnya hanya seperti garis biasa. Otaknya ia coba untuk berfikir. Apa maksud Kakak kelasnya berkata seperti itu?


"Maksud Kakak apa?"


Ingin rasanya Zul membenturkan kepalanya ke tembok. Tapi sayang, ia tidak sebodoh itu. "Maksudnya, gue tahu setelah lo bilang sendiri ke gue."


"Oh...soalnya yang tahu aku takut petir dan kegelapan sama gak suka hujan itu cuma keluarga aku, Raca, dan Kak..."


"IJUL!!"


~·~


Cara memanyunkan bibirnya. Dilihatinya Kakaknya dengan teman kecilnya yang telah kembali. Sepertinya, kedua orang itu sangat bahagia. Cara pun seharusnya senang bisa bertemu kembali dengan teman masa kecilnya. Tapi tidak tahu kenapa, dia merasa kesal terhadap teman masa kecilnya itu.


"Sekarang lo tinggal di mana?" tanya Kak Randy. Cara yang mendengar, sedikit mendekatkan jarak duduknya. Ingin tahu kini dimana teman masa kecilnya tinggal. Apa mungkin teman masa kecilnya itu kembali tinggal di rumah depan rumah Cara?


"Sebenernya gue udah tinggal di rumah lama gue sejak tahun baru 2 minggu yang lalu." Jawaban dari Zul begitu mengejutkan Cara dan Randy. Jadi, sebenarnya Zul sudah kembali sejak 2 minggu lalu. Tapi kenapa cowok itu tidak menemui mereka yang notabennya sudah lama tak jumpa.

__ADS_1


"Kenapa lo gak ke rumah, kita udah 6 tahun gak ketemu, Jal," ucap Kak Randy ada raut kecewa diwajahnya.


Zul berdehem sebentar. Dia tidak mungkin memberikan alasan yang sebenarnya. "Setiap gue mau mampir ke rumah lo, lampunya udah mati dan gue gak mau ganggu tidur keluarga kalian." Zul ingin memukul keningnya sekarang juga. Jawaban yang ia berikan tidak begitu kuat untuk membuat kedua teman masa kecilnya itu percaya.


"Yaelah, kayak gak ada waktu lain aja," kata Randy kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih tapi super canggih. "ID Line lo apa?"


"Sini gue yang ngetik," kata Zul. Randy memberikan handphonenya. Setelah mengetikkan ID LINE-nya, Zul berpamit untuk pulang.


"Kak Ijul!" teriak Cara saat Zul hendak masuk ke pekarangan rumah milik orang tua Zul. Melihat Zul yang berhenti dan membalikkan badan, Cara pun berjalan mendekati teman masa kecilnya itu.


"Ada apa?"


"Jadi, Kakak itu Kak Zul?" tanya Cara yang hanya mendapat anggukan dari Zul.


"Kenapa Kakak gak bilang dari awal?"


"Gue gak tahu kalau lo itu Amel."


Cara terdiam. Tapi dia merasa tidak yakin jika Zul tidak mengenalnya. "Tapi, kenapa aku ngerasa kalau Kakak sebenarnya kenal aku."


"Itu cuma perasaan lo aja. Dari kecil kan lo suka kebaperan. Dikit-dikit pakek perasaan."


"Oh gitu ya?" Zul mengangguk sambil tersenyum tipis. Tapi senyumannya tidak dibalas oleh Cara. Gadis itu memandangnya dengan wajah polos yang tidak hilang dari dulu.


"Lo masih gak percaya?"


"Gak, aku percaya sama Kakak."


"Yaudah, gue masuk dulu," kata Zul lalu berbalik badan dan melangkah menuju pintu rumahnya. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan dari mulut Cara.


"Makasih Kak Ijul udah mau balik lagi."


~·~


Meja makan itu sangat berisik. Bukan berisik akan pembicaraan, tapi berisik yang ditimbulkan oleh sentuhan sendok dan piring. Sejak makan malam dimulai, tidak ada yang memulai pembicaraan. Bertegur sapa pun tidak. Hanya suara nyanyian dari mulut Hafidz yang beberapa menit lalu telah berakhir.


"Pak." Heri mengangkat kepalanya untuk melihat putrinya yang telah memanggil namanya.


"Itu, Kak Ijul udah balik lagi," jawab Cara saat melihat kedua alis Bapaknya terangkat.


"Maksud kamu balik ke mana?"


"Kak Ijul sekarang tinggal lagi di depan rumah kita." Heri terkejut akan jawaban dari sang putri. Tidak mungkin jika mantan temannya kini kembali tinggal berhadapan dengannya.


"Orang tuanya juga tinggal di situ?"


"Cara gak tahu Om Budi sama Tante Ningsih bakal tinggal di rumah itu atau gak. Nanti Cara tanyain ke Kak Ijul, Pak."


Heri mengepalkan tangannya dengan erat. Mendengar nama itu lagi membuatnya ingin marah saja. Satu nama itu telah menghancurkan keluarganya. Ia tidak akan tinggal diam.

__ADS_1


~·~


__ADS_2