
"Ra. Besok lo dateng ke prom night bareng Raca, kan?"
Pertanyaan Gia membuat Cara menatap gadis itu. Cukup lama Cara berpikir. Namun ujungnya dia hanya mengangkat kedua pundak.
"Lah? Kenapa?" tanya Gia yang merasa jika ada sesuatu antara Cara dengan Raca.
"Enggak tahu. Semenjak mau ujian. Dia bilang mau istirahat," jawab Cara dengan nada tidak semangat. Memang akhir-akhir ini dia tidak semangat. Selain karena menghadapi ujian yang sudah seperti neraka. Alasan lainnya adalah karena Raca. Semenjak banyaknya try out menuju ujian nasional, Raca dan Cara tak pernah duduk bersama. Tidak tahu pasti alasan Raca ingin istirahat. Cara hanya mengambil kesimpulan jika kekasihnya ingin fokus belajar.
"Kalian enggak putus, kan?" Gia memang sudah menduga hal ini. Sejak beberapa minggu lalu dia tidak lagi melihat interaksi antara 2 sejoli yang selalu membuat semua siswa-siswi iri. Terlihat jelas jika hubungan mereka tidak membaik. Tapi mendengar ucapan Cara jika Raca ingin meminta untuk istirahat, rasanya aneh. Tidak biasanya Raca bisa hidup tanpa Cara disisinya.
"Istirahat sama putus beda, kan?" Gia mengangguk. Kedua hal itu memang beda. Tetapi mengistirahatkan hubungan adalah langkah awal memutuskan hubungan. Meski begitu, Gia tahu. Raca tidak akan pernah melakukan itu.
"Yaudah. Kalau dia enggak ajak gue ke prom night bareng. Gue berangkat sendiri." Meski bibir berucap seperti itu. Batinnya terus melantunkan doa agar Raca menjemputnya untuk pergi ke prom night bersama.
~•~
Hafidz berlari masuk ke dalam rumah sambil menenteng sebuah kantong plastik. Larinya menuju pada keluarganya yang sedang berkumpul dimeja makan membantu Nani membuatkan pesanan makanan. Ditaruh kantong plastik diatas meja makan terlebih dahulu. Lalu dengan susah payah, Hafidz naik ke kursi kosong disebelah Kakaknya.
Melihat adiknya yang kesusahan, Cara pun membantu. Setelah itu dia menanyakan siapa gerangan yang datang dan apa yang dibawa oleh adiknya.
"Itu ada abang antar makanan ini."
"Abang?"
__ADS_1
"Abang-abang yang kalau kemana-mana suka pakai jaket hijau itu loh, Kak," jawab Hafidz mendeskripsikan tukang ojek online yang ia temui di depan rumah.
"Lah, terus, ini makanan dari siapa? Kan, kita enggak ada yang pesan." Hafidz mengangkat kedua pundaknya. Bocah berumur 8 tahun itu segera menghilangkan rasa penasarannya dengan membuka kantong plastik. Dikeluarkannya 2 buah kotak berisi terang bulan dan martabak. Terlihat wajah bocah itu senang hingga berucah "wahh".
"Jangan dimakan dulu. Mungkin orangnya salah kirim," ucap Cara memperingatkan adiknya agar tidak memakan 2 makanan yang sebenarnya sudah membuat nafsu makan naik. Tapi Cara takut jika ternyata abang ojek online salah mengirimkan makanan.
Diberi peringatan seperti itu membuat Hafidz menarik kembali tangannya menjauh dari kotak. Dengan wajah polosnya dia menatap sang Ibu dan Bapak yang sedari tadi hanya menjadi penonton. "Hafidz enggak boleh makan?" tanya bocah itu yang ujungnya mendapat gelengan kepala. Wajah kecewa terpampang hingga akhirnya Hafidz duduk bersandar dimeja sambil melipat kedua tangan didepan dada. Bibir bawah anak itu sudah maju menandakan jika dia kesal. Pasalnya dia sendiri yang mendengar jika abang berjaket hijau yang ia temui mengatakan jika ini untuknya. Tetapi, mengapa keluarganya melarang?
"Terus ini gimana, Pak, Bu?" tanya Cara bingung juga akan 2 kotak makanan entah milik siapa itu. Karena Bapaknya yang memerintahkan untuk menyisihkan makanan itu, Cara pun memasukkan kembali pada kantong plastik. Namun rasa penasaran membuatnya membuka kotak bertulis terang bulan dengan rasa kacang yang dicentang. Saat membukanya, terdapat sebuah kertas undangan bertulis;
gue punya kereta kencana. tapi enggak ada penumpangnya. lo mau enggak jadi penumpangnya? pasti mau. besok. jam 7 malam kereta kencana akan datang.
Senyum diwajah Cara akhirnya kembali muncul. Lantunan doa yang ia ucapkan dalam batin akhirnya terwujud juga. Meski tidak ada nama pengirim, Cara bisa mengetahui siapa pengirim misterius ini.
Sementara itu Hafidz langsung berdiri dan membuka kotak berisi martabak. Dengan mulut yang penuh, bocah berumur 8 tahun itu menawari kedua orang tuanya. Akan tetapi kedua orang tuanya menggeleng lalu saling tatap.
"Emang dari siapa?" tanya Heri yang bingung akan anak gadisnya yang malah memakan makanan misterius yang harusnya disisihkan.
"Kayaknya, sih, dari pacarnya. Raca." Melihat anaknya tersenyum kala membuka kotak makanan membuat Nani mengerti. Lagipula siapa lagi orang yang mengirim terang bulan dan martabak selain Raca.
~•~
Setelah hampir 2 jam duduk di depan cermin sambil pasrah akan apa yang Ibunya lakukan. Akhirnya Cara keluar juga. Dengan dress warna caramel 1 jengkal dibawah lutut, flat shoes hitam dan wajah yang sedikit dirias berhasil membuat Raca tak berkedip beberapa detik.
__ADS_1
"Hai," sapa Cara begitu ragu. Meskipun saat masa istirahat mereka masih bertemu di sekolah. Akan tetapi untuk saling menyapa saja tidak ada. Jadi itulah mengapa alasan Cara sedikit ragu untuk menyapa terlebih dahulu.
Tidak butuh waktu lama kereta kencana milik Raca sudah sampai di tempat prom night. Soal kereta kencana itu sebenarnya adalah mobil milik Papa Raca. Jadi jangan terlalu dibayangkan jika Raca menjemput Cara dengan sangat romantisnya.
Memasuki tempat diadakannya prom night. Raca dan Cara mendapati acara yang sudah dihadiri banyak orang. Semuanya berpasangan, sama seperti mereka. Sesekali Raca dan Cara menyapa dan disapa teman se-angkatan yang mereka kenal. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan teman sekotak. Cukup membuat kaget melihat Gia dan Haidan bersama. Pasalnya ada rumor yang mengatakan jika Haidan akan menggandeng siswi cantik dari kelas bahasa. Tetapi nyatanya yang digandeng oleh cowok itu tak lain adalah teman sebangku. Jika seperti ini, Raca dan Cara yakin jika Gia dan Haidan akan segera menjalin hubungan lebih dari teman sebangku.
"Gue kira lo dateng sama mbak Ani," celetuk Raca menggoda Haidan. Sontak saja mendapat gelak tawa dari Cara dan Gia yang sebagai penonton. Namun detik selanjutnya Raca mendapatkan pukulan dilengannya. Tetapi cowok itu malah ketawa. "Sorry. Yaudah, nikmatin waktu berdua sama tuan putri. Gue enggak mau ganggu."
Setelah mengucapkan itu, Raca menarik tangan Cara untuk menjauh dari Haidan dan Gia. Mereka juga memilih untuk menjauh dari kerumunan dan lebih memilih untuk menikmati makanan ringan yang disediakan.
"Malam semuanya....Prom night hari ini akan dibuka dalam hitungan 5."
"4."
"3."
"2."
"1."
Malam itu, terlihat menyenangkan. Semua menyatu ditengah acara untuk berdansa. Raca pun tak mau kalah dan menarik paksa pinggang Cara agar masuk ke dalam lantai dansa. Meskipun terlihat kaku dan malu. Cara menikmati dansa malam itu. Tatapan mata Raca yang begitu hangat membuatnya tak bisa memalingkan pandangan. Rengkuhan tangan Raca dipinggangnya seolah mengatakan jika dia tidak boleh pergi kemana-mana.
Tetapi....
__ADS_1
~•~