Racara

Racara
Bagian 44


__ADS_3

Tenggorokan Randy terasa kering. Cowok yang baru saja tidur 2 jam setelah sibuk akan kuliah dan pekerjaannya itu bangun. Diucek matanya sambil mengumpulkan nyawanya. Setelah dirasa terkumpul, ia pun berdiri, berjalan membuka pintu kamarnya.


Langsung saja Randy menuangkan air dari termos ke mulutnya. Membuka tudung saji, rasa lapar langsung menyerbu saat melihat telur balado. Cowok itu mengambil piring dan segera duduk dimeja makan. Perutnya sudah meronta-ronta meminta diisi.


Sejak pulang tadi, dia sama sekali belum makan malam dan sekarang sudah jam 11 malam. Untung saja Ibunya itu masih menyisakan makanan untuknya. Setiap hari selalu begitu jika dia tidak bisa makan malam bersama mereka. Pernah waktu itu makanan yang disisakan untuknya dihabiskan oleh Cara. Niatnya Randy ingin memasak mie, namun Ibunya melarang dan menyuruhnya menunggu. Ditengah malam ibunya bersedia membuatkan nasi goreng sederhana tapi sangat enak bagi Randy.


Randy tahu, Ibunya tidak pernah berubah sejak dulu. Meski semenjak kedatangan sang Bapak Ibunya mulai diam. Tapi Randy tahu jika Ibunya masih sama. Masih selalu menunggunya hingga pulang ke rumah, mengintip ke kamar Cara diam-diam, juga bercanda bersama Hafidz. Randy tahu apa yang pernah terjadi pada Ibunya itu hanya tindakan kecewa pada Bapaknya. Namun setiap malam, Randy selalu dengar Ibunya berdoa agar kebenaran terungkap.


Saat akan berbalik ke kamar, Randy melihat televisi yang masih menyala. Setelah mengintip dengan hati-hati, ternyata kedua orang tuanya sedang bermesraan. Randy tersenyum dan langsung masuk pada kamar sang adik.


Randy kira adiknya itu sudah tidur. Ternyata masih video call-an dengan pujaan hati. Berusaha untuk tidak iri, Randy merebut hp adiknya dan menyapa Raca yang langsung terkejut. "Sorry udah buat kaget. Udah malam, Ka. Adik gue harus tidur. See you."


Cara merebut kembali hpnya. Wajahnya langsung mengeluarkan ekspresi kesal.


"Bucin sih boleh. Tapi nggak sampai lupa tidur juga."


"Aku yang tidur kenapa Kakak yang bingung? Nggak sopan tahu mutusin sambungan telepon gitu aja."


Tidak menyangka jika adiknya sangat bucin. Andai Randy punya pacar, mungkin dia juga akan melakukan apa yang dilakukan sang adik. "Sini, ikut gue," ucap Randy yang menarik adiknya mendekat ke pintu kamar.


"Apaan, sih, Kak, tarik-tarik tangan aku," protes Cara yang masih kesal karena tingkah Randy. Kakaknya tidak menjawab, hanya memberi isyarat untuk menutup mulut. Melihat kakaknya yang mengintip dari balik pintu membuat Cara penasaran. Gadis itu pun juga ikut mengeluarkan kepalanya untuk melihat apa yang tengah Randy lihat.


"Seneng rasanya lihat Bapak sama Ibu berduaan kayak gitu," ucap Randy yang senyumnya tak kunjung lepas melihat kedua orangtuanya kembali dekat.

__ADS_1


"Cara juga ikut seneng. Jadi bayangin kalau aku kayak gitu sama Raca."


Ucapan Cara membuat Randy memutar kepalanya. Cowok itu memberi tatapan tajam kepada sang adik yang wajahnya berseri layaknya khayalan yang ada diotak terpampang jelas didepan mata. "Katanya halu enggak semanis kenyataan."


Dipukul lengan sang kakak hingga sang korban mengadu kesakitan. Bukannya minta maaf Cara malah menjulurkan lidah. Gadis itu kesal mendengar ucapan sang kakak yang seperti menyuruhnya untuk berhenti berhalu.


"Randy, Cara. Kalian lagi ngapain?" tanya Heri setelah menemukan kedua anaknya-lah yang mengganggu kemesraan dengan sang istri.


Mengetahui jika mereka telah terpogoki. Randy langsung menarik kepala Cara untuk masuk ke dalam kamar dan berusaha menutup pintu kamar. Namun sang adik malah masih sempatnya melambaikan tangan pada Heri dan berucap, "maaf Pak, Bu. Enggak bakal ganggu kencannya lagi. Good night."


Setelah berhasil menutup pintu kamar, Randy menutup mulut Cara dengan tangannya. Dia telah membuat kesalahan besar dengan mengajak adiknya melihat sebuah kabar menggembirakan. "Mulut lo emang enggak bisa diem. Jadi ketahuan, kan."


Bekapan tangan Randy terlalu kuat hingga susah sekali untuk melepaskannya. Ditambah tidak ada niatan sang Kakak untuk melepaskan tangan dari mulutnya membuat jiwa keusilan Cara keluar. Kedua tangan gadis itu yang bebas langsung meraih pinggang sang kakak membuat Randy langsung menggeliat dan melepaskan tangan dari mulut Cara.


"Nakalan pakai kelemahan."


"Biarin. Sana keluar," ucap Cara sambil mendorong Kakaknya untuk keluar dari kamar. Bukannya lemah, Randy hanya mengalah dan memilih untuk keluar dari kamar gadis itu. Ternyata didepan kamar Cara ada Heri yang sedari tadi menguping sebab penasaran mengapa kedua anaknya sangat berisik.


"Eh, Bapak. Kita enggak ribut kok. Ya, kan, Ra?" tanya Randy pada adiknya yang dijawab anggukan. Setelah itu Randy mencium tangan Heri entah dengan maksud apa kemudian pergi masuk ke dalam kamar. Karena suasana yang akward, Cara pun pamit untuk menutup pintu dengan akting pura-pura mengantuk berat. Melihat kedua anaknya yang aneh membuat Heri menggaruk kepala sambil bergeming, "punya anak kenapa enggak ada yang bener semua."


~•~


Menu sarapan kali ini sangatlah berbeda dari biasanya. Kali ini Nani membuat masakan udang asin manis yang sudah lama ia tidak memasak masakan itu. Kala melihat anak-anaknya yang makan dengan lahap, membuat Nani senang.

__ADS_1


"Wahhh..." ucap Hafidz yang terus-terusan bilang wah setelah menggigit udang asin manis. Sontak saja semua yang ada dimeja makan tertawa melihat kelucuan bocah 7 tahun itu. Bahkan karena lucunya, semua pun memberikan satu udang pada piring Hafidz. Ekpresi terkejut campur senang bocah itu pun tak luput membuat gelak tawa kembali keluar. Sampai-sampai Cara tersedak hingga terbatuk-batuk. Segera gadis itu meneguk segelas air yang Nani berikan.


"Kalau dimulut masih ada makan, jangan ketawa," ucap Nani pelan sambil mengelus punggung putrinya.


"Gimana enggak ketawa kalau lihat Hafidz lucu gitu. Pingin aku uyel-uyel," ucap Cara sambil mengangkat kedua tangannya menghadap Hafidz. Tapi bocah itu tetap asyik memakan udang manis hingga bajunya kotor.


"Ra, bareng gue enggak?" tanya Randy yang sudah menyelesaikan makannya dan bersiap berangkat kuliah. Gelengan Cara membuat Randy mengadu pada kedua orang tuanya. "Pak, Bu. Cara pacaran terus, tuh. Larang dong."


Nyatanya aduhan Randy malah membuatnya yang jadi ejekan. Dengan tidak terduga Ibunya menjawab, "daripada kamu. Udah 18 tahun tapi masih jomblo." Sontak semua tertawa. Bahkan Hafidz yang tidak tahu apa-apa ikut tertawa untuk menambah suasana menjadi lebih bagus. Randy mengelus puncak kepala adiknya sambil berbisik 'emang tahu?' dan dijawab gelengan kepala.


"Emang gak laku, Bu," ucap Cara yang langsung mendapat lilitan lengan kekar milik Kakaknya dilehernya. Cara berusaha melepaskan tangan Kakaknya dengan memukul hingga berusaha menggigit. Namun tidak berhasil.


"Lo, tuh, bentar lagi kelas 12. Jangan pacaran mulu."


"Bilang aja iri."


Heri dan Nani tidak ada niatan menghentikan perkelahian kecil antara kedua anaknya. Bagi mereka itu yang membuat keluarga makin dekat. "Kalau Bapak, sih, setuju aja Cara pacaran sama Raca. Dia cowok baik, sopan, ganteng pula. Pokoknya menantu idaman, deh," ucap Heri yang memang sejak dulu sangat setuju akan hubungan Cara dan Raca. Bahkan sebelum kedua remaja itu menjalin hubungan, Heri sudah merasa ada cinta yang tumbuh diantara mereka.


"Kalau Ibu, sih, enggak masalah Cara pacaran. Yang penting masih tahu tahu juga batasan. Ibu percaya Cara enggak akan ngecewain Ibu."


Randy yang mendengar kedua orang tuanya yang malah setuju akan hubungan adiknya dengan seorang laki-laki membuatnya melepaskan tangan. Inginnya membuat Cara diomelin malah dia yang merasa tersudutkan. Dengan wajah kecewa Randy pun pamit untuk berangkat kuliah.


Kepergian Randy membuat Cara bersorak senang. Gadis itu membalikkan badan memanggil Kakaknya yang berjalan keluar rumah. "Kuliah sambil cari jodoh, Kak. Biar enggak jadi sad boy." Ejekan Cara didengar oleh Randy. Tetapi sama sekali tidak digubris. Cowok itu menyesal telah berniatan untuk mengerjai sang adik. Karena dia sendiri yang kena karma.

__ADS_1


~•~


__ADS_2