Racara

Racara
Bagian 25


__ADS_3

Sejak tadi handphone Randy berbunyi. Namun sang pemilik tak kunjung mengangkat. Mungkin karena terlalu asyik di dunia lain. Sampai panggilan ke-5 pun tidak ada reaksi pada Randy. Cowok itu masih setia memeluk guling.


Hingga panggilan ke-6, matanya mulai membuka. Butuh waktu 1 menit sampai handphonenya kembali berbunyi lagi. Kesal karena mimpinya bersama seorang pujaan hati diganggu, Randy mengambil handphone yang ada di sebelahnya. Nama yang muncul langsung membuatnya duduk, mengucek-ngucek mata, hingga memukul-mukul pipi. Masih tidak percaya jika gadis itu kembali menelponnya.


"Halo."


"Halo, kak. Kok lama banget, sih, ngangkatnya?" gerutu Zeline yang sudah kesal. Pasalnya dia sudah menghabiskan waktu 5 menitnya hanya untuk menghubungi Randy.


"Sorry, dek. Gue lagi tidur."


"Pantesan. Aku cuma mau bilang kalau Papa udah datang. Katanya, Kakak sama Cara disuruh temui."


"Dimana?"


"Terserah, Kakak. Chat aku aja kalau udah nemu tempat yang pas."


"Oke, dek."


"Yaudah, aku tutup dulu, Kak. Maaf udah ganggu tidurnya."


"Kok cepet banget? Padahal gue masih kangen."


"Apaan, sih, Kak."


Tut...tut...tut...


Yah, Randy kecewa. Sudah senang karena ia pikir Zeline minta balikan. Dasarnya dia saja yang ke geeran. Namun tidak apa, ini adalah kabar gembira. Cara pasti senang mendengarnya.


Dengan hanya memakai boxer dan kaos tanpa lengan, Randy keluar dari kamarnya dan masuk di kamar adiknya yang bersebelahan. Langsung saja dia naik ke ranjang dan membangunkan sang adik. Menggoyang-goyangkan tubuh Cara pelan hingga kencang. Usaha Randy terasa sia-sia karena Cara yang tak bergerak sama sekali.


"Lo tidur atau udah mati, sih, dek?" gumam Randy yang mengecek hidung adiknya dengan jari. Masih bernapas kok. "RA! BANGUN RA!"


Teriakan Randy akhirnya bisa membangunkan kebo itu. Badannya ia terlentangkan hingga hampir membuat Randy jatuh. Untung saja cowok itu secepat kilat mendorong sang adik hingga tersentuh tembok. "Duh, Kak. Ngapain, sih? Kalau mau tidur, tuh, jangan di kamar aku. Kebiasaan ini," ucap Cara setelah sekilas melihat Kakaknya.


"Gue cuma mau ngasih tahu kalau Papanya Zeline udah balik. Katanya dia mau ketemu sama kita."


Kabar yang begitu membuat Cara senang hingga gadis itu sontak membuka mata dan mendekat pada sang Kakak, masih dengan tubuh yang rebahan. "Beneran, Kak?"


"Iya. Katanya kita disuruh pilih tempat. Enaknya dimana, yah?"


"Kafe Sejoli aja. Nggak seberapa jauh dari rumah Zeline dan rumah kita."


"Oke, deh. Mandi sana, gosok gigi, mulut sama badan lo bau banget," kata Randy sambil menjitak kening adiknya. Setelah itu kabur dengan kekuatan kilat.


"DASAR KAK RANDY NGESELIN!!" teriak Cara yang mengejar Kakaknya namun saat mau masuk kamar sudah ditutup saja sama Randy. "BADAN KAKAK LEBIH BAU, YAH. AKU INGETIN, BULU KETIAK KAKAK UDAH PANJANG, NGGAK PERNAH DICUKUR, YAH? JOROK TAHU!"

__ADS_1


"GUE YANG PUNYA AJA NGGAK ADA MASALAH!"


"AKU YANG LIHAT GELI!"


"JANGAN DILIHAT!"


"AKU PUNYA MATA!"


"LEPAS AJA MATANYA BIAR LO NGGAK GELI!"


Nani yang melihat adu mulut antara kedua anaknya itu hanya tersenyum tipis. "Cara! Ngapain teriak-teriak?"


Cara memutar badannya, mendekati sang Ibu yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan. "Kakak ngeselin, Bu."


"Jadi cewek nggak boleh teriak-teriak."


"Iya, Bu. Maaf."


"Dengerin, tuh, nasehat Ibu," ucap Randy yang keluar kamar membawa handuk. Ingin rasanya Cara mencubit kakaknya itu, namun percuma, cowok itu sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Bu, hari ini Cara sama Kak Randy mau keluar. Mau ketemu sama orang yang punya bukti kalau Bapak nggak salah. Bentar lagi kebenaran bakal terungkap, Bu."


~•~


Sekarang Cara dan Randy duduk berhadapan dengan Setyo. Beliau membawa beberapa dokumen dalam map. Katanya, "1 bulan di singapur, Om ngerasa ada yang aneh. Apalagi tentang ayah kalian yang tiba-tiba kena masalah. Harusnya, Om sebagai orang bagian keuangan tahu tentang penyalahgunaan uang kantor yang ayah kalian lakukan. Tapi Budi sama sekali nggak mau Om tahu dan bilang kalau semua bukti udah mengarah ke ayah kalian. Om sudah cek dan ini bukti yang Om punya. Dia sengaja menjebak ayah kalian agar perusahaan ada ditangannya."


"Itu adalah pengeluaran uang kantor dan sama sekali tidak ada penyalahgunaan uang kantor dari pihak ayah kalian maupun Budi. Jadi Om rasa Budi sengaja membuat dokumen palsu yang membuat Heri terpojokkan."


"Apa dokumen itu kuat banget buat jadi bukti, Om?"


"Iya. Om juga sudah ketemu sama tangan kanan Budi yang membuat dokumen palsu. Dia sudah tidak bisa lepas dari Om. Dia akan mengaku dipersidangan nanti."


"Baik, Om. Kami benar-benar berterima kasih."


"Sama-sama. Kebenaran memang harus terungkap."


"Lalu Om. Jika kebenaran sudah terbukti, bagaimana dengan perusahaan?" tanya Cara yang berharap jika Bapaknya bisa kembali bekerja seperti dulu.


"Akan balik ke tangan ayah kamu."


"Beneran, Om?"


"Iya."


Sudah tidak sabar keluarganya kembali seperti dulu lagi. Cara yang bisa sesekali main ke kantor bersama Ibu untuk mengantarkan makan siang bapak. Kemungkinan, keluarganya akan kembali membaik.

__ADS_1


~•~


"Lo sama Raca pacaran, dek?" tanya Randy saat melihat Raca yang kini sedang duduk di teras bersama Heri dan Hafidz. Sudah lama Randy merasa aneh karena kedekatan adiknya dengan Raca yang sudah seperti lem. Apalagi Raca sering main ke rumah hanya untuk berbicara dengan Cara, atau bermain catur sama Heri, kadang juga hanya mampir untuk memberikan martabak.


"Cuma chairmate, Kak."


"Entar juga demen. Tahu gue. Sekarang kan jamannya cinta-cintaan yang model kayak lo gitu."


"Terserah Kakak anggap apa."


Cara mendekat, melihat apa yang sedang dimainkan oleh ketiga orang itu. Sepertinya menyenangkan. "Lagi ngapain, nih?" tanya Cara yang duduk di sebelah Raca.


"Main karambol, Kak. Lihat, wajah Hafidz udah putih semua," jawab adiknya sambil menunjuk wajah gemesin yang sudah terbalut dengan bedak. Tunggu. Bedak siapa yang dipakai itu?


"Pak. Itu bedak bayi, Cara?" tanya Cara menunjuk bedak bayi. Bapaknya mengangguk. "Haduh, Bapak. Ntar Cara bedakan pakai apa?"


"Pakai tepung, Ra. Terus dikasih telur, tambahin kentang, sama apalagi, yah?"


"Lo kira mau buat adonan donat?"


"Jangan emosi, dong. Mending lo gabung main aja."


Melupakan masalah bedaknya, Cara bergabung main karambol. Randy juga ikut. Rasanya menyenangkan bisa tertawa bersama orang yang disayang. Tertawa saat bapak sesekali mengeluarkan lelucon. Tertawa saat Hafidz yang tidak bisa menjetik striker. Tertawa saat ada yang harus dicoret dengan bedak.


Nani datang membawakan morong, gelas, dan pisang goreng yang masih panas. "Ini, buat nemenin main karambolnya," ucap Nani lalu kembali masuk.


Berebut pisang goreng saja sudah membuat suasana makin menyenangkan. Bahkan Raca yang bukan termasuk keluarga itu merasa jika keluarga Cara benar-benar penuh kehangatan. Makannya Raca sering bermain ke rumah Cara.


"Yang coretannya paling banyak harus joget," ucap Randy menunjuk Hafidz yang langsung menutup muka dan geleng-geleng kepala.


"Ayo, Hafidz joget. Nggak boleh curang," kata Cara.


"Nggak mau, Kak. Hafidz malu."


"Kalau nggak mau joget, kita kelitikin aja."


Hafidz hanya bisa pasrah diserbu oleh tiga orang. Heri yang melihat putra kecilnya tersiksa menyudahi hukuman. "Bapak bakalan joget buat gantiin hukuman Hafidz. Ayo, Ra. Kamu yang nyanyi."


Cara tersenyum lalu melantunkan lagu dangdut yang lagi terkenal akan cendol dawetnya. Tak mau kalah dengan Heri, Cara juga ikutan berdiri dan joget. Raca dan Randy juga tak mau kalah. Akhirnya Hafidz juga ikut joget ditengah. Lagu cendol dawet makin membuat mereka semua dekat. Bahkan, Nani yang berada di dalam rumah tertawa melihat tontonan itu.


Sementara di seberang sana. Seorang anak dan bapak juga melihat kehangatan itu. Hanya Budi yang wajahnya merah melihat bagaimana bisa keluarga Heri tetap terlihat dekat walau sudah ia beri masalah. Masih tidak tahu bagaimana bisa mereka berjoget sambil tertawa. Serasa tidak ada masalah dibalik itu semua.


"Dari dulu, keluarga Om Heri emang selalu begitu. Dekat satu sama lain. Dikeluarga mereka akan selalu ada kehangatan sampai kapan pun dan bagaimana pun kondisinya. Jadi pingin pindah keluarga," ucap Zul lalu pergi menjauh dari Papanya.


"Maksud kamu apa?"

__ADS_1


"Zul pingin punya keluarga kayak mereka. Bukan Papa yang selalu sibuk sama bisnis dan Mama yang sibuk sama arisan." Akhirnya Zul bisa mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam. Walau sepertinya sampai kapan pun, keluarganya akan tetap sama. Tidak akan pernah ada kehangatan.


~•~


__ADS_2