Racara

Racara
Bagian 42


__ADS_3

Ini sudah 2 bulan semenjak Cara memakan terang bulan kacang ditempat penjual. Dua bulan yang masih sama seperti biasanya. Cara selalu tertawa, ceria, bercanda, dan melakukan hal-hal tidak jelas lainnya. Yang berbeda adalah Gia. Gadis itu jadi sering ngelamun dan tiba-tiba diam seharian.


Semenjak kepergian Zul, kakak Cara tidak lagi membalas chatnya. Membacanya saja tidak. Gia sudah menebak jika Randy kembali berusaha mendapatkan Zeline. Tanpa dikasih tahu, Gia juga sudah tahu jika dia dan Zeline sangatlah jauh. Dia juga sudah tahu jika alasan Randy menanggapinya dan mengajaknya pergi waktu itu hanya sebagai teman saat cowok itu merasa sendirian.


Seharusnya dia tidak cepat bawa perasaan. Jadinya seperti ngarep. Seperti sekarang ini, hatinya jadi sakit karena sudah menantikan jika Randy menjadi miliknya. Gia sadarlah.


"Gi. Lo kenapa?" tanya Cara sambil menggoyangkan tubuh sahabatnya. Sejak berada di lab biologi, Gia diam dan tidak bergerak untuk melakukan praktikum.


Gia yang sadar langsung membantu teman sekelompoknya. Dia terlalu memikirkan masalah ini hingga pelajarannya sampai terganggu.


Haidan menyenggol lengan Gia dengan siku cowok itu. "Masalah cowo nggak usah dibawa-bawa ke lab juga kali," sindir cowok itu lalu berjalan membantu Raca yang kesulitan.


"Gara-gara Kakak gue?" tebak Cara sambil berbisik.


"Fokus praktikum, Ra."


Tanpa Gia bilang, Cara paham. Gadis itu pasti sedang ada masalah dengan Kakaknya. Semenjak bertemu di kafe sejoli itu, Cara tidak pernah melihat Kakaknya bersama Gia. Apakah mereka sudah tidak pdkt lagi? Ataukah Kakaknya yang menjauh?


~•~


Haidan berebut bangku kantin dengan adik kelas. Karena melihat Haidan yang marah dan tidak terima, adik kelas pun mengalah dan memilih untuk pergi. Cowok itu tertawa penuh kemenangan dan menyuruh ke-3 temannya mendekat. "Oy!! Sini!"


"Keren nggak gue? Lihat tampang gue aja adik kelas pada nurut," kata Haidan dengan wajah tengilnya.


Raca berdecak dan memalingkan wajah dari Haidan. Menurut Raca sahabatnya itu terlalu percaya diri dengan wajah pas-pasan. Tapi yang buat Raca bingung, kenapa masih banyak cewek yang kepincut sama wajah Haidan. Bahkan, beberapa adik kelas rela masuk ekskul flat football agar bertemu dengan Haidan. Sepertinya Haidan pakai pelet.


"Mereka takut sama wajah bringas lo itu," ucap Gia sewot dengan wajah datar. Sedetik kemudian sebuah makaroni terlempar ke arah Gia. Ternyata pelakunya adalah Haidan. Karena Gia sedang tidak ingin bertengkar dengan teman sebangkunya yang nyebelin, cewek itu berdiri untuk membeli makanan.


"Itu singa betinanya kenapa, Ra? Makin hari mukanya makin lecek," cibir Haidan sambil melihat kepergian Gia.


"Nggak tahu. Gue udah tanya dia diem aja," jawab Cara yang juga melihat kepergian Gia. Sejak selesai praktikum dan berjalan menuju kantin, Gia tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepada Cara.


Lengan kekar Raca menyenggol lengan Haidan yang tak kelah kekar juga. "Lo sebagai chairmatenya harus tahu dia lagi kenapa."


"Lah? Buat apa?" tanya Haidan dengan keningnya yang berkerut.

__ADS_1


"Waktu Cara ada masalah, gue selalu tanya kenapa dia sering badmood. Setelah tahu, gue selalu ada buat dia. Karena menurut gue, sebagai chairmate yang pastinya dekat, kita harus tahu, harus ada, harus jadi lebih dari teman sebangku," ucap Raca sambil terus melihat wajah Cara. "Lebih maksudnya itu lo harus jadi pengawalnya. Yang siap saat dia butuh sandaran, saat dia butuh pendengar, dan saat dia butuh penyemangat."


Telinga Haidan dibuka lebar-lebar mendengar ucapan Raca. Sambil terus melihati gadis yang sedang mengantri bakso dipojok kantin dengan wajah yang sangat datar. Jauh dari Gia yang Haidan kenal.


"Kalau pun dia nggak mau. Lo harus siap jadi bayangannya. Yang selalu mengikutinya dan menemaninya. Jangan pernah berharap dia tahu atau peduli akan kehadiran lo. Karena yang terpenting lo ada karena lo nggak mau kehilangan dia."


Iya. Haidan tidak ingin kehilangan Gia yang selalu menjadi teman berisiknya. Meskipun mulut gadis itu pedas bagaikan cabai, tapi itu yang membuat telinga Haidan rindu. Chairmate itu hampir sama dengan Raca dan Cara. Selalu berjalan berdua, bertengkar ditempat umum, kadang pulang bersama. Bisa dipastikan bahwa ada sebuah rasa muncul yang masih tidak mereka ketahui.


"Lo kok keren banget, sih, Rak? Udah ganteng, bijak lagi," ucap Haidan sambil mencubit kedua pipi Raca, membuat sang korban bergidik geli dan melototkan mata.


~•~


Seperti biasa, Raca melepaskan tali pengikat helm yang Cara gunakan. Sebelum mereka resmi berpacaran, itu sudah tugas Raca. Cowok itu melakukannya setelah tahu bahwa Cara tidak tahu cara melepas pengikat itu.


"Masa masih nggak bisa lepas ginian, sih?" tanya Raca sambil melepas helm itu dari kepala Cara.


Cara menggigit bibir bawahnya. Sudah lama dia mengatakan alasan bohong itu. Jika diingat, dulu dia aneh juga. Mengasih alasan tidak bisa melepas pengikat helm agar dilepaskan oleh Raca, biar so sweet.


"Kan, kalau nggak gini nggak ada so sweet so sweetnya," ucap Cara sambil nyengir membuat Raca tertawa. Dua sejoli itu memang sangat menggemaskan.


"Ha? Buat apa?" tanya Cara dengan wajah bingungnya.


"Mama minta gue ngenalin lo. Mau?"


~•~


Nani bingung saat pulang-pulang putrinya berbicara panjang lebar hingga tidak ada yang masuk ke otaknya. Setelah menenangkan sang putri, akhirnya dia paham. Ternyata putrinya itu bingung akan memakai baju apa untuk pergi ke rumah calon mertua. Nani sampai tertawa melihat putrinya yang gopoh.


"Segitu gugupnya mau ketemu sama calon mertua?" kata Nani yang masuk ke kamar Cara sambil membawa sebuah dress.


Cara tersenyum malu. Nani tertawa lalu memberikan gaunnya agar dipakai sang putri. Setelah sang putri selesai berganti baju, dia pun mendadani putrinya yang sudah besar.


"Memangnya ketemuan dimana?" tanya Nani sambil mengoleskan bedak pada wajah putrinya.


"Nanti Raca jemput aku. Tapi aku masih nggak tahu mau ketemu sama Mama Raca dimana." Bisa dikatakan, ini adalah pertama kalinya Cara segugup ini. Otaknya sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia hanya berharap jika nanti dia tidak melakukan kesalahan.

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, Randy menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan kedua tangan yang disilangkan didepan dada. Cowok itu tersenyum melihat adiknya yang sedari tadi heboh hanya karena akan bertemu dengan Mama pacarnya. Tapi lucu juga melihat adiknya yang ternyata sudah besar. Sudah mengenal yang namanya cinta. "Bajunya siapa, tuh, yang dipakai? Perasaan baju lo tomboy semua. Mana punya lo dress seanggun itu."


Mata Cara langsung menatap tajam sang Kakak yang sedang tersenyum menghinanya. Kakaknya itu memang nyebelin. "Apaan, sih? Diem aja!"


"Gila, gila," kata Randy sambil geleng-geleng kepala. "Ternyata adik gue cantik juga, yah?"


"Emang. Dari lahir aku udah cantik," kata Cara sewot karena Kakaknya yang ngeselin. Sejak Cara bingung memakai baju apa, Kakaknya itu sudah mengucapkan hal-hal menakutkan saat bertemu Mama pacar. Yang katanya Mama Raca pasti galak dan banyak tanya, Mama Raca yang akan nyuruh-nyuruh Cara, atau bahkan yang paling kejam Mama Raca meminta Cara menjauh dari Raca. Walau tahu jika Kakaknya hanya sedang jail, tapi Cara terus kepikiran akan itu.


"Randy, suka banget, sih, godain adiknya. Lihat adikmu udah besar. Udah mau ketemu sama calon mertua."


"Apaan, sih, Bu? Jangan buat Cara makin gugup."


Randy dan Nani tertawa. Setelah selesai berdandan, Cara menunggu Raca diruang keluarga bersama semua anggota keluarganya. Semenjak tadi Cara terus-terusan menggerakkan kakinya. Heri yang tahu jika putrinya gugup, mengelus kepala sang putri. "Kamu tahu, ini dress yang Ibumu pakai waktu pertama kali ketemu sam Bapak."


"Oh, iya?" tanya Cara terkejut.


Heri mengangguk, "kamu sangat mirip sama Ibumu. Cantik. Nanti, kalau bicara pelan-pelan aja. Bapak yakin, keluarga pasti suka pas lihat kamu."


Cara tersenyum dan memeluk sang Bapak. Dia juga yakin jika keluarga Raca baik. Karena Raca baik juga pasti dari keluarganya.


Pintu rumah diketuk. Rasa gugup kembali menyerbu Cara. Apalagi saat melihat Raca dengan kaos putih dan celana panjang hitam yang terlihat mempesona. Dengan malu-malu Cara berjalan dibelakang Raca menuju motor verza yang terparkir di depan pagar.


"Dandan, yah?" tanya Raca sambil mengenakan helm untuk Cara.


"Emang nggak boleh?"


"Cantik."


Cara yakin pipinya sudah merah seperti apel. Kupu-kupu juga sepertinya bertebangan diatas kepalanya. Kenapa rasa gugupnya makin besar aja saat naik diboncengan Raca. Biasanya tidak seperti ini.


Sementara Raca tertawa mengetahui Cara yang sejak tadi gugup. Saat akan menjalankan motornya dia mengangguk kepada keluarga Cara yang masih melihati mereka diambang pintu rumah. "Lo hitung aja dari nol."


"Buat apa?"


"Biar gugupnya hilang."

__ADS_1


~•~


__ADS_2