
Cara berdiri 10 langkah dari bapaknya yang sedang mengotak-ngatik motor. Jadi ini pekerjaan bapaknya sekarang. Pekerjaan yang jauh beda dari bapaknya dulu, namun Cara tidak pernah malu.
"Heri, itu ada pelanggan," teriak seorang dari dalam bengkel yang memakai kacamata. Dari perawakannya sih seperti orang china. Heri berdiri, membersihkan tangannya, dan menghadap pada pelanggan yang atasannya maksud.
"Ada yang bisa saya ban.....Cara? Raca?" Heran melihat putri dan teman putrinya berada di sini. Ini masih jam sekolah. Apa keduanya bolos sekolah.
Cara duduk di kursi yang di sediakan. Menunggu bapaknya yang masih menyelesaikan motor sang pelanggan. Sementara Raca sedang duduk di dalam sebuah warung di sebelah bengkel ini. Tidak terasa, air mata Cara turun saat melihat bapaknya yang berlumut oli dan sebagainya. Orangtua memang akan melakukan pekerjaan apapun untuk menafkahi keluarga. Seperti Ibunya yang dulu harus bangun pagi, membuat masakan, belum diselingi jika Hafidz rewel, menyiapkan sekolah Cara dan Randy. Kedua orangtuanya memang pahlawan.
"Kamu kok bisa di sini? Bukannya ini masih jam sekolah?" tanya Heri duduk di sebelah putrinya setelah selesai mengotak-atik motor sang pelanggan. Cara merebut handuk yang dipegang Heri dan mengelap wajah bapaknya yang kotor itu. "Cara nggak suka, wajah bapak jadi kotor gini," ucap gadis itu masih terus membersihkan wajah sang bapak.
"Mau alihin pembicaraan?"
"Maaf, Pak. Ini pertama dan terakhir kali Cara bolos sekolah, kok. Janji, deh," kata gadis itu mengangkat jari kelingkingnya. "Nah, sekarang bapak cuci muka. Ini jam istirahat, kan? Cara mau bicara sebentar sama bapak."
Heri menurut. Berjalan untuk membersihkan tubuhnya. Kebetulan setelah ini ia harus menunaikan shalat. "Jangan bilang kalau kamu mau nikah muda sama Raca."
Mata Cara melotot lalu memukul pelan lengan bapaknya. Ucapan bapaknya itu aneh sekali. Tidak pernah Cara berpikir untuk nikah muda.
"Pak, Cara tahu Ibu selalu salahin bapak karena sampai bapak bebas, belum ada juga kebenarannya. Walau Cara yakin kalau Ibu masih percaya sama bapak. Sejak kedatangan keluarga Kak Zul, Cara ngerasa ada yang aneh. Bapak sama Om Budi yang nggak nyapa dan Kak Zul yang selalu marah setiap aku bahas ini. Aku juga masih bingung alasan kedatangan keluarga itu. Mereka pergi setelah bapak masuk penjara dan balik setelah bapak bebas. Cara nggak tahu harus cari bukti dimana. Satu-satunya bukti hanya Kak Zul. Cara yakin Kak Zul tahu."
Tidak bisa mengatakan apapun. Heri hanya bungkam. Istrinya memang berubah semenjak masuk tahun ke-3 dia di penjara. Setiap kali istri dan anaknya mengunjunginya, Istrinya tak pernah membawakan makanan lagi dan tak berkata apapun. Parahnya saat ia kembali ke rumah, istrinya tidak memperhatikannya. Hanya akan marah dan mengungkit masalahnya. Ia tidak bisa marah pada istrinya. Heri tahu apa yang sudah dijalani istrinya sangatlah berat. Setiap kali istrinya marah seperti tadi malam, Heri hanya bisa diam.
"Apa nggak ada orang lain yang bisa ngasih bukti kalau bapak nggak salah?"
Harusnya ada. Namun sudah 6 tahun, tapi orang itu tidak pernah muncul. Sudah bisa dipastikan jika Budi mengirim orang itu ke luar negeri. Dasar licik. Dia menyesal pernah mau membangun bisnis bersama. "Dia teman bapak, bagian keuangan. Bapak udah nunggu dia selama 6 tahun, tapi nggak ada pun hasilnya. Bapak rasa Om Budi suruh orang itu tugas di luar negeri."
"Siapa, Pak? Biar Cara yang cari tahu. Bapak nggak perlu susah-susah cari bukti. Bapak cukup kerja dan bilang ke Cara siapa orangnya, maka Cara akan cari."
"Nggak. Bapak nggak mau kamu pusing sama masalah ini. Ini masalah bapak."
"Ini masalah kita sekeluarga, Pak. Cara bisa kok, Raca udah janji bakal bantuin Cara. Bapak cukup kasih tahu dimana rumah orang itu."
__ADS_1
Tak kunjung bapaknya membuka mulut untuk menjawab. Cara memegang kedua tangan bapaknya. Mencoba meyakinkan sang bapak jika gadis itu bisa. "Cara mohon. Cara mau keluarga kita kayak dulu, sebelum masalah datang, Pak."
"Iya, bapak juga pingin. Bapak kangen Ibu yang suka nasehati, Randy yang suka main kelereng, sama kangen jadi kuda untuk putri bapak tersayang," kata Heri mengelus pipi sang putri.
"Sekarang Cara tahu. Apa arti nama Cara yang kata bapak bagus. Permata yang berharga, kan?" tanya Cara, "bapak anggap Cara seperti permata?"
Heri mengangguk. Putrinya memang seperti permata yang berharga baginya. Karena itu, dulu dia selalu menuruti apa yang putrinya mau. Semahal apapun, sesusah apapun, seaneh apapun, jika itu baik maka Heri akan dapatkan. Dirinya juga sudah berjanji akan menjaga sang putri dan tidak segan menghajar siapa pun yang berani menyakiti putri semata wayangnya.
"Ini tadi siapa yang ngajak bolos? Cara atau Raca?" tanya Heri pada kedua anak SMA yang menunggu angkutan umum lewat.
"Raca, Om."
"Cara, Pak."
Tidak terasa putrinya sudah besar. Sudah punyi seseorang spesial namun masih saja tidak mengerti. "Yasudah, besok-besok jangan suka bolos."
"Siap, Om. Kami balik dulu, yah, Om. Itu angkotnya udah datang," kata Raca mencium tangan Heri, disusul oleh Cara.
"Hati-hati," ucap Heri saat kedua anak SMA itu sudah masuk ke dalam angkot. Entahlah, Heri tidak tahu apa kedua anak itu bisa menemukan bukti. Dia hanya bisa berdoa, jika putrinya bisa membawa kabar baik secepatnya.
~•~
"Karena gue murid yang baik, gue bersihin tuh kamar mandi yang kotor," jawab Raca bercanda sambil mengambil tasnya lalu berjalan beriringan dengan Haidan dan Gia.
"Boong banget. Gue tadi ke kamar mandi, bambank dan lo nggak ada," kata Haidan menampol wajah sohibnya.
"Kayaknya waktu lo ke kamar mandi gue pas lagi di masjid, deh."
"Pake sok-sokan alim lo. Bilang aja kalau lo tadi bolos sekolah. Dari tampang lo aja udah keliatan."
Tidak ada alasan lagi untuk membohongi Haidan. Lagi pula siapa juga yang percaya akan ucapan ngawurnya. Mana ada murid yang sukarela membersihkan kamar mandi yang lumutnya udah sejari kelingking Haidan.
__ADS_1
"Cara!"
Gia berlari dan memeluk sahabatnya yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Sahabatnya itu tidak masuk hari ini, namun kenapa ada di depan sekolah, pakai seragam pula. "Lo ngapain nggak masuk? Bolos, yah?"
"Enggak. Gue tadi telat, terus dihukum bersihin kamar mandi sampai pulang sekolah."
"Alasan lo tuh sama aja kayak Raca. Bersihin kamar mandi, alasan yang nggak masuk akal banget. Udah, emang kalian cocok."
"Ihh, cocok darimana?"
"Eh, Cara. Lo kok bisa di sini?" tanya Haidan yang keluar dari gerbang sekolah dengan motor, disusul Raca di sampingnya. "Iya, gue tahu. Lo sama Raca janjian bolos sekolah, kan? Kalau mau bucin, yah, bucin aja sewajarnya. Nggak usah pakai bolos sekolah juga kali."
Tidak mau menghiraukan Haidan dan Gia yang terus-terusan berbicara yang tidak-tidak, Cara naik ke motor Raca dan berpamitan kepada kedua temannya untuk pulang duluan.
"Duluan, yah."
"Hai, anterin Gia, tuh."
Motor Raca melesat di jalanan kota pahlawan yang ramai saat sore hari. Banyak orang yang berbondong-bondong untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara Raca dan Cara akan pergi cukup jauh, untuk mengetahui rumah lama Zul. Dari informasi yang Raca dapatkan dari Kakak seniornya di ekskul futsal, Zul bukanlah anak baru, dia mengikuti MOS 2 tahun lalu. Katanya Zul termasuk anak pendiam namun banyak cewek yang mengagumi. Teman-teman Zul juga tidak banyak. Cowok itu dijuluki 'mysterious boy'. Hingga Raca dapat alamat rumah Zul yang cukup jauh dari daerah rumahnya maupun Cara. Rumah yang berada di pusat kota.
"Nomor 36. Ini, Ka."
Setelah 1 jam perjalanan dan mencari alamat rumah, akhirnya ketemu juga. Rumah yang cukup megah, namun sepertinya sudah tidak berpenghuni. Saat Raca dan Cara turun dari motor, sebuah taxi berhenti di depan rumah bernomor 37. Seorang gadis keluar. Dia, Zeline. Mata Cara bertemu dengan gadis itu. Melihat gerak Zeline yang ingin segera masuk ke rumah, Cara berlari mencegahnya. "Lo pasti tahu sesuatu."
Zeline melepas tangannya yang dicekal oleh gadis itu. Percuma saja dia menghindar, gadis itu pasti akan terus-terusan mencarinya. "Lo nggak capek apa, buntutin gue sampai ke sini?"
"Sorry, gue nggak buntutin lo. Gue dapat info kalau dulu rumah nomor 36 itu rumah Kak Zul. Trus tiba-tiba gue lihat lo di sini. Jadi lo tetangganya? Terus sahabatan?"
"Gue nggak bisa bantu, tapi mungkin gue bisa sedikit cerita tentang keluarga Zul."
__ADS_1
~•~