
Masih tidak percaya jika Papanya akan bertugas ke luar negeri. Padahal baru saja Zeline berbalas rindu setelah pulang dari Jakarta. "Tapi, Pa. Kenapa harus buru-buru gini. Baru aja kemarin Papa balik dari Jakarta. Kan harusnya kita pergi ke kebun binatang buat lihat zebra."
"Iya, Papa tahu. Nanti setelah Papa pulang, Papa bisa ajak kamu ke kebun binatang sepuasnya," kata Setyo sambil memasukkan kopernya ke dalam jok mobil. Sebenarnya dia juga tidak mau meninggalkan putrinya yang masih berumur 10 tahun. Namun dia berjanji jika akan menyelesaikan tugasnya di sana secepat mungkin.
"Tetap aja, Zeline akan sendirian di rumah."
"Kan ada Bi Ratih yang jagain Zeline, yang akan temenin Zeline mainan juga tidur kalau malam." Zeline berumur 10 tahun itu melipat tangan di depan dada sambil memalingkan muda dari sang Papa. Biasa, gaya anak kecil kalau lagi ngambek.
Setyo bisa memaklumi sikap putrinya itu. Sejak kecil hidup tanpa seorang Mama dan menganggapnya seperti Papa juga Mama. Menjadikannya teman curhat saat diejek oleh teman-temannya di sekolah. Menjadikannya teman bermain dan prajurit untuk menjaganya. Karena tugas mendadak dari atasannya, Setyo terpaksa pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan bisnis di sana. Andai saja atasannya yang satu, Heri, tidak terkena masalah, mungkin dia tidak akan ditugaskan ke luar negeri dengan terpaksa. Tapi rasanya ada yang aneh. Tidak biasanya atasannya menyuruh dia dengan paksa seperti ini. Dan masalah tentang Heri, dia masih belum bisa mengeceknya. Kata tangan kanan Budi, semua bukti mengarah ke Heri. Andai saja dia tidak punya tugas ini, mungkin dia bisa mencari tahu.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah bernomor 36. Seorang laki-laki dengan kemeja rapi keluar dan berjalan mengarahnya saat mata mereka bertemu. "Udah siap-siap? Keberangkatanmu siang ini, kan?"
"Iya, Pak."
Tiba-tiba saja putrinya memeluk tangannya dengan erat. "Om yang nyuruh Papa Zeline buat pergi ke luar negeri, yah? Om jahat banget. Papa Zeline nggak akan pergi ke luar negeri. Nanti Zeline nggak punya teman di rumah. Bi Ratih sibuk bersihin rumah dan nggak paham kalau diajak main. Jadi Zeline nggak akan ngebolehin Papa pergi."
"Tapi Zeline, Papa kamu harus pergi ke luar negeri. Lagian kamu bakalan punya teman. Zul, sini!" Budi menyuruh putranya mendekat dengan isyarat tangan. Dipeluk putranya saat sudah berdiri di dekatnya. "Ini anak Om. Dia bakal jadi teman kamu. Karena mulai hari ini Om sekeluarga tinggal di sebelah rumah kamu. Zul, ajak Zeline ke rumah ketemu sama Mama."
Anak laki-laki berumur 11 tahun itu mengisyaratkan dengan tangan agar anak perempuan berumur 10 tahun mengikutinya. Keduanya masuk ke rumah megah itu dan duduk di kursi yang berada di teras rumah. "Kata Papa aku bakal satu sekolah sama kamu."
"Di sekolah aku, anak-anaknya nakal-nakal. Setiap hari aku selalu dijailin."
"Kenapa nggak lawan?"
"Mereka bergerombol. Sementara aku cuma sendirian. Mangkannya aku pingin kalau home schooling aja."
"Eh, Zul punya teman?" Ningsih keluar mendekati anak perempuan yang sedang berbicara dengan putranya. "Kenalin nama Tante Ningsih. Kamu Zeline, kan?"
Zeline mengangguk. Seorang perempuan berumue sekitar 40 tahun berlutut di depannya. Melihat Tante Ningsih, Zeline jadi ingin Mamanya hadir dan mengetahui pertumbuhannya. Meskipun Zeline tahu, di sana Mamanya selalu memperhatikannya.
"Zeline boleh, loh. Manggil Tante Ningsih dengan sebutan Mama."
"Boleh, Tante?"
__ADS_1
"Mama."
"Ma-Mama." Zeline tersenyum dan memeluk Ningsih. Meskipun Ningsih bukan Mamanya, Zeline senang ada seorang yang mau dipanggil dengan sebutan Mama olehnya.
~•~
Seorang dengan serbet dipundak, datang membawakan 3 teh hangat, lalu pergi. Sudah hampir 1 jam Zeline menceritakan awal mula kedatangan keluarga Zul yang sudah seperti keluarganya. Walau dia tidak pernah merasakan kehangatan dalam keluarga itu. Namun dengan adanya mereka, Zeline tidak pernah takut untuk menutup mata saat malam hari. Karena jika ada sesuatu yang membuatnya takut dia hanya tinggal teriak lalu Zul dan Mama Ningsih akan datang menenangkannya. "Gue cuma bisa cerita itu."
"Terus bokap lo? Dia berapa lama ditugaskan di luar negeri? Kata bokap gue, cuma bokap lo yang punya bukti," tanya Cara berusaha tidak terlalu mendorong Zeline. Takutnya Zeline tidak mau lagi mengatakan sesuatu.
"1 bulan setelah itu, Papa telepon kalau dia nggak bisa pulang. Katanya dia sekarang ditugaskan buat urusan luar negeri. Sampai sekarang pun bokap gue nggak pulang-pulang. Jadi gue nggak bisa ceritain sesuatu lagi ke lo," jawab Zeline dengan wajah sedih. Dia juga merasakan apa yang Cara rasakan. Ditinggal oleh seorang ayah dalam waktu cukup lama. Bedanya Cara masih sedikit beruntung karena satu bulan sekali masih bisa bertemu. Sementara Zeline hanya bisa bertemu lewat video call. Cara tahu jika kepulangan Papa Zeline disengaja diperlambat oleh Om Budi. Beliau memang licik.
"Kalau gue mau tanya tentang apa yang pernah Kak Zul ceritain ke lo, hmm...tentang keluarganya. Gue ngerasa lo..."
Cara dan Raca terkejut saat Zeline tiba-tiba berdiri dengan wajah seperti tidak suka. Ini sudah yang ke-2 kalinya Zeline bertindak seperti ini. Sebuah tindakan yang malah membuat Cara dan Raca curiga dan yakin jika Zeline menyembunyikan sesuatu.
Raca berdiri dan berkata agar Zeline tenang. Bukannya kembali duduk, Zeline malah menyuruh tamunya untuk segera pergi, alias mengusir. "Pagar rumah gue di sebelah sana," kata gadis itu lalu masuk ke dalam rumah.
"Ayo, Ra, pulang. Lo nggak bisa maksa dia. Informasi yang dia kasih hari ini segini dulu. Besok-besok gue temenin ke sini lagi," ucap Raca pelan saat mengetahui jika Cara sebenarnya sudah ingin sekali tahu fakta dari Zeline.
Ucapan Raca ada benarnya, karena iti Cara mengikut. Baru saja menutup pagar, pintu rumah Zeline terbuka. Cara senang. Ia berharap jika Zeline sudah berubah pikiran dan mau memberitahukan sebuah fakta.
"Gue cuma mau ngasih tahu kalau Zul suka minum obat biar dia tenang. Lo sebagai teman kecilnya mungkin bisa bantu biar dia lepas dari kecanduan itu," kata Zeline lalu sedetik kemudian membanting pintu.
~•~
Dalam boncengan Raca, Cara diam. Tidak seperti biasanya yang dimana gadis itu tidak bisa berhenti bicara. Memang akhir-akhir ini gadis itu berubah. Tidak ceria seperti biasanya. Maka dari itu Raca ingin sekali membantu Cara menyelesaikan masalah yang bisa dibilang rumit dan besar. Raca ingin melihat keceriaan kembali di wajah Cara. Ia ingin Cara yang selalu menghiburnya. Jadi ingat, bagaimana awal mula kedekatan mereka dulu.
Semua berawal karena Bu Dania yang menyuruh berpasangan dengan teman sebangku. Raca tahu jika gadis yang namanya mirip dengannya itu tidak menyukainya. Mungkin masih kesal karena kejadian waktu mos minggu lalu.
__ADS_1
"Kenapa semesta menakdirkan gue ketemu sama lo? Apalagi sampai sekelompok." Bibir Cara manyun dan terus menulis tugas kelompok yang berada di papan. Ini sudah hari ke-3 dan dia tetap saja masih kesal dengan cowok ngeselin di sebelahnya.
"Gimana pun cara lo ngejauh dari gue, tetap aja nggak akan bisa kalau memang semesta mentakdirkan kita bersama."
Makin kesal saat cowok ngeselin yang kenapa nama mereka bisa mirip itu terus-terusan berkata jika mereka sudah ditakdirkan untuk selalu bersama. Cara cuma berharap jika wali kelasnya akan mengubah tempat duduk agar ia bebas.
Raca bersorak senang saat wali kelas tetap menempatkan dirinya duduk bersebelahan dengannya. "Tuh, kan. Tetap aja kita bersama lagi."
"Nggak lama lagi gue bakal ngejauh dari lo."
"Kalau lo bisa."
Buktinya malah kebalikannya. 1 bulan duduk bersama, Cara malah makin dekat dengannya. Gadis itu juga sering mengajaknya bercanda, bahkan menitip makanan jika ia pergi ke kantin. Malahan, mereka berdua tidak bisa dilepas. Kemana-mana berdua. Kantin, masjid, pulang sekolah pun mereka berdua. Ditambah dengan candaan saat berjalan di koridor. Kedekatan mereka membuat banyak orang menganggap jika mereka berpacaran.
"Capek gue, tiap kali jalan sama lo dilihatin sama fans lo."
"Gue juga. Tiap kali jalan sama lo pasti dikatain pacar. Mana mau gue pacaran sama lo."
"Idihh, gue juga ogah pacaran sama lo. Gak usah sok ganteng."
"Emang gue ganteng."
Mengingatnya membuat Raca tertawa. Bisa dibilang kedekatan mereka memanglah lucu. Sebatas teman namun terlalu dekat. Lucunya lagi, dulu Cara bilang tidak suka padanya. Tapi jaketnya tidak segera dikembalikan. Entah apa saja yang sudah gadis itu lakukan pada jaket itu.
Sebuah kepala bersandar pada pundaknya. Dari spion motor, Raca bisa melihatnya. Ini adalah kali pertama Cara melakukan ini. Biasanya gadis itu hanya memegangi tasnya atau bajunya karena takut jatuh. Namun sekarang, dengan beraninya melingkarkan tangan pada perutnya. Jadi tidak fokus menyetir jika begini ceritanya.
"Gue capek, Ka. Ngantuk. Ntar kalau sampai rumah bangunin, yah."
Tidak mau Cara jatuh, Raca mengeratkan pelukan Cara.
~•~
__ADS_1