
Sejak setelah istirahat, semua kelas jamkos. Katanya sih bukan karena guru-guru pada rapat, tapi kakak kelas 12 akan mendatangi setiap kelas 10 dan 11 untuk meminta maaf. Ini adalah adat yang hampir dilakukan di sekolah indonesia. Tujuan untuk meminta doa pada adik kelas agar ujian mereka lancar. Juga untuk meminta maaf jika mereka pernah berbuat yang menyakiti hati. Banyak siswa-siswi yang excited karena akan bertemu Kakak kelas yang mereka taksir. Mungkin juga bisa memberi semangat.
Kini giliran kelas 12 IPA 3 memasuki kelas 10 IPA 1. Tiba-tiba saja Haidan jadi heboh memukul tanganku yang ada di atas meja.
"Ada Kak Zul, tuh," kata cowok itu.
"Trus? Hubungannya apa?" tanyaku sambil mengusir tangan Haidan dari tanganku.
"Lo jangan natap Kak Zul, nanti ada yang cemburu."
"Siapa?"
Haidan mengakat pundak dan kembali menghadap depan, mendengarkan perwakilan kelas 12 IPA 3 yang sedang berbicara. Cara memutar bola mata, Haidan memang cowok aneh.
"Gue yang cemburu," bisik Raca membuat tubuh Cara merinding. Melirik kanan-kiri, sepertinya tidak ada yang melihat hal barusan. Pura-pura lupa, Cara mengalihkan fokus ke depan. Tapi matanya malah bertemu dengan seorang cowok yang bersandar di pintu kelas sambil menatapnya. Tatapan penuh kebencian.
Zul lihat aksi Raca yang entah membisikkan apa dan reaksi Cara yang berubah. Rasanya masih tidak rela jika Cara sudah jauh dari gapaiannya. Namun dia juga membenci gadis itu. Keluarganya hancur karena gadis itu. Tidak mau berada dalam satu ruangan, Zul memilih untuk keluar kelas. Tidak perlu juga meminta maaf pada kelas itu, dia tidak pernah punya salah.
"Kal Zul kayaknya benci banget sama lo, Ra," ucap Gia membalikkan badan setelah kakak kelas 12 sudah pergi. Bahkan, Gia saja tahu dengan sikap Zul.
"Gue juga benci banget sama dia," kata Cara wajahnya menyimpan amarah.
"Emang ada masalah apa sih antara lo sama Kak Zul, Ra? Diphp-in? Kalau gitu mending lo sama sohib gue. Dia setia pakai banget pangkat 100," kata Haidan berlebihan.
"Siapa sohib lo? Pak Lukman? Idih ogah. Udah tua," kata Cara.
"Sama yang kemarin pos pakai caption ngasih sign heart buat yang fotoin."
Raca melirik Cara. Ingin melihat ekspresi cewek itu. Pipinya tidak merah seperti apel yang menandakan malu. Tapi malah menatap Raca dan menunjuk wajah Raca. "Ini yang lo maksud?" tanya Cara lalu menempelkan kedua tangannya dipipi Raca. Memiringkan wajah cowok itu ke kanan dan ke samping. "Cowok gini malah yang suka php."
"Lo nggak percaya? Ntar kalau gue seriusin lo kaget," goda Raca yang kini berhasil membuat Cara malu karena dicie-cie sama Haidan dan Gia.
"Kalian berdua, tuh, cocok banget, deh," celetuk Gia yang gemas melihat kedekatan antara Raca dan Cara.
"Lo sama Haidan juga cocok banget, deh," ucap Raca dan Cara bersamaan membuat Gia dan Haidan tertawa.
__ADS_1
"Tuh, kan. Kalian kompak banget. Gue restuin, deh. Tapi jangan lupa traktiran kalau udah sah," kata Haidan.
"Sah? Maksud lo apa? Gue nggak bakal nikah muda," kata Cara kesal dengan Haidan yang selalu ngeselin. Sebelas duabelas dengan teman sebangkunya.
"Sah jadi dua sejoli," jawab Haidan dengan jari peacenya.
~•~
Jalan berdua dengan tatapan-tatapan dari murid lain sangatlah biasa bagi Raca dan Cara. Sudah 10 bulan, mereka merasakan itu. Terserah orang mau menganggap mereka apa, sebatas teman, dua sejoli, atau sahabat.
Tertawa bersama disepanjang jalan menuju parkiran. Tidak tahu apa yang lucu bagi mereka. Memang jika dilihat mereka seperti 2 sejoli. Raca yang suka mengelus puncak kepala Cara dan Cara yang suka merangkul lengan Raca.
Sesampainya di parkiran, Raca memberikan helm pada Cara. Lalu gadis itu berjalan menuju gerbang untuk menunggu Raca. Namun tak sengaja dia berpapasan dengan Zul. Keduanya bertatapan cukup lama. Namun saat tubuh mereka sejajar, jalan Zul berubah. Aneh. Tidak bisa Cara deskripsikan.
Sepanjang jalan, Cara melamun. Dia masih bingung dengan sikap Zul yang berubah. Amukan Zul kapan hari lalu saat dia dan Ningsih akan pindah. Apakah Zul membencinya karena dia sudah mengungkapkan kebenaran yang membuat Budi masuk penjara? Jika begitu, Zul sangat egois. Apa dia lupa dengan Cara yang kehilangan sosok Bapak selama 7 tahun?
"Ra, udah sampai."
Ucapan Raca tak dijawab. Dilihat dari spion, gadis itu melamun dengan wajah menyimpan amarah. Raca memutar badannya 180°, "lo kenapa?"
"Gue nggak salah, kan, Ka?" tanya Cara dengan wajah sedih menatap aspal. Tahu jika Cara sedang tidak baik-baik. Raca memasukkan motornya ke perkarangan rumah Cara. Menyuruh Cara turun lalu mereka duduk di teras rumah.
Yang dikatakan Raca ada benarnya. Kak Zul itu cowok baik dan Cara yakin Kak Zul tidak mungkin membencinya. "Gue kira lo benci banget sama Kak Zul."
"Lah ngapain?"
"Gara-gara lo ada saingan, maybe."
~•~
Jalanan kota Pahlawan sudah menjadi saksi 2 cucu adam dan hawa yang sedang membuat kisah. Tidak tahu tujuannya kemana. Yang terpenting berdua. Hati mereka yang berkata begitu, tapi mulut mereka selalu membantah.
Dua orang yang sedang tertawa di atas motor itu memang sangat lucu. Bagaimana mereka bisa peka dengan perasaan lawan jika mereka tidak peka dengan perasaan sendiri. Ucapan orang-orang akan mereka yang cocok dianggap sebagai angin lewat. Andai hati bisa berucap, mereka tidak akan bisa membohongi perasaan.
"Langitnya gelap, lo mau hujan-hujanan?"
__ADS_1
"Enggak. Lo bawa jas hujan nggak?"
"Bawa, tapi jas hujan kelelawar yang kepalanya satu. Mau pakai?"
"Yaudah. Gue lagi nggak mau hujan-hujanan."
Raca pun menepikan motornya. Memakai jas hujan kelelawar berwarna coklat itu. "Tapi kepala lo bakal sakit karena nunduk terus."
"Udah ayo, hujannya mau turun."
"Apa nggak mau neduh dulu?"
"Gue lapar, Ka. Mau mampir warung Ibu. Udah dekat juga."
Mengikuti kemauan Cara adalah pilihan yang selalu Raca pilih. Dari kaca spion, Raca bisa lihat tangan Cara yang memegangi jas hujan agar tidak terbang-terbang. Raca jadi kepo ekspresi Cara sekarang.
Belum 5 menit, leher Cara sudah sakit. Kepalanya juga pusing karena terus nunduk dan tidak tahu sekarang berada dimana. Ditambah angin yang kencang membuatnya harus memegang jas hujan dengan rapat. Jika lepas dari tangannya, bisa gawat. Bukan hanya dia yang basah, Raca yang menyetir bisa saja tertupi karena jas hujan yang membalik. Menghilangkan pikiran negatif itu, Cara memilih memejamkan mata. Sesekali tubuhnya kaget mendengar suara yang menyambar.
Sesampainya diwarung Nani, Cara masuk menemui sang Ibu. Kebetulan warung sangat ramai karena orang yang awalnya numpang neduh jadi makan karena makanan yang terlihat menggiurkan. "Bu, Cara sama Raca lapar. Cara ambil sendiri, yah, makanannya."
"Iya ambil aja. Ibu lagi sibuk."
"Cara bantu dulu, deh."
Selesai membantu Nani yang kewalahan dengan pesanan pelanggan, Cara berjalan menuju Raca yang sedang berbicara dengan Hafidz. Ditaruhnya 2 piring nasi campur di meja. "Hafidz udah makan?" tanya Cara sambil menarik kursi untuk duduk.
Anak laki-laki yang baru saja berumur 6 tahun itu menggeleng, "suapin."
Adiknya itu memang sering manja jika bersama Cara. Selalu minta suapin atau kadang minta dimandiin dan Cara tidak bisa menolak. Melihat Hafidz yang makan dengan lahap saja sudah membuat Cara senang. Sedang menikmati makanan, tiba-tiba kaki Cara disenggol oleh Raca. Keduanya berbicara dengan mata. Raca mengisyaratkan dengan mata agar Cara membalikkan badan. Saat membalikkan badan, Cara melihat Zul yang sedang memesan makanan pada Nani.
"Sapa, gih!"
Mengikuti saran Raca, Cara pun mendekati Zul yang berdiri menunggu pesanannya siap. Jujur saja kaki Cara terasa berat. Kejadian saat Zul berteriak dengan menunjuk-nunjuk wajahnya masih terngiang. Saat itu Zul terlihat sangat menyeramkan. "Kak Zul makan di sini?"
"Enggak," jawab Zul tanpa menoleh.
__ADS_1
"Ujian Kakak udah selesai, kan? Gimana? Susah nggak, Kak? Trus rencananya Kakak kuliah dimana?" Pertanyaan Cara yang bertubi-tubi itu seperti angin. Tidak digubris oleh Zul. Bahkan, dengan wajah datarnya berjalan melewati Cara saat pesanan cowok itu selesai. Cara kesal karena dia dikacangi. Seperti saran Raca kemarin, dia tidak memaksa. Dia tidak mau teman masa kecilnya itu makin membencinya.
~•~