
Zul dimakamkan di Bandung supaya Ningsih bisa sesekali menjenguk makam putranya. Budi juga datang untuk mengantarkan putranya ditempat terakhir. Dia benar-benar sedih saat mendapat kabar bahwa putranya telah tiada. Air matanya terus keluar saat meng-adzani putranya. Budi merasa gagal membangun sebuah keluarga. Ucapan terakhir sang putra kala itu masih ia ingat. Selama ini dirinya terlalu terobsesi dengan bisnis hingga tidak pernah menjadi Papa yang baik bagi Zul. Pantas dulu putranya itu sangat suka main ke rumah Heri. Ternyata untuk merasakan kehangatan dari sebuah keluarga. Selama ini dia terlalu menekan putranya. Hingga fakta mengatakan jika putranya suka meminum obat. Rasanya Budi benar-benar gagal menjadi seorang Papa.
"Om nggak gagal jadi seorang Papa. Kak Zul sayang sama Om. Dia sedih saat Om harus masuk penjara. Apa yang dia lakukan untuk menutupi kebenaran agar dia nggak kehilangan Om."
Budi menoleh. Merangkul teman masa kecil putranya. "Iya. Om tahu, jika Zul pasti sayang sama Om. Begitu juga, Om. Hanya saja Om nggak tahu cara ngungkapin rasa sayang. Sekarang bukan Om yang ninggalin dia. Tapi dia yang ninggalin Om. Ingin sekali jika Tuhan kasih waktu buat ngebangun keluarga yang penuh kehangatan. Namun Zul sudah nggak ada. Sudah nggak ada alasan buat Om ngebangun keluarga yang penuh kehangatan itu."
"Enggak, Om. Sampai kapan pun, Kak Zul selalu ada dihati Om. Meskipun dia tidak terlihat, Om tetap harus membangun keluarga yang penuh kehangatan suatu saat nanti."
Diciumnya puncak kepala Cara. "Maafin Om selama ini. Sudah buat keluarga kamu kehilangan kepala keluarga. Tapi Om heran, keluarga kamu selalu penuh kehangatan Amel."
"Karena yang paling utama setelah Tuhan itu keluarga, Om. Cara nggak marah sama Om. Nanti kalau Om sudah bebas, bangun keluarga dengan hati dan jiwa yang baik. Biar nggak ada kekecewaan diakhir. Cara duluan, Om."
Setelah dari pemakaman, keluarga Cara dan juga Raca pergi ke rumah Ningsih. Disana Ningsih menangis dan bersandar pada Nani. Berkali-kali Ningsih pingsan hingga badannya lemas. Kehilangan anak satu-satunya pasti berat baginya.
Zeline mendekati Cara dan mengajak gadis itu untuk keluar. Jauh dari kerumunan orang-orang, mereka berbicara serius. "Tadi pagi polisi datang bawa ini. Gue rasa ini hadiah buat lo," kata Zeline memberikan sebuah kotak dengan bungkus gambar matahari. "Hari sebelum dia kecelakaan. Dia ajak gue pergi. Disana gue bantuin dia cari kado. Dia nggak bilang buat siapa. Tapi gue tahu orang itu spesial baginya. Dan ternyata orang itu lo."
"Jujur gue bener-bener sedih saat tahu Zul udah nggak ada. Dia orang yang buat gue mutusin untuk nggak home schooling. Dia adalah orang yang selalu jagain gue dari anak-anak nakal di sekolah. Dia juga yang temenin gue saat Papa lagi diluar negeri. Bagi gue, Zul itu pahlawan. Kalau gue lagi sedih ngerasa sendiri, gue selalu telepon dia dan dia selalu datang. Mangkannya waktu dia cerita tentang masalah bokapnya sama bokap lo, gue udah janji pada diri gue sendiri kalau gue nggak akan bilang ke siapa-siapa. Lo tahu, Ra? Setiap dia sama gue, cuma lo yang sering dia ceritain. Tentang dia yang nunggu lo lahir, tentang dia yang sayang sama lo, tentang dia yang suka ngepang rambut lo, dan tentang dia yang jatuh hati sama lo. Dia nggak mau satu SMA sama gue cuma karena janji kalian. Gue udah nyoba buat bujuk tapi dia tetep kekeh sekolah di SMA itu. Sampai cintanya lo tolak pun, dia nggak bisa buka hatinya buat cewek lain. Cuma lo yang ada dihati Zul, Cara."
__ADS_1
Cara nggak bisa nahan air matanya. Apa yang Zeline ceritakan membuatnya makin sedih. Begitu cintanya Zul kepadanya. Namun sayang dia tidak bisa menerima cinta tulus Zul. Zeline memeluk Cara yang menangis dengan derasnya. Dia tahu mengapa Zul sangat mencintai Cara. Hati gadis itu sangat baik dan selalu menyalurkan aura positif dengan sisi cerianya itu.
~•~
Sudah 20 menit Cara hanya memandang kado dengan bungkus gambar matahari yang ia pangku. Sejak Zeline memberikannya dan menceritakan tentang Zul, Cara tidak bisa berhenti menangis. Sekarang dirinya ada disalah satu kamar di rumah Ningsih. Dia sengaja menyuruh keluarganya untuk tidak mengganggunya termasuk Raca.
Dihapus air matanya. Dia tidak mau Zul mengatakannya cengeng. Dengan hati-hati Cara membuka bungkus kado itu. Didalamnya ada sebuah kamera dengan sebuah surat.
*Dear, Amel.
Gue udah tepatin janji kita buat satu SMA. Maaf karena gue nggak mau ngaku dari awal ketemu kalau gue ini Zul alias Ijul. Sengaja biar bikin lo penasaran. Lo pernah hampir suka, kan, sama gue? Sori gue suka bercanda.
Semoga kameranya berguna, yah. Maaf nggak bisa ngasih langsung. Tenang aja gue aman disini. Gue bisa lihat lo yang lagi senyum baca surat ini. Selamat ulang tahun, Amel*.
Cara tersenyum dan menghapus air matanya. Sebegitu inginnya Zul memberikan ini kepada Cara. Bahkan, kado ini sampai tidak rusak sama sekali. Padahal kecelakaan itu bisa dibilang cukup parah.
~•~
__ADS_1
Ningsih menyuruh keluarga Heri untuk menginap 1 malam. Sementara Raca sudah pulang kemarin sore. Sekarang waktunya pulang. Diperjalanan melewati kuburan, Cara meminta Bapaknya untuk menghentikan mobil. Cara pun keluar dan berlari menuju makam Zul.
"Kak. Makasih buat kameranya. Aku mau Kakak jadi potret pertamanya," ucap Cara yang lalu memotret nisan Zul. Diusapnya nisan dari kayu itu. Masih tidak percaya jika nama teman masa kecilnya yang terukir.
"Nanti kalau aku ada waktu, aku bakal kesini buat temenin Kakak. Kita cerita tentang masa kecil. Biar Kakak nggak lupa."
Randy mengerti bagaimana sedihnya Cara. Dia juga sedih telah ditinggalkan teman sepantara yang sudah seperti kembarannya. Tidak menyangka jika umur kembarannya itu tidak panjang. Namun Randy mengerti jika itu yang terbaik buat Zul.
Dielusnya kepala sang adik. "Ayo, pulang, Ra. Lo jangan terlalu sedih. Nanti Zul bakal nangis disana."
"Harusnya kita masih bertiga, main bareng, kemana-mana bareng, gambar matahari bareng. Tapi sekarang... Aku tahu aku harus ikhlasin Kak Zul. Tapi aku butuh waktu, Kak."
"Iya. Lo pasti bisa, dek. Ayo sekarang pulang."
Cara mengangguk dan berdiri. Masuk ke mobil dan balik ke Surabaya. Tempat yang banyak menjadi saksi kisahnya dengan Zul. Inilah yang membuat Cara makin susah melupakan Zul.
~•~
__ADS_1