Racara

Racara
Bagian 20


__ADS_3

Mood Cara benar-benar buruk karena kejadian tadi malam. Hingga pagi tadi di meja makan tidak ada yang bersuara. Parahnya Hafidz bertanya, "tadi malam Ibu sama Bapak lagi akting apa?" Sontak semua diam tidak ada yang menjawab. Hingga akhirnya bapak yang membuka suara. "Rahasia. Nanti kalau kasih tahu nggak jadi surprise." Mungkin jawaban bapak cukup membuat Hafidz percaya, namun Cara yakin jika adiknya akan bertanya suatu hari nanti.


Karena moodnya buruk, Cara dengan beraninya bolos sekolah. Awalnya Kak Randy akan mengantarnya, namun gadis itu beralibi jika sudah terlanjur memesan ojol. Walau memang sih, tapi tujuannya bukan ke Sekolah, melainkan Kafe Sejoli yang masih belum buka. Karena itu, Cara menunggu di depan dengan jaket jeans menutupi seragamnya agar tidak ketahuan jika ia masih pelajar. Tidak lama lagi Kafe ini akan buka. Mungkin sekitar 1 jam lagi. Tidak apa-apa, Cara sudah terbiasa menunggu.


Si Acar Busuk: Lo bolos sekolah, yah?


Si Kari Pedas: Y.


Si Acar Busuk: Ada apa, sih?


Si Kari Pedas: Gpp.


Si Acar Busuk: Katanya kalau cewek bilang gpp itu berarti ada apa-apa. Ayolah cerita ke gue.


Si Kari Pedas: Gpp, Ka. Mending lo fokus belajar.


Si Acar Busuk: Ini aja gue izin ke toilet.


Si Acar Busuk: Lo nggak inget apa yang gue ucapin semalan. Kalau Raca akan selalu ada untuk Cara. Jadi, sekarang lo dimana?


Tidak ada balasan dari Cara. Tanpa banyak pikir, Raca diam-diam keluar dari Sekolah dengan manjat. Cowok itu lupa jika motornya masih ada di dalam. Dipukul keningnya. "****** banget, sih, Ka," ucapnya dengan berkacak pinggang sambil mondar-mandir tidak jelas. Tidak mungkin jika dia harus masuk lagi untuk mengambil motor, sementara ada Pak Dono yang menjaga di pagar.


Tidak mau memusingkan itu, Raca memilih untuk mencegat angkot. Nanti saja mengambil motornya. Kini yang Raca ingin hanya menemani Cara. Sudah bisa dipastikan jika Cara sedang ada masalah dan Raca tidak mungkin salah tujuan. Satu-satunya tempat yaitu Kafe Sejoli.


Saat sampai di sana, Kafe baru saja dibuka, namun Raca bisa lihat seorang wanita dengan rambut panjang yang sudah tidak lagi dikepang sedang duduk menatap jalan. "Karena gue udah relain bolos sampai ninggalin motor gue cuma buat nemenin lo, maka dari itu lo harus cerita sama gue."


Jujur saja Cara terkejut. Untung saja dia tidak sampai terjatuh kebelakang. "Ngagetin, tahu."


"Biar senam jantung," ucap Raca meringis. Berusaha menghibur Cara namun gadis itu tidak mau sedikit pun menoleh. "Biasanya cewek butuh berapa jam, sih, sampai akhirnya mau cerita?"


2 jam setelah Raca menanyakan seperti itu, akhirnya Cara mengangkat wajah. "Gue laper, Ka. Lo mau traktir gue, nggak?" Raca kira akan mendapat jawaban.


Pelayan yang Raca panggil datang, "iya, Mas. Jadi pesan apa lagi?"


"Nasi goreng 2 sama milk tea 2."


"Karena ini sudah masuk jam 10. Apa masnya punya voucher gratis makan di sini?"


Cara ingat, 2 hari yang lalu mereka mendapar voucher, namun entah dimana voucher itu. "Seinget gue, gue kasihin ke lo, Ka."


"Bentar," ucap Raca mengambil hpnya dan membuka casing. "Nah," ucap cowok itu sumringah saat sebuah voucher ia temukan.

__ADS_1


"Ini gratis makan apa aja, mbak?" tanya Cara yang tertarik dengan voucher itu.


"All you can eat, Kak. Tapi harus sekali pesan dan harus habis. Jika tidak, maka harus bayar."


"Kalau gitu tambahin roti bakar coklat 2, yah, mbak."


"Mbak, pesanan saya tadi nggak bisa digratisin juga?" tanya Raca menunjuk 2 gelas espresso yang sudah habis.


"Maaf, Kak. Berlaku mulai pukul 10 dan 1 struk pesanan."


"Yaudah, mbak."


Cara memukul lengan Raca sambil tertawa setelah pelayan pergi. "Pingin banget, yah, lo sama gratisan?"


"Lo juga kali. Harusnya lo berterima kasih sama gue karena udah simpen tuh voucher. Untung aja waktu itu nggak gue buang."


"Terima kasih Raca yang ganteng."


"Ulangin lagi," kata Raca menggoda.


"Ogah."


Raca senang akhirnya Cara tertawa. Dipeluknya chairmatenya itu dari samping. "Nggak bakal gue lepasin sampai lo cerita sama gue." Cara memukul lengan kekar Raca agar ia terbebas. Tetap saja tenaganya kalah. "Iya, gue bakal cerita."


"Karena apa?"


"Lo jangan kaget dan jangan bilang ke siapa pun. Janji?" tanya Cara mengulurkan jari kelingkingnya yang langsung dikait oleh jari kelingking Raca. "Janji."


"Sebenarnya, keluarga gue nggak sehangat yang lo kira. Ibu bicara seperlunya semenjak Bapak gue keluar dari penjara." Tentu saja Raca kaget dan tak mengira hal itu. Namun cowok itu tidak mau menyelat ucapan Cara, takut disembur. "Bapak bebas setelah 6 tahun dipenjara. Kenangan 6 tahun yang lalu masih membekas diingatan gue. Hari dimana gue habis tiup lilin dengan angka 9, polisi datang jemput bapak dan bawa bapak. Waktu itu yang gue tahu dari Ibu, bapak jadi polisi. Semenjak itu, Ibu buka warung. Awalnya kecil-kecilan di dekat kampung. Terpaksa Ibu buka warung buat hidupin gue sama Kak Randy, ditambah Ibu hamil Hafidz. Waktu gue umur 12 tahun, gue baru paham kalau Bapak nggak jadi polisi. Kak Randy bilang kalau Bapak dipenjara karena penyalahgunaan uang kantor. Tapi gue nggak pernah percaya akan hal itu. Hingga sepulang hari pertama MOS, bapak bebas. Gue kira, keluarga gue bakal balik kayak dulu. Penuh kehangatan. Tapi ternyata enggak. Ibu berubah. Nggak lagi ngasih perhatian ke gue, Kak Randy, juga Hafidz. Nggak kayak Ibu sebelum dan saat Bapak dipenjara. Bahkan, yang gue tahu Ibu selalu aja salahin bapak. Apalagi setelah bebas dari penjara, bapak nggak kerja-kerja. Setiap makan, pasti Ibu nyalahin bapak. Mangkannya gue mau selesain masalah ini dan buktiin ke Ibu kalau bapak nggak salah."


Cerita yang hampir buat Raca tidak percaya. Jadi selama ini teman sebangkunya itu menyimpan masalah yang sungguh besar. Jadi ini hal yang pernah Cara ucapin kalau dia bakal malu jika cerita. "Trus hubungannya sama bokapnya si alis tebal apa? Dulu mereka teman bisnis?"


"Iya. Dulu bapak bikin bisnis bareng Om Budi. Yang gue tahu, bisnis mereka bener-bener maju. Dan gue nggak tahu apa yang udah terjadi antara bokap gue sama Om Budi. Apalagi, setelah bokap gue ditahan, Om Budi sama sekeluarga pindah ke Jakarta."


"Akhirnya gue paham masalahnya. Gue dapat simpulin kalau mungkin ada kesalahpahaman antara bokap lo sama bokap si alis tebal."


"Mangkannya itu, Ka, gue pingin selesain masalah ini."


"Secepatnya akan selesai, Ra."


~•~

__ADS_1


"Amel! Udah, yah, mainan kuda-kudaannya."


"Tapi, Pak. Amel masih pingin main kuda-kudaan."


"Besok lagi, kan, bisa. Ayo turun."


Bocah berumur 8 tahun lebih 7 bulan itu menurut. Diumurnya yang sudah cukup besar, masih saja suka bermain kuda-kudaan. Tidak tahu saja jika punggung bapaknya sering sakit di malam hari. "Sini, bapak pangku," kata Heri mengangkat putrinya dan didudukkan di atas pangkuannya.


"Amel, besok-besok jangan main kuda-kudaan sama Bapak lagi," kata Nani yang datang membawa pisang goreng dan ditaruh di atas meja.


"Emangnya kenapa, Bu?"


"Kan, Amel sudah besar. Nggak kasihan apa sama Bapak," jawab Nani yang sudah duduk di samping suaminya.


"Amel berat, yah, Pak? Punggung bapak sakit nggak? Biar Amel pijitin," kata Amel kecil yang mengubah posisi duduk dipangkuan untuk menghadap pada sang bapak.


Heri menggeleng dan mencubit hidung putrinya. "Enggak. Amel nggak berat. Lagian bapak kuat kok. Sampai Amel besar pun bapak masih sanggup gendong Amel."


Jawaban sang Bapak membuat putrinya tersenyum. Sementara sang Istri hanya menggeleng-geleng. "Mulai besok kamu dipanggil Cara, yah?"


"Loh? Kenapa, Pak?"


"Bapak suka kalau kamu dipanggil Cara."


"Tapi nama Amel juga bagus, Pak."


"Yasudah. Pokoknya Bapak bakal tetap manggil kamu Cara."


Air mata turun mengingat memori kecil akan masa lalu. Dimana bapaknya yang bilang jika sanggup menggendongnya meskipun dirinya sudah besar. Dari dulu, Bapaknya memang selalu ada untuknya. Selalu mau jika Cara dandanin menjadi badut. Selalu mau jadi kuda-kuda untuknya. Katanya yang terpenting Cara senang.


"Lo kenapa lagi?" tanya Raca yang menyadari jika Cara menangis.


"Sejak dulu, bapak selalu suka manggil gue dengan sebutan Cara daripada Amel. Terus dia janji bakal balik ke rumah kalau nama panggilan gue diganti dan dia nepatin janjinya, Ka. Gue nggak tahu apa arti Cara."


Dengan ponselnya, Raca mencari arti dari nama Cara. "Di sini ditulis kalau dalam bahasa Vietnam, artinya permata yang berharga."


Tangis Cara pecah hingga tak peduli jika seisi angkot melihatinya dengan wajah bingung. Jadi bagi Bapak, Cara adalah permata yang berharga. Cara tidak pernah malu mempunyai Bapak calon narapidana. Karena baginya, bapak adalah malaikat pelindung untuknya.


"Bang, kiri Bang!"


 

__ADS_1


~•~


 


__ADS_2