Racara

Racara
Bagian 43


__ADS_3

Saat masuk di rumah Raca yang mewah, Cara langsung disambut dengan Dara yang heboh. Gadis itu memeluk Cara lalu mengajak kekasih adiknya itu bergabung dengan keluarganya. Sambil malu-malu Cara mencium tangan kedua orangtua Raca, lalu duduk disebelah Dara.


"Tante nggak nyangka kalau Cara secantik ini," kata Arum yang terkesima akan wajah Cara. Putranya itu ternyata memiliki mata yang baik.


Cara hanya tersenyum. Dia bingung harus menjawab apa. Berkumpul dengan keluarga Raca membuatnya gugup. Sampai-sampai gadis itu meremas dressnya. Dara yang mengetahui hal itu langsung memegang pundak Cara. "Santai aja. Kami orangnya nggak suka serius," bisik Dara yang diangguki oleh Cara.


Cipto tersenyum melihat Cara yang gugup. Dia tahu apa yang sedang dirasakan gadis itu.


"Sejak kenal kamu, Raca sering ceritain kamu ke kami semua. Tapi setiap kali kami minta tunjukin foto kamu, dia selalu nolak. Katanya biar jadi surprise. Eh, ternyata benar-benar surprise. Apa yang diceritain Raca benar. Kamu orangnya ceria dan friendly. Jadi Om mohon santai aja," kata Cipto.


"Iya, Om. Maaf. Baru pertama kali soalnya." Ucapan Cara membuat semuanya tertawa kecil. Bagi mereka Cara memang terlihat lucu.


Agar Cara tidak gugup. Mereka membuat ruang keluarga itu ramai dengan berbagi cerita. Mulai dari pertemuan pertama Raca dan Cara, cerita masa lalu Cipto dengan Arum, kisah kecil Raca yang nakal, hingga cerita kelucuan Raca. Kata Arum, Raca itu anak Mama. Setiap pagi susu harus tersedia saat dia buka mata. Pernah sekali Arum lupa karena bangun kesiangan dan sibuk memasakan sarapan. Raca dengan wajah bantal datang ke dapur sambil merengek meminta susu. Seperti anak 5 tahun yang merengek meminta mainan. Cara tertawa mendengar cerita itu. Dia tidak menyangka jika Raca yang sudah sebesar itu masih sesekali bertindak bagaikan anak kecil.


"Pakai ketawa. Ngeledek banget," kata Raca yang tak terima dia diketawai oleh Cara. Bukannya berhenti Cara malah makin mengeraskan tawanya hingga membuat Arum, Cipto, dan Dara tersenyum. Sisi ekstrovet gadis itu sudah mulai keluar.


"Tapi Tante, Raca kalau di sekolah suka belagu dan sok cool. Dulu pertama kali ketemu dia bener-bener ngeselin Tante. Apalagi waktu tahu kita sekelas dan duduk bareng. Belagunya makin nambah. Katanya aku nggak bakal bisa keluar dari pesonanya. Sumpah dia bener-bener ngeselin," kata Cara sambil melirik Raca yang memberi tatapan peringatan pada gadis itu.


"Raca emang gitu. Sok. Mirip kayak Papa. Bahkan, gue yang jadi Kakaknya suka kesel dan pingin gitu tukar adik. Lo mau nggak tukar posisi sama Raca? Lo jadi adik gue. Gimana?" tanya Dara yang tentunya hanya untuk membuat Raca kesal.


"Mau banget. Kakak aku juga ngeselin, persis sama Raca. Aku suka sebel kalau Raca main ke rumah dan sekongkol sama Kakak aku buat ngusilin aku. Tapi untung aja dia bawa terang bulan kacang, jadi dia bebas mau ngelakuin apapun."


"Pantes Raca suka tiba-tiba pamit beli terang bulan, tapi pas pulang nggak bawa apa-apa. Ternyata buat pacarnya. Jahad banget Mamanya nggak dikasih," kata Arum sambil menatap putranya yang tersenyum padanya


Cara memukul lengan Raca yang duduk disampingnya. "Nggak boleh gitu, Ka. Ntar lo nggak dibikinin susu tiap pagi loh."


Ucapan Cara benar juga. Tidak bisa bayangkan jika tidak ada susu dipagi hari saat dia buka mata. "Iya, deh. Besok-besok Raca beliin terang bulan sama masnya juga."


"Lah, buat apa?" tanya Cipto dengan keningnya yang kerut karena heran dengan ucapan Raca.

__ADS_1


"Buat nemenin Papa main catur. Aku capek dikalahin mulu." Raca mengaku jika dia memang tidak jago bermain catur. Tapi kalau diajak main bola, Raca sangat jago.


Cipto tertawa mendengar jawaban putranya. Sejak dulu putranya itu memang payah bermain catur. Butuh waktu lama jika bermain dengan Raca. Mikirnya bisa 1 jam sendiri. Dia paham jika putranya itu hanya suka dengan bola. Sedikit bersyukur karena putranya berguna juga. "Ayo makan malam. Pasti udah pada lapar, kan?"


~•~


Setelah makan malam, Cara diajak Dara ke kamar. Disana Dara melihatkan sebuah album foto yang memperlihatkan semua kisah keluarga mereka. Foto pertama adalah foto Cipto dengan Mama Dara saat masih pacaran. "Ini waktu Mama aku pacaran sama Papa. Mereka suka banget makan tahu telur ditempat itu," ucap Dara sambil menunjuk foto yang sudah lama sekali.


"Aku tahu, Kak. Raca udah cerita."


"Oh, jadi orang spesial adik gue lo," kata Dara tersenyum menggoda Cara. "Dulu Mama bilang kalau dia yang ajak Papa makan disitu. Mama bilang ke Papa buat ajak orang spesial bagi Papa dan orang itu gue. Bagi gue Raca adalah orang spesial bagi gue. Pernah gue bilang ke Raca kalau tuh cowok cuma boleh punya 1 orang spesial. Gue selalu bilang, kalau lo belum yakin dia spesial jangan pernah bawa dia kesana."


Cara hanya tersenyum mendengar ucapan Dara. Tidak tahu bagaimana spesialnya dia bagi Raca. Tapi dia malu mengetahui kebenaran itu.


Dara memperlihatkan beberapa foto selanjutnya. Mulai dari Cipto yang melamar Sri--Mama Dara, pernikahan mereka yang mewah, lalu saat Sri hamil dan melahirkan Dara. "Ini waktu gue umur 3 bulan. Papa ngajak ke makam Mama karena gue yang sering nangis. Tapi ajaibnya difoto itu gue senyum," kata Dara menunjuk foto dirinya yang digendong Cipto disebelah makam Sri.


Dara dan Cara tertawa. Keduanya setuju jika Raca itu memang nyebelin. "Jujur gue sedikit cemburu setelah Raca selalu ceritain lo. Selalu ngurangi waktu kami cuma buat nemenin lo. Tapi gue tahu rasa sayang dia ke kita itu porsinya beda dan punya caranya masing-masing."


"Seharusnya Kakak nggak perlu cemburu akan adanya aku. Karena semua orang pasti lebih sayang sama keluarganya daripada orang lain. Jadi aku nggak ada apa-apanya dibanding Kakak."


Dara tersenyum dan menyenggol pelan tubuh Cara. "Nanti lo juga bakal buat keluarga sama Raca."


"Apaan, sih, Kak," kata Cara yang pipinya sudah merah karena malu.


~•~


"Makasih buat hari ini. Banyak hal yang akhirnya gue tahu."


"Tapi yang cerita aih gue jangan disebarin."

__ADS_1


Cara berpikir sebentar membuat Raca bingung. Cowok itu tidak yakin jika Cara bisa menyimpan aib itu. Bisa dipastikan banyak orang yang akan tahu tentang aib Raca itu.


"Tergantung situasi," ucap Cara yang langsung masuk ke dalam rumah. Raca hanya tersenyum sambil melambaikan tangan pada gadis itu.


"Selamat malam calon masa depan," ucap Raca yang masih didengar oleh Cara. Gadis itu hanya tersenyum. Sebelum tubuhnya hilang, ia membalas lambaian tangan Raca.


"Selamat malam juga calon teman hidup."


Setelah mengucapkan itu Cara segera menutup pintu karena malu. Saat membalikkan badan, ternyata Kakaknya sedang berdiri dibekangnya. "Cieee...ada yang habis ketemu sama calon mertua," goda Randy.


Cara memberikan tatapan kesal pada Kakaknya itu. "Iri yah? Mangkannya cari pacar."


"Siapa juga yang iri. Gue juga bisa gitu."


"Sama siapa?"


"Zeline lah," jawab Randy yang berjalan menuju kamarnya.


Mendengar jawaban itu Cara jadi ingat akan sahabatnya yang akhir-akhir ini berubah. Dia langsung berlari untuk menghalangi jalan sang Kakak. "Trus Gia gimana?"


"Gue nggak pernah suka sama Gia."


"Tapi Kakak kenapa respon dan sampai ajak Gia keluar?"


Randy diam. Dia tahu jika secara tidak langsung dia memberi harapan pada gadis itu. Tapi sungguh Randy tidak bermaksud begitu. "Maksud gue nggak lebih dari awal buat sebagai teman," kata Randy yang menyingkirkan adiknya. Cowok itu langsung menghilang masuk ke dalam kamar.


"Tapi setidaknya Kakak bilang. Gia sekarang jadi beda gara-gara Kakak. Cara yakin kalau Kakak bilang dengan baik, Gia bisa terima."


~•~

__ADS_1


__ADS_2