
"Ada yang mau gue omongin?"
"Harus sekarang? Gue mau nikmatin acaranya."
Raca mengangguk. Dia tahu jika ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tetapi Raca tidak ada waktu selain ini. Selepas dari acara prom night, dia harus segera pulang dan kembali berkemas.
Diraihnya kedua tangan Cara. Meskipun sudah menyiapkan ini selama hampir 1 bulan. Nyatanya dia masih kesusahan. Lidahnya terasa mati untuk bergerak. Bibirnya terasa kaku untuk terbuka.
Sementara Cara yang mendapati bahwa suasana menjadi berbeda membuat gadis itu menebak jika ada sesuatu serius yang ingin Raca katakan. Saat bibir Raca mulai terbuka. Cara hanya bisa berdoa dalam batin jika ini bukanlah hal buruk.
"Besok pagi, gue harus pergi ke Jogja."
Jika hanya liburan untuk menemui sang Kakak, Cara rasa mengatakan ini tidak akan membuat suasana menjadi serius. "Mau apa ke sana?" tanya Cara yang ikut kesusahan untuk mengeluarkan suara.
"Gue bakal kuliah di sana."
__ADS_1
Mengingat kejadian tadi malam membuat Cara kembali menangis. Padahal semalam selepas pulang prom dia sudah menangis lama hingga larut malam. Akan tetapi, air matanya masih belum terkuras bersih.
Lain halnya dengan Randy. Dari kaca spion motor. Dia bisa melihat adiknya yang menangis. Pasti ini sangat sulit untuk Cara menerimanya. Meski bibir mengatakan iya, namun tidak dengan hati. Jika saja Cara memiliki hak, maka Randy sudah bisa pastikan jika adiknya akan memohon pada Raca agar tidak usah pergi.
"Itu Raca. Gue tunggu sini."
Cara mengangguk dan berjalan menuju seorang cowok berhoodie coklat yang tersenyum padanya. Langkah yang awalnya pelan karena terasa berat, berubah menjadi lari kecil menuju dekapan hangat yang dia rindukan. Hampir 1 bulan mereka mengistirahatkan hubungan. Dan baru kemarin mereka kembali bersama. Tetapi sekarang sudah akan berpisah saja.
Tangisan terdengar diindra pendengaran Raca. Dia pun membalas pelukan kekasih yang akan ia tinggalkan. Sedangkan satu tangannya mengelus rambut gadis itu.
"Lo harus pergi?" tanya Cara sambil mendongakkan wajahnya. Anggukan Raca membuat gadis itu kembali menyembunyikan wajah didada bidang Raca. Sudah tidak ada kata malu dilihat orang banyak. Ini perpisahan. Mana bisa Cara tetap mementingkan rasa malu. Karena yang terpenting sekarang adalah pelukan perpisahan.
Hampir 20 menit kedua sejoli itu hanya berpelukan yang mengundang perhatian banyak orang. Pelukan yang seolah mengatakan jika mereka tak ingin dipisahkan. Bahkan kedua orang tua Raca dan Randy pun hanya bisa diam. Mereka tidak mau mengganggu pelukan perpisahan 2 sejoli itu. Walaupun jadwal penerbangan Raca sudah makin dekat.
"Ini ntar hoodienya kalau gue peres, bisa dapat air berapa ember, yah?"
__ADS_1
Pertanyaan Raca berhasil membuat Cara melepas pelukannya. Sedikit kesal karena Raca masih santai menggodanya. "Harusnya terima kasih. Kan, ntar airnya bisa kamu jual di Jogja," jawab Cara seadanya sambil menghapus air mata.
"Enak aja dijual. Gue buat mandi-lah. Kali aja bisa balas rindu gue ke lo." Ucapan Raca membuatnya mendapati pukulan kecil didadanya. Cara kesal karena disaat seperti ini Raca masih bisa-bisanya tertawa.
Setelah itu Raca pamit karena mendengar jadwal penerbangannya yang tinggal 10 menit lagi. Untung saja Cara ingat akan sesuatu yang ia bawa. Sesuatu yang dia buat selama masa mengistirahatkan hubungan mereka.
"Padahal gue buat ini cuma ingin ngasih lo hadiah. Tapi enggak tahunya malah jadi kenang-kenangan. Jangan dibuang sebelum dilihat. Buatnya susah. Sampai mata gue jadi kayak gini," ucap Cara sambil menunjuk kantung matanya yang menghitam.
Raca mengangguk. Diusapnya puncak kepala Cara. Setelah itu kakinya melangkah menjauh tanpa membalikkan badannya untuk melihat Cara. Dia tidak kuat untuk melakukan itu. Yang ada dia tidak akan bisa pergi.
Perpisahan ini benar-benar berat bagi Raca maupun Cara. Mereka yang dulu selalu bersama setiap saat, kini harus berpisah. Menjalani hidup masing-masing tanpa seseorang disisi.
Akan tetapi, Raca dan Cara yakin jika ini bukanlah sebuah perpisahan yang nyata. Karena mereka tahu. Alam akan menyatukan mereka kembali.
~•~
__ADS_1