Racara

Racara
Bagian 27


__ADS_3

Hujan turun sejak jam pelajaran terakhir. Namun sampai bel pulang pun, hujan tak kunjung reda. Sejak tadi Cara menutup telinga karena suara petir yang ia takut. Ditambah sekarang, langit makin gelap. "Ra, lo pulang naik apa?"


"Nggak tahu," jawab Cara yang kemudian menyembunyikan wajahnya dimeja.


"Yaudah. Gue pulang dulu. Hai, gue nebeng, yah." Gia memukul punggung teman sebangkunya yang sedang membelakanginya.


"Motor lo kemana, sih, Gi?" tanya Haidan yang kesal karena Gia terus-terusan nebeng akhir-akhir ini. Alasannya pun masih sama, "motor gue lagi dibengkel."


Haidan dan Gia berdiri, berpamitan untuk pulang lebih dulu pada Raca dan Cara.


"Jangan berduaan di kelas. Lagi hujan. Ntar bisa kesamber petir."


Kepergian Haidan dan Gia membuat kelas hanya tinggal mereka berdua. Sengaja Raca menunggu Cara, karena cowok itu tahu jika chairmatenya sedang ketakutan. Dielusnya kepala Cara. "Ada gue, Ra. Nggak usah takut."


Baru saja berucap begitu, petir berbunyi keras sekali membuat Cara sontak memeluk Raca. Sangat erat. Napas gadis itu benar-benar sudah tidak karuan. Dia benar-benar takut.


Raca berusaha menenangkan Cara dengan mengelus punggung gadis itu. Sambil tersenyum senang karena dipeluk. Maklum, Raca belum pernah dipeluk. "Jadi ini bonus buat gue?"


Cara melepas pelukannya. "Ha? Bonus apaan?"


"Bonus gue udah ambil boneka beruang buat lo."


"Hidihhh. Jangan ngarep gue ngasih bonus ke lo. Itu tadi cuma karena gue takut aja."


"Oh, yaudah gue pulang. Sedih nggak dapet-dapet bonus. Padahal udah susah payah ngambilnya," kata Raca berdiri dan berjalan meninggalkan Cara.


Tak mau sendirian dengan suasana gelap, Cara menyusul Raca dan memegangi tas cowok itu dari belakang. Wajahnya sambil ia dekatkan pada tas dan melihat ke bawah. Iya, gadis itu masih takut akan petir.


"Lo tunggu sini, gue mau ngambil motor dulu," kata Raca yang melesat menerobos hujan deras untuk mengambil motor yang jauh di sana. Setelah itu Raca kembali, mengulurkan helm pada Cara, tapi tak kunjung diambil. Kesal karena dianggurin, Raca memasang helm itu dikepala Cara tanpa izin. "Sekali-sekali lo lawan ketakutan. Ntar lo pasti bakal senang sama yang namanya hujan dan kegelapan."


"Mana ada orang yang berani sama kegelapan, Ka."


"Ada. Saat semesta nggak mau bersahabat dengannya. Dia bakal memilih untuk tinggal dikegelapan."


Dengan ragu, Cara naik ke boncengan Raca. Sepanjang jalan, Cara menyembunyikan wajahnya pada tas Raca. Seumur-umur, Cara tidak pernah hujan-hujanan. Ini kali kedua.


"RA! BIAR LO NGGAK TAKUT COBA LO ANGKAT WAJAH SAMBIL TERIAK!"


Karena masih bingung dengan maksud Raca, Cara tetap diposisi semula. Malah makin menutup matanya rapat-rapat.

__ADS_1


"HUJAN!! TEMEN LO SI PETIR BISA DIEM NGGAK??"


Tawa lepas dari Cara. Jadi maksud Raca seperti itu. "HUJAN!! TEMEN LO SI PETIR SURUH DIEM. SUARANYA NGGAK ENAK BANGET!!"


"HUJAN!! TEMEN GUE UDAH BERANI NATAP LANGIT YANG GELAP!!" teriak Raca saat melihat dari spion motornya jika Cara berani mengangkat wajah ke langit sambil berteriak. Membiarkan tetesan air hujan membasahi wajahnya.


"HUJAN!! BILANGIN KE LANGIT BUAT GANTI WARNA!!"


"HUJAN!! KASIH PELANGI BUAT BONUS TEMEN GUE YANG UDAH BERANI!!"


Kedua remaja itu tertawa. Tidak perduli orang-orang melihat mereka atau membicarakan mereka. Karena bagi mereka sekarang dunia terasa milik berdua. Asyekkk.


Memasuki kompleks rumah Cara, hujan mulai berhenti. Lalu Cara bisa lihat sebuah pelangi muncul di langit. "Ka! Pelanginya beneran muncul." Cara menepuk pundak Raca untuk melihat pelangi yang terlihat indah.


"Tuh, kan. Pasti ada hal indah di akhir kegelapan. Masih takut sama petir dan langit yang gelap?"


"Karena hujan udah mau jadi teman yang baik sama gue, maka gue bakal temenan juga sama temen-temennya hujan."


"Gitu, dong."


Motor Raca berhenti di depan rumah sederhana yang penuh kehangatan di dalamnya. Cara turun dan keningnya berkerut saat melihat tetangga depan rumahnya sedang mengeluarkan barang. Setelah mengembalikan helm pada Raca, gadis itu mendekati seseorang yang sedang menyuruh pekerja untuk menaikkan barang ke pick up.


"Tante Ningsih mau kemana?"


"Ke rumah lama Tante?" tanya Cara dan dijawab gelengan. "Trus kemana Tante?"


"Rumah lama Tante itu cuma nyewa. Sekarang Tante mau pergi ke rumah nenek Zul."


"Dimana Tante?"


"Di Bandung. Cuma, Zul bakal cari kos-kosan dekat sekolah sampai lulus SMA."


Dari dalam rumah keluar Zul dengan Zeline. Tiba-tiba saja Zul berjalan dengan wajah tidak bersahabat mendekati Cara. Menunjuk-nunjuk wajah Cara tanpa sebab. "Gara-gara lo! SEMUA GARA-GARA LO!"


Kaki Cara mundur 2 langkah melihat emosi Zul yang benar-benar menakutkan. Dia tidak tahu kenapa Zul bersikap seperti ini. "Maksud, Kakak apa?"


"GARA-GARA LO BOKAP GUE DIPENJARA DAN HIDUP GUE JADI SUSAH! GUE BENER-BENER BENCI SAMA LO!"


Ucapan Zul membuat hati Cara teriris. Dia tidak pernah menyangka teman kecilnya mengucapkan kata benci padanya. Air mata Cara turun tanpa gadis itu tahu. Bahkan dia tidak bisa membalas ucapan Zul, walau dia ingin membalas. Tubuhnya terasa lemas dan ingin jatuh saja.

__ADS_1


"LO NGGAK BISA JAWAB, KAN? KARENA ITU EMANG FAKTA! LO DAN KELUARGA LO MEMANG PEMBUAT MASALAH DI KELUARGA GUE!!" Ningsih dan Zeline berusaha membuat Zul tenang dengan memegangi tangan cowok itu. Ningsih juga berucap agar anaknya itu tidak berucap seperti itu.


Raca yang melihat, langsung memarkirkan motornya dan mendekati Cara. Cowok itu menarik Cara agar pulang saja. "Ayo, Ra, pulang aja." Awalnya Cara menurut, namun setelah 4 langkah, gadis itu berbalik dan mendekat. Gadis itu sudah tersulut.


"UDAH LUPA SAMA SIAPA YANG UDAH BUAT MASALAH INI? LO KIRA GUE NGGAK BENCI SAMA LO? GUE BENCI SAMA LO!! SEBENCI-BENCINYA!!"


Setelah mengucapkan itu Cara berlari masuk rumah disusul oleh Raca. Dipeluknya teman sebangkunya itu yang menangis. Raca tahu posisi Cara dan apa yang Cara lakukan benar.


"Udah, Ra. Lo nggak boleh nangis. Gue nggak mau lo nangis," ucap Raca berusaha tidak membuat Cara malah memarahinya. Karena yang Raca tahu, cewek bakal sensitif kalau lagi nangis dan marah. Apalagi Raca juga bingung harus melakukan apa.


"Gue benci sama dia, Ka. Gue benci." Cara makin mengeratkan pelukannya. Membiarkan kepalanya tenggelam pada dada Raca. Ini benar-benar bisa membuatnya lebih tenang. Apalagi usapan dipunggungnya. Raca memang yang terbaik.


"Kalau nangis emang bakalan buat lo lebih lega, nangis aja. Gue nggak bakal kemana-mana."


Raca tidak pernah bohong akan ucapannya. Cowok itu setia memeluk Cara hingga hampir jam 5 sore. Namun Raca was-was jika keluarga Cara pulang dan berpikir yang tidak-tidak. Merasa jika Cara sudah lebih tenang, Raca melonggarkan pelukannya. Mengangkat wajah Cara dan menghapus air mata yang masih ada dipipi. "Gue nggak suka lo nangis. Cantiknya jadi hilang." Cara hanya menatap wajah Raca tanpa bicara atau memberi reaksi apapun. Hanya hatinya yang terasa berdetak lebih cepat.


"Udah cukup pelukannya. Kita masih punya banyak waktu buat pelukan. Sekarang lo mandi. Gue tungguin sampai Ibu lo pulang dari warung."


~•~


"Raca nggak makan dulu? Baju kamu juga basah. Ganti baju, yah, pakai bajunya Randy," kata Nani saat Raca pamit untuk pulang.


"Iya, Rak. Gue ambilin dulu bajunya," kata Randy yang tidak bisa Raca tolak karena cowok itu langsung masuk ke kamar.


Setelah berganti baju, Raca bergabung dimeja makan. Untung saja sebelum Nani datang, Raca dan Cara sudah melepas pelukan. Tadi saja, Raca sampai bingung mau jawab apa saat Nani bertanya mengapa dia masih di rumah dengan seragam yang basah. Hingga Raca kasihan karena Cara dimarahi karena tidak memberikan handuk atau baju untuknya. Walau Cara memang sadis. Apa gadis itu tidak tahu jika Raca terus menggigil saat menunggu Cara mandi selama 15 menit.


"Bapak. Besok kita bakalan ke taman hiburan, kan?" tanya Hafidz mengakhiri keheningan.


"Iya, dong. Nanti Hafidz dibonceng sama Kak Randy," jawab Heri membuat Hafidz bersorak senang.


"Trus Cara sama siapa, Pak?"


"Sama pacarmu, lah. Kan, besok Raca ikut. Ya, kan, Raca?"


Raca mengangguk, "iya, Om. Saya ikut."


"Tuh. Bapak sengaja ajak Raca biar ada yang bonceng kamu. Kan, nggak boleh boncengan bertiga."


"Iya, Pak. Tapi aku sama Raca nggak pacaran. Ya, kan, Ka?"

__ADS_1


"Masa?" tanya Heri, Nani, Randy, dan Hafidz berbarengan sambil melihat ke arah Raca dan Cara yang duduk bersebelahan. Dilihati seperti itu Raca dan Cara hanya bisa saling tatap-menatap, lalu mengangkat kedua pundak karena herannya.


~•~


__ADS_2