Racara

Racara
Bagian 36


__ADS_3

"Karena gue habis menangin lomba. Jadi gue mau traktir lo sepuasnya di kafe sejoli."


Untung saja Cara ingat ucapan Raca yang akan mentraktirnya. Jika tidak, ucapan itu hanyalah sebuah kesombongan yang tidak terjadi. Karena Raca memang suka lupa jika sudah sombong.


Dengan motor verza, Raca dan Cara menuju ke kafe sejoli. Minggu kemarin mereka tidak bisa mengunjungi kafe itu hanya untuk bersenang-senang dikarenakan Raca yang sibuk latihan futsal. Cowok itu memang suka bola sejak kecil. Baginya bola adalah hidupnya. Namun, tidak ada cita-cita sebagai pemain sepak bola. Ia hanya ingin menjadi sukses tapi tidak tahu sebagai apa.


"Di ig kok banyak yang follow gue. Kenapa, yah?" tanya Cara saat Raca sedang melepaskan helm dari kepalanya.


"Bukannya udah biasa. Lo kan terkenal."


"Tapi tiba-tiba aja dalam sehari followers gue nambah 200. Gue lihat mereka pada ngikutin lo."


"Gara-gara foto yang gue pos di ig kali, yah?" tebak Raca sambil turun dari motor. Lalu mengajak Cara untuk berjalan masuk ke kafe.


"Jangan-jangan fans lo mau mata-matain gue. Mereka nggak terima kalau gue pacaran sama lo."


"Pasti fans lo juga nggak terima gue pacaran sama lo."


Raca dan Cara bisa dibilang cukup terkenal di sekolah. Bahkan tanpa sepengetahuan mereka, ada sebuah grup chat terbentuk. Grup yang berisi seputar mereka. Kemana mereka pergi, apa yang mereka lakukan. Dua orang itu tidak pernah tahu jika fans-fans mereka suka menjadi paparazzi.


"Yah, tempatnya diduduki orang," kata Cara saat melihat tempat duduk favoritnya yang bisa langsung melihat jalan telah diduduki 2 sejoli yang sedang bermadu cinta.


Raca menarik Cara untuk duduk dikursi sudut kafe. Meskipun Raca tahu Cara hanya suka kursi yang mengarah ke jalan raya, tapi setidaknya tempat ini jauh dari kebisingan. "Duduk sini aja," kata Raca lalu duduk di kursi. Walau sebenarnya Cara ingin menunggu 2 sejoli itu sampai selesai, namun berdiri juga melelahkan.


Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan menu yang langsung diambil oleh Cara. Gadis itu melihati menu yang hampir ia hapal dalam kepala. Mengingat Raca akan mentraktirnya, gadis itu menoleh pada sang pacar.


"Ini gue boleh beli apa aja?"


"Asal yang nggak ada dimenu nggak boleh dibeli. Contoh kayak mbaknya, itu nggak boleh."


Jawaban Raca membuat pelayan tertawa. Pelayan yang masih berumur 18 tahun itu sangat mengimpikan seorang cowok seperti Raca. Selalu membuat pasangan tertawa, selalu ada untuk pasangan, dan juga suka traktir. Hampir setiap kali 2 orang itu ke kafe ini, cowok itulah yang membayar.


"Kok ketawa mbak?" Pelayan itu langsung berhenti tertawa. Malu dilihatin orang ganteng.

__ADS_1


"Ini mbak. Jangan didengerin cowok ini, dia nggak jelas," kata Cara setelah memberikan buku menu.


Pelayan itu tertawa, "jadi pesannya apa mbak?"


"2 espresso sama roti bakar blueberry."


Raca menatap pelayan yang membelakanginya. Dia masih tidak paham mengapa pelayan itu tertawa. Menurutnya sejak ia datang ke kafe ini, dia tidak melakukan sebuah hal yang lucu. Digaruknya pipinya yang gatal, "pelayan itu kenapa ketawa terus, sih? Perasaan gue nggak ngelawak."


"Wajah lo lawak, Ka."


"Ha?" tanya Raca dengan wajah bingung.


"Punya pacar gini amat."


Selama hampir 1 jam kedua sejoli itu terus bercanda atau menceritakan sebuah kejadian lucu. Karena Raca kesal dengan Cara yang tidak mau menceritakan masa kecil yang kelam, cowok itu berdiri dan menggelitiki Cara. Jika sudah berurusan dengan kelemahannya, Cara tidak bisa berkutik. Bagi Cara, digelitiki itu sungguh geli hingga membuat badan lemas. Mangkannya Cara tidak bisa membalas. "Raca, geli," kata gadis itu terus menggeliatkan tubuh.


Pelayan yang selalu melayani Raca dan Cara tertawa melihat tingkah kedua pelangganya. Dua sejoli itu memang sangat cocok. Setiap datang ke kafe, pasti ada saja hal romantis yang membuat pelayan iri.


"Misi mbak. Saya pesan 2 espresso." Pelayan itu terkejut saat mendengar 2 sejoli sedang mengantri di depannya. Dia pun mengangguk dan mengatakan untuk memilih tempat duduk. Dua sejoli itu masuk lebih dalam ke sisi kafe sebelah kanan. Mungkin karena weekend, kafe ini ramai hingga mendengar suara ketawa seorang gadis dengan kerasnya. Setelah mengetahui gadis yang tertawa dengan keras, 2 sejoli itu mendekat saat tahu jika gadis dan cowok yang sedang menggelitiki gadis itu familiar bagi mereka.


Raca menghentikan aksinya menggelitiki Cara, kedua sejoli itu menoleh saat namanya dipanggil. Pupil mata mereka membesar melihat 2 sejoli yang familiar sedang berada 4 langkah di depan mereka. Cara tertawa dan mengajak sahabatnya bergabung. Rasanya mereka seperti double date.


Sengaja Cara batuk-batuk. Dia tidak habis pikir jika Kakaknya itu runtuh juga dengan kegigihan Gia. "Seneng gue lihat abang tercinta sama sahabat tercinta sekarang lagi jatuh cinta." Tidak usah dipikirkan kalimat membingungkan yang diucapkan oleh Cara. Efek gelitikan Raca membuat gadis itu sedikit kehilangan kepintarannya.


"Apaan, sih, Ra. Biasa aja kali," timpal Gia malu-malu. Jujur saja, gadis itu masih deg-degan semenjak Randy mengirim pesan mengajaknya pergi ke kafe. Pesan yang membuat Gia langsung pergi ke kamar mandi untuk luluran. Kamarnya pun sudah berantakan karena dia bingung harus memakai baju apa. Dengan olesan make up natural, gadis itu keluar dan rasanya ingin terbang melihat cowok yang ia sukai selama 1 tahun berada di depan rumahnya dengan vespa biru--kebetulan cocok dengan jepit rambutnya.


Cara tersenyum dan memberikan 2 jempol pada Gia. Kegigihan Gia benar-benar ter-the best. Karena menurut Cara, Kakaknya adalah tipe cowok yang sangat sulit untuk didekati. Untuk membuka hati Kakaknya itu sangat susah. Namun sahabatnya, Gia yang sebenarnya agak gila, bisa punya sihir hingga Kakaknya mau membukakan pintu hati yang sudah lama terkunci.


"Lo ngapain ajakin adik gue tiap weekend keluar rumah?" tanya Randy dengan tatapan tajam ke arah Raca. Menurutnya sangat tidak wajar jika setiap weekend adiknya itu keluar rumah hingga pulang malam. Sebagai Kakak, pasti dirinya sangat khawatir akan keselamatan sang adik.


Tatapan mata Randy memang diakui Raca sangat tajam. Entah ini tatapan tajam yang keberapa kalinya ia dapatkan. Untuk menjawab pertanyaan itu, Raca harus sedikit mengalihkan pandangannya dari mata tajam milik Randy. "Hari ini gue lagi traktir Cara, Kak. Soalnya kemarin habis menang lomba futsal."


"Berarti gue sama Gia boleh ditraktir juga, nih," ucap Randy sambil satu alisnya terangkat. Jujur saja dia hanya bercanda. Namun kalau Raca tidak keberatan, Randy akan menerima dengan lapang dada.

__ADS_1


"Bolehlah, Kak. Udah pesen?"


"Udah, kok."


Pesanan Randy dan Gia pun datang. Pelayan itu merasa jika kedua pasang sejoli ini teman dekat. Dia jadi seperti sedang menonton sebuah ftv percintaan adegan double date. Andai saja dia punya pasangan, mau gabung biar jadi tripple date. Bercanda.


Makin malam, kafe sejoli makin ramai pengunjung. Sementara kedua pasang sejoli itu masih asyik bermain uno stacko. Bahkan, suara paling ramai berasal dari meja mereka. Tapi mereka masa peduli, yang terpenting mereka happy.


"Main TOT, kuy," ajak Cara saat gadis itu menjatuhkan uno stacko yang sudah tinggi.


"Kalah cari mainan lain," gerutu Gia yang paham taktik Cara.


Gadis itu tersenyum melihatkan giginya, "maksud gue, kita main TOT biar makin dekat aja. Try out menjadi adik dan kakak ipar."


Ketiga orang itu tidak punya alasan lagi untuk menolak usulan Cara. Pulpen yang didapat dari mbak pelayan pun diputar. Orang yang pertama kena adalah Gia. Gadis itu disuruh jujur hal bucin apa yang pernah Gia lakukan kepada Randy, menceritakan hubungannya dengan Haidan, dan cerita memalukan selama 16 tahun hidup di dunia. Karena aibnya sudah terbongkar, Gia pun memutar pulpen.


"Oke, Raca!" kata Gia saat pulpen berhenti dan mengarah pada Raca. "Sejak kapan lo suka sama Raca?"


"Sejak pertemuan pertama gue ngerasa Cara itu beda. Sampai gue relain kasih jaket gue sebagai tanggung jawab. Eh, ternyata Tuhan mentakdirkan gue sekelas dan sebangku lagi. Sampai sekarang pun dia nggak bisa keluar dari pesona gue," jawab Raca sambil menatap Cara dengan 2 alis yang terangkat.


Karena tatapan Raca yang ngeselin, Cara memukul lengan cowok itu. Raca mengaduh kesakitan dan mengelus lengannya yang sering menjadi korban kekerasan. "Kak Randy, kalau mau lapor KDHP dimana, yah?"


"Apaan KDHP?" tanya Cara dengan ketawa. Gadis itu yakin Raca sedang tidak waras.


"Kekerasan dalam hubungan pacaran."


"Nggak jelas banget jadi acar."


"Kari pedas emang omongannya selalu pedas."


Gia tersenyum melihat kedekatan Raca dan Cara. Sebenarnya dia merasa bahwa ini bukan yang dia inginkan. Harusnya sekarang dia berdua dengan Randy. Jika Raca dan Cara, mereka punya banyak kesempatan. Sementara dia, entah kapan kesempatan akan datang. Ditambah, sejak tadi Randy tidak berbicara apapun padanya kecuali menanyai apakah dia tidak apa pulang malam.


"Rak, gue mau tahu kenapa lo pilih adik gue?"

__ADS_1


Melihat wajah Randy yang serius, Raca pun berhenti bercanda dengan Cara. Wajar baginya jika Randy menanyakan itu padanya. Bagi Randy, Cara adalah permata yang harus dijaga. "Bagi gue Cara gadis yang baik. Tapi gue sadar, diluar sana masih banyak yang lebih dari Cara. Bahkan, disetiap gue pergi keluar rumah, gue nemuin cewek-cewek yang lebih dari Cara. Namun gue tahu, kalau gue terus-terus mencari yang paling baik tanpa mau memilih satu diantara mereka, maka diujung sana gue nggak akan dapat siapa-siapa. Untuk balik buat milih mereka lagi itu pasti telat. Semua cewek yang udah gue temui bakal punya pemiliknya masing-masing. Mangkannya, gue udah tentuin bahwa Cara yang gue pilih dan keputusan gue udah tepat."


~•~


__ADS_2