
Ternyata, sifat malas tuh memang memberi dampak sesal diakhir. Seperti Cara, karena tadi saat di sekolah ia malas mengerjakan tugas dengan alasan, "ga mood, ntar aja di rumah", sekarang dia menyesal. Seharusnya dia mengikuti Gia yang rajin mengerjakan tugas Ekonomi dari Pak Tio.
Tugasnya memang sedikit, tapi masalahnya tugas hari-hari kemarin belum ia kerjakan dan harus dikumpulkan besok. Mati sudah dia malam ini. Andai tadi dia tidak ada janji dengan Om Budi dan Raca yang datang ke rumahnya, mungkin tugasnya sudah berkurang, sedikit.
Saat membuka lembar kerja siswa mata pelajaran fisika, matanya langsung ngeblur karena nomor-nomor yang dilingkari jumlahnya ada 10 butir. Mungkin bagi anak IPA yang memang tidak salah pilih jurusan, 10 butir soal fisika sama dengan makan mie indomie diselingi nonton satu musik video di youtube.
Cara tidak berhenti-hentinya menyepam Gia, salah satu sumber suply-annya selama ini. Namun, temannya itu menghilang seperti ditelan buaya. "Centang satu, pasti lagi main cacing," ucap Cara kesal sambil membanting pelan hpnya keatas lks fisika.
Baru saja Cara berniat menelpon Gia, tapi sebuah line masuk.
Si Acar Busuk: Nih gue kasih suply ekonomi, gue tahu tadi di kelas lo cuma molor.
Cara tersenyum, namun dia butuh suply fisika bukan ekonomi. Kalau ekonomi Cara bisa menyalin dari brainly.
Si Kari Pedas: Info fisika dong, please☺️☺️
Bola mata Raca berputar. Dikasih contekan malah lunjak minta contekan lain, mungkin batin cowok itu berkata begitu. Untung saja Raca adalah teman yang baik, ditambah dia yang sudah selesai mengerjakan lks fisika---dapet suply dari Haidan dan pasti itu dari Gia.
Si Acar Busuk: Makan tuh 10 butir jawaban yang gue kasih dengan percuma.
Si Kari Pedas: Oh, jadi lo nggak ikhlas. Eh, btw tuh tulisan rapi banget.
Si Acar Busuk: Tulisannya Gia, hehehe.
Si Kari Pedas: Yehhh, udah ah gue mau ngerjain. Thanks.
Kalau chat sama Raca itu nggak akan ada habisnya, mangkannya Cara harus menghentikannya secara paksa. Jika tidak, tugasnya akan terabaikan. Oke, sekarang waktunya Cara menyalin contekan yang tetap ia coba resapi materinya. Tapi seribu sayang, materi itu tidak bisa ia resap. Entah karena materinya yang susah atau memang otak Cara saja yang menolak materi itu masuk.
Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka membuat Cara langsung menoleh dan terkejut hingga hampir terjungkal kebelakang. Rasanya seperti mimpi. Selama 2 tahun ini, ia tidak pernah melihat malaikatnya masuk ke kamarnya dengan membawakan teh hangat. "Diluar lagi hujan, minum ini biar hangat," ucapnya lembut sambil menaruh segelas teh hangat di atas meja belajarnya. Setelah berucap seperti itu, malaikat itu pergi dengan kalimat yang menyentuh hati, "jangan tidur malam-malam, Ibu nggak mau kamu sakit."
"Makasih, Bu," ucap Cara saat Nani sudah menutup pintu kamarnya.
~•~
__ADS_1
Rasanya mata Cara seperti diberi lem hingga sulit dibuka, walau sekarang dia sudah duduk diatas closet. Pergi ke kamar mandi saja Cara digendong oleh Randy karena gadis itu yang susah sekali dibangunkan. "Cara, ayo cepetan! Ditunggu Bapak buat shalat berjamaah."
"Iya, Kak. Ini mau wudhu," ucap Cara yang akhirnya berjalan menyalakan kran untuk berwudhu. Lalu gadis itu berjalan ke arah ruang keluarga. Kebetulan rumah Cara memang tidak punya tempat khusus untuk shalat.
Randy mengumandangkan adzan dengan suara lembutnya. Shalat pun dimulai yang diimami oleh Heri. Semuanya berjalan seperti biasa. Namun kali ini, Cara merasa ada yang berbeda. Biasanya saat akan kembali ke kamar, tidak ada tuh ucapan "habis itu mandi, jangan tidur lagi"
Entah semalam Cara mimpi apa, tapi hari ini ia mendengar ucapan itu. Sebuah ucapan yang selalu membuat hati Cara tersentuh. Karena ucapan itu, Cara segera mandi, berganti seragam, dan menata buku pelajaran yang akan dibawa.
Saat Cara keluar, ia terkejut mendapati Raca yang ada di meja makan bersama keluarganya. Cowok itu tersenyum kala Cara menarik kursi untuk duduk. "Ngapain lo senyum-senyum?"
"Tuh, Om. Masa saya senyum aja nggak boleh," ucap Raca yang duduk di sebelah Budi. Keduanya terlihat sangat akrab, layaknya anak dan bapak.
"Kamu tuh nggak boleh cuek sama cowok, nggak boleh galak, nanti kalau nggak ada yang deketin gimana?"
Raca tertawa sambil melihat ke arah Cara dengan wajah mengejek. "Emang nggak ada yang deketin, Om."
"Kayak lo ada aja."
"Yeee, banyak cuy. Mau bantu itungin nih chat yang masuk di line, whatsapp, instagram."
"Sombong."
"Coba aja disuruh bayar, nggak ada tuh pujian keluar dari mulutnya," ucap Cara sambil mengambil nasi. Kedua orang itu memang tidak bisa jika tidak mengejek satu sama lain. Bahkan itu konsumsi mereka sehari-hari.
"Udah, ayo makan. Nanti telat," ucap Nani. Meja makan itu pun sepi, hanya suara bertemunya sendok dan piring yang terdengar. Sesekali cerita Hafidz tentang pelajaran di Sekolahnya.
Selesai makan, Raca dan Cara pamit untuk berangkat sekolah. Di teras, Cara masih memakai kaos kaki. Sedangkan Raca sudah duduk di atas motor, siap menjalankan motor itu.
"Eh, ada si alis tebel."
Mendengar suara Raca, Cara mendongak. Terlihat Kak Zul yang sedang berdiri di depan pagar. Melihat situasi tidak aman karena mulut Raca yang tidak bisa dikontrol, Cara segera menali sepatunya dan mendekati kedua cowok itu. "Kak Zul ngapain kesini?"
"Berangkat bareng ke Sekolah."
Raca menyalakan motornya, mengaca pada spion sambil berkata, "sayangnya Cara berangkat sama gue."
Keberadaan Raca sungguh membuat Zul tidak suka. Cowok tengil itu bahkan berani mengatakan 'si alis tebel', emang minta didatengin di kelas tuh anak. "Tapi gue udah janjian sama Cara."
__ADS_1
"Nganternya pake apa sih?"
"Jalan kaki, kenapa? Itu udah kebiasaan kita."
"Yaelah, Ra. Mending sama gue naik motor."
Cara jadi bingung dan tidak enak hati jika harus memilih salah satu diantara mereka. Dewi keberuntungan, tolong bantu Cara terbebas dari situasi ini.
Baru saja Cara meminta itu, Randy keluar dan naik pada motor vespa biru laut. "Maaf nih, daripada kalian baku hantam. Gue bareng Kak Randy aja," kata Cara yang lalu berlari menghampiri kakaknya.
~•~
Dari sini, Raca bisa melihat bagaimana kedekatan Cara dengan si alis tebel. Keduanya terlihat sangat dekat. Mungkin karena keduanya adalah teman sejak kecil yang bahkan bukan seperti sahabat, melainkan adik kakak. Sejak tadi, Raca tahu Zul sesekali melihat ke arahnya. Tatapan cowok beralis tebel itu cukup tajam. Tanpa diberi tahu ataupun sebuah fakta yang ia dengar, Raca sudah bisa menebak jika Zul menyukai Cara. Dengan sikap cowok itu yang perhatian dan selalu mendekati Cara adalah sebuah alasan Raca menebak hal tersebut. Ditambah keduanya adalah teman sejak kecil yang pastinya mereka lebih dari kenal satu sama lain dan mungkin sebuah rasa sudah tumbuh diantara mereka sejak lama.
"Dari tadi Raca ngelihatin lo terus. Dia suka yah sama lo?"
Cara menoleh ke belakang, benar sih Raca sedang duduk di belakang mereka dan saat ia menoleh, cowok itu seperti memalingkan muka. "Kakak nggak usah ngalihin pembicaraan."
"Emang tadi kita ngomongin apa?"
"Tuh kan nggak dengerin apa yang aku omongin."
"Maaf. Gara-gara temen lo ngelihatin gue terus, jadi nggak fokus."
"Alesan," ucap Cara dengan wajah betenya. Bagaimana tidak kesal jika sedari tadi gadis itu sudah berbicara panjang lebar tapi tidak dihiraukan. Apalagi alasannya tidak masuk akal seperti itu. "Karena aku baik hati, aku jelasin lagi. Kemarin malam, aku lihat Kakak ditampar sama Om Budi. Kakak ada masalah?"
"Ngapain sih, tiap kali kita ngobrol lo bahas bokap gue?" tanya Zul yang tiba-tiba saja menaikkan suaranya membuat Cara bingung.
"Aku cuma pingin tahu apa yang enggak aku tahu."
"Tapi nggak semua hal harus lo tahu, apalagi tentang bokap gue!"
Suara Zul cukup keras bahkan Raca bisa mendengarnya. Wajah cowok itu sudah tidak bersahabat, menandakan dia tidak suka dengan topik pembicaraan mereka. Raca bersiap-siap ingin mendekati kedua teman kecil itu, takut jika emosi Zul keluar dan membuat Cara menangis. Namun tiba-tiba, Raca dengar suara Cara yang dikeraskan dan tersirat sebuah kekesalan. "Gue tanya karena gue simpati sama lo, Kak. Tapi kalau lo nggak mau ngasih tahu yah gapapa, gue nggak kepo!"
Dari ucapan Cara saja sudah menandakan jika gadis itu kesal. Bahkan, Cara sudah memakai gue-lo dengan Zul. Sepertinya ada masalah besar yang tidak bisa Raca tebak. Apalagi suasana makin panas saat Zul berdiri sambil menggebrak meja, "gue nggak perlu simpati dari lo!"
__ADS_1
~•~