Racara

Racara
Bagian 28


__ADS_3

"Bapak!!! Hafidz mau naik kuda-kudaan itu!!"


Sejak tadi wajah Hafidz terlihat ceria. Apalagi saat melihat komedi putar. Bocah yang baru saja berumur 6 tahun itu langsung berlari menarik tangan sang Bapak. "Yang lainnya juga diajak."


"Ibu, Kak Randy, Kak Cara, Kak Raca, ayo!!" teriak Hafidz sambil mengisyaratkan dengan tangan agar ke arahnya. Mengikuti kemauan bocah itu tidak buruk juga. Nani dan Heri malah minta difotokan oleh Randy saat menaiki komedi putar. Foto setelah lama mereka tidak berfoto. Sementara Hafidz dijaga oleh Raca dan Cara. "Seru, Kak!!"


"Masih seru kuda-kudaan sama Bapak," celetuk Cara sambil terus mengambil selfie. Biasa, untuk stok foto di instagram.


"Tapi lo udah besar. Udah nggak bisa, Ra."


"Karena gue udah besar, gue nggak perlu naik kuda-kudaan," kata Cara lalu mengarahkan handphonenya ke Raca. Gadis itu mengisyaratkan agar Raca berpose. Yang membuat Cara geli adalah Raca yang berpose memberikan sign heart ala-ala Korea. "Geli banget lihat lo gaya gitu," kata Cara setelah mengambil gambar.


"Ini sign heart buat lo," ucap Raca dengan tangan yang masih membentuk sign heart. Namun ditolak oleh Cara dan diberi jawaban tangan tengah. "Nakal, yah, lo."


Cara hanya tertawa. Lalu mengangkat handphoenya untuk mengambil foto bersama Raca. Sudah banyak gambar yang diambil, namun Cara belum puas juga. Sampai-sampai Raca bingung harus bergaya apa. Terpaksa cowok itu memberikan gaya tangan mulai dari 1 sampai 5.


"Kak Cara, Hafidz juga mau difoto," ucap Hafidz membuat Cara dan Raca tertawa karena mereka melupakan bocah kecil yang gemesin itu. Karena tubuhnya menutupi Hafidz, Raca berpindah tempat di sebelah kiri Hafidz. Lalu membisikkan sesuatu pada bocah kecil yang selalu menurut.


"Satu, dua, tiga."


Setelah melihat hasil fotonya, Cara memberi tatapan musuh pada Raca dan Hafidz yang sedang tertawa. Bagaimana tidak kesal. Dua cowok itu berpose melet menatapnya.


"Hafidz jangan mau disuruh-suruh sama Kak Raca. Dia sesat."


"Enggak, tuh. Hafidz nggak tersesat."


Jawaban Hafidz membuat Raca tertawa. Jelas menertawai Cara yang kalah. Namun Cara bisa memaklumi adiknya yang masih polos itu.


Puas bermain komedi putar, kini gilirannya bermain bom bom car. Hafidz bersama Raca dan Cara bersama Randy. Kedua musuh itu terus berusaha menabrak satu sama lain.


"Kak, yang bener nyetirnya. Tabrak, tuh." Sejak tadi Cara terus-terusan menyuruh Randy untuk menyetir yang baik. Dikira nyetir gampang apa. Kan, Randy juga udah lama nggak main bom bom car.


"Udah diem aja lo."


Cara menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan bibir bawah yang ditekuk. Karena Kak Randy yang tidak jago menyetir, mereka terus-terusan ditabrak oleh tim musuh.


"Ibu!! Bapak!! Kak Cara kalah," kata Hafidz setelah selesai bermain bom bom car.


"Itu salah Kak Randy. Nyetirnya nggak bener."


"Kok gue?" tanya Randy yang bingung. Dia tidak mau disalah-salahkan. "Setirnya yang rusak."


"Tuh, kan. Mereka alasan. Emang kita jago. Tos dulu," ucap Raca yang kemudian bertos dengan Hafidz.

__ADS_1


Wahana ke-3 yang dipilih adalah rumah hantu. Nani tidak ikut karena menemani anak bungsunya yang masih kecil. Di dalam, Cara berada di belakang Bapaknya sambil terus memegangi baju Heri. Sementara 2 cowok di belakang bersekongkol untuk mengerjai Cara.


"Ra, lo nyenden ke punggung sapa?" Akting Raca dimulai.


"Iya, Ra. Bapak, kan di belakang." Kini giliran Randy.


Meski awalnya yakin jika yang di depannya adalah sang Bapak. Namun entah kenapa Cara jadi was-was saat Bapaknya tak kunjung berbicara. Ditambah suara Raca dan Zul yang menghilang. Makin takut saat seseorang di depannya berhenti berjalan. Cara terus-terusan memegangi baju itu dengan erat. Bulu kuduknya mulai berdiri.


"Bapak!! Di dalam ada pocong, nggak, Pak?"


Itu suara Hafidz. Kenapa ada suara Hafidz? Bukannya bocah 6 tahun itu tidak ikut masuk. Karena masih takut dengan suara-suara seram yang masih terngingang ditelinga, Cara memilih untuk merapatkan wajahnya ke tubuh seseorang di depannya, meski ia masih takut jika itu bukan bapaknya.


"Kak Cara kenapa, sih, Pak?"


"Takut sama hantu, sampe baju bapak dipegangin kuat banget."


Itu suara Bapak. Jadi benar yang berada di depan Cara adalah Bapaknya. Dengan keberanian, Cara membuka mata. Dia baru sadar jika dirinya sudah berada di luar. Ngeselinnya, Raca dan Randy malah menertawainya. Langsung saja dia bersikap biasa saja seperti tidak ketakutan. "Enggak. Kak Cara cuma lagi pusing kepala aja, dek."


"Bohong banget, tuh," timpal Randy membuat cowok itu dipelototi oleh adiknya.


"Anak perempuan Bapak emang berani," kata Heri merangkul putrinya dari samping. Memang bapaknya adalah yang paling mengerti Cara. "Berani masuk doang, di dalam mah tutup mata," tambah Heri membuat Cara langsung melepas tangan bapaknya lalu berjalan pergi.


"Kalian, sih, ngambek, kan. Cara, tunggu Ibu!" teriak Nani sambil berjalan menyusul putrinya. Namun Raca mengatakan jika cowok itu saja yang akan menyusul Cara.


~•~


Setelah memesan jeruk hangat itu, Raca kehilangan jejak Cara. Sampai putaran ke-3 mengelilingi bianglala, dia tidak menemuka Cara. Sementara seorang gadis yang duduk tidak seberapa jauh menertawai tingkah laku cowok yang memegang sebuah gelas plastik.


Kasihan karena cowok itu tidak kunjung menemukannya, Cara menelpon. "Nggak capek apa muterin bianglala sampai 3 kali?"


"Kok lo tahu, Ra?" tanya Raca sambil melihat sekelilingnya. Mencari dimana Cara berada.


"Gue lagi jalan deketin lo. Mending lo antri buat naik bianglala."


Setelah sambunga terputus, Raca mengikuti perintah Cara. Mengantri untuk naik bianglala. Gelas plastik yang dia bawa tiba-tiba direbut. Ternyata pelakunya Cara. "Ini buat gue, kan?"


Mengantri cukup lama, namun kini mereka sudah hampir dipaling atas. Rasanya menyenangkan bisa melihat lampu-lampu dari kendaraan di jalan, rumah-rumah, atau dari gedung-gedung tinggi. Apalagi ditemani dengan jeruk hangat, Cara sangat suka ini.


"Katanya kalau temenan sama lawan jenis bisa bikin 2 orang itu jatuh cinta. Lo yakin nggak?"


Cara menoleh, tumben-tumbenan chairmatenya itu bilang begitu. "Nggak. Kan, masih katanya. Emang kenapa?"


"Gapapa."

__ADS_1


"Kok gapapa? Pasti ada apa-apa."


"Itu kalau cewek."


"Iya juga, yah."


Raca membuang muka. Melihat ke bawah. Di sana, banyak dua sejoli yang lagi membuat kisah. Raca pun juga. Yang beda, Raca dan Cara tidak punya hubungan yang dilandasi cinta. Hanya sebatas chairmate yang selalu ada satu sama lain. "Kadang, sesuatu itu emang harus dikode dulu. Biar bisa sadar."


"Kode apaan?"


"Barbershop langganan gue udah tutup. Lo tahu nggak tempat lain yang ada diskon buat pelajar?"


"Ha? Maksud lo apa?"


"Kayaknya rambut gue udah panjang. Harus dipotong biar nggak kena razia Pak Lukman," jawab Raca sambil membenarkan rambutnya.


~•~


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, namun tempat ini makin lama makin ramai. Kini keluarga Cara dan Raca sedang duduk menikmati makanan. Kali ini Raca sedang berbaik hati, jadi dia yang mentraktir. Hitung-hitung balas budi dia yang sering makan di rumah Cara.


"Ra. Gue beli terang bulan boleh nggak, sih?" tanya Cara saat melihat sebuah menu di stan sebelah sana. Matanya memang bisa menemukan makanan favoritnya meski dari jauh.


"Mana ada, Ra?"


"Itu," tunjuk Cara, "terang bulan mini. Rasa kacang pasti enak, Ka."


Diminta dengan wajah lucu Cara, mana mungkin Raca bisa menolak. "Apa yang enggak buat lo. Asalkan lo jangan minta gue pergi dari hidup lo. Susah nyanggupinnya kalau itu."


"Apaan, sih, lo? Ada keluarga gue tahu," ucap Cara malu sambil menyenggol tubuh Raca dengan sikutnya.


"Bapak ngerestuin kalau kamu sama Raca," celetuk Heri sambil senyum-senyum. Kedua remaja di depannya itu terlihat lucu.


"Tuh, Bapak lo aja ngerestui. Udah, ntar lulus SMA nikah aja sama gue," kata Raca sambil tertawa.


"Nggak habis SMA juga," kata Nani.


"Kapan aja, saya mau nungguin Cara, kok, Tante."


"Tante tunggu kamu jadi menantu Tante."


Pipi Cara sudah merah karena malu. Dia tidak habis pikir jika chairmatenya itu berani membuat lelucon yang menurut Cara sama sekali tidak lucu. Malas mendengar pembahasan yang ngelantur, ditambah Bapak dan Ibunya yang ada dipihak Raca, Cara memilih untuk pergi memesan terangbulan. Itu lebih baik.


"Ra, lo mau kemana? Uangnya, kan, ada di gue!"

__ADS_1


~•~


__ADS_2