
Setelah membuka kado, Raca meminta izin mengajak Cara pergi keluar menikmati angin malam. Tentu saja Nani dan Heri mengizinkan. Ini bukan yang pertama Raca mengajak Cara keluar malam-malam. Terlebih lagi, Nani dan Heri sudah percaya dengan Raca jika cowok itu akan menjaga putri mereka.
Angin malam ini terasa sangat dingin dan menusuk kulit Cara walau gadis itu sudah memakai jaket jeans yang sekarang sudah menjadi miliknya. Cara tidak tahu kemana Raca akan mengajaknya pergi. Sudah 15 menit keluar dari rumah, tapi mereka masih berada di atas motor membelah jalanan kota. Sekarang masih pukul 7 malam. Jalanan masih ramai akan 2 sejoli yang sedang memadu cinta. Sesekali Raca dan Cara juga melihat 2 sejoli yang membagi kehangatan dengan peluk.
"Lo nggak mau berbagi kehangatan juga?" Meski jalanan ramai, Cara masih bisa mendengar pertanyaan Raca. Awalnya ragu, namun sejak membaca puisi yang berhasil membuatnya senyum, ia sangat ingin memeluk Raca sekarang juga.
Sebuah tangan ragu-ragu memegang hoodienya. Senyum terbesit diwajah Raca. Diarahkan kedua tangan itu agar terlingkar sempurna ditubuhnya. "Nah, kalau gini hangat," ucap cowok itu sambil melirik kaca spion motornya. Chairmate yang sudah berhasil menarik hatinya itu tersenyum malu. Wajah yang selalu memiliki senyum ceria, mata indah, dan selalu menyalurkan aura positif.
Jantung Cara berdegup kencang saat Raca mengarahkan tangannya melingkar sempurna ditubuh cowok itu. Mereka memang pernah berpelukan, namun saat itu Cara melakukannya tanpa sadar dan sangat membutuhkan teman, juga tidak dilihat oleh orang lain. Sementara sekarang, mereka sedang dipusat kota. Dijalanan yang ramai. Pasti satu atau dua orang melihat mereka.
Tapi, memeluk Raca itu membuat Cara nyaman. Angin yang tadi menusuk kulitnya, tiba-tiba terasa tumpul. Ini benar-benar yang dinamakan berbagi kehangatan.
"Oke, udah sampai ditempat favorit gue." Raca memberhentikan motornya di dekat pedagang kaki lima. Dua sejoli itu pun turun dan duduk dibangku yang disediakan penjual. Tanpa Raca memesan, penjual itu sudah mengerti hanya dengan kedatangannya.
"Kok baru ngajak gue ke sini?" Tempat yang dipilih Raca tidak sebegitu bagus. Hanya makan dipedagang kaki lima pinggir jalan. Tapi Cara tahu, pasti ada sesuatu yang membuat tempat ini favorit bagi Raca.
"Orang yang ngajak gue ke sini bilang kalau gue ke sini harus ngajak orang spesial."
Cara menunjuk dirinya, "maksud lo gue spesial bagi lo?"
"Iya. Lo sama kayak orang yang ngajak gue ke sini. Bagi dia, gue sangat spesial. Sama kayak lo. Bagi gue, lo sangat spesial. Sejak pertemuan pertama kita gue pingin ngajak lo ke sini. Tapi gue selalu nunggu sampai lo benar-benar jadi yang terspesial bagi gue, Ra."
Pipi Cara merah mendengar ucapan Raca. Begitu spesialkah dirinya hingga Raca mengajaknya ke tempat ini. "Orang yang nganggap lo spesial siapa?"
"Kak Dara. Dia ngajak gue ke sini setiap dia kangen sama Mamanya. Dulu saat Kak Dara masih kecil, Papa sering ajak dia ke sini. Katanya tempat ini tempat Papa bagi kisah, bercanda, hingga ngelamar Mama Kak Dara. Mangkannya Kak Dara suka ngajak gue ke sini. Katanya tempat ini punya sihir ajaib buat dua sejoli."
"Sihir ajaib?"
__ADS_1
"Katanya, sih, bisa buat hubungan langgeng. Tapi gue nggak percaya. Menurut gue, tanpa gue ajak lo ke sini, kita bisa langgeng."
"Kalau enggak?"
"Berarti lo yang milih buat pergi, Ra. Karena gue nggak akan pergi dari lo."
Cara mengangguk-ngangguk dan mengingat ucapan Raca jika cowok itu tidak akan pergi. Dua piring tahu telur datang. Raca bilang jika tahu telur disini sangat enak dan beda dari tahu telur ditempat lain. Saat Cara coba, benar-benar amazing. "Kenapa lo baru ajak gue kesini, sih, Ka?" kata Cara menyesal baru mencoba tahu telur yang rasanya benar-benar amazing. Makanan ini bisa menjadi list ke-6 didaftar makanan dan minuman favorit Cara.
"Enak, kan? Gue juga pernah kaget kayak lo waktu pertama kali makan tahu telur ini," kata Raca mengingat 5 tahun lalu saat pertama kali dirinya mencoba makanan ini. "Lo tahu nggak, penjualnya sampai ingat kisah cinta bokap gue sama Mamanya Kak Dara."
"Udah berapa kisah cinta yang diingat sama penjual?"
"Katanya cuma bokap gue sama Mamanya Kak Dara. Soalnya cuma mereka 2 sejoli pelanggan tetap disini. Mungkin kita yang jadi kedua."
"Bisa aja. Tapi cuma kafe sejoli yang tahu semua kisah kita."
Kafe sejoli memang tidak bisa tergantikan. Tempat ini saksi kisah cinta Papa Raca dengan cinta pertamanya. Sementara kafe sejoli adalah saksi kisah cinta Raca dan Cara. Salah satu pelayannya saja sampai hapal kisah cinta 2 sejoli itu.
~•~
Sudah kenyang dengan tahu telur, kedua sejoli itu pun pulang. Sengaja Raca mencari jalan yang lebih memakan waktu lama. Cowok itu masih ingin berduaan dengan Cara. Hari ini adalah hari ulang tahun gadis itu. Raca ingin Cara bersenang-senang hari ini. Dia merasa bersalah karena sejak pagi hingga sore sudah membuat Cara murung.
"Maaf gue nggak bisa kasih kado yang bagus."
Cara menggeleng. Baginya puisi itu adalah kado terindah yang dia dapat. "Itu lebih dari bagus. Tiap sekolah gue bakal pakai jepit rambutnya. Oh, ya. Puisinya. Gue suka banget. Ternyata lo bisa puitis juga."
Puisi itu sudah Raca siapkan jauh-jauh hari. Dia butuh waktu lama agar puisi itu menjadi sempurna. Walau menurutnya itu masih belum sempurna. Karena ini pertama kalinya Raca menulis puisi untuk seseorang. "Jadi malu gue," kata Raca sambil menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
Cara menepuk pundak Raca saat melihat keramaian didepan yang membuat jalanan macet. "Kayaknya ada kecelakaan. Kita putar balik aja."
"Enggak! Gue mau lihat." Cara turun tanpa persetujuan Raca. Entah kenapa hati gadis itu menyuruh untuk melihat keramaian itu. Cara menerobos keramaian. Tim medis sedang nengerubungi korban kecelakaan. Saat Cara berusaha untuk melihat siapakah korbannya, Polisi menyuruh untuk mundur. Namun Cara sangat ingin tahu siapakah korban kecelakaan itu.
"Ra, ayo pulang. Udah malam, entar gue dimarahin bapak lo," kata Raca saat menemukan Cara dikerumunan bagian depan. Namun gadis itu menolak dan terus menjijit mencari celah agar mengetahui korban kecelakaan itu. Hingga Cara melihat motor ninja milik Zul yang tergeletak di area kecelakaan dengan kondisi rusak parah. Cara masih ingat motor Zul, namun dia berharap jika itu bukan Zul. Harapannya itu hilang dalam hitungan detik saat tim medis mengangkat korban dan akan memasukkan ke ambulance.
"Kak Zul. Raca itu Kak Zul," kata Cara. Gadis itu meberobos dan berteriak kepada polisi yang menghadangnya. "Saya temannya, Pak!!"
Setelah Raca menjelaskan kepada polisi, akhirnya Cara diizinkan untuk ikut dalam ambulance. Sementara Raca menaiki motor dan mengikutinya dari belakang. Air mata Cara tumpah saat melihat wajah Zul yang berlumuran darah. Hampir sebagian wajahnya rusak. Pasti kecelakaan yang dialami sangat parah. Cara tidak bisa membayangkan betapa kagetnya Tante Ningsih mendengar kabar buruk ini.
Sesampainya di rumah sakit, Cara menunggu di depan ruang ICU. Polisi sudah menyuruhnya untuk menelpon keluarga korban. Cara menyuruh agar petugas rumah sakit yang menghubungi, dia tidak kuat mendengar tangisan Tante Ningsih.
Raca berlari menuju ruang ICU. Saat melihat seorang gadis yang duduk dengan menundukkan wajah, langsung ia bertekuk lutut dan memeluk. Dia tahu betapa sedih dan terkejutnya Cara. Bagaimanapun juga Zul adalah teman kecil Cara. Pasti sangat takut jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Dipeluknya Raca dengan sangat erat. "Ka, gue takut. Kak Zul. Dia bakal selamat, kan, Ka? Gue nggak mau kehilangan dia." Raca melepas pelukannya. Memegang wajah Cara dengan kedua tangannya. "Lo sayang, kan, sama dia? Kita shalat dan doain biar dia selamat. Oke?"
Cara mengangguk. Bersama dengan Raca mereka berjalan menuju masjid. Setelah shalat, Cara berdoa kepada Tuhan agar tidak terjadi apa-apa dengan Zul.
"Tuhan, Cara cuma bisa berdoa supaya tidak ada hal yang lebih buruk. Cara mau Kak Zul bangun dan kumpul bareng. Tapi Cara nggak bisa apa-apa. Semuanya Cara serahkan pada-Mu. Apapun yang terjadi, itu pasti yang terbaik buat Kak Zul."
~•~
Ningsih hampir terjatuh saat mendengar jika putranya tidak bisa terselamatkan. Rasanya dunianya runtuh. Putra satu-satunya pergi meninggalkannya. Dia masuk dan memeluk sang putra. Berharap sang putra masih mau bangun. Namun tak kunjung matanya terbuka. Tangisnya pecah ditubuh putranya.
Cara memalingkan wajahnya lalu menyandarkan wajahnya pada dada bidang Raca. Dia tidak kuat mengetahui kebenaran ini. Teman kecil yang baru saja ingin membuat kenangan bersama namun semesta berkata lain. Teman kecil yang Cara tunggu untuk mengucapkan "selamat ulang tahun Amel" sudah dipanggil oleh Tuhan. Mungkin memang ini jalan terbaik buat Zul. Biar cowok itu tidak terus-terusan merasa tertekan dan tidak terus-terusan meminum obat.
"Zul akan tetap selalu ingat lo disana, Ra."
__ADS_1
~•~