
Dua minggu semenjak kepergian Zul, Cara masih terpukul. Gadis itu jadi tidak seceria biasanya. Dimana dia yang biasanya berdebat dengan Haidan, bertengkar dengan Raca, atau berebut dengan Gia. Tapi sekarang, Cara selalu menidurkan kepala dimeja. Wajahnya tidak menyalurkan aura positif lagi. Cahaya yang lebih dari cahaya matahari sudah padam pada Cara.
Pagi ini, Raca berharap mendapat senyum manis Cara. Sudah 2 minggu dia tidak melihat bibir itu melengkung. Membuat dunia Raca mulai gelap.
Nyatanya harapan Raca sirna saat Cara masuk ke kelas dengan wajah yang terus menunduk. Dengan jalan yang lemas, gadis itu duduk di sebelah Cara. Jika biasanya akan menyapa Raca, namun kali ini gadis itu memilih untuk menenggelamkan wajah kemeja.
Raca mengelus kepala Cara pelan. Dia tahu jika Cara masih belum bisa menerima kenyataan bahwa teman masa kecilnya telah tiada. "Udah dua minggu gue nggak dapat senyum lo, Ra."
Tidak ada jawaban. Mulut Cara seperti terkunci. Gadis itu hanya membuka suara jika dia lapar, butuh sesuatu, atau jika sudah kesal karena semua orang berisik. Sebenarnya Cara juga tidak ingin seperti ini.
"Kata bokap lo, terang bulan kacang yang gue kasih enggak lo makan. Bener?"
"Padahal gue udah susah-susah beli."
"Gapapa. Enggak mubazir juga. Kan, pasti udah dimakan Kak Randy atau enggak Hafidz."
"Kalau lo masih pingin terang bulan kacang. Telpon gue, yah, Ra. Pasti gue langsung meluncur buat beliin."
Karena berbicara sendiri, Raca sampai diketawain oleh Haidan. Dengan wajah belagu dan ngeselinnya itu, Haidan tertawa menunjukkan giginya yang kinclong karena pakai bayclin tiap hari. Sambil sesekali ditutupi oleh tangannya karena protesan Gia. Kata gadis itu gigi Haidan terlalu kinclong.
"Jangan ketawa Hai, gigi lo buat mata gue sakit," protes Gia lalu memutar tubuhnya ke arah Cara yang masih setia tenggelam dalam meja.
Haidan meringis sambil duduk menyamping mengarah ke arah Gia. "Tadi pagi gue nggak gosok gigi." Gia yang mendengar itu langsung bergidik geli. Pantas saja saat Haidan berucap bau tidak enak masuk ke hidungnya.
"Tapi gue kumur-kumur pakai bayclin," kata Haidan sambil tertawa. Raca dan Gia hanya melirik cowok itu dengan tatapan aneh karena guyonan Haidan yang aneh. Tapi guyonan Haidan cukup membuat Cara tersenyum. Gadis itu mengangkat wajahnya. Lalu membenarkan rambut-rambut yang menutupi wajah.
"Awas aja dimarahi Mama lo. Ntar lo disuruh cuci baju sendiri," ucap Cara dengan suara pelan. Tapi Raca, Gia, dan Haidan tersenyum dan bersorak senang karena akhirnya Cara mau berbicara. Haidan yang terlihat paling senang karena bercandanya disukai oleh Cara.
"Cuma modal bayclin lo akhirnya mau bicara. Seneng gue, Ra," ucap Haidan dibalas senyum oleh Cara. Sementara cowok disebelahnya memalingkan muka. Kesal karena senyuman Cara tidak ditujukan untukknya. Haidan yang mengerti akan Raca yang cemburu berdecih.
"Yaelahhh. Pakai cemburu gara-gara gue disenyumin sama pujaan hatinya," ucap Haidan dengan logat khasnya. Raca tidak menggubris ucapan Haidan dan memilih memainkan hpnya. "Ra. Jangan senyum sama gue. Ntar gue bisa didiemin seabad sama chairmate lo."
~•~
__ADS_1
Bu Dania sedang menjelaskan tentang cerita pendek. Namun Raca sedang tidak fokus. Tidak tahu kenapa karena kejadian tadi pagi dirinya langsung merasa malas saja. Gimana tidak cemburu jika senyum yang Raca tunggu malah diberikan kepada Haidan. Cowok biasa saja yang suka kumur-kumur pakai bayclin. Sampai Haidan menusuknya dari belakang. Awas saja. Raca tidak akan diam. Kapan lagi baku hantam sama sahabat sendiri?
Daripada mendengarkan cerita bu Dania tentang mantannya waktu jaman bahula, Raca memilih untuk bermain mobile legends. Tapi saat baru saja ingin login, Bu Dania malah berjalan ke spasi meja didekatnya. Langsung saja Raca memasukkan hp kekolong meja. Bisa gawat jika ketahuan sedang main hp. Hukumannya bukan hanya minta tanda tangan orangtua. Paling parah hpnya akan dikembalikan saat lulus. Jika terjadi Raca bisa dicoret dari kartu keluarga.
Cara mendorong kertas ke arah mejanya. Lalu gadis itu izin untuk ke kamar mandi.
Gue tunggu dikantin. G PAKE LAMA.
Setelah susah payah mendapat izin dari Bu Dania, akhirnya Raca bisa kabur ke kantin. Sampainya disana ia mendapat wajah bete Cara. "Maap. Bu Dania belibet banget."
"Boong. Bilang aja nggak mau nemenin gue." Perasaan tadi Raca yang cemburu dan harusnya dibujuk. Tapi kenapa sekarang jadi Raca yang harus membujuk Cara.
"Masa gue udah pakai alasan udah diujung masih nggak boleh. Malah dia nyerocos ceritain mantannya. Lo tahu, Ra? Katanya mantannya Bu Dania dulunya ketua geng. Semacam geng motor gitu."
"Dan lo dengerin?" tanya Cara yang tidak menyangka Raca mau mendengarkan cerita Bu Dania yang tidak ada ujungnya. Bahkan, satu sekolah tidak ada yang mau mendengarkan. Jika mereka tahu, itu berarti mereka tidak sengaja mendengar. Ingat. Tidak sengaja.
"Gimana lagi, Ra. Andai telinga gue bisa diatur buat nggak nangkep suara pas Bu Dania ngomong." Cara tertawa. Apa yang Raca ucapkan terdengar aneh saja.
"Lo ingat, kan? Gue pernah bilang kalau cuma senyum lo yang gue tunggu disetiap gue sampai di sekolah. Ingat nggak?"
Cara memajukan wajahnya dan menopang dengan kedua tangan. "Harusnya bisa bedain, mana senyum biasa sama senyum khusus untuk orang spesial."
"Semua cowok kalau lihat ceweknya senyum ke cowok lain, yah pasti cemburulah."
"Jadi lo cemburu?" goda Cara membuat wajah Raca merah. Cowok itu menjauhkan wajah saat sadar jika ucapannya sudah menandakan jika dirinya cemburu.
"Mbak!!" teriak Raca sambil tangannya diangkat--menandakan agar orang yang dipanggil mendekatinya. Mbak Ani--penjual tahu--mendekati Raca. "Iya, mas?"
Tidak ada jawaban dari bibir Raca. Yang ada bibir cowok itu melengkung. Cukup lama sampai membuat Mbak Ani bingung. Makin lama senyum Raca makin terlihat manis hingga Mbak Ani tersipu dan pergi karena malu wajahnya sudah merah. Cara yang melihat aksi Raca langsung memukul lengan cowok itu. "Ngapain coba, senyum-senyum nggak jelas ke mbak Ani?"
Tangan Raca menunjuk-nunjuk wajah Cara dengan wajah menggoda. "Tuh, kan...lo aja cemburu karena gue senyum ke Mbak Ani. Lihat orang yang disayang ngelakuin hal manis buat orang lain, pasti buat hati kita sedikit teriris walau bibir selalu menepis."
"Gue nggak mau kehilangan seorang gadis yang udah buat gue jatuh hati. Yang selalu ceria setiap waktu." Raca menoel hidung Cara sambil tersenyum. Keduanya bertatapan cukup lama hingga membuat penjual kantin bingung. Apa yang tengah terjadi antara dua sejoli itu?
__ADS_1
"Puisinya bakal jelek kalau harus ganti satu baris."
"Gue bakal balik jadi Caramel yang tak suka Caramel."
~•~
Caramel yang sudah menjadi inspirasi Raca membuat puisi sudah kembali. Sejak mereka membolos pelajaran Bu Dania--entah itu yang keberapa kali mereka lakukan, Cara sudah kembali menjadi Cara yang sesungguhnya. Cara yang selalu senyum, ceria, dan menularkan aura positif kepada orang disekitarnya. Bahkan, beberapa kali Cara sudah menanggapi guyonan yang dibuat Haidan.
Sore ini seperti biasa. Raca kembali mengantar pulang Cara. Sudah dua minggu gadis itu meminta untuk pulang sendiri. Rasanya beda saat boncengan Raca kosong. Tidak ada gadis yang cerewet dan memarahinya jika ia terlalu ngebut. Tapi sekarang, boncengannya sudah terisi. Telinga Raca juga mulai sakit karena Cara yang terus-terusan berucap, "Ka! Stop! Stop! Setopppp, Ka!"
Terpaksa Raca meminggirkan motornya. Dia tidak mau telinganya rusak karena suara Cara. "Apaan?" tanya Raca sambil memutar tubuhnya 180°. Cara menunjuk penjual terang bulan disebrang jalan sambil tersenyum memperlihatkan gigi pada Raca.
"Janji dimakan?" tanya Raca sambil mengulurkan jari kelingking yang langsung Cara lingkarkan dengan jari kelingking gadis itu.
"Janji."
Agar Cara menepati janjinya, Raca meminta gadis itu menghabiskan terang bulan ditempat. Permintaan Raca sangat Cara suka. Dengan lahap dia memakan terang bulan kacang itu. Dua minggu Cara tidak memakan makanan terfavoritnya. Walau setiap kali Raca datang membawa makanan itu, iler Cara selalu mencoba keluar, namun entah kenapa dia tidak kunjung mengambil sepotong dan memasukkan pada mulutnya.
"Dua minggu nggak makan itu rasanya gimana?"
"Tersiksa."
"Sekarang?"
"Bisa bungkus 1 lagi, nggak?"
Raca tertawa hingga membuat Cara malu karena dilihati beberapa pembeli lain. Tidak mau tambah malu, Cara menutup mulut Raca agar berhenti tertawa. Cowok itu melepaskan tangannya dan menghentikan tawanya. Kini tatapannya serius hingga membuat Cara memalingkan wajah.
"Lo tahu, kan, Ra, rasanya kehilangan seseorang yang lo sayang? Ngeliat lo yang masih terpuruk karena kehilangan Zul, buat gue takut kalau suatu saat lo bakal ninggalin gue."
"Rasanya nggak enak, Ka. Dua minggu ini gue selalu berdoa supaya orang-orang yang gue sayang nggak ninggalin gue. Termasuk lo. Lo udah janji dan gue harap lo bakal tepati."
~•~
__ADS_1