Racara

Racara
Bagian 37


__ADS_3

Kemarin Raca datang ke rumah Cara saat gadis itu sedang kerja kelompok di rumah Gia. Disana Raca membicarakan rencananya untuk memberi suprise pada Cara. Heri, Nani, Randy, dan Hafidz setuju dan akan bekerjasama. Rencananya, kami semua akan pura-pura lupa ulang tahun Cara. Sengaja agar gadis itu cemberut sepanjang hari. Ternyata berhasil. Sejak jam pelajaran pertama hingga pelajaran terkahir, Cara tidak bersemangat. Tidak heboh seperti biasanya. Gadis itu terus-terusan menidurkan kepalanya di atas meja. Saat ditanya bilangnya tidak apa-apa.


"Ra, lo kenapa, sih, hari ini? Dari pagi sampai sekarang murung terus," kata Gia yang sedang memasukkan buku ke dalam tas. Sahabat Cara ini juga bekerjasama dalam grup surprise yang Raca buat. Rencananya Gia akan membeli kue bersama Haidan sepulang sekolah ini.


Ingin rasanya Cara berteriak kepada sahabatnya jika dia ingin diucapkan ulang tahun. Semenjak pagi hingga sore ini, belum ada satu orang pun yang langsung mengucapkan "hbd" atau "selamat ulang tahun" padanya. Apa iya harus Cara pancing dengan mengepos foto masa kecil dengan caption "alhamdulillah 16 y.o." di instagram. Namun rasanya Cara malas memposting foto seperti itu. Harusnya orang terdekatnya mengerti tanpa Cara kasih tahu.


Tidak ada jawaban dari mulut Cara. Gia hanya menahan tawa, dia tidak mau merusak rencana besar ini. Dielusnya kepala Cara yang menempel pada meja. "Gue pulang dulu, bye."


Setelah kepergian Gia, Raca pun mengajak Cara untuk pulang bersama. Dipakaikan helm pada kepala Cara. Sebenarnya ia tak tega melihat wajah Cara yang tidak ceria. Tapi bagaimana lagi. "Senyum, dong. Ntar gue ajak beli terang bulan kacang," kata Raca sambil memegang pipi Cara. Gadis itu tersenyum dengan terpaksa lalu naik diboncengan Raca.


Karena sengaja melama-lamakan untuk mengantar pulang Cara. Diajaknya gadis itu untuk membeli terang bulan kacang dipinggir jalan. Sebenarnya Cara meminta untuk dibawa pulang saja, tapi Raca menyuruh agar Cara menghabiskan disini. "Gue temenin sampai lo habisin terang bulan itu."


Terang bulan kacang tidak bisa mengembalikan suasana hati Cara. Makan satu saja dia sudah kenyang. Ingin rasanya pulang dan tidur untuk melupakan hari ini. Cara benci hari ini. Hari dimana 7 tahun lalu bapaknya dibawa polisi setelah Cara meniup lilin angka 9 dan sekarang semua orang lupa akan hari ulang tahunnya. Cara jadi rindu Kak Zul yang dulu selalu memastikan bahwa cowok itu yang akan mengucapkan pertama. Andai Kak Zul masih tinggal di depan rumahnya. Pasti malam-malam seseorang mengetuk jendela kamarnya dan mengucapkan "selamat ulang tahun Amel". Mengingat itu Cara jadi rindu.


"Gue mau pulang."


Raca menuruti Cara karena baru saja Randy bilang jika semuanya sudah beres. Dia tidak sabar melihat ekspresi Cara. Atau gadis itu sudah menebak jika akan diberi surprise? Rasanya tidak.


Setelah sampai di rumah, Cara langsung masuk tanpa berucap pada Raca. Saat Cara masuk ke dalam rumah, segera Raca berlari menuju jendela kamar Cara. Dengan bantuan Heri, Raca berhasil masuk ke kamar Cara. Nani memberikan kue pada Raca, "kamu saja yang bawa."


Di luar kamar, Cara terus membuka setiap kamar mencari keluarganya hingga ke halaman belakang. Sepertinya Hafidz sedang di warung bersama Ibu, sedangkan Bapak dan Kakaknya masih ditempat kerja. Dibuka kamarnya, niatan untuk segera tidur gagal saat tiba-tiba sebuah terompet mengagetkannya. Lampu kamar menyala. Cara menutup mulutnya karena terkejut.


"Selamat Ulang Tahun Cara!!!"


Rasanya tidak menyangka jika orang terdekatnya membuat sebuah kejutan untuknya. Tidak ada bayangan jika ia akan mendapat kejutan. Ditiupnya lilin berangka 16 itu. Cara sudah mengucapkan make a wish dan berharap jika akan terkabul.

__ADS_1


"Gimana? Lo nyangka, nggak?"


"Nggak. Lo kok bisa disini?"


"Akhirnya rencana gue berhasil. Tadi gue pakai jurus berpindah tempat."


Cara tertawa dan memukul dada bidang Raca. Ternyata Raca yang sudah merencakan kejutan untuknya. Tidak menyangka jika Raca bisa membuat kejutan. Dipeluk satu-satu anggota keluarganya. Doa pun terus mengalir untuk Cara.


"Tetap jadi permata yang berharga bagi Bapak," bisik Heri pada putrinya. Cara mengangguk dan memeluk bapaknya sangat erat.


~•~


Kini semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Menunggu Nani yang sedang menyiapkan makanan dibantu oleh Cara dan Gia. "Jadi tadi pagi saat Cara tanya nasi kuningnya buat apa, Ibu pakai alasan pesanan?"


Ternyata, ucapan selamat ulang tahun tidak harus tepat saat pergantian hari. Bahkan, menurut Cara ucapan itu tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah masih bisa berkumpul bersama orang-orang tersayang. Melihat mereka tersenyum dan tertawa. Itu sudah cukup.


Rumah Cara jadi makin ramai karena bertambahnya Raca, Haidan, dan Gia. Mereka adalah teman sekotak dan sahabat bagi Cara. Walau dia dan Haidan suka berantem, tapi Haidan tetap yang paling top kalau urusan lawak. Tanpa Haidan, dikelas akan sepi.


"Ini rencananya udah dibikin sejak kapan?" kata Cara membuat semua menatapnya.


"Tanya aja sama yang punya rencana," kata Haidan menyenggol Raca yang duduk disebelahnya.


"Kemarin waktu lo di rumah Gia, gue ke sini."


"Pantes ada terang bulan kacang dimeja waktu gue pulang. Oh, iya. Terang bulan kacangnya tadi mana, Ka?"

__ADS_1


"Masih dimotor."


Segera Cara berlari. Terang bulan yang tadi tidak selera dimulutnya sekarang berubah menjadi hal yang harus ia selamatkan. Ternyata kantong kresek itu masih menggantung disetir motor Cara. Gadis itu mengelus dada lega. Ia takut jika ada orang yang mengambil terang bulan favoritnya.


Cara mendekat untuk mengambil terang bulan itu. Saat melihat rumah didepan rumahnya, dia jadi ingat akan teman masa kecilnya. Harusnya Zul ada kumpul bersama orang-orang yang Cara sayang. Ditambah sekarang Zul sendiri di kota ini. "Kak Zul apa ingat ulang tahun aku?"


~•~


Gia dan Haidan berpamit pulang setelah perut mereka penuh. Sebuah hadiah Cara dapatkan. Kata Haidan, hadiah itu dipilihkan oleh Raca. Entah apa isinya. Semua keluarganya dan Raca juga memberinya hadiah. Sekarang Cara disuruh untuk unboxing hadiah.


Pertama hadiah dari Gia. Sebuah sling bag yang sangat Cara inginkan. Dia pernah mengatakan pada Gia dan sahabatnya itu membelikannya. Baik sekali.


Lalu hadiah dari Haidan. Sebuah sandal jepit dengan gambar kacang. Sangat berguna dan menggemaskan. Jadi pingin nimpuk Haidan pakai sandal ini.


Hadiah dari Randy adalah sepatu yang sudah lama kakaknya janjikan. Sepatu yang dulu tidak jadi beli dengan alasan minggu besok seterusnya hingga sekarang. "Makasih, Kakak tercinte," kata Cara memeluk Kakaknya dan memberikan kecupan dipipi. Raca yang melihat jadi pingin juga.


Hadiah dari Nani, Heri, dan Hafidz. dijadikan satu. Dari bentuknya, sih, ini cukup besar. Saat Cara buka, gadis itu tidak menyangka. Sebuah hadiah termahal yang pernah ia dapatkan. MacBook. Gadis itu menangis dan memeluk kedua orangtuanya.


"Kak, itu di dalamnya masih ada hadiah dari Hafidz," kata Hafidz menunjuk dibalik bungkus laptop yang Cara pegang. Saat Cara membaliknya terdapat sebuah notes dengan tinta hitam yang seperti cekes remes. Cara mengacak rambut dan mencium adiknya setelah membaca notes itu.


"Ayo, sekarang dari orang spesial," sindir Randy.


Cara tersenyum dan membuka sebuah kotak berwarna coklat. Didalamnya ada sebuah jepit berwarna krem dan sebuah puisi yang ditulis langsung oleh Raca. Setelah membaca puisi itu Cara tersenyum. Tidak menyangka jika Raca bisa puitis.


~•~

__ADS_1


__ADS_2