
Aku masih mengerjap ditempat, apa yang harus aku lakukan sekarang, aku baru sehari dan akan menjadi Bu Kades.
What the hell? Tetuah desa ini benar-benar halal untuk di sumpah, aku terdiam sejenak disaat semua mata memandang ke arahku.
Tapi ada beberapa tatapan yang menatap sinis yah terutamanya dari gadis-gadis desa yang sudah mati-matian ingin mendapatkan Pak Kades.
Sedangkan aku, wanita lugu berkedok mahasiswi yang akan melakukan penelitian abal-abal baru sehari sudah dicalonkan menjadi Bu Kades.
Oke, untuk kali ini aku berusaha bersikap tegas, aku tidak mau!
"Maaf Mbah, bukannya menolak-ka apalagi ndak kuhargai adat dari desa-ta, tapi ndak bisa-ka, pernikahan itu bukan hal sekali jadi, harus-ka dulu memikirkan kedepannya dan juga saya disini cuma untuk penelitian bukan menjadi istri orang."
Semua orang terdiam mendengar kalimatku, bahkan ada yang tidak percaya aku menolak menjadi istri Pak Kades, lagipula logikanya bagaimana bisa aku balas dendam kalau menjadi istrinya.
Aku tidak ridho.
"Bener kata Dek Gea, Mbah, berikan saya waktu untuk mencari calon istri agar bisa memenuhi adat desa ini, bukan menjadikan orang luar yang tidak tahu apa-apa sebagai korban," Pak Kades membelaku.
Aku malas dibela oleh nya tapi kali ini aku perlu pembelaan atas apa yang dituduhkan padaku.
"Tidak bisa!"
Tetuah desa itu menolak, yang membuat geram. "Maksa amat, sih!"
Pak Kades yang tidak jauh dariku dapat mendengar suaraku itu dan aku hanya bisa terdiam kesal, Pak Kades menatapku sekilas kemudian menatap kembali ke Mbah Sudarsono.
"Bukankah sebagai Kades saya memiliki hak untuk memilih sendiri terlepas dari adat desa ini, jadi berikan saya waktu dua puluh empat jam," Pak Kades kembali bersuara.
Semua penduduk tampak berbisik dan mengiyakan, aku pun memilih pergi dari sana meninggalkan mereka semua karena memang mumet dari sana.
Dengan menggendong Gibran, aku keluar dari balai desa, dan memilih berjalan kemana saja yang penting aku tidak mau pulang dulu ke rumah Mak Saharia.
Disaat menemukan tempat duduk yang pas, aku memilih menenangkan diri, aku belum melancarkan aksi balas dendam dan aku malah disuruh menjadi Bu Kades.
"Dasar Mbah-Mbah sarap!" kesalku.
"Jangan ditekuk, nanti gak cantik!"
Aku menoleh ke arah suara itu, Kak Ion rupanya, Kak Ion memilih duduk di samping ku dan dia datang bersama Reza anaknya.
"Kenapa?" tanya Kak Ion.
"Kakak, udah tahu jawabannya kan?" jawabku malas menerangkan semuanya.
Untuk apa aku terangkan kalau tadi Kak Ion juga ada disana untuk mendengarkan perintah kades.
"Hahaha, sabar yah, mau Kakak hibur gak?"
"Boleh, mau ngapain emang?"
Kak Ion mengambil sebuah gitar dari punggungnya, aku sampai tidak sadar di punggung nya ada gitar.
"Mau nyanyi, kamu mau lagu apa?"
__ADS_1
"Apa aja."
"Lagu bugis aja, mau gak?"
"Emang kakak tahu?"
"Tau dikit."
What? Aku aja orang asli Makassar gatau bahasa inggris dan bisa-bisanya Kak Ion tahu padahal dia berasal dari bekasi, you know? Planet bekasi.
"Gendong Reza bentar yah," Kak Ion memberikan Reza kepadaku dan aku menggendongnya.
Gibran duduk di samping ku, dan Kak Ion mulai memetik gitar nya, aku gatau loh kalau Kak Ion tahu main gitar karena sewaktu pacaran kak Ion, paling anti sekali.
Jreng!
"Maggina iya, upirasai, na si jokka na de gaga letukkenna ..."
Dan suaranya bagus, aku tahu lagu ini, lagu yang pernah viral karena dinyanyikan oleh pemenang ajang pencarian bakat di tv ikan terbang.
".... Batekku puadai mappoji, cawami mu baliangga ... Na engka aga mupau, pole timummu, oh kasih ..."
Aku sedikit mengerti artinya, itu berarti Berulang kuucap cinta, kau hanya tersenyum saja, tak terucap kata cinta, dari bibirmu, oh kasih.
Oke aku ngarang, sebenarnya lagu ini awalnya berbahasa indonesia yang di adaptasi ke bahasa bugis, aku sudah bilang kan, aku tidak mengerti bahasa bugis, terlepas dari segala hal yang mengatakan aku ini orang bugis.
"Dalam yah kak," sela ku dan Kak Ion tidak menjawab.
Entah kenapa kalimat di bagian itu sangat dalam dan bermakna sampai Kak Ion tersenyum simpul menatapku.
Aku mengikutinya bernyanyi karena aku memang hapal. "... Rekko memeng dega pappojimmu ri iya dememenna umelo manrasa mattajeng ...."
Sedikit mengartikan, kenapa lagu ini seolah begitu dalam padahal arti lagunya dalam versi bahasa indonesia adalah, Cinta bilang cinta, sayang bilang sayang. Jangan kau ganti aku dengan harapan.
Aku masih ngarang tapi makna dari lagu itu adalah ini.
Kak Ion kembali mengulang reff kedua dari lagu itu.
"... Rekko memeng dega pappojimmu ri iya dememenna umelo manrasa mattajeng ..."
Entah kenapa dikata Mattajeng Kak Ion menatap ke arahku padahal artinya adalah Menunggu.
"... Saba pappoji dena wedding ipassa, Aja nasessekale maddimonrinna, Rekko ati macinnong mappoji, tania ada ada bawang simata ..."
Jreng!
Kak Ion mengakhiri lagunya, dia tersenyum kepadaku, senyumnya begitu manis, kenapa dokter satu ini begitu luar biasa yah, aku sedikit kagum.
"Makasih Kak."
"Untuk, apa?"
"Lagunya."
__ADS_1
Kak Ion kembali memasang gitar di punggung dan mengambil Reza dari gendonganku.
"Kayaknya Kakak harus ke puskesmas lagi Gea, kamu mau ikut?"
Aku menggeleng, kurang kerjaan apa aku harus ikut ke puskesmas.
"Yasudah kalau begitu, Kakak duluan yah, kamu baik-baik disini dan jangan sedih lagi,* Kak Ion mengangkat jempolnya kemudian meninggalkanku bersama Gibran disana.
Aku memilih berjalan pulang ke rumah Mak Saharia sekarang, karena aku harus menyiapkan diri mengerjakan penelitian palsuku, bayangkan saja aku begitu serius karena kalian tahu.
Ini bukan penelitian palsu semata, seorang mahasiswi yang harus melakukan penelitian dari universitas tempat suami Enjel mengajar bersiap kugantikan.
Jadi aku disini benar-benar berperan sebagai mahasiswi sembari membalaskan dendam ku, karena nilai seseorang berada di tangan ku, walaupun dia sudah kubayar mahal.
Sesampainya di rumah Mak Saharia, kosong tidak ada Mak disana, aku mengajak Gibran masuk ke kamar.
Didalam kamar aku membuka laptopku, sudah jam dua siang ternyata, sudah berapa lama aku di balai desa itu.
Ping!
Aku membuka whatsapp dari desktop di laptopku, tampak banyak pesan dari dosen mahasiswi yang posisinya ku ganti kan.
"Kami butuh powerprint dari penelitian terhadap pendidikan di desa itu besok pagi, ini sudah hari kedua harusnya kamu sudah memulai kan?"
Begitulah pesannya. Aku disini untuk penelitian pendidikan pembelajaran di satu-satunya sekolah dasar di desa ini, kenapa aku tidak minta mahasiswi jurusan lain saja yah kenapa harus jurusan pendidikan yang lebih mengarah ke sosiologi.
"Dan deadline nya adalah enam pagi."
Aku melanjutkan membaca pesan itu, ah rasanya aku frustrasi belum sempat aku melancarkan aksi balas dendam aku sudah dipusingkan dengan ini.
Aku mengetik pesan. "Oke, akan saya kerjakan."
Kalian tahu, mahasiswi semester akhir yang aku gantikan ini, mewajibkan dirinya melakukan penelitian pendidikan, seberapa bagus tingkat pendidikan di desa ini, agar bisa direkomendasikan mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat kabupaten, sebenarnya tidak semua universitas melakukan ini.
Tapi menurutku ini lebih ke jurusan sosiologi daripada pendidikan.
Ping!
Satu pesan lagi.
"Kak Gea, kakak udah dapat tanda tangan persetujuan buat pelaksanaannya dari Pak Kades sana belum? Kalau udah fotoin yah, biar aku lampirkan dalam keterangan akhir."
Itu pesan dari Mahasiswi yang aku gantikan yah benar sekali teman-teman, aku yang meneliti dia yang merangkum dan sekarang aku harus bertemu PAK KADES LAGI!
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like
Kira-kra Gea jodohnya siapa nih?