Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 34. Husband Material


__ADS_3

#Gea


"Saya gak akan pernah tahu, bahwa kamu mencintai saya kalau saya tidak melakukan ini, Dek," ujar Mas Ozan yang membuatku menunduk.


Aku dan Mas Ozan kini berada di pinggir jalan di sebuah bangku yang terletak disana, mengobati tangan Mas Ozan yang tadi terluka.


Gibran sendiri memilih menunggu didalam mobil, menanti urusan Mama dan Papanya selesai.


"Mas, harusnya gak ngelakuin ini," jawabku membersihkan luka tersebut. "Bukannya Mas, ada urusan kepala desa hari ini?"


"Jangan pikirkan itu, Dek."


"Maksudnya, aku tidak sepenuhnya menghapus laporan Mas Ozan, aku minta maaf, Mas Ozan masih bisa kan menjabat sebagai Kepala Desa lagi?"


"Yang Mas mau sekarang itu, bukan jabatan, tapi kamu dan Gibran, kalau Mas harus kehilangan jabatan karena memilih istri, Mas rela kok Dek."


"Mas, seharusnya gak melakukan ini," jawabku yang membuat Mas Ozan tersenyum pelan.


"Mas, akan tetap melakukannya karena satu dari tujuh belas cara Rasulullah memuliakan istrinya adalah pengertian," Mas Ozan mengusap kepalaku pelan. "Suatu hari Rasulullah tengah bepergian untuk berdakwah hingga sampai rumah dalam kondisi sudah larut malam. Karena tidak ingin mengganggu Aisyah (Istri Rasulullah) yang sudah tertidur, beliau pun tidur di depan pintu dengan menggunakan sorban beliau sebagai bantal untuknya dan kain tipis sebagai alasnya yang menjadi wujud bahwa keutamaan memuliakan istri adalah hal penting."


"Lalu?" tanyaku lagi.


"Ketika pagi hari Aisyah membuka pintu ia terkaget kaget dan bertanya mengapa Rasulullah tidak mengetuk pintu dan membangunkannya, Rasulullah bersabda Aku pulang larut malam. Karena khawatir mengganggu tidurmu, aku tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu."


Aku tertegun, Mas Ozan adalah definisi dari sebenar-benarnya husband material di dunia ini, aku menunduk malu karena seharusnya aku bersyukur memiliki Mas Ozan selama ini.


Baper Gea! Bentar lagi MELEYOT! Ayok masih setres belum depresi.


"Jadi Mas Ozan, mau jadi kayak Rasulullah?" tanyaku setelah selesai memperban tangan Mas Ozan.

__ADS_1


"Mas bukan orang yang baik dek, betul kata kamu, Mas brengsek, tapi Mas selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu."


Aku kembali terdiam, Adem yah, gatau lagi deh kondisi hatiku sekarang lagi gak karuan gimana coba gak karuan, suamiku idaman gini.


"Maafin Gea, Mas, Gea sempat menyimpan dendam kepada Mas Ozan."


Mas Ozan tersenyum ramah, ia menarik bahuku sehingga membuat kepalaku bersandar pada bahunya, betapa romantis scene ini.


"Itu wajar kok, lagipula yang Mas lakukan itu memang sudah fatal, setelah ini, kita ketemu orang tua kamu dan jelaskan semuanya," jawab Mas Ozan gentle.


"Kalau Abah marah besar, terus mukulin Mas gimana?"


"Mas terima aja," jawab Mas Ozan padaku. "Karena Mas yakin dek, orang tua kamu adalah orang terpandang, Mas memang bersalah tapi Mas tidak akan menyerah meminta sebuah maaf dari mereka."


"Hm."


"Kamu tahu, Dek?"


Aku sekarang tidak fokus pada Mas Ozan, aku sibuk menyandarkan kepalaku pada bahunya, kenapa rasanya begitu nyaman yah.


"Setiap wanita memiliki cita-cita seperti Aisyah dan Khadijah, diperlakukan dengan istimewa oleh Rasulullah, dan maka dari itu Mas akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu."


"Kenapa Mas, begitu?" tanyaku pada Mas Ozan.


Mas Ozan beringsut mengelus kepalaku perlahan, memberikan kehangatan disana yang membuatku terdiam sejenak.


"Karena cinta Mas lebih besar kepada Allah, dan ketika Allah memberikan petunjuk pada Mas untuk mencintai kamu, berarti kamu adalah yang terpilih dari jodoh yang sudah Allah tunjukkan kepada Mas," jawab Mas Ozan dengan suaranya yang lembut.


"Till Jannah?" tanyaku menatap wajah Mas Ozan.

__ADS_1


"Benar, Mas akan meminta kepada Allah untuk bertemu kamu dua kali, sekali didunia dan sekali lagi disurga."


BAPER! WOI BAPER! NAPA SIH SUAMIKU INI MENEKAN KISAH BANGET! AKU KAN MELTING BUND.


"Kalau kata orang, Cinta itu yang nentuin Lauhul Mahfudz dan kematian yang menjadi saingannya, tapi walaupun begitu, Cinta sejati tidak berakhir dengan kematian. Jika Allah SWT menghendaki, cinta itu akan berlanjut sampai ke surga."


Bentar lagi aku pingsan ajalah! Suami Sholeh gini limited edition, ya Allah.


"Jangan ragu yah Dek, sama Mas, Mas janji akan menjaga kamu sesuai janji Mas, karena Lelaki yang baik tidak akan bermain-main dengan cinta, sebab dia tahu kata cinta menuntut tanggung jawab."


Obrolan kami sangat manis sebelum harus terhenti karena sudah memasuki waktu sholat Jumat, Mas Ozan pamit menuju masjid yang ada didekat sana, sedangkan aku menunggu di mobil.


Sebelum Mas Ozan pergi, dia menyempatkan diri mencium keningnya dan berbisik. "Salah satu dari tujuh belas cara lainnya Rasulullah memuliakan istrinya adalah, dengan mencium keningnya, Mas cinta sama kamu, Dek."


Mas Ozan berlalu pergi dengan motornya, sedangkan aku! Gak karuan udah gak karuan.


DEMI APA AKU BAPER! STOP! PERTAMA-TAMA MARI KITA MENJILAT LUDAH SENDIRI, Aku masih berdiri di samping pintu mobil sebelum Mas Ozan tersenyum dan berlalu menuju masjid.


Oke aku pingsan.





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like.

__ADS_1


Menjelang Tamat hiks~


Update lagi gak? Ayok komen yang banyak, kalau komennya banyak aku Update lagi.


__ADS_2