Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 38. Adek, Buat Gibran?


__ADS_3

#Gea


"Tadi Abah sudah bicara dengan Babah-nya Ozan, lewat telepon, dan kami sepakat akan mengulang kembali akad nikah kalian, dan sekalian di sahkan secara negara serta disempurnakan secara agama."


Aku dan Mas Ozan terdiam, menatap Abah yang sedang menjelaskan, setelah makan malam, Abah tampak berbicara serius untuk hal ini.


"Karena ada dua hal dalam Islam, yang mengharuskan akad itu diulang, yaitu terucapnya talak dari sang suami, dan tidak tercapainya syarat sah akad itu, kan kalian nikah walinya bukan Abah, secara Islam Abah masih hidup jadi harus diulang."


"Fauzan, pribadi ikut aja apa kata Abah, Gea juga gitu, iya kan dek?" jawab Mas Ozan melirikku sejenak.


"Gea, juga ikut Bah," jawabku menyetujui.


Aku merasakan suasana keluargaku malam ini berbeda, setelah kehadiran Mas Ozan, Abah dan Mak sudah tidak berbicara menggunakan logat daerah, takut Mas Ozan gak paham dan alhasil sekeluarga formal semua jadinya.


Abah mengangguk atas jawaban kami, sementara aku segera berdiri membantu Mak membersihkan meja makan dan mencuci piring.


"Papa, Gibran hari ini mau tidur sama Papa dan Mama yah," Gibran menghampiri Mas Ozan yang membuat Mas Ozan segera menggendong Gibran.


"Boleh, dong sayang, yaudah ayok ke kamar, Bah, Fauzan duluan dulu yah ke kamar mau nidurin Gibran, dek, Mas duluan yah," jawab Mas Ozan setelahnya berpamitan denganku dan Abah yang masih ada di meja makan.


"Mas, nanti Gibran suruh cuci muka sama gosok gigi yah, terus ganti bajunya," jawabku.


Mas Ozan sudah menghilang dari pandanganku dan sudah masuk ke dalam kamar, sementara aku masih berdua dengan Abah.


Aku sedang menyusun piring sementara Mak sudah ada di dapur.


"Kamu cinta sama Fauzan?"


Eh, suara siapa itu? Abah ternyata, tumben Abah sama aku bicaranya formal Indonesia begini, gapapalah sekali-kali.


"Hm, Gimana yah Bah, Mas Ozan itu kan orang yang paling kak Ratna cinta," jawabku yang membuat Abah tersenyum.


"Ratna dan kamu itu sudah beda alam, Ratna sudah tidak ada hubungan kodratnya lagi dengan kita, lagipula Ratna juga bahagia, lihat kamu sama Fauzan."


"Panggil Ozan aja Bah, gausah Fauzan, yah gimana yah Bah, Gea bingung."


"Bingung kenapa?" tanya Abah padaku.


Aku tidak menjawab, yah aku juga bingung kenapa yah? Wah kadang-kadang nih mulut suka ngajak berantem, minta dilakban.


"Dengerin Abah, Gea, Abah tuh yakin banget, kalau dua orang sudah ditakdirkan Allah untuk bersama, maka dari sudut bumi manapun meraka berasal pastilah mereka akan bertemu, dan itu sedang terjadi sama kamu dan Ozan kan?"


Benar sekali, buktinya sejauh apapun aku menghindar dari Mas Ozan, tetap aja aku ketemu dan endingnya jadi begini rasanya beginilah alam semesta dan Allah mengatakan bahwa kami berjodoh!


"Bingung aja Bah, pasti ujiannya banyak," jawabku, sok berat hidup banget aku astagfirullah padahal hidupku bahagia-bahagia aja.


Perasaan lobang hidung masih keluar angin, jantung masih berdetak walaupun dah gak normal kalau di gombal Mas Ozan, kaki masih bisa jalan, sedikit setres belum depresi.

__ADS_1


"Emang cuma kamu aja yang dapat?"


"Eh."


"Allah, gak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hambanya, itulah yang menjadi tolak ukur ujian untuk hamba-hambanya, kalau kamu ngeluh sekarang, kata Allah, emang cuma kamu yang dapat ujian, semuanya sama," jawab Abah menodong langsung ke ulu hatiku.


Nih yah, buat yang suka insecure, suka ngeluh, kurang bersyukur kayak aku, udahlah tertampar-tampar sama kalimat Abah.


Dan guna menghindari pembicaraan lebih lanjut dengan Abah, sebagai anak durhakim yang sholehah, aku memilih mengangkat piring ke dapur dan dimana disana sudah ada Mak yang nyuci piring.


"Gea aja yang nyuci," ujarku menaruh piring di wastafel.


"Ndak usah, kamu ke kamar aja temenin suami kamu, biar Mak yang nyuci," jawab Mak yang ikut-ikutan formal.


"Nanti, Mak capek."


"Emang, kamu pernah bantuin Mak nyuci?"


"Gak, sih."


"Sana sama Mas Ozan aja, besok Mak mau denger kabar kalau ada gempa lokal dirumah," jawab Mak tersenyum malu.


Benar-benar ambigu, Gempa lokal apa coba!


Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar, dimana disana di ranjang ada Mas Ozan dalam posisi duduk sedang menidurkan Gibran yang ada di sampingnya dengan cara mengusap kepalanya sedang tangan satunya bermain ponsel.


Keluar dari kamar mandi, Mas Ozan menatapku intens yang membuatku mendelik. "Mas, tutup matanya."


Untung Gibran sudah tidur.


"Kenapa, ngelihat istri sendiri kok," jawab Mas Ozan dengan tampang tak berdosa.


"Aku mau pake baju tidur, tutup dulu matanya," jawabku yang membuat Mas Ozan tertawa kecil.


Mas Ozan meraih bantal dan menutup wajahnya, setelahnya aku langsung buru-buru berganti baju dan setelahnya aku mengikat rambut sebelum berjalan ke arah Mas Ozan.


Aku naik ke atas ranjang, dan Mas Ozan ARGHHH! DAMAGENYA YA ALLAH! SUAMI SIAPA SIH INI? BANTING GAK YAH?


Mas Ozan dalam posisi duduk, sedangkan aku juga memilih duduk dengan bersandar di kepala ranjang.


Mas Ozan menarik kepalaku tuk bersandar dibahunya, oke bohong, aku yang sengaja mepet-mepet, modusin suami sendiri ga dosa yah.


"Mas cinta yah sama Gea?" tanyaku mencari topik dan topiknya gak karuan banget.


Cinta Mas, sama kamu itu ibarat hukum Mad Thabi'i dalam Al Quran. Banyak banget."


GILA! GOMBALAN SUAMI SHOLEH EMANG BEDA YAH!

__ADS_1


"Dan Mas selalu berharap cinta kita layaknya Waqaf Lazim. Berhenti di akhir cerita cinta yang sempurna."


BAPER AKU BAPER.


Kami berdua hening sejenak, sebelum Mas Ozan menaruh ponselnya dan menatapku dalam.


"Dek?"


"Huh?"


"Gamau bikinin Gibran, adek?"


HEH! TO THE POINT BANGET NIH BUAYA SURGA!


Aku diam sebelum kami merasakan pergerakan dari Gibran yang langsung mengambil posisi duduk.


"Gibran, ga nyaman," Gibran beringsut naik ke pangkuan Mas Ozan dan memeluknya serta menyandarkan wajahnya di dada Mas Ozan.


"Gibran, gak ngasih restu," bisikku yang membuat Mas Ozan tertawa kecil.


Aku memilih masih berada dalam posisiku, duduk dengan bersandar pada bahu Mas Ozan, Mas Ozan menarik selimut, dimana Mas Ozan mengeluarkan tangan satunya untuk mendekap bahuku, dan satunya lagi mendekap Gibran, sebelum menutup tubuh kami bertiga dengan selimut.


Aku rasanya aku, aku BAHAGIA!





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Adegan Pemersatu Readersnya blum ada nih, ngoahahaha, ayok komen yang banyak biar Author update lagi sapa tahu hayalan kalian terkabul kan yah~


Visual Mas Ozan nih.


Punya Gea jangan diambil berdosa nanti :)


Colek dikit gapapa




__ADS_1


__ADS_2