Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 44. Tercapai


__ADS_3

#Gea


Karena kejadian semalam, yah semalaman aku dan Mas Ozan gak melakukan apa-apa kecuali memeluk dia yang masih kedinginan dan sedikit pilek.


Tadi subuh sehabis sholat subuh, biasanya Mas Ozan akan berolahraga tapi hari ini dia memilih tidur karena tidak enak badan, pasti karena efek kemarin.


Aku kini berada di dapur, sedang memasak untuk Mas Ozan, bahan-bahan dapur masih ada karena rumah ini kami tidak tinggalkan lama, yah ala kadarnya aja, apa yang ada itu yang dimasak, kalaupun ada batu bata di kulkas, itulah yang bakal aku sambel.


Aku tengah memotong sayur-sayuran untuk membuat nasi goreng, setelah motong, aku memasukkan telur ke dalam wajan yang sudah panas dan menumisnya bersama sayuran sebelum memasukkan nasi.


Sebenarnya beras didesa ini bagus, dan sangat pulen jadi gak cocok dijadikan nasi goreng, beras yang pulen begini cocoknya dijadikan sushi atau onigiri, bukan nasi goreng.


Tapi mau gimana lagi, bakatku cuma itu.


Disaat tengah sibuk membuat nasi goreng, aku merasakan sebuah tangan merayap memeluk bahuku serta sebuah kepala yang bersandar di sisi pundak kiriku.


"Pagi, sayang," bisik Mas Ozan yang kini sibuk menciumi leherku.


Aku membalikkan kepala kemudian mencium pipi Mas Ozan membuat Mas Ozan semakin lancar memeluk tubuhku.


"Mas, mau mandi dulu," ujar Mas Ozan.


"Jangan, Mas Ozan masih demam tunggu panasnya agak turun aja," jawabku yang membuat Mas Ozan mengangkat alis. "Mas Ozan, duduk aja dulu, sarapan."


"Panasnya udah agak turun kok ini, udah agak enakan dibawa tidur," jawab Mas Ozan berjalan ke arah meja dan duduk disana. "Argh."


Mas Ozan mengeluh dan memegangi kepalanya, melihat itu aku langsung mematikan kompor dan mendatangi Mas Ozan.


"Mas, Mas Ozan gapapa kan?" tanyaku yang membuat Mas Ozan mengangkat kepala sejenak dan menggeleng.


"Gapapa," jawab Mas Ozan yang membuatku belum puas akan jawaban dari pertanyaanku.

__ADS_1


"Mending, kita makan, ini tuh sakit kepala karena efek semalam, gapapa kok," jawab Mas Ozan kembali.


Aku menyerah, aku bangkit dan mengambil piring untuk membawakan nasi goreng kepada Mas Ozan.


Setelahnya aku menaruh nasi goreng itu di meja makan sebelum kami makan bersama, tapi aku masih penasaran ada apa dengan Mas Ozan.


Apakah dia sakit, atau bagaimana.





"Assalamualaikum."


Aku tengah duduk di ranjang sembari memainkan laptopku disaat suara salam diserta ketukan pintu membuatku bangkit.


"Waalakumsalam, udah pulang Mas?" tanyaku meraih tangan Mas Ozan dan menciumnya.


Mas Ozan mengecup keningku perlahan, kemudian masuk ke dalam rumah. "Udah, besok kita perginya sama aja yah, Mas gak tega ninggalin kamu sendirian."


Aku hanya mengangguk, Mas Ozan memilih duduk di sofa yang ada di ruang tamu sedangkan aku duduk disampingnya.


"Mas, itu kopinya, baru aja kubuat tadi karena aku dah nebak gak lama lagi Mas Ozan bakal pulang," Aku melirik cangkir kopi di atas meja.


Mas Ozan tersenyum kemudian meraihnya dan meminumnya, setelahnya dia kembali menaruh cangkir kopi itu.


"Dek, mengenai apa yang kamu mau, Mas udah siap kalau harus melakukannya sekarang," ujar Mas Ozan menatapku dalam.


"Kalau, Mas Ozan belum siap gausah dipaksa, kan gak harus juga melakukan hubungan suami istri itu, kan bisa nanti," jawabku yang membuat Mas Ozan menghela napas panjang.

__ADS_1


"Mas siap, Dek," jawab Mas Ozan mengangkat tubuhku dan menggendongku masuk ke kamar. "Mas udah janji bakal kasih adek buat Gibran, jadi gapapa kan kita kabulkan?"


Aku terdiam menunduk, sedangkan Mas Ozan kini menatapku dalam, dia meraba area tengkukku kemudian mendorong kepalaku menuju wajahnya.


"Mas-"


Aku belum sempat menjawab, karena ciuman terjadi yang membungkam pertanyaanku, Mas Ozan mencium bibirku, aku sendiri gatau harus bereaksi apa, membalas atau pasif aja.


Setelahnya Mas Ozan melepaskannya dan mulai melepas kemeja dan sarungannya, ia juga membantuku melepas pakaianku.


Setelah kita berdua sama-sama sudah tidak berpakaian, Mas Ozan kembali naik ke atas ranjang dan mulai menindih badanku.


"Mas, lakukan yah?" pinta Mas Ozan yang membuatku mengangguk.


Mas Ozan meraba area itu, rasanya aku kehilangan kepercayaan diriku, karena tak lama setelahnya, aku merasakan bahwa ada sebuah benda yang mengganjal dan semakin dalam mengganjal, yah ini benar terjadi.


Mas Ozan tersenyum dan menarik selimut untuk menutupi badan kami berdua sebelum akhirnya menggerakkan badannya dan melakukan apa yang seharusnya kami lakukan.





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


End?


Astagfirullah aku nulis apaan ini :)

__ADS_1


__ADS_2