
#Gea.
"Ah, gak dek," Mas Ozan mengambil posisi bangkit yang membuat otomatis benda panjang yang tidak perlu aku jelaskan apa namanya itu tidak jadi masuk.
Aku mengatakan ada sesuatu yang mengganjal, itu belum sepenuhnya, aku hanya sedikit gugup sehingga aku merasa bahwa hal ini benar terjadi, dalam kondisi tanpa sehelai benangpun, Mas Ozan berjalan meraih handuk dan melilitkan di pinggangnya.
Aku sendiri memilih menarik selimut untuk menutupi badanku, aku merangkak ke arah Mas Ozan yang kini duduk di tepi ranjang.
"Ada apa, Mas?" tanyaku yang membuat Mas Ozan menatapku sejenak.
"Tidak ada apa-apa dek, Mas kira ini akan mudah tapi ternyata tidak, disaat ingin melakukan itu rasa penyesalan itu kembali datang," jelas Mas Ozan yang membuatku terdiam.
Aku baru ingat kalau Mas Ozan masih suka terlarut dalam penyesalan dalam masa lalunya, dan kalau sudah begini aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Mas, tahu gak?"
"Hm."
"Awalnya aku benci banget sama Mas Ozan, aku gak tahu lagi deh Mas Ozan itu brengsek banget, bayangan saat kak Ratna meninggal, saat keluarga aku di usir dari kampung bahkan masih selalu ada, tapi aku yaudah damai aja sama keadaan, karena kalau kita larut terlalu dalam itu juga gak baik," jawabku yang membuat Mas Ozan menatapku kembali.
Sejak kapan, aku jadi bijak begini, bukannya apa-apa karakterku kan slengean gak cocok jadi Mario Teguh.
"Mas, tahu itu dek, Mas masih berusaha berdamai dengan keadaan, sebenarnya disaat Mas mengatakan, Mas gak akan maksa itu sebenarnya ucapan untuk keraguan hati Mas, walaupun kamu istri Mas tapi kami adiknya Ratna."
"Lantas, kenapa?"
"Mas, jadi labil begini," jawab Mas Ozan menunduk.
Dih, di bikin repot apanya yang harus dipikirin sih, tinggal masukin, maju mundur dikit, keluar dah kelar masalah, timbang ngadon anak doang dibikin ribet cuy.
"Mas itu gak labil, tapi Mas cuma masih terlarut dalam masa lalu, kita udah janji kan buat membuka lembaran baru, demi Gibran dan demi pernikahan kita, Gea juga yakin Kak Ratna juga tidak ingin ada hubungan yang renggang diantara kita," jawabku yang membuat Mas Ozan kembali menatapku.
"Kenapa, sekarang kamu jadi positif thinking begini Gea?"
Huh? Aku memilih bersandar di bahu Mas Ozan kemudian mencium pipinya sejenak. "Karena Abah bilang, jika dua orang sudah ditakdirkan berjodoh sama Allah, maka dari belahan bumi manapun mereka berasal, mereka pasti akan bertemu."
"Maafin, Mas yah, Mas belum bisa jadi yang terbaik."
"Gak perlu jadi yang terbaik untuk jadi baik, i love you," bisikku pada Mas Ozan.
Sumpah, aku merinding loh kok bisa-bisanya aku berpikiran sedewasa ini, sangat-sangat diluar nalar sekali kan coy?
Hahahaha, kurasa otakku dah bener karena diprank unboxing sebanyak tiga kali, dicicil terus itu dua kali lagi lunas bisa ambil angsuran baru tuh.
__ADS_1
Mas Ozan bangkit dia mengambil celana jeans pendek dan baju kaosnya dan berjalan kembali ke arahku.
"Mas mau keluar dulu yah, kamu tunggu disini aja," ujar Mas Ozan yang membuatku mendelik.
"Mau kemana?" tanyaku yang membuat Mas Ozan tersenyum.
"Ada urusan bentar," jawab Mas Ozan.
"Jangan macam-macam loh yah, Mas-" jawabku yang kemudian mengarahkan tanganku ke leher berusaha mengancam. "Kalau macam-macam, nanti aku potong itunya."
Mas Ozan hanya tertawa kecil kemudian mengecup keningku dan berjalan keluar dari kamar tapi belum lama dia keluar, Mas Ozan kembali masuk.
"Kenapa Mas?"
"Mas salah kostum dek, Mas mau sekalian sholat magrib juga di masjid, udah jam enam ini," jawab Mas Ozan yang membuatku menghela napas panjang.
Jadi tadi sejam kami ngapain yah, perasaan aku masih perawan ting-ting Bae dah.
Mas Ozan mengganti kostum dengan baju Koko dan sarungan, kemudian kembali pamit meninggalkanku sendirian di rumah, entah apa tujuannya.
Jika kalian mengatakan apa aku tidak takut ditinggal sendirian pada malam hari, for your information aja yah setan di desa ini Mandang fisik, dia mana berani gangguin aku.
•
•
•
Saya kini terduduk di teras masjid, yah setelah sholat Magrib saya memilih disana menunggu sholat Isya saja, sebenarnya saya bisa saja melakukannya dirumah.
Tapi saya merasa bersalah pada Gea karena tidak bisa menjadi suami sepenuhnya untuk dia, jadi saya beralibi bahwa saya punya urusan sebentar.
Disaat saya sedang merenung ditengah pikuk orang yang keluar dari masjid, sebuah tangan menepuk pundak saya yang membuat saya membalikkan badan saya.
"Eh, Pak Bram," Saya menjabat tangan pria tersebut.
Pak Bram ini adalah seorang peramu jamu di desa ini, dia sudah terkenal dengan ramuan jamunya yang sudah dikenal berkhasiat.
"Pak Ozan kenapa, ada beban pikiran yah, kan baru nikah nih, baru dua mingguan lagi, kan lagi segar-segarnya yah."
Saya tertunduk mendengar pertanyaan Pak Bram. "Saya belum melakukan itu, Pak."
Saya baru sadar pernikahan saya dan Gea tergolong masih singkat yah, baru dua mingguan dan saya berharap ini berlanjut sampai kami dipanggil Allah dan dilanjutkan di surga.
__ADS_1
Kembali ke Pak Bram, daritadi Pak Bram menatapku yang baru saja mengatakan bahwa aku belum melakukan malam pertamaku.
"Kok belum, Pak Ozan?"
Saya hanya terkekeh, membuat Pak Bram mengangguk pelan, kemudian Pak Bram menarik tangan saya berdiri.
"Saya tahu apa masalah Pak Ozan, ikut saya ke rumah, saya ada jamu yang bagus."
Hah? Maksudnya, saya tidak mengerti maksud dari Pak Bram, tapi saya tetap memilih mengikuti Mas Bram ke rumahnya yang ada di samping masjid.
Pak Bram ini tinggal sendiri, semenjak istrinya meninggal, sesampainya di teras rumah, Pak Bram segera masuk ke dalam rumah dan membuat saya menunggu saya di teras, tak lama kemudian Pak Bram kembali dengan sebuah botol kecil berisi cairan yang aku yakini jamu.
"Ini Pak Ozan di coba dulu ketika ingin melakukan itu, dijamin Mas Ozan bakal puas!!"
Hah! Jadi Pak Bram mengira saya mengidap itu dan tidak puas? Astaga tidak begitu konsepnya Pak.
"Ndak usah, Pak, saya gak minum beginian," tolak saya halus.
"Coba dulu, Pak, Gratis," jawab Pak Bram memaksa.
Akhirnya saya mengambil botol berukuran kecil itu, saya tidak tahu jamu apa tapi kata Pak Bram ini bisa membangkitkan yah begitulah.
Setelah selesai menjelaskan, saya memilih pamit karena kasian Gea dirumah tapi sebelum pergi Pak Bram menahanku.
"Pak Ozan minumnya satu sendok aja yah, itu soalnya dosisnya banyak."
Saya mengangguk dan mengucap salam, kemudian berjalan menuju rumah, tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah, saya segera masuk ke dalam.
Harusnya malam ini saya memberikan nafkah batin bukan untuk Gea dan mengejar malam pertama kami, saya teringat jamu tadi, saya merogoh saku dan mengambilnya.
"Haruskah diminum sekarang?" gumam saya pelan. "Tapi tadi Pak Bram bilang berapa banyak yah?"
"Mungkin semuanya," gumam saya meneguk habis jamu itu karena memang ukuran botolnya sangat kecil.
Seingat saya kata Pak Bram itu diminum langsung semua kan?
•
•
•
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like
Bukan Mas, kata Pak Bram diminumnya satu ton sekalian.