Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 07. Like Father Like Son


__ADS_3

"Anaknya lucu, pasti bapaknya menyesal sudah meninggalkan anak selucu dia."


HAHAHAHA aku kembali tertawa jahat lagi, karena anak yang dia maksud adalah anaknya sendiri, aku melirik Gibran, dia malah tertidur di gendongan ku, baguslah dia tidak perlu bertemu pandang dengan bapak kandungnya.


"Masih jauh Pak?"


"Panggil Mas saja, saya juga usianya tidak jauh dengan dek Gea."


Jijik, malas, muak, ah rasanya aku ingin langsung meremukkan pria satu ini, secara logika dan harfiah, tidak ada manusia yang tahan bersikap lama dihadapan orang yang dia benci kecuali dia mewarisi ilmu bermuka dua.


Dan kurasa aku baru saja mewarisnya, lain diucap lain di hati, aku benar-benar membencinya dan ingin cepat-cepat menghancurkannya.


"Ehm-"


"Kenapa?"


"T-tidak Mas," jawabku pelan.


Akhirnya kalimat ini terucap, what the hell? Aku memanggilnya dengan sebutan Mas? Mas Ozan Terhormat!


"Sudah tidak jauh, didepan sana sudah masuk perbatasan desa."


Aku tidak menjawab lagi, rasanya sudah agak malas berbicara dengannya dan aku ingin segera sampai di desa itu, jalanan berbatu, terjal dan curam, membuatku berpikir, apakah pria sialan ini ingin melakukan tranksasi cod dengan malaikat maut dengan cara melibatkan ku?


Pasalnya dia berkendara dengan santai sementara di kanan dan kiri kami itu jurang bayangkan, andai Mas Ozan ehm Pak Kades Argh! Pria sialan ini meleng sedikit sudah pasti kami tinggal nama.


Tak lama setelah obrolan prik, membosankan, aku menyadari pria ini pintar sekali mencari topik dan bersikap manis, apakah itu sikap manis yang dia tunjukkan disaat merayu keperawanan kakakku?


Cih.


Motor kami berdua memasuki area pedesaan, sangat asri dan hijau mengingatkanku kepada desa lamaku. Jalanan disekitar desa masih tanah namun di sekitarnya sudah banyak rumah penduduk.


Bahkan penduduk sudah lalu lalang beraktifitas disana, ada yang menjemur biji coklat karena memang sekeliling desa ini adalah hutan coklat dan ada juga yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.


Semua tampak baik-baik saja, sebelum Pak Kades satu ini kerap berhenti ketika di sapa penduduk dan setiap berhenti dia akan mengobrol panjang kali lebar yang aku tidak mood mendengarkannya.


Dari arah obrolannya, beberapa penduduk menggunakan bahasa indonesia walaupun logat daerahnya masih jelas, apakah kepala desa satu ini melatih warganya untuk berbahasa indonesia dalam percakapan sehari-hari?


"Mbah."


Pak Kades menghentikan laju kendaraannya didepan seorang pria tua yang sudah membungkuk jalannya.


"Mbah darimana?" tanya Mas Ozan Ehm Pak Kades pada Mbah-Mbah tersebut.


Mbah tersebut dia menjawab, dia menatapku tajam seperti merencanakan sesuatu melihat kedatanganku, namun berlalu begitu saja tanpa membalas sapaan Pak Kades.


Pak Kades naik ke atas motor kembali, kemudian menjalankannya menuju rumah penduduk yang akan aku tempati.

__ADS_1


"Itu namanya Mbah Sudarsono, dia Tetuah di kampung ini, karena dialah saya menjadi kepala desa, dia memang begitu terkesan tidak ramah tapi dia orangnya baik."


Untuk sekelas Tetuah Desa, dari sikapnya barusan menurutku sikap-nya benar-benar akhlakless.


Aku hanya beroh-ria, malas membalas percakapan tersebut, hening kembali sampai motor Pak Kades tiba disalah satu rumah warga.


"Nah sudah sampai, silakan Dek Gea, saya antar."


Pak Kades menurunkan koperku dan membawanya masuk ke teras rumah penduduk tersebut.


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam, eh Nak Ozan, masuk-ki Nak, lamanya lagi baru tidak datang ke rumah."


Seorang wanita tua dengan logat khas Makasaar-nya keluar dari sana, tersenyum dan ramah.


"Iyek, Tabe Mak, ini Mahasiswi yang akan melakukan praktik dan evaluasi di desa kita, sekiranya sudah kita bicarakan kemarin dengan perangkap desa, dia mau tinggal di rumah Mak, beberapa waktu."


Pak Kades menjelaskan pada sosok ibu tua yang dia panggil Mak, Ibu tua tersebut menanggapinya dengan ramah.


"Awwe! Senang sekali-ka ku rasa Nak, karena memang Mamak tidak ada ditemani disini, sendirian saja semenjak bapaknya Arif meninggal, baru Arif sekarang merantau ke kota," jawab Ibu tersebut sumringah. "Siapa nama-ta nak?"


Pertanyaan itu dtujukan kepadaku, tapi aku nge-lag untuk beberapa saat.


"Eh ndak mengerti kah?"


"Ehm, saya mengerti kok Bu, kebetulan saya juga asli Makassar, Bu."


Aku tersenyum kecil. "Perkenalkan Bu, nama saya Gea, dan ini anak saya Gibran, mungkin kami akan merepotkan beberapa waktu, ndak apa-apa ji Bu?"


Logat Makassar ku keluar sudah, dan Pak Kades satu ini cuma bisa menatap cengo.


"Panggil Mak saja, nama Mak itu Saharia, ndak apa-apa, biar Mak ada temannya," jawab Mak Saharia.


Betapa ramahnya penduduk disini, disaat kami asik mengobrol Gibran tampak membuka matanya dan mendehem perlahan.


"Hoam-"


"Gibran, sudah bangun?" tanyaku menatap Gibran.


"Mama?"


Gibran langsung menatap ke arah Pak Kades. "Mama, dia Papaku yah kok mukanya sama?"


"Ehm-"


Aduh! Gibran-Gibran baru bangun kau sudah mengajukan pertanyaan yang benar-benar membuat Mama pusing.

__ADS_1


"Ehm, bukan Nak, ini namanya Om Ozan, dia Pak Kepala desa disini, Papa Gibran kan orang jahat," jawabku sekenanya.


Aku sengaja menekan kalimat orang jahat dan melirik Pak Kades, sepertinya didikan ku kali ini salah menanamkan kebencian kepada Gibran.


"Tapi Mak lihat-lihat, si Gibran ada miripnya tong sama Pak Kades, kayak anak sama bapak," cetus Mak Saharia.


Glek.


Aku menelan ludah ku perlahan. Fakta bahwa wajah Gibran mewarisi wajah Pak Kades selaku ayah biologisnya itu tidak bisa di pungkiri.


"Mak, bisa aja, mungkin kebetulan aja kali," jawab Pak Kades menatap Gibran dalam.


Wajah Pak Kades tampak menerawang jauh, entah apa yang dia pikirkan tapi perasaannya tidak enak setelah ini.


"Bener, kalau kata Arif itu eh, apakah itu namanya deh, ku lupa-mi, itu bahasa inggris, Like Father Like Drone," jawab Mak Saharia semakin membuatku celingukan.


"Like Father Like Son, Mak," ralat Pak Kades dengan senyum manisnya.


Munafik kalau aku katakan senyumannya tak mengandung racun, pantas sedari tadi gadis-gadis desa disini gemeteran dan gelenjotan sewaktu aku dan Pak Kades lewat.


"Yaudah kalau begitu, saya balik dulu yah Mak, dek Gea, harus kembali ke kantor desa," Suara Pak Kades mengagetkanku.


"Eh, iya Pak, Makasih sudah mengantar saya sampai kesini," jawabku tersenyum.


Sebenarnya aku tidak perlu berterima kasihkan? Toh dia yang menawarkan diri mengantarkan ku.


Pak Kades tersenyum kemudian mencubit pipi Gibran. "Dada Gibran, Om pergi dulu yah."


NAJIS! WAJAH ANAKKU DISENTUH OLEH DIA! ARGHHHH! Tetap kalem aku bertingkah seolah tidak terjadi apapun.


"Dadah-"


Plis Gibran jangan jawab itu jangan jawab itu.


"Dadah juga Om."


Ah Gibran kapan kau akan berpihak kepada Mamamu ini?





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


Like Father Like Son gak tuh


__ADS_2