Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 08. Darion Arham Dirgantara


__ADS_3

"Mama, Om itu Papa aku yah?"


Kalian tahu? Aku frustrasi sekarang dalam menghadapi pertanyaan Gibran yang semakin aneh.


"Bukan, nak," jawabku pelan.


"Tapi Ma-"


"Gibran, sudah yah, gausah nanya ini itu lagi," Biasanya kalau sudah ku begini kan Ridwan akan menurut permintaanku karena dia tidak ingin aku marah.


"Masuk-ki, Nak!"


Ah aku hampir melupakan Mak Saharia. Mak Saharia mengajak aku dan Gibran masuk ke dalam rumahnya, aku tersenyum dan berjalan mengikutinya masuk ke rumah ini.


Sebuah rumah pondok dengan bahan kayu, tidak terlalu besar dan mirip lah dengan rumahku di desa dulu, seluruh rumah ini berbahan dasar papan kayu dengan jendela kaca yang memiliki design tempo dulu.


Kalian tahu maksudku? Jendela kaca yang disusun keatas itu, kalian cek saja Google, tugas kalian membaca disini.


Aku berjalan menyeret koperku dengan tangan kanan sementara tangan kiriku, memegang Gibran.


"Istirahat-ki dulu, Nak," ujar Mak Saharia membuka pintu kamar yang akan aku tempati.


Sebuah kamar dengan ukuran sedang, lengkap dengan kasur yang cukuplah untuk aku dan Gibran serta lemari, aku sadar aku cuma menumpang disini, tidak baik rasanya berekspestasi tinggi.


"Ndak apa-apa ji kalau Mak tinggalkan sendiri? Mau ke pasar sore dulu, belanja buat makan malam," Aku mengangkat kepalaku menatap Mak Saharia.


"Ikut-ka Mak," Aku menawarkan diri untuk ikut.


Awalnya Mak Saharia menolak karena takut aku lelah karena dari perjalanan jauh, tapi bukan Gea kalau tidak keras kepala makanya aku memaksa ikut dan Mak pasrah.


Tanpa ganti baju, aku segera menarik tangan Gibran dan menggendongnya, aku mengikuti Mak keluar dari rumah, jarak pasar dan rumah Mak Saharia tidaklah begitu jauh.


Kami cuma perlu berjalan santai disana, sepanjang jalan, kami semua di sapa oleh beberapa penduduk, bahkan terlihat beberapa penduduk pria bertelanjang dada membawa alat mandi, dimana mereka biasa mandi di sumber mata air.


"Pak Dokter, habis mandi, eh ada si kecil Reza."


Suara Mak Saharia membuatku berpaling ke arah sosok pria yang sedang dia temani bicara. Dokter?


"Iya Mak, biasa segar,"


Ah suara itu, siapa lagi dia siapa lagi?


"Mak sama siapa itu?" tanya dokter itu yang sudah pasti menanyakan keberadaanku disini.


"Oh ini Non Gea, dia mahasiswi yang bakal praktek disini, Non Gea ini Dokter Ion, Dokter Ion ini baik dia masuk desa buat praktek kesehatan disini," jelas Mak Saharia.


Ion? Darion? ARGH!


"Gea?"

__ADS_1


"D-Darion?" Aku mengangkat kepalaku menatap dokter yang di maksud.


Benar saja itu adalah Darion, MANTANKU! Aku dan Darion berpacaran sebelum aku kuliah, kami tidak lanjut karena aku sadar aku tidak lah dari keluarga berada, lagi-lagi masalah kasta, padahal keluarga Kak Ion sangatlah baik.


Setelah putus Kak Ion kabarnya menikah dengan seorang wanita dan kabarnya istrinya meninggal setahun yang lalu disaat umur anak mereka satu bulan, yang berarti dia DUDA!


"Kamu mahasiswi?"


Semoga Darion tidak tahu bahwa setelah putus aku sudah sarjana karena kami berpisah universitas setelah putus lagipula dia kakak angkatanku.


"Kak Ion, eh ada Reza," Aku berusaha ramah dan aku sudah kenal anak itu.


Foto dia dan bapaknya ~Kak Ion, sering terpampang di instagram, aku akui aku sering mengstalking mantanku ini.


"Kamu belum lulus kuliah?"


Syukurlah, Kak Ion tidak tahu, kalau dia tahu bisa gagal penyamaranku, sama seperti Pak Kades, Kak Ion bukan asli Makassar jadi dia masih menggunakan bahasa indonesia informal.


"Iya kak, sekarang semester terakhir dan harus ada praktek disini."


Entah kebohongan keberapa ini, kalian sudah menghitungnya?


"Wah, ada Gibran juga, semangat yah temenin Mamanya."


Tepat sekali Kak Ion tidak tahu kalau Gibran bukan anak kandungku, maka alasan ini jugalah kami tidak bisa berlanjut dulu, mengenaskan sekali.


"Pak Dokter dan Non Gea sudah saling kenal?" tanya Mak Saharia.


Aku tahu ada makna tersirat disana. Jangan berpikir aku ingin kembali pada kak Ion, prinsip ku adalah mantan yah mantan gaada tissu bekas dipake lagi.


Agar tidak membuang waktu aku mengajak Mak Saharia untuk segera berangkat ke Pasar, lagipula berlama-lama disini, membuatku sedikit gerah.


Mak Saharia setuju dan kami meninggalkan Pak Dokter Duda itu beserta anaknya, sugar daddy sekali dia.


Tak lama kemudian kami sampai di pasar aku tidak menyangka pasar di desa ini sangat besar dan lengkap, kecuali kau mencari jodoh disini, itu tidak dijual di pasar, secara logika untuk sebuah desa terpencil sulit rasanya menerima fakta bahwa fasilitas disini lengkap.


Buktinya listrik dan internet sudah masuk kesini, itu terbukti ketika kulihat ada pasangan muda berjualan pop ice diujung sana sementara disebelahnya sekumpulan pemuda sedang main game online.


Omset Pop Ice mungkin tengah naik sekarang, untuk kaum nikah muda, kecuali kau berasa dari keluarga good rekening.


Aku berjalan memasuki area pasar dan mengikuti Mak Saharia berbelanja.


"Mak?"


"Iya, Nak?"


Aku merogoh tasku dan mengeluarkan uang ratusan ribu kemudian menjejalkannya ke tangan Mak Saharia. "Ini pake buat belanja yah Mak."


"Eh Ndak usah Nak," tolak Mak Saharia yang membuatku memaksa.

__ADS_1


"Ambil-mi Mak."


"Ndak usah!"


Oke halal untuk dipaksa, dibanting dan sebagainya, sabar Gea beliau ini orang tua, dengan sedikit memaksa akhirnya Mak Saharia menerima.


Kami melanjutkan berbelanja namun sialnya aku terpisah dengan Mak Saharia.


"Dek Gea?"


"Eh Pak Kades?"


Astaga! Kenapa aku bisa bertemu pria sialan ini lagi, dan sedang apa Pak Kades disini, dia sudah berpakaian dinas coklat berbeda dengan saat menjemput kan, dan karismanya sekarang, Masya Allah.


Tapi aku tidak tergoda.


"Cari siapa Dek?"


"Mak Saharia."


"Jangan-jangan kamu terpisah yah?"


Dengan malu, gengsi dan sebagainya aku mengangguk, Pak Kades menghela napas panjang kemudian menarik tanganku pergi dari sana.


Eh tunggu, menarik, oke menarik tanganku, yang berarti aku sedang disentuhnya, Ya Allah sesampainya di rumah aku akan mencuci tanganku sebanyak tiga kali dan mandi besar.


Rasanya najis disentuh oleh pria sialan ini, dan hebat lagi bodohnya aku malah pasrah tanpa perlawanan, sepanjang ditarik Pak Kades mencari Mak Saharia, sekumpulan ibu-ibu dan anak gadis desa melihatku sinis, mungkin mereka iri, pendatang baru bisa dekat dengan Kades mereka yang tampan.


Andaikan kalian tahu, AKU TIDAK MAU DISENTUH OLEH PRIA SIALAN INI! Aku hanya pasrah.


"Mama, Gibran capek."


Apalagi ini, Gibran memang berjalan sambil kupegang, namun belum aku menjawab pria sialan ini langsung menggendong Gibran dan menarik tanganku mencari Mak Saharia.


Tampak seperti keluarga cemara ah tidak keluarga tercemara maksudku.





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Dokter Ion atau Pak Kades?

__ADS_1


Darion ini anaknya Gevanya dan Arga di novel sebelah~


__ADS_2