Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 13. Bintang Satu


__ADS_3

Hari sudah malam, yah aku termakan omonganku sendiri, kalian ingin tertawa? Dahlah kena karma aku tuh.


Beberapa penduduk desa kini tengah menyiapkan pernikahan dadakanku dengan Pak Kades, menyesal sedikit tapi ini harga diri coy! Aku sudah mengiyakan dan mana mungkin aku langsung kabur begitu saja.


Dih mau ditaruh dimana mukaku, yang menentang Mbah-Mbah sarap tadi siang dan ingin kabur setelah mengiyakan, kalian lihat kan betapa lantang dan kekeuhnya aku dengan opini mentah Mbah Sudarsono, dan rasanya aku membutuhkan palu Thor untuk menghantam Mbah-Mbah itu.


"Non ikhlas-ki menikah sama Pak Kades?" tanya Mak Saharia yang membuatku menatapnya serius.


Kenapa keikhlasan ku harus dipertanyakan? Jelas aku tidak ikhlas, tapi apa mau dikata, kalimat sudah terucap dan semua tidak bisa ditarik.


Aku akan menikah tanpa kedua orang tuaku dan menggunakan wali hakim. Lagipula Mak dan Abah tidak mungkin datang ke desa ini.


Aku sedang di dandani oleh MUA Desa disini, wajahku sedari tadi menekuk karena tidak ikhlas dengan pernikahan ini, aku rasa MUA tadi juga kesal disaat mendadaniku, aku di dandani sederhana saja, dikenakan kebaya sederhana tanpa adat pernikahan orang bugis pada umumnya.


Setelah mendandaniku, MUA tadi yang aku ketahui bernama Rosma itu keluar dari kamarku, diluar kudengar dia berbicara dengan seseorang yang ku tafsir adalah Mak Saharia.


"Canrik-ki Non Gea, tapi ditekuk terus muka-nya jadi keliatan jelek, ndak ku suka saya, tidak senyum-senyumnya."


Begitulah kalimat yang kudengar dari Rosma dengan arah tujuan menjudge ekspresiku sewaktu di dandani, agak kurang ajar sih.


Menurutku Rosma tidak ada hak mengomplain apapun itu dariku, secara aku adalah costumer disini dan dia seller nya, aku yang harus mengkritik karena aku user-nya.


Dasar Rosma, bintang satu, seller banyak bacot!

__ADS_1


Tak lama setelah umpatan keluar dari mulutku, Mak Saharia masuk ke dalam kamar dengan membawa Gibran kepadaku.


"Mama. Mama mau ngapain?" tanya Gibran polos.


"Mau nyari bapak buat kamu," Oke aku tidak mengucapkan ini.


Yakali aku bilang kepada Gibran kita sedang berlibur tahu-tahu aku dapat bonus suami, bisa kena panic attack putra semata wayang ku ini.


"Ada Om Ganteng diluar, Mama mau nikah sama Om Ganteng yah, dia bakal jadi Papa aku?"


Gibran masih polos sangat-sangat polos, sampai rasanya aku ingin mengarungi bocah ini.


"Apapun yang terjadi kamu harus nurut sama Mama yah sayang," Gibran mengangguk kepadaku.


Aku yang sudah siap berjalan keluar dari kamar, iya benar sekali, acara akad dadakan ini di lakukan dirumah Mak Saharia, Gibran langsung di ambil oleh Mak Saharia.


"Sudah siap-ki Non Gea?" tanya Pak Azhar.


Pak Azhar adalah Ustad yang akan menjadi wali hakim ku, sementara di depan kami sudah ada penghulu yang menunggu.


Aku mengangguk, Penghulu tersebut kemudian mulai menjabat tangan Pak Kades, aku memejamkan mata seketika saat itu disaat Pak Kades mulai mengucap janji.


Pak Ustad mulai mengucap akad pertama. "Saudara, Fauzan Adam Adinata bin Denial Adam Dirgantara, saya nikah kan dan kawin kan engkau dengan Saudari Geavanni Ashraf binti Ashraf Gunahadi, dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai!"

__ADS_1


Hening!


Rasanya aku ingin memberontak dan menghilang dari muka bumi ini karena akad nikah ini.


"S-saya-"


Pak Kades tampak gugup.


"Saya terima nikahnya, Saudari Geavanni Ashraf binti Ashraf Gunahadi dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Bagaimana?"


"SAH!"


Oke Fix, sebentar lagi aku akan jadi Almarhumah.





TBC

__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


__ADS_2