Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 46. Baju Dinas


__ADS_3

#Gea.


Setelah menyelesaikan urusan di desa, aku dan Mas Ozan memilih kembali ke kota, karena memang Babah Adam dan Bunda Dikta sudah menunggu kami untuk melakukan akad nikah ulang.


Dan menurut adat setempat, walaupun itu akad ulang, tetap saja pasangan wanita dan prianya tidak bisa dipertemukan terlebih dahulu, makanya kini aku dan Mas Ozan tidak serumah.


Kami kembali ke kota sehari setelah kedatangan kak Dito dan sesampainya di rumah, kami langsung dipisah dan akad nikah akan berlangsung pada lusanya.


"Mas, udah makan?" tanyaku pada Mas Ozan saat sambungan telepon kami terhubung.


"Udah, kamu juga udah?" tanya Mas Ozan balik.


Aku mengangguk, walaupun aku tahu itu tidak akan bisa dilihat oleh Mas Ozan, aku memikirkan topik pembicaraan apalagi yang harus aku jabarkan sekarang.


"Itu, aja?" tanya Mas Ozan yang membuatku gugup. "Kamu gak rindu?"


"Gak, siapa yang rindu," Aku berusaha mengelak padahal sebenarnya rindu walaupun belum sehari kami berpisah.


"Kalau Mas, rindu," Mas seketika membuatku blushing.


Rasanya agak aneh digombal via telepon gini, aku butuh visualisasinya langsung, Mas Ozan dan aku mengobrol seputar Gibran dan sebagainya, yang penting sambungan telepon itu tidak terputus, dan kalau bisa sampai tidurpun terhubung.


"Kamu tuh surga yang dijanjikan Allah untuk aku, Dek, cuma Allah ngasih surganya duluan, kamu istilahnya itu Display Picturenya," Mas Ozan tertawa renyah dibalik telepon.


Aku sendiri, aku hanya diam tak bergeming, sepertinya harus kuhentikan sambungan telepon ini.


"Dek, sebelum dimatikan, Mas mau ngomong sesuatu," Mas Ozan menghentikan aksiku yang baru saja akan menekan tombol untuk memutuskan sambungan telepon itu.


"Apa?"


"Allah itu sayang sama kamu, kalau Mas ikutan sayang, gapapa kan?"


Kan! Kan! Kan! Buaya Surgaku Masya Allah, diabetes adek Mas dibuat oleh rayuanmu.

__ADS_1


"Udah, jangan lupa sholat isya yah sebelum tidur," ujarku. "Assalamualaikum."


"Kamu juga sayang, Waalakumsalam."


Akhirnya sambungan telepon kami berakhir, aku memilih duduk di atas ranjang saja tidak sabar rasanya ingin bersama lagi dengan Mas Ozan.


"Ge, gimana nih udah siap belum buat akad lusa, pasti udah kangen sama Mas suami," Aku menatap ke arah pintu.


Disana ada Vall dan Enjel, entah darimana datangnya kedua manusia laknat ini.


Mereka berdua berjalan ke arahku dan tanpa dosa duduk diranjangku, Malah Vall sibuk ngupil lagi, Vall kemudian berdiri dan berjalan ke lemariku, mengobrak-abrik sesuatu dari sana.


"Buset, ini apaan!" Vall berteriak sembari mengangkat sebuah long dress milikku yang bermotif pelangi.


"Baju dinas," jawabku singkat yang membuat Enjel tersenyum.


"Baju Dinas, ngantor pakai baju ini?" tanya Vall beralih ke depan cermin besar yang berada disamping lemari.


"Kayak handuk kost-kostan sih kataku," Aku cengengesan yang membuat Enjel ikut tertawa. "Udah simpan, itu baju Dinas tahu, ga cocok sama kamu."


"Baju Dinas apaan sih?"


"Tanya Enjel sana," jawabku merebahkan diriku di ranjang.


"Njel, Baju Dinas apaan?"


"Makanya nikah Vall, itu dipakai kalau sama suami aja, gak boleh sembarangan," jawab Enjel ikut merebahkan diri disampingku.


"Mohon maaf Ukhti, tapi sama suami alangkah baiknya tidak memakai apa-apa," jawab Vall ikut rebahan disampingku.


Kami bertiga sekarang dalam posisi rebahan, rasanya begitu nyaman bersama sahabat-sahabatku.


"Gea, mau nanya, gimana sih rasanya nikah sama orang yang udah ngehamilin kakak kamu," tanya Vall yang membuatku terdiam sejenak.

__ADS_1


"Rasanya pasti seperti gak percaya, awalnya gabisa menerima, tapi semuanya berubah," jawabku tidak melanjutkan pembicaraanku.


Aku langsung mengambil posisi duduk, Enjel dan Vall juga malah mengikutiku.


"Karena apa?" tanya Enjel kali ini.


"Tidak semua masa lalu yang buruk itu harus kita kenang, aku udah belajar ikhlas dan legowo, sudah takdir Allah juga kan, aku cuma mau berbakti aja jadi istri, sebrengsek-brengseknya Mas Ozan dia itu berbeda."


"Berbeda?" Vall menyandarkan kepalanya di bahuku begitupun dengan Enjel.


"Kata kak Ratna dulu, Mas Ozan itu bukan orang jahat hanya keadaan saja yang membuatnya begitu, dan setelah aku merasakannya, aku benar-benar sadar kalau Mas Ozan itu berbeda," jawabku yang membuat Enjel dan Vall mendelik.


"Kalian tahu gak sih tentang, Istri itu ibarat cuaca sedangkan suami adalah kotanya, jadi kota harus bisa mengadaptasi diri oleh perubahan cuaca, nah Mas Ozan begitu, mau bagaimanapun dia, dia sukses bikin aku jatuh cinta, terlepas dari dia brengsek."


"Katanya sih, Allah itu sayang sama aku, kalau Mas Ozan ikutan sayang gapapa kan yah, tapi kayaknya kebalik, Mas Ozan disayang sama Allah dan aku yang ikutan sayang," ujarku tersenyum pelan.


Vall dan Enjel memeluk erat tubuhku dan aku membalasnya, kedua sahabatku ini benar-benar mengerti perasaanku.


"Kayaknya kamu ketemu jodoh terbaik kamu, Ge," ujar Vall disambut anggukan kepala Enjel.


Benar, rasa-rasanya aku sudah menemukan tempat untuk pulang.





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


2 BAB lagi Tamat yah~

__ADS_1


__ADS_2