
"Nah, baik semua guru-guru dan adek-adek, sebelumnya terimakasih karena sudah memberikan kesempatan untuk melakukan penyuluhan disini," Aku memulai presentasiku
Kalian tahu, aku sebenarnya tidak berbakat untuk hal seperti ini, ditambah aku sama sekali tidak punya pengalaman untuk penyuluhan, objektifitas utamaku adalah memberikan sebuah konseling pendidikan untuk para siswa disini, sekiranya membantu mereka yang akan lulus untuk mendapatkan beasiswa sekolah di kota.
Di Desa ini pendidikan sangatlah minim menurutku, ditambah hanya ada sekolah dasar dan tenaga kerja guru yang tidak Lo kseberapa, dan itupun kebanyakan guru sukarelawan yang berasal dari kota.
Entah kenapa, sebuah mindset sudah tertanam di hati para warga desa, daripada capek belajar lebih baik mereka membantu orang tua bekerja di ladang atau di kebun, jadi tidak heran kalau delapan puluh persen penduduk desa ini buta huruf dan tidak bisa membaca.
Miris, dan inilah poin pertama yang membuatku serius dalam mengkaji serta melakukan penyuluhan pendidikan dan penelitan dari kampus.
Rasanya menyenangkan, contohnya hari ini, pengkajian berjalan dengan baik, warga desa itu semuanya ramah-tamah, mereka memiliki adab yang baik walaupun kurang pendidikan.
Aku ingat kata Abah, orang berpendidikan belum tentu dia punya attitude yang baik, tapi orang yang berattitude insha Allah bisa memiliki ilmu yang lebih tinggi dari yang berpendidikan.
Kenapa aku bilang begini, warga desa disini hampir semuanya kreatif, ada beberapa hal yang aku tidak temukan dari warga kota tapi aku menemukannya di warga desa.
Rasanya aku menemukan surga di tengah pedalaman kabupaten Pangkep ini, setelah selesai melakukan presentasi aku merapihkan semua peralatan ku dan memasukkannya ke dalam tas.
Jam pelajaran para siswa disana sudah dimulai, sedangkan aku berada di bangku yang ada di depan kelas sekolah itu, mencatat progres dari penelitianku kali ini.
Disaat aku sibuk, aku merasakan seseorang duduk di sampingku sehingga aku memilih membalikkan badanku dan menatap orang tersebut.
"Kak Ion?"
Kak Darion tampak memakai tas ransel sembari membawa Reza ke dalam pangkuannya, mau kemana dia.
"Gea, Kakak pamit yah, kakak mau kembali ke kota, sudah selesai program masuk Desa kakak disini," Kak Ion ingin berpamitan.
Mantanku satu ini, memang memiliki spek yang luar biasa, senyumnya bahkan tatapannya begitu menatap tajam, dan dia memiliki wajah sipit Asia.
Berjauh berbeda dengan Mas Ozan, kades yang kini menjadi suamiku, Mas Ozan memiliki wajah yang lebih Arab, mengingat Babah Adam, ayah Mas Ozan itu memiliki keturunan dari sana.
"Jadi, kakak mau kembali ke kota?"
__ADS_1
"Iya," jawab Kak Ion berdiri.
Kak Ion ini merupakan seorang duda dua kali, pertama dia pernah menikah dengan seorang wanita bernama Aida dan bercerai karena suatu hal, dia menikah dengan Aida setelah memutuskan hubungan denganku dulu, dan kedua dia menikah dengan Agnes sehingga lahirlah Reza anak mereka, tapi aku sudah cerita kan, kalau Agnes ibu Reza, sudah meninggal disaat melahirkan Reza.
Dan Kak Ion masih duda sampai sekarang, aku harap dia bisa bersama dengan Kak Aida lagi, walaupun aku tidak tahu kak Aida sekarang ada dimana.
"Oke kalau gitu, semoga kakak bisa mendapatkan kebahagiaan di kota," jawabku begitu tulus sembari menutup laptopku.
Kak Ion tersenyum, aku beralih mencium pipi Reza kecil kemudian Kak Ion berjalan pergi meninggalkanku, aku yakin aku akan butuh waktu lama untuk bisa bertemu dengannya lagi.
Setelah kepergian Kak Ion, aku kembali duduk, menatap laptopku yang sudah aku tutup, niat hati ingin melanjutkan pengerjaan catatanku, tapi rasanya sudah tidak mood.
Aku memilih pulang, dengan berjalan kaki, biar di rumah saja aku lanjutkan pekerjaan ini, di sepanjang perjalanan aku bertemu dengan para warga yang masih sama, mereka ramah.
Tapi keadaan itu berubah saat aku berpapasan dengan sekelompok remaja desa yang mungkin seusiaku, atau dibawah usiaku, mereka menatapku tajam.
"Kasiannya, ada orang toh, menikah karena berzina, ihh takut-ku saya," ujar seseorang dari mereka.
"Ups, jangan-ko kasih begitu, dia kan Ndak ada malu-na."
Aku terdorong beberapa langkah ke belakang karena salah satu dari mereka mendorong dadaku hingga aku tersentak, aku bisa saja membanting remaja sialan ini, tapi aku ingat sekarang aku adalah Bu Kepala Desa, image bos!
Kalau semisal mereka ku smackdown terus patah tulang, kan suamiku juga yang kena, eh tapi biarin aja deh, kan aku ga peduli sama Mas Ozan.
"Terserah sih mau bilang apa, yang penting kan sekarang aku yang jadi istri Mas Ozan."
Aku menjawab menggunakan bahasa Indonesia formal, biar lebih terkesan mengintimidasi saja, oke baiklah aku akan mengajari kalian cara menindas balik dengan elegan.
Pertama tekan kelemahan mereka, setelah aku mengucapkan kalimatku, mereka semua terdiam.
"Kasian, kalian empat tahun PDKT kalah sama yang sehari semalam, gagal saing yah? Gugur ko sayang," ujarku melipat kedua tanganku.
Salah satu dari mereka hendak menamparku tapi aku menghindar dan menyelengkat kakinya, pelajaran nomor dua, Sentil aja dikit, biar dia gak ngelunjak.
__ADS_1
"Unch, gak sengaja."
Aku yakin sekarang wajahku sudah songong sekali dengan spek-spek minta di sleding, Enjel pernah bilang kalau wajahku tuh brengsek.
Aku bisa mengejek orang tanpa aku berbicara apapun. "Sebenarnya aku tuh gamau bersaing sama kalian, kalian kan bukan levelku, mikir aja spek bidadari sama spek bawang goreng, aduh, gak nyindir sih, tapi kalau merasa yah berarti tepat sasaran!"
Pelajaran terakhir adalah FINISHING, akhiri dengan elegan semua ini, aku berjalan ke arah mereka dan berbisik pelan. "Permisi, Bu KADES mau lewat."
Aku sengaja menekan dikata KADES biar mereka mengerti dan sadar bagaimana posisiku sekarang sebagai istri sah Mas Ozan.
Ngelunjak sih, Gea dilawan, senggol BOSS!
Aku berjalan meninggalkan mereka semua yang sudah tidak berword-word hm berkata-kata lagi.
Berjalan menuju rumah Mas Ozan yang sudah tidak jauh lagi, aku melihat keadaan rumah sepi, sesampainya di halaman rumah aku tidak menemukan keberadaan Mas Ozan dan Gibran.
Mungkin mereka pergi bermain, aku memilih duduk di teras beristirahat sejenak, aku membuka laptopku kembali berencana melanjutkan yang tadi terpotong karena bertemu dengan Kak Ion.
Baru saja aku membuka halaman word docs yang langsung memenuhi layar dekstopku, mataku kembali terganggu dengan sebuah pemandangan, Itu adalah rombongan orang maksudku warga desa yanf datang menghampiri rumah ini dengan memapah seseorang, ada Gibran yang digendong salah satu warga, dimana Mas Ozan.
Dan yang dipapah ternyata adalah.
Dia adalah, Mas Ozan.
•
•
•
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1