
#Gea
"Gibran, disini aja yah, Papa sama Mama bakal balik kok," Mas Ozan memberi penjelasan kepada Gibran.
Gibran yang di beri penjelasan hanya mengangguk paham, sebenarnya hari ini ada acara makan siang bersama, namun terpaksa dibatalkan karena Mas Ozan harus mengurus urusan desa yang dia tinggalkan.
Termasuk pemindahan jabatan yang selama ini Mas Ozan pegang, Mas Ozan tentunya sudah yakin bahwa dia akan digantikan karena tidak memenuhi syarat promosi dari camat setempat.
Kami berdua, memilih naik motor ke desa, meninggalkan hiruk pikuk kota sejenak dan menikmati waktu di desa setelah Mas Ozan selesai dengan urusannya.
"Kamu, yakin mau ikut?" tanya Mas Ozan memasangkan helm kepadaku dan mengaitkan penguncinya.
"Masa, Mas Ozan sendirian sih, aku tetap mau ikut," jawabku kekeuh. "Kan, aku istri yang baik."
ISTRI YANG BAIK? CK! Modus Gea, aku mau ikut karena cuma di desa aku dan Mas Ozan bisa berdua, di kota terlalu banyak halangan, kapan aku dia hm pahamlah yah.
"Yaudah, ayok," Mas Ozan menyalakan motornya, aku naik di boncengan.
Mak dan Abah yang berada di teras berpesan untuk kami berhati-hati karena jarak desa yang cukup jauh, setelah pamit dan salam, Mas Ozan mulai menjalankan motornya.
Aku memeluk erat pinggang Mas Ozan dan menaruh kepalaku di bahunya, ini adalah posisi paling nyaman yang pernah aku rasakan.
Gapapa deh gempor duduk di motor dua jam, asalkan sama ayang ke planet lainpun rela, aduh Gea bucin, padahal dulu suka sumoah serapah, ARGH! Aku malu.
"Mas, kalau semisal Mas dipecat dari jabatan gimana?" tanyaku yang membuat Mas Ozan melirikku dari spion.
"Yah gapapa, Mas bisa nyari kerjaan lain, asalkan kamu mau diajak hidup sederhana, Mas kuliah aja gak selesai dek, tapi Mas ada tabungan dikit buat nanti kita usaha, dan Mas bisa nyelesaikan kuliah Mas," jawab Mas Ozan.
"Kan, aku kerja Mas," Aku berusaha menginterupsi.
__ADS_1
"Gaji kamu tabung aja buat sekolah Gibran, uang makan dan kebutuhan sehari-hari biar Mas yang pikirkan, Mas suami kamu dek," Mas Ozan tersenyum.
Aku sedikit merasa bersalah, aku sadar ucapanku tadi terlalu mendeskriminasi Mas Ozan yang dimana notabenenya gajiku lebih tinggi dari Mas Ozan.
Untungnya Mas Ozan, bukan tipikal pria gampang tersinggung, dia hanya pria baik yang berusaha membahagiakan istrinya terlepas dari dia pria brengsek, aku rasa.
Butuh waktu dua jam untuk kami sampai ke desa sebenarnya tapi kurasa waktu berlalu begitu cepat, tepat setelah kami memasuki area desa, Azan Asar terdengar dari masjid di desa.
Tujuan utama Mas Ozan kini dahulu adalah rumah yang kami tempati selama awal menikah, yah rumah dinas Mas Ozan.
Mas Ozan mengajakku sholat asar berjamaah sebelum ke balai desa menemui pak camat.
Tidak munafik, aku merindukan rumah ini, kalau nanti Mas Ozan lengser sudah pasti rumah ini akan berpindah milik, aku rasanya gak rela karena terlalu banyak kenangan di rumah ini.
"Mas, kalau semisal Mas tidak menjadi kepala desa lagi, boleh gak rumah ini, aku beli aja?" tanyaku pada Mas Ozan setelah kami selesai sholat.
"Kamu mau tinggal di desa?"
Mas Ozan tersenyum, dia mengusap kepalaku yang membuat aku tersipu. "Kamu mau bikin kenangan apalagi disini?"
Oke, nada bicara Mas Ozan sedikit membuatku merinding, dia menatapku intens, aku membuang muka.
Mas Ozan meraih daguku dan mengarahkan wajahku untuk menatapnya. "Kamu tahu Sunnah Rasul gak, Dek?"
Aku meneguk ludah, apakah sekarang?
"Tidak ada Gibran, tidak ada Mak, tidak ada Abah, cuma kita berdua disini, mau melakukan itu?" tanya Mas Ozan menaik turunkan alisnya.
Aku sudah keringat dingin sekarang, Mas Ozan benar-benar mengujiku, apakah aku akan di unboxing sekarang?
__ADS_1
Melihat ekspresiku, Mas Ozan tertawa kecil kemudian mencium keningku. "Mas bercanda sayang, kalau kamu gak siap, Mas gak akan maksa."
Mas Ozan melepaskan wajahku dan berjalan menuju ranjang, dia melepas baju dan celananya menyisakan pakaian dalam menutupi area dibawah sana yang membuat terdiam kembali menatap area itu.
Fokusku hilang sudah, itu adalah milikku, milikku dan milikku, tapi di hak patenkannya gak sekarang sih.
Mas Ozan membuka pakaian bukan untuk melakukan itu dasar pikiran negatif, Mas Ozan berganti baju dengan pakaian dinasnya karena sebentar lagi kami akan pergi ke balai desa.
"Mas tahu Dek, kamu masih perawan, kamu belum siap dengan ini, Mas gak bakal maksa tenang aja, tapi kamu gak bakal bisa menjamin kalau Mas gabisa stop romantis sama kamu."
Mendengar itu membuatku tersipu, aku langsung berlari memeluk Mas Ozan yang sedang mengancing bajunya dengan posisi duduk di ranjang.
Karena aku tubruk, Mas Ozan langsung tertidur di ranjang sedangkan aku menindihnya, wajah kami saling berhadapan, aku menutup mata dan berkata.
"Aku, siap kok Mas," jawabku yang membuat Mas Ozan tersenyum.
Entah ada setan apa tapi itu benar-benar terucap, Mas Ozan menaruh telapak tangannya ditengkukku, mendorong kepalaku agar mendekat dengannya dan benar saja, kini adegan ciuman itu kembali terjadi.
Aku ragu melakukan ini, tapi apakah sekarang saatnya?
•
•
•
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1
Komen yang banyak yah, biar AUTHOR update lagi wakakak author banyak maunya.