Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 33. Pria Paling Brengsek


__ADS_3

#Gea


Mas Ozan, mencium bibirku, itu hanya ilusi atau bagaimana tapi Mas Ozan tidak sebenarnya mencium bibirku, dia hanya mendekatkan wajahnya sehingga aku bisa merasakan hembusan napasnya.


Kukira dia merebut ciuman keduaku, tapi itu sebatas ilusi dalam igoku sendiri, kami masih berada diatas forum.


Disaksikan semua orang yang ada disana, aku terdiam beberapa saat, Mas Ozan menatapku dengan tatapan penuh harap dan berharap semuanya akan kembali baik-baik saja.


"Berikan, Mas kesempatan Dek, sekali saja," pinta Mas Ozan dengan suara yang sudah hilang timbul.


Aku terdiam beberapa saat, kembali larut dalam ilusiku sendiri betapa kakunya momen ini, rasanya ingin pergi, kabur dan tidak ingin bertemu Mas Ozan lagi.


Tapi sekarang, aku malah kehilangan momen mengumpat dalam hatiku sendiri sekarang, aku terhenyak kemudian turun dari Forum.


Tidak memperdulikan pembawa acara, Bunda Dikta dan Audiens, sekarang tujuanku adalah menjauh dari Mas Ozan, sejauh mungkin.


Aku berlari ke belakang panggung, menyeka air mataku yang keluar, kenapa dia hadir disaat aku berusaha melupakan dia sepenuhnya.


Mengenai dendam, tidak! Aku sudah tidak menyimpan dendam lagi padanya, aku meraih tasku kemudian mencari keberadaan Mas Akta, aku ingin mengajak Gibran pulang sebelum Mas Ozan datang dia malah mendekap ku erat.


"Lepasin, Mas!"


"Gak Dek! Gak akan! Mas gak akan lepasin kamu lagi setelah Mas udah nemuin kamu," jawab Mas Ozan yang membuatku memilih menangis saja.


Toh rasanya capek memberontak, ingin kabur, pergi atau bersembunyi aku sudah kehilangan tenaga, ada magnet apa pria sialan ini sehingga membuatku jadi begini.


"Mas Ozan! Brengsek! Pria paling tidak bertanggung jawab! Sialan! Mas udah bikin Kak Ratna menderita, Mas Ozan udah bikin keluarga aku dihina! Mas Ozan adalah bedebah! Mas Ozan tuh harusnya mati aja!"


Aku mengeluarkan semua uneg-unegku, rasanya semua harus dikeluarkan langsung, tidak bisa ditahan lagi, semuanya sudah keluar, tidak ada lagi perdebatan batin diantara hatiku sekarang.


"Mas memang brengsek! Mas salah Dek! Tapi jangan hukum Mas seperti ini, Mas gak mau pisah sama kamu!"


"Mas Ozan Brengsek! Aku benci sama Mas Ozan! Aku benci!" Aku memukul dada Mas Ozan.

__ADS_1


Aku melepaskan diri dari dekapan Mas Ozan, disaat dirinya lengah aku memilih pergi saja, beberapa orang mengatakan kenapa tidak memulai semuanya dari nol.


Berkata memanglah mudah, tapi semuanya harus dipikirkan dengan baik, dan tidak menutup kemungkinan masih ada perasaan benci yang tersirat disini, aku mendapati Mas Akta bersama Gibran disebuah bangku.


Aku mendatanginya dan mengambil Gibran ke dalam gendonganku. "Bran! Ikut Mama pulang!"


"Tapi Ma, Papa gimana?"


"Dia, Bukan Papa kamu Gibran! Papa kamu tuh udah mati!" bentakku.


Ini kali pertamanya aku membentak Gibran, Gibran terdiam kemudian memeluk kakiku karena memang tubuhnya pendek.


"Mama bohong! Gibran udah tahu semuanya, semalam Kakek cerita, kalau Papa Ozan itu Papa kandung Gibran, Gibran diam aja gapapa kok, tapi Papa sama Mama jangan berantem lagi."


Aku terdiam, Abah dan Mak memang selalu begini, aku sedikit kesal jadinya.


"Kalau dia Papa kandung kamu! Kamu milih dia atau Mama?" tanyaku yang membuat Gibran terdiam.


Gibran terdiam, dia memilih ikut denganku, aku membawanya masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilku meninggalkan area itu berharap Mas Ozan tidak menyusul.


Aku mengerem mendadak, Mas Ozan turun dari mobilnya dan menggedor jendela mobilku meminta dibukakan.


Jalanan sepi, mungkin karena sebentar lagi akan memasuki waktu sholat Jumat, Mas Ozan menyerah dengan kegiatannya, tapi aku malah melihatnya berjalan ke arah sebuah tiang listrik.


Dia tampak frutrasi, dia meninju tiang tersebut dengan kedua tangannya, aku yang melihatnya tidak tega, terakhir aku melihatnya terluka ketika dia terjatuh waktu itu dan luka itu masih ada disana.


AKU MENYERAH! SEKARANG BUKAN WAKTUNYA MENINGGIKAN EGO SENDIRI! MIKIR AJA! GIMANA BISA AKU NGEBIARIN SUAMIKU KAYAK GITU.


SEBENCI-BENCINYA AKU! DIA ITU SUAMIKU!


"Gibran, tunggu disini!"


Aku keluar dari mobil menghampiri Mas Ozan yang masih memukul tiang listrik itu, aku berusaha menghentikannya tapi Mas Ozan tidak menggubrisku.

__ADS_1


"Mas! Udah!"


"Gak Dek! Mas Pria brengsek! Mas gak pantas hidup!"


"Mas!"


Plak! Aku tampar saja pipinya, toh dia ngeyel, ngeselin kan dibilang udah masih aja kekeh, bukannya aku mikir kenapa-napa yah, kalau semisal tiang listrik itu eror dan dialiri listrik, Mas Ozan bakal kesetrum, dan kalau dia kesetrum itu, Mas Ozan gak bakalan dapat kekuatan mengendalikan listrik! Tidak! Tapi gosong nanti! Mubazir wajah tampan itu.


"Mas udah! Mas pikir, dengan ini Kak Ratna bahagia? Aku bahagia? Gak! Mas Ozan gak harus ngelakuin ini!"


"Mas bodoh dek!" Mas Ozan terduduk dan bersender ditiang listrik.


Aku menatapnya sekilas kemudian memeluk Mas Ozan, Bodo amat dengan HARGA DIRI! AKU KANGEN SAMA SUAMIKU!


"Aku benci Mas Ozan! Tapi aku cinta sama Mas Ozan!" gumam ku membenamkan wajahku di dada Mas Ozan.


Mas Ozan terdiam, dia menatapku berusaha memastikan, tangannya mengusap pelan kepalaku, aku memilih dalam posisi ini sebentar saja.


Mas Ozan mengangkat daguku, ia mendekatkan wajahnya dan kali ini nyata, ciuman keduaku benar-benar sudah direbut oleh Mas Ozan.


"Mas, Cinta sama kamu Dek!"


"Aku juga, Mas!"





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like

__ADS_1


Update lagi gak? Komen yang banyak yah, kalau banyak Author Update lagi.


Kira-kira Ozan ketemu Abah gimana yah?


__ADS_2