Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 41. Mas, Mulai Yah?


__ADS_3

"Lanjut nanti, yah."


Mas Ozan melepas pagutan yang berlangsung selama beberapa menit itu, aku sadar ini bukan momen yang tepat, dan astaga Gea kamu ngapain tadi, kenapa kamu jadi agresif gini.


Mas Ozan, merapihkan baju dinas yang sedikit berantakan, sedangkan aku masih duduk di ranjang, ngapain, malulah, orang aku dah nubruk duluan.


Harga diri banget coy!


"Ayok, kita ke balai desa, Pak Camat udah nunggu," ujar Mas Ozan menarik tanganku berdiri.


Aku berjalan menyusul Mas Ozan dengan kondisi tanganku yang di pegang erat oleh Mas Ozan.


Namun sayangnya Mas Ozan malah melepas pegangan tangan itu saat hidungnya gatal yang membuatnya menggaruk hidungnya sejenak, akan aku Jambak bulu hidungnya nanti.


Kami berdua memilih berjalan kaki ke balai desa, karena memang jaraknya tidak begitu jauh, hanya melewati jalanan setapak.


Sepanjang perjalanan, tidak obrolan diantara kami, kecuali beberapa warga yang menyapa Mas Ozan, dan menanyakan kemana saja Mas Ozan.


Sesampainya di balai desa, aku dan Mas Ozan segera masuk, disana sudah ada pak camat dan dua staff desa menanti kedatangan Pak Kades, alias suamiku sendiri.


"Selamat siang, Pak Fauzan," Pak Camat menyapa. "Silakan duduk, ini istrinya yah?"


Aku mengangguk dan dipersilahkan juga untuk duduk, Mas Ozan mulai berbicara dengan staff desa dan Pak Camat tersebut.


"Maaf Pak, sesuai perjanjian kan saya tidak dapat menyelesaikan laporan ini, jadi saya akan dilengserkan?" Mas Ozan mulai membahas statusnya sementara tadi hampir tiga puluh menit mereka hanya basa-basi.


"Tidak, Pak Fauzan."

__ADS_1


Aku dan Mas Ozan mengangkat alis tidak mengerti, Pak Camat tersenyum, pria berusaha kepala empat lebih itu dengan uban di rambutnya yang tertutup peci tersenyum tenang, seolah memberi sebuah harapan yang aku dan Mas Ozan sendiri tidak ketahui.


"Staff Desa sudah melakukan rapat kemarin dengan sistem tranparansi dengan warga desa, dan hebatnya semua warga desa menolak Pak Fauzan lengser sebagai kepala desa."


Pak Camat memerintahkan dua staff disampingnya memberikan sebuah berkas kepada Mas Ozan.


"Silakan dibaca dulu, Pak, ini adalah berkas pengajuan banding kami kemarin, dan pusat perangkat pemerintah sudah menyetujui bahwa Pak Fauzan tidak akan digantikan dan akan dilakukan pelantikan ulang, Minggu depan."


Penjelasan Pak Camat benar-benar membuat Mas Ozan speechless bahkan aku sendiri sudah tidak bisa berkata apa-apa.


Hebat yah suamiku, dia bisa membuat satu Desa jatuh cinta kepadanya dan tidak ingin dia lengser dari jabatannya.


"Tapi, apakah bapak yakin? Pribadi saya sudah menjabat selama empat tahun dan bapak tahu saya tidak ada latar pendidikan di bidang ini," ujar Mas Ozan menatap dalam Pak Camat.


"Kenapa kami harus ragu, kalau selama empat tahun ini, desa semakin maju ditangan Mas Ozan," jawab Pak Camat.


"Mbah Sudarsono, beliau adalah tetuah yang harus dihormati dan hasil sudah mufakat melalui Mbah Sudarsono dan warga desa."


Oh Mbah-Mbah yang pengen kulibas itu, harusnya aku berterimakasih kepadanya karena Mbah Sudarsono aku menjadi istri Mas Ozan.


Setelah berbincang sejenak, akhirnya sudah selesai semua, jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Mas Ozan dan aku memilih pulang ke rumah.


Karena jarak untuk kembali ke kota jauh, akhirnya kami memutuskan menginap saja, setelah sampai di rumah, Mas Ozan tidak henti-hentinya mengucap syukur karena masih bisa diberikan kesempatan.


"Alhamdulillah, Mas masih bisa menjadi kepala desa disini," Mas Ozan memeluk tubuhku saat aku sudah selesai mengunci pintu rumah.


"Dan aku masih jadi Bu KADES dong, sebagai ucapan selamat, Mas mau minta apa?" tanyaku.

__ADS_1


Mas Ozan melepas pelukannya dan menatapku intens dia melirik jam tangannya dan berkata. "Masih, ada waktu."


Perasaanku sudah tidak enak sekarang, Mas Ozan menggendongku dan mengajakku masih ke kamar, dia menidurkanku di ranjang dan kembali melanjutkan pagutan tadi.


Kami melakukannya bukan karena nafsu tapi untuk memenuhi kewajibanku kepada Mas Ozan, setelah melakukan itu Mas Ozan melepas semua pakaiannya termasuk pakaian dalamnya dan Mas Ozan benar-benar tanpa sehelai benang di depanku.


Aku sedikit malu, tapi Mas Ozan meraih tanganku yang menutupi mataku.


"Jangan malu dek, Mas punya kamu sekarang," bisik Mas Ozan ikut melepas pakaianku.


Setelah membaca doa dan melakukan Sunnah hubungan suami istri yang sebenarnya diajarkan dalam agama, Mas Ozan mulai melakukan hal itu.


"Mas, mulai yah?"


Aku merinding dan benar saja, aku merasakan sesuatu mengganjal dibawah sana dan sepertinya aku sudah sepenuhnya menjadi istri Mas Ozan.





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Astagfirullah pikirannya, sentil nih

__ADS_1


__ADS_2