Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 14. Mulai Curiga


__ADS_3

Akhirnya statusku sudah sah menjadi istri dari Pak Kades atau bisa dibilang Bu Kades di desa ini.


Rasanya sedikit nyesek, dimana kau harus menikah dengan seorang pria yang paling kau benci tanpa orang tuamu.


"Kamu sudah resmi menjadi istri Nak Ozan dan juga Bu Kepala Desa ini!" Mbah Sudarsono menatapku dalam.


Rasanya ingin ku jungkir balikkan seisi rumah ini tapi aku sadar aku tidak ada kemampuan untuk hal itu, malam itu juga aku harus pindah ke rumah Pak Kades yang tidak jauh dari rumah Mak Saharia.


"Mak, makasih-na. Sudah-ka dikasih tumpangan di rumah-ta," ujarku memeluk Mak Saharia.


Mak Saharia mengusap air matanya yang jatuh, mungkin dia sudah menganggap ku anak sendiri karena memang anak kandung Mak Saharia sudah lama tidak kembali ke desa.


"Dek, lebih baik kita pergi sekarang, malam sudah semakin larut," Pak Kades mengangkat tas bajuku dan juga menggendong Gibran.


"Mama, kita mau kemana?" tanya Gibran kepadaku.


"Ehm-"


"Kerumah Papa, nak!"


Aku belum sempat menjawab, Pak Kades sudah terlebih dahulu menjawab hal tersebut, sedikit kesal karena dia menyebut dirinya Papa, walaupun dia benar adalah Papa Biologis Gibran, dan itu tidak bisa aku kilah.


"Papa?" tanya Gibran menatap Pak Kadea. "Jadi Om ganteng, Papa Gibran?"

__ADS_1


Pak Kades mengangguk sambil tersenyum, wajahnya begitu teduh, Ya Allah andaikan saja dia tidak seberengsek ini mungkin aku sudah jatuh cinta.


"Mak, saya dan Dek Gea pamit," Pak Kades mencium tangan Mak Saharia.


Aku tidak ada mood untuk mengeluarkan unek-unek ku sekarang, rasanya badanku sudah lemas semua menerima fakta bahwa aku adalah istri dari Pria Sialan ini sekarang.


Kami berdua berjalan menuju rumah Pak Kades yang tidak terlalu jauh, tidak ada obrolan diantara kami sebelum Pak Kades memulai obrolan.


"Dek, maafin saya yah,"


Suara Pak Kades membuatku menatap ke arahnya, walaupun hatiku ingin sekali memakinya tapi aku tidak punya keberanian untuk itu sekarang.


"Pak Kades gak salah, harusnya saya yang tidak datang kesini," jawabku agak menunduk.


"Apa gapapa, saya jadi istri Pak Kades?" tanyaku.


PERTANYAAN BODOH! Kan harusnya aku yang nanya apa gapapa dia jadi suamiku, toh yang antagonis disini aku, eh bukan dia yang Antagonis, aku hanya bidadari penuh dendam, lupakan.


"Harusnya saya yang nanya, apakah kamu gapapa jadi istri saya?" tanya Pak Kades balik.


Plus minus dari Pak Kades, plusnya dia adalah pria yang sangat peka dengan keadaan sekitar dan ekspresi lawan bicaranya.


"Pak Kades jangan menyesal yah, saya bukan wanita yang sholeha apalagi yang bisa diajak agamis," Setidaknya aku pernah sholat.

__ADS_1


"Saya tidak butuh istri Sholeha Gea, saya hanya butuh Istri yang bisa diajak ke surga, kalau dia bisa diajak ke surga sudah bisa dipastikan dia sholeha," jawab Pak Kades.


Ah, kenapa kalimatnya begitu dalam dan membuatku jadi senyum sendiri, aku jadi ragu apakah dia orang yang sudah menghamili kakakku?


"Dek, Mas mau nanya nama Ayah kamu Ashraf yah?"


"Iya, nama Abah itu, kenapa?"


"Kamu punya kakak gak?"


"Punya, namanya Ratna," jawabku mendelik.


Aku sudah paham kemana arah pembicaraan Pak Kades nampaknya dia tidak asing dengan nama keluargaku dan sudah ku pasti kan dia mulai curiga sekarang.





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


__ADS_2