
"Gea, bagaimana nak, ketemu-mi Gibran sama bapaknya?"
Pertanyaan dari Abah membuatku terdiam, yah itulah pertanyaan yang aku dapatkan pagi ini setelah tadi subuh aku baru sampai di kota Makassar, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Mas Ozan sekarang.
Aku tengah duduk memangku Gibran dihadapan Mak dan Abah yang memberikan tatapan penuh pertanyaan kepadaku, pertama aku harus menjelaskan bahwa aku sudah menikah dengan Mas Ozan.
Kedua adalah, aku sudah jujur tapi aku malah memilih kabur begitu saja menghindari Mas Ozan, kurasa Abah akan marah padaku karena hal ini, Aku menatap wajah Abah dan Mak bergantian.
"Sudah," jawaban inilah yang keluar dari mulutku.
Dari segala kosakata bernada penolakan yang ingin aku ajukan, malah kalimat ini yang keluar, membuatku sedikit frutrasi karena hati dan mulutku tidak pernah sejalan.
"Mama, kok gaada Papa sih?" ucapan Gibran sukses membuat Abah dan Mak menatap ke arahnya. "Mama kan udah nikah sama Papa Ozan, kok Papa Ozan gak diajak?"
Oke pas! Anak hasil didikan ku begitu mulia, mewakili kejujuranku yang dimana Mak dan Abah kini tengah syok aku rasa.
"Gea, menikah apa?" tanya Mak yang kali ini memberiku pandangan serius.
"J-jadi, sudah-ma menikah sama Pak Kades disana, karena dikira Zina, minta maaf-ka, Mak, Bah tidak ku kabari-ki."
Hancur sudah yang aku pertahankan, aku tidak tahu bagaimana tanggapan Mak dan Abah sekarang, aku tidak tahu bagaimana reaksinya.
"Kamu Zina nak?" tanya Abah tidak percaya.
Aku lantas mengangkat kepala kemudian menggelengkan kepalaku, enak saja, aku dituduhkan Zina lagi, bobrok-bobrok begini kesucian is number one.
"Jadi, sudah mako, menikah sama bapaknya Gibran, tapi kenapa datang-ko kesini tidak sekalian sama-ko?" tanya Abah kembali yang membuatku terdiam.
"Sudah Bah, kabur-ka tadi malam, malu-ka, sama Mas Ozan karena sudah ku hapus laporan kerjanya, jadi sudah-ma juga jujur sama Mas Ozan sebelum ku pergi," jawabku pelan.
"Sudah Abah bilang nak, jangan dendam, jangan dendam, sekarang begini jadinya, kakakmu tidak pernah mau kalau kamu balas dendam, Nak," Mak menatap iba ke arahku.
Aku serasa di intimidasi disini, harusnya Mak dan Abah senang aku balas dendam, tapi kenapa mereka seolah legowo saja padahal Mas Ozan adalah tersangka utama dari meninggalnya kak Ratna.
Aku memilih bungkam, aku berjalan masuk ke dalam kamar sedangkan Gibran aku berikan ke Mak dan Abah, aku butuh waktu sendiri, apalagi besok aku harus mengisi wawancara
Aku meraih ponselku yang ada di nakas, tampak banyak panggilan tak terjawab, sudah pasti pelakunya Mas Ozan, aku membuka kartu SIM pada ponselku kemudian mematahkannya dan menaruh ponselku agak jauh dariku, rasanya butuh waktu sendiri.
__ADS_1
Kau terlalu cepat
Melupakan aku
Tak sadarkah, kau membuatku terluka
Penggalan lagu itu masih terdengar dikamarku, kenapa rasanya sakit hati berpisah dengan Mas Ozan, apakah karena aku sudah cinta sama Mas Ozan.
Come On Gea! Dia adalah pria brengsek, dan kurang ajar, jangan sia-siakan perasaan cinta untuk pria sepertinya, tapi rasanya berat saja bagiku.
Aku menangis sekarang, aku rindu Mas Ozan, aku menyesal sekarang, aku rindu usapan kepala Mas Ozan.
"Nangis aja gak bakal bikin kamu bahagia," Suara perempuan yang aku kenal membuatku membalikkan badan.
Itu adalah Vall, entah kapan dia tahu aku sudah pulang, pasti karena Enjel.
"Aku menang kan, aku tahu kamu bakal cinta sama Mas Ozan kamu itu," ujar Vall mengambil tissue di nakas kemudian duduk di sampingku. "Udah jangan nangis, coba kamu ceritain, Masa Notaris cengeng."
Aku bangkit dan duduk disamping Vall kemudian memeluk tubuh sahabatku itu, benar sekali, aku butuh orang yang open minded untuk masalahku sekarang, dan aku tahu Vall adalah orang yang tepat.
"Biar aku tebak, kamu sudah jujur dengan Mas Ozan itu dan kamu sekarang jatuh cinta sama dia," Vall benar-benar bisa menebak ekspresiku dan sekarang aku hanya mengangguk.
Dasar Vall biadab! Lagi sedih begini malah diajukan pertanyaan, aku tarik kalimatku tentang aku butuh orang open minded sekarang, dia menyebalkan.
"Tidak tahu."
"Itu, karena kamu payah," jawab Vall. "Udah gak usah nangis, aku kesini mau nagih lima ratus ribu uang taruhan kita, kan aku menang, buktinya kamu jatuh cinta sama Mas Ozanmu."
Sialan! Vall sahabat lucknut, bintang satu!
Aku meraih dompet dan memberikan uang lima ratus ribu itu kepada Vall, Vall menerimanya kemudian bangkit dan hendak pergi keluar dari kamar, tapi sebelum dia keluar dia membalikkan badannya dan menatapku serius.
"Jangan menyesali sebuah keputusan Gea, tapi cobalah memperbaiki apa yang sudah terjadi, penyesalan gak akan datang, jika kamu gak membuat kesalahan," ujar Vall menutup pintu kamarku.
Aku tertampar.
•
__ADS_1
•
•
"Yakin, Pak Fauzan ingin melepas kesempatan rekomendasi dari pusat ini," Pak Camat kini berada di hadapan saya.
Saya memang sengaja mendatangi kediaman Pak Camat siang ini, untuk mengatakan bahwa saya mungkin akan melepas kesempatan ini, walaupun laporan saya sudah di selesaikan Gea, tapi hari Sabtu saya diwajibkan hadir, tapi saya tidak bisa.
Saya akan ke kota hari ini, mencari keberadaan Gea dan mengembalikan istri dan anak saya.
"Saya, harus ke kota kak, mencari istri dan anak saya," jawab saya pelan.
"Dan melepaskan jabatan Pak Fauzan begitu saja, demi istri dan anak," Pak Camat mendelik.
"Jika hal itu menyangkut istri dan anak, jangankan jabatan Pak, nyawa saya akan berikan, saya hanya ingin memuliakan istri dan membahagiakan anak saya, hanya itu yang saya inginkan, dan saya ke kota sekarang," Saya menatap langit siang itu.
Saya merindukan Gea, saya sedikit menyesal apalagi Gea adalah adik dari Ratna, orang yang saya hamili lima tahun lalu, ditambah, Gibran adalah anak kandung saya, dan saya tidak pernah menyadari hal itu.
Ayah macam apa saya ini.
"Bapak hebat, Pak Fauzan memang seorang suami dan Ayah yang baik, baiklah kalau begitu keputusan Pak Fauzan, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik."
Saya hanya mengangguk, kemudian mengambil ransel tas saya, isinya baju untuk menginap di kota beberapa hari dalam mencari Gea, saya akan meninggalkan desa ini sementara.
Saya naik ke atas motor saya, melewati jalanan desa menuju perbatasan desa yang harus melewati hutan untuk sampai ke jalan raya.
Saya sudah menetapkan sebuah pilihan, dimana saya dihadapkan dengan Jabatan atau Istri, dan saya sudah sangat yakin memilih istri saya.
Mas sayang, kamu Gea.
•
•
•
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like
FOLLOW INSTAGRAM AUTHOR YANG KALAU KAKAK MAU NEMENIN AUTHOR NGEBUCIN SAMA PAK KADES DISANA. @itscrazyridz