
"Mas Ozan?" Aku memanggil nama Mas Ozan yang tampak duduk di kursi ruang tamu.
Mas Ozan yang sedari terdiam lantas menatapku dalam sebelum mengembangkan senyum. "Kamu sudah ganti baju?"
Aku mengangguk, kenapa senyumnya begitu menawan ya Allah, terlepas dari semua yang buruk darinya tidak ingin munafik aku mengagumi ciptaanmu ini.
Rahang tegas dengan kumis tipis dan janggut tipis, seakan-akan dia keturunan Arab ah aku lupa aku pernah membaca informasi kalau ayah Mas Ozan adalah orang keturunan Turki agak jauh tapi wajah ini sangat memikat.
Alis tebal dan bola mata coklat cessnut memikat hati belum lagi rambuk yang dipotong rapi, aku tidak akan melupakan dadanya yang bidang beserta lekuk otot yang Mas Ozan sendiri berkata dia tidak pernah memahatnya melainkan ini alami.
Ah kenapa aku jadi memuja orang ini.
"Mas Ozan gak ganti baju?" tanyaku membuat Mas Ozan berdiri dari duduknya.
"Saya ganti baju dulu yah, dek."
Mas Ozan mengusap kepalaku pelan membuatku terdiam perlahan karena usapan itu, rasanya hangat ada perasaan apa ini.
Mas Ozan berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkanku duduk sendirian di ruang tamu, belum sehari bersamanya dia sudah membuatku tidak karuan begini.
Apakah ini definisi dari Allah dapat membolak-balikkan hati manusia dengan mudah, kenapa rasanya gamang untuk balas dendam.
"Ah!" Aku memilih menggasak kepalaku sendiri dengan tangan kemudian menggerai rambutku yang sedari tadi terikat.
"Dek?"
Aku mengangkat kepala menatap Mas Ozan yang kulihat sudah memakai baju Koko dan sarung serta peci diatas kepalanya.
__ADS_1
"Sholat isya, yuk!"
Aku menggeleng.
What the hell! Sudah empat tahun aku tidak pernah sholat kecuali sholat dua tahun sekali di hari raya umat Islam, bahkan aku mungkin sudah lupa bacaan dan cara berwudhu.
"Loh kenapa?"
Oke! Dia nanya KENAPA! Karena aku tidak tahu bacaannya Pak Kades.
Aku menunduk, Mas Ozan berjalan ke arahku dan meraih wajahku, mengelusnya pelan dan membiarkannya jatuh tepat di depan mataku.
"Kenapa, dek?"
"Mas, a-aku lupa cara ambil air wudhu."
Entah kenapa dari segala kosakata bernada penolakan yang siap aku lontarkan malah kalimat ini yang terucap, kalimat dimana aku mengakui hal yang sedikit jujur ini.
Disamping anak tangga itu ada pipi air HM kalian tahu ledeng? Yah sejenis air ledeng disana serta sebuah batu sebagai alas dimana kita bisa ambil air wudhu disana.
"Sini Mas, bantu."
Mas Ozan menyalakan keran air, yang membuat air dari dalam keran tersebut keluar semua, perlahan Mas Ozan meraih kedua tanganku dan mengarahkannya ke keran air.
Aku mengikuti semua petunjuk dengan benar dan dengan arahannya, aku tidak banyak bicara dan hanya mengangguk mengikuti kemauan ini.
"Mas?"
__ADS_1
"Gea, ambil wudhu ga boleh bicara."
Oh oke! Aku lupa.
"Ulang yah?"
Aku mengangguk, kami kembali mengulang, rasanya aku menyesal berkata barusan karena hanya memperlama waktu saja, akhirnya dengan pasrah kesal dan ingin aku mengikuti semuanya.
Rasanya damai.
Tapi aku benci.
ARGH! Perasaan apa sih ini?
Kalian tahu?
Rasanya seperti kalian makan makanan pedas yang enak banget, kalian masih ingin terus makan tapi rasa pedasnya bikin kita menyerah.
Seperti itu rasanya.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like