Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 21. Terdegradasi Oleh Takdir


__ADS_3




Aku sudah selesai berganti baju, karena ini adalah hari pertama penyuluhan untuk program penelitian pendidikan di desa ini.


ARGHHH! Aku kan sarjana hukum kenapa jadi seperti ini, padahal niatku balas dendam malah disibukkan dengan hal membosankan seperti ini.


Ketika aku sudah berhasil balas dendam nanti, aku berjanji, setelah pulang ke Kota aku bakal maki-maki Enjel dan suaminya yang sudah menempatkanku disini.


"Dek, sarapan dulu, ayok!" Mas Ozan membawa segelas susu dan roti kepadaku.


Aku menatapnya sekilas kemudian menerimanya dengan senyum, terpaksa tapi aku rasa ini adalah senyum terbaik yang pernah aku buat.


"Makasih, Mas."


Mikisih Mis, ih jijik Gea! Jijik! Oke lupakan, secara logika, orang yang membenci seseorang tidak akan tahan berlama-lama dengan orang yang dia benci, tapi kenapa aku malah nyaman.


Tidak tahan dan nyaman itu beda tipis loh, aku benci dan cinta beda tipis, tapi aku gak cinta sama Kepala Desa ini, mental terganggu aja gak cukup bagiku, dia harus menderita secara lahir dan batin.


Begitulah yang di rasakan kakakku dulu, dihina sebagai pembawa sial, dan gadis murahan, karena pulang membawa anak dalam kandungan yang bapaknya tidak ingin bertanggung jawab.


"Mas, Bapak tadi siapa?" tanyaku saat meminum susu dari Mas Ozan.


Eh ini susunya gak beracun kan, bodo amatlah kalau aku mati dia yang rugi bunuh istri sendiri.


"Kamu lihat?"


"Sedikit," Aku menggaruk tengkuk karena malu.


Aduh Gea! Keceplosan sekali bibirmu yang seksi ini, Mas Ozan menatapku sekilas dan memberi tatapan tajam yang membuatku menyerah.


"Oke, aku denger semuanya," jawabku pasrah


Mas Ozan tersenyum kemudian mengusap kepalaku pelan, dia menggasak rambutku yang masih sedikit basah.


"Beliau, Pak Camat, ada tugas sedikit, kamu gausah khawatir, lebih baik kamu fokus sama penelitian kamu disini," jawab Pak Kades yang membuatku terdiam.


Aku terdiam bukan karena apa, membayangkan diriku berada dalam dunia drama Korea, Mas Ozan mengusap rambutku pelan.


Demi Apapun! JANGAN BAPER!


"Mas, yakin?"


"Semuanya baik-baik aja sayang, Mas janji," Mas Ozan meraih pundakku kemudian mencium keningku pelan.


Hangat.


Hm.

__ADS_1


Rasanya.


ARGH!


ARGH!


ARGHHHHHH! DEMI APAPUN AKU TIDAK MUNAFIK AKU BISA MELEYOT! SAUDARA OZAN SUAMI SAYA! BISA DIAM GAK ANDA!


Gila aja! Bayangin masih pagi, habis mandi, disambut susu manis, sama kata-kata manis dan lembut dikecup pula itu, gausah munafik elah, tembok dibedakin aja mungkin Kades ini doyan, apalagi aku yang titisan Anya Geraldine.


"M-Mas?"


"Iya?"


"Gibran mana?"


"Ada di luar, Ayok!" Mas Ozan menarik tanganku keluar dari rumah menemui Gibran yang tengah duduk di tangga rumah Mas Ozan.


Matanya menatap lurus, ah tidak, dia menatap seorang Ayah yang tengah bermain dengan anaknya, sedetik wajah putraku itu sedih.


"Gibran, kenapa sayang?" tanyaku meraih Gibran ke dalam pangkuanku.


"Mama? Kok Gibran gak punya Papa yah, Gibran pernah ditanya sama temen Gibran, kok Gibran gak di antar sama Papa ke Paud, Gibran gatau mau jawab apa, kan Gibran gak punya Papa."


Perlahan air mata anakku itu jatuh, kenapa rasanya sakit, andaikan Gibran tahu aku bukan Mama kandungnya, apakah dia bakal semakin kecewa.


Dari kecil, dia tahu kalau Papanya sudah pergi, jadi Gibran selalu berpikiran bahwa dia tidak punya Papa.


"Gapapa, kan Gibran ada Mama Gea, mungkin Papa Gibran gak mau ketemu Gibran, tapi Gibran gak benci kok sama Papa, kata Guru Gibran, kita gak boleh benci sama orang tua kita," jawab Gibran dengan senyum manisnya


Aku malu, kenapa bisa anak ini berpikiran dewasa, dia bahkan masih suci tanpa dendam dihatinya, logika saja sejak kecil dia tidak bertemu ayahnya, walaupun sekarang dia sudah bersama ayahnya, tapi tidak sekalipun dihatinya menyimpan benci.


Benar-benar anak Kak Ratna.


"Gibran jangan sedih Nak, sekarang kan ada Papa Ozan," Mas Ozan meraih Gibran ke gendongannya.


Gibran tertawa kecil kemudian menatap Mas Ozan serius. "Iya bener, sekarang kan aku punya Papa, Allah tuh baik banget sama Gibran, kata nenek dan kakek, Allah tuh dekat sama kita, kalau kita percaya sama Allah pasti dikabulkan."


"Gibran emang minta apa?"


"Gibran selalu berdoa sama Allah, semoga Gibran punya Papa, kalaupun cuma dalam mimpi aja, Gibran bakal bersyukur banget, tapi Allah itu baikkk banget! Dalam kehidupan nyata, Gibran dikasih Papa, jadi sekarang Gibran gaada alasan buat sedih, iya kan Ma?"


Malu ya Allah!


Anak seusia Gibran bisa memiliki mindset seperti ini, aku saja masih begini tapi Gibran sudah, Ah Masya Allah, menyesal sekali ketika dulu Kak Ratna mengugurkan Gibran, pada akhirnya Anak yang lahir diatas fitnah dan penghinaan ini tumbuh menjadi anak yang selalu menaruh kepercayaannya dengan Allah.


"Papa Ozan bangga sama kamu, benar sayang, Kalau Gibran mau minta sesuatu, minta sama Allah, naruh kepercayaan di Allah, yah nak." jelas Mas Ozan. "Yuk, kita main."


Mas Ozan membawa Gibran ke pekarangan rumah, mereka bermain dengan Gibran yang duduk di pundak Mas Ozan, rasanya begitu tenang ya Allah.


Aku melirik jam tanganku dan sudah telat beberapa menit, dengan kilat aku berjalan masuk ke dalam rumah mengambil tas dan alat presentasi nanti.

__ADS_1


Aku berjalan keluar dari rumah menemui Mas Ozan dan Gibran, Mas Ozan menatapku kemudian berhenti bermain.


"Kamu tahu, tempatnya, mau Mas antar?"


"Gausah Mas, aku tahu kok, nanti aku nanya aja, katanya Deket, aku nitip Gibran aja yah," jawabku menolak penawaean Mas Ozan


Mas Ozan tersenyum dan memberiku ciuman kembali di kening, rasanya manis, aku menyalami tangan Mas Ozan dan berjalan pergi.


Apakah aku harus melupakan dendamku?


•••


Assalamualaikum


Kakak Jangan lupa like dan berikan Komentar yah, ayok ramein kolom komentarnya biar Author semakin semangat update.


Jangan lupa berdoa semoga besok author khilaf update 10 BAB wkwkwk, hari ini Author istirahat dulu.


Eh iya, Author ada novel baru judulnya itu ISTRIKU [BUKAN] WANITA MALAM, buat yang mau mampir silakan cek profil Author yah


Sinopsis ISTRIKU [BUKAN] WANITA MALAM


"***Tidak harus bertanggung jawab, Kak."


"Saya bukan tipikal pria yang mudah melupakan hal sebesar ini, saya akan tetap menikahi kamu, tapi saya mohon kamu mengerti pernikahan kita hanya pernikahan siri sampai saya siap memperkenalkan kamu kepada kedua orang tua saya," jelas Darion.


"Lantas, apa arti pernikahan kita itu kalau ditutupi?" tanya Aida.


Buat apa mereka menikah jika hanya ingin melakukan formalitas dan pengampunan dosa dari hal yang mereka lakukan semalam.


"Saya, tidak tahu pasti, tapi saya mohon menikahlah dengan saya," jawab Darion menatap dalam Aida.


Aida mendelik. "Kita baru bertemu semalam, rasanya menikah terlalu cepat, lagipula aku seorang wanita malam, rasanya kejadian ini sudah biasa."


•••


Aida mengira dirinya akan menemukan jalan pulang dari pekerjaan terlarangnya setelah menikah sosok Darion.


Tapi dia salah sangka, ternyata keputusan tersebut membuatnya terjebak dalam posisi yang baru dimana dia akhirnya harus menerima pahitnya perceraian***.


Buat yang mau mengetahui info update bisa follow Instagram Author. @itscrazyridz atau bergabung dengan Group Chat Author di Profil.


Sampai jumpa besok yah~


Assalamualaikum.




__ADS_1


__ADS_2