
Mas Ozan kenapa?
Aku berjalan turun melewati anak tangga rumah Mas Ozan, kemudian berjalan cepat ke arah beberapa bapak-bapak yang membawa Mas Ozan.
"Suami saya, kenapa Pak?" tanyaku yang membuat mereka semua terdiam.
Mas Ozan menatapku kemudian tersenyum. "Gapapa, dek, Bapak-bapak makasih sudah bantuin saya yah."
Mereka semua mengangguk, kemudian memohon pamit setelah salah satunya menurunkan Gibran, mereka berlalu tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku langsung memapah tubuh Mas Ozan masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya masuk ke dalam kamar, aku mendudukkannya ditepi ranjang, sedangkan Gibran menyusul di belakangku.
"Bran, Papa kamu kenapa?"
"Tadi-"
"Gapapa, dek."
Mas Ozan langsung memotong ucapan Gibran yang membuat kesal, aku berdecak kemudian mendelik kesal apalagi melihat tangan Mas Ozan berdarah.
"Gapapa apanya! Ini sampai berdarah loh, Mas kenapa?" Entah kenapa perasaan panik berubah kesal karena Mas Ozan masih tidak mau jujur. "Sengaja, bikin aku khawatir, kalau Mas kenapa-napa, Mas mau ninggalin aku sama Gibran gitu?"
Astaga! Kenapa aku mengucapkan semua kalimat ini, ini semua reflek, karena Mas Ozan dalam keadaan baik-baik saja, logika saja mau bagaimanapun dia suamiku.
Mas Ozan tersenyum, dia menarik tanganku sehingga aku langsung terduduk di ranjang persis disampingnya, Mas Ozan mengecup keningku pelan dan mengulum senyum penuh kehangatan.
"Maaf, sudah bikin kamu khawatir," Mas Ozan tersenyum begitu tulus.
Entah kenapa sekarang, aku malah kasian terhadapnya, begitu kasian, sampai rasanya aku tidak tega melukainya.
"Tadi, Mas jatuh dari motor, jadi reflek meluk Gibran alhasil yah begini, tapi Gibran gak kenapa-napa kok, Maaf yah dek," jelas Mas Ozan yang membuatku terdiam.
"Iya Mama, tadi Papa jatuh, kalau Papa gak meluk Gibran, pasti Gibran udah luka," timpal Gibran membenarkan ucapan Ozan.
"Ya sudah, lain kali hati-hati," jawabku pelan.
Aku beranjak, dari dudukku dan berjalan ke arah tas-ku, seingatku, aku punya kotak pertolongan pertama disana, aku harus segera membersihkan luka Mas Ozan.
__ADS_1
Setelah mengambil itu, aku berjalan ke dapur untuk mengambil air hangat, aku menuang air hangat dari termos ke dalam baskom kecil bersama handuk kecil, setelahnya aku membawanya masuk ke kamar.
Aku meraih tangan Mas Ozan, entah kenapa sedih rasanya melihat Mas Ozan begini, aku membersihkan luka itu dengan pelan, Mas Ozan hanya menatapku.
Perasaan apa ini.
Seharusnya aku membenci Mas Ozan, bukan kasian kepadanya, dia adalah objek balas dendamku, terlepas dari dia suamiku, tapi sekarang kondisi sedikit berbeda, aku harus bersikap selayaknya seorang istri, setidaknya untuk hari ini.
"Mas, kok bisa jatuh sih?" tanyaku yang membuat Mas Ozan membuang muka ke arah lain.
"Mas, gak fokus aja dek," jawab Mas Ozan ragu.
Aku tahu dia berbohong, aku meraih dagunya setelah memasang perban ditangan Mas Ozan, kini wajah dan mata kami saling bersitatap, ada sesuatu diraut wajah Mas Ozan, tidak mungkin hanya karena tidak fokus, pasti ada alasan lain, yang belum aku ketahui.
"Mas, gak bohong kan?"
Mas Ozan terdiam, itu adalah wajah ragu, aku tahu wajah ini, karena aku sering mengintimidasi dengan pertanyaan kepada klienku semasa masih menjadi Notaris, jadi aku tahu struktur wajah ragu seseorang dalam menjawab pertanyaan.
"M-maafin Mas, dek, sebenarnya Mas punya rahasia kelam yang membuat Mas selalu kepikiran," jawab Mas Ozan menatapku.
Aku menatapnya sejenak, diraut wajahnya nampak penyesalan, raut wajah yang aku lihat tadi malam.
"Rahasia apa, Mas?" tanyaku berusaha menggali informasi lebih dalam.
Aku butuh penjelasan dari Mas Ozan sendiri, aku butuh sekali, agar dendamku tidak salah sasaran.
"Mas seorang pendosa dek! Mas seorang pendosa!" Mas Ozan menundukkan kepalanya dan mengepalkan erat kedua tangannya.
"M-maksudnya?"
"Dulu, sewaktu Mas kuliah, Mas pernah menghamili pacar Mas, dan Mas tidak mau bertanggung jawab."
Sudah kuduga, ini masih tentang Kak Ratna, aku berusaha kuat mendengarkan cerita dari sudut pandang Mas Ozan, karena selama ini aku hanya mengikuti cerita dari sudut pandangku sendiri.
"Mas akui, dulu Mas adalah seorang yang berandalan, Mas berpacaran dengan teman kuliah Mas, dia anak baik-baik, tapi Mas malam itu dengan sengaja menjebak dia sehingga kami melakukan hubungan terlarang, tak lama setelahnya dia hamil."
"Mas bingung dek! Mas masih kuliah dan akan menjadi seorang ayah, ditambah entah karena apa video intim kami tersebar, entah siapa yang merekamnya, sejak saat itu kami terpisah, Mas memilih kabur ke desa ini dan berakhir sebagai kepala desa," lanjut Mas Ozan.
__ADS_1
Rasanya panas mendengar cerita, andai kamu tahu Mas! Sangat menderita kakakku saat itu bersamamu, sangat tertekan, bahkan dia meninggal didalam penghinaan, tanpa seorangpun yang ingin menguburkan jenazahnya.
Aku mengepalkan tanganku kesal, dadaku sesak, mengingat semua flashback kisah kelam keluargaku.
"Setahun kemudian, Mas sadar dek, Mas berusaha mencari pacar Mas, namanya adalah Ratna, Mas mencarinya ke desa tempat dia tinggal, tapi yang Mas temukan hanyalah rumah yang rata dengan tanah, Mas menyesal, sampai sekarang Mas masih menyesal."
"Mas bahkan meminta anak itu digugurkan, yang tanpa Mas sadari, Mas sudah melukai dua orang, Ratna dan anak kami, andaikan Mas bertanggung jawab, mungkin anak kami sudah seusia Gibran," Mas Ozan menatapku dalam.
GIBRAN MEMANG ANAKMU SIALAN! ANAK YANG INGIN KAU SURUH GUGURKAN, ANAK YANG TIDAK KAU HARAPKAN.
"Kalau mas disuruh menukar nyawa atau meminta maaf, Mas lebih memilih meminta maaf walaupun setelahnya nyawa Mas akan diambil," Mas Ozan tampak begitu menyesal.
Aku terdiam, harus bereaksi apa sekarang, aku kesal, marah tapi aku tidak tahu objek kemarahan dan kekesalanku untuk siapa, harusnya untuk Mas Ozan kan, tapi setelah mendengar cerita dari sudut pandangnya, Kenapa rasanya aku tidak punya objektifitas lain.
FOKUS GEA! FOKUS!
Aku memilih pergi meninggalkan Mas Ozan bersama Gibran, aku masuk ke dalam kamar mandi dan menatap diriku sendiri pada cermin yang ada disana.
Wajahnya penuh dengan dendam Tapi setelah mendengar cerita ini, aku mengingat ucapan Kak Ratna padaku.
"Mas Ozan itu orangnya baik, walaupun dia begitu, dia punya alasan dan kakak yakin dia akan bertanggung jawab, dia bukan orang jahat!"
Begitulah ucapan Kak Ratna.
Saat itu aku berpikir bahwa Kak Ratna adalah orang paling bodoh yang masih menunggu lelaki brengsek untuk bertanggung jawab padahal itu tidak mungkin.
Setiap malam dia berbicara dengan kandungannya menyebut nama OZAN! OZAN! OZAN! Dan memintanya untuk kembali, tapi itu tidak mungkin, bahkan sampai kak Ratna meninggal, dia masih menaruh harapan, tapi sekali lagi itu tidak mungkin.
•
•
•
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1