
Aku kini berada di tengah balai desa, yah tempat yang aku datangi tadi pagi dan sore ini aku kembali harus ada disini.
"Kalian adalah Aib Desa yang memalukan!"
Mbah berteriak ke arahku dan Pak Kades, entah kenapa nada bicaranya menggebu-gebu sedangkan semua yang ada disana menatap iba bahkan beberapa menatap sinis ke arah ku karena aku pendatang disini.
"Mbah-"
"Mau bicara apa kamu!" teriak Mbah Sudarsono memotong Pak Kades.
Pak Kades terdiam, sepertinya dia juga tidak berani melawan, ini sudah keterlaluan menurutku dan menyebalkan.
"Kalian berdua akan dinikahkan malam ini!" teriak Mbah Sudarsono.
Ya Allah jiwa debatku sebagai seorang notaris muncul seketika, aku berdiri ditengah perundingan ini dan menunjuk Mbah-Mbah kolot itu.
"Siapa anda berhak memerintahkan sebuah pernikahan, anda pikir anda siapa!" teriakku kesal.
Semuanya syok, Mbah Sudarsono menatap tajam kepadaku kemudian berjalan ke arahku. "Saya adalah Tetuah di desa ini dan semua penduduk desa menghormati saya!"
"Dan saya bukan penduduk disini, jadi saya tidak punya Hak menghormati anda, saya adalah tamu disini dan begini cara anda memperlakukan tamu?" Aku memilih mematahkan opini mentahnya.
"Dan begini cara kamu sebagai Tamu, berzina dengan Kepala Desa?"
__ADS_1
"Dan kalian semua percaya?" Aku menodong kepada semua penduduk desa. "Pikiran kalian terlalu berpusat pada hal-hal kolot, coba pikirkan secara baik-baik saya datang kesana karena ingin meminta tanda tangan Pak Kades!"
"Iyo tawwa, tadi, ketemu-ka Non Gea di jalan, memang mau ke Kantor Desa ketemu Pak Kades."
Itu suara pembelaan dari penduduk desa yang ku temui tadi saat perjalanan ke Kantor Desa.
"Ck! Ndak usah-ko ikut campur Marta!" Mbah Sudarsono tidak terima atas pembelaan itu.
Kolot sekali orang tua sialan satu ini, tipikal orang seperti inilah yang halal di banting, walaupun dia sudah tua.
"Kalau mereka ndak bersalah, kenapa mereka membela diri!"
What? Kenapa kamu membela diri masih dipertanyakan, WHAT THE HELL THIS IS STUPID MOMEN IN MY BRAIN, aku tertawa dalam hati atas pernyataan mentah ini.
"Mbah mikir aja dong! Orang gaada otak aja bakal membela diri kalau dituduh salah, lagi pun logikanya kenapa Mbah bisa ada disana bersama Warga seolah Mbah mengetahui apa yang akan terjadi, Mbah tidak sedang memaniulasi keadaan kan?"
"Tadi juga Mbah nuduh saya!" teriakku lantang.
Beberapa orang tua tidak boleh kita lawan tapi khusus Mbah Sudarsono Mbah satu ini harus dikasih paham tentang hal yang harus dia tahu.
"Kalau kamu memang tidak bersalah, menikahlah dengan Pak Kades sehingga tidak menimbulkan fitnah!"
"Anda menantang saya? Oke!"
__ADS_1
Ngomong apa kamu barusan Gea! Kamu menyetujui menikah dengan Pak Kades yang notabene adalah orang yang paling kamu benci.
Kenapa mulutku ketika sudah berdebat tidak bisa di kontrol sih, inilah plus minus dari hidupku, Mbah Sudarsono tersenyum sinis karena berhasil menjebakku, sialan Orang Tua ini memang lawan sepadan buatku.
Semua warga kemudian di koordinasi oleh Mbah menyiapkan acara pernikahan dadakan antara aku dan Pak Kades.
"Niatku kan balas dendam, kenapa malah menikah!" Aku menggerutu.
"Dek?" Pak Kades menghampiriku yang terdiam, aku membalikkan badan menatap ke arahnya. "Kalau kamu mau kabur dari pernikahan ini, saya bisa bantu kamu."
"Gak!"
Ah kenapa gak ku iyakan saja?
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like
Ups Keceplosan si Gea